OBITUARI : Si Empunya Suara ‘Kukuruyuk’ di Jendela Wanita

0
37

BACHARUDDIN Jusuf Habibie. Nama BJ Habibie atau Habibie boleh jadi tak tergantikan tatkala Presiden Soeharto mencari figur yang pas menahkodai Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Republik Indonesia zaman Orde Baru. Selama menjabat Presiden RI, Habibie adalah sosok tepat di mata Soeharto, Presiden sekaligus Panglima Tertinggi ABRI, yang mengendalikan kekuasaan negara sehingga selama 32 tahun.

Sebelum akhirnya, Soeharto lengser setelah mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR RI kemudian memaksa Soeharto mundur dari jabatan Presiden dan menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden BJ Habibie. Beliau adalah Presiden ke-Republik Indonesia.

Mengapa Soeharto melirik Habibie? Alasannya, Habibie, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan itu salah satu putera bangsa brilian lulusan Jerman. Bicara rekayasa pesawat terbang dan urusan tetek bengek burung besi dan anatominya, Habibie adalah jagonya.

Baik BJ Habibie dan Pastor Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr atau Romo Mangun, sama-sama lulusan di kampus yang sama di Jerman, negeri yang pernah dikendalikan Kanselir Helmut Kohl dan Angela Merkel. Kampus dengan lulusan siap pakai di mana mereka bekerja.

Beda keduanya, baik BJ Habibie dan YB Mangunwijaya: Habibie jago di teknik rekayasa pesawat terbang. Sedang Romo Mangun hebat tak hanya urusan arsitektur tetapi juga bidang sastra. Keduanya punya satu kesamaan: aset asli Indonesia.

Habibie sempat tinggal di Jerman. Namun, panggilan tanah tumpah darah lebih dominan. Atas permintaan Soeharto, Habibie diminta merevitalisasi PT Nurtanio, perusahaan yang memproduksi pesawat terbang.

Sedang Romo Mangun, sekembali dari Jerman meneruskan aktivitasnya sebagai seorang imam Katolik. Romo Mangun, imam Projo Keuskupan Agung Semarang itu juga berbaur dengan orang-orang kecil di Kali Code, Jogjakarta.

Ia menyulap perumahan kumuh orang-orang kecil sepanjang bantaran Kali Code yang berbuntut diberikan penghargaan Aga Khan Award. Bantaran Code menjadi asri bagi para penghuninya. Tatkala menyusuri Kali Code dalam suatu kesempatan liburan di Jogja, nampak indah. Beberapa rumah didesain menempel sepanjang tebing di sisi kanan Kali Code. Warganya sangat ramah. Romo Mangun adalah sosok imam dan arsitek yang rendah hati di mata warga penghuni Code.

Setelah Soeharto lengser keprabon, Habibie meneruskan sisa masa jabatan. Habibie adalah Presiden RI yang terbilang pendek masa kekuasaannya. Bicara ceplas ceplos. Ia bisa bergurau kalau lagi santai. Misalnya, saat diundang menjadi pembicara di Universitas Indonesia (UI), almamaternya, pada 23 Juli 2016, ia menceritakan kisah unik saat menjadi mahasiswa baru UI. Ia bernostalgia.

Saat berbicara di hadapan mahasiswa ia mengaku

banyak kenangan saat dirinya sebelum menjadi mahasiswa saat jadi mahasiswa dan setelah lulus dari Fakultas Teknik UI. Ceritanya, awal ia masuk UI adalah dirinya pingin satu jurusan. Masalahnya, saat baru masuk kampus, jurusan yang beliau inginkan itu belum ada. Ia kemudian ambil jurusan lain dengan catatan bila jurusan yang diinginkannya sudah dibuka, ia segera pindah.

“‎Saya ini tamat SMA tahun 54 (1954). Jadi tahun 54 saya mau belajar dalam bidang fisika, tetapi waktu itu jurusannya belum ada. Jadi saya disarankan masuk bidang elektro. Waktu saya diterima dengan catatan mungkin dua tahun berikutnya bagian fisika dibuka saya bisa masuk fisika,” ujar Habibie mengutip sebuah media online.

Pertama kali menjadi mahasiswa, Habibie pun dipelonco seniornya. Agak konyol dan menggelitik rasanya. Saat kuliah, Habibie tinggal tak jauh dari asrama wanita kakak kelasnya. Selama 14 hari, Habibie mengemban misi khusus dari para senior.

“Tiap pagi selama 14 hari saya setelah salat subuh harus ke asrama wanita senior saya. Tugas saya adalah ‎harus mengeluarkan suara ‘kukuruyuk’ di depan jendela kakak senior saya. Itu dilakukan dari satu jendela ke jendela kamar senior wanita saya,” kata Habibie, pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936. Hadirin ngakak dalam ruang di Gedung Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Malam ini, Habibie, si empunya suara “kukuruyuk” itu berpulang.

Putra Habibie, Thareq Kemal Habibie mengabarkan, Habibie meninggal di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta pada Rabu, 11 September 2019. “Saya harus menyampaikan ini, bahwa Ayah saya, Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, meninggal dunia pada pukul 18.05,” kata Thareq.

Sebelumnya, Habibie telah menjalani perawatan intensif di rumah sakit sejak 1 September 2019. “Jantungnya sudah berhenti beraktivitas, seperti yang saya bilang. Karena umur dan aktivitas yang banyak,” lanjut Thareq.

Selamat jalan, Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie. Terima kasih atas pengabdianmu selama hidup. Jasamu akan kami kenang selalu. Doa kami juga untuk isteri tercinta Ibu Hj. Ainun Habibie. Damailah di sisi-Nya.

Ansel Deri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here