Jos Blikololong, Pungut Sampah Demi Honor Guru

0
299
Joseph Orem Blikololong dan istri berfoto bersama Andy F. Noya dalam acara Kick Andy

JOSEPH Orem Blikololong (60 tahun). Di Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, ia bekerja dalam diam. Kerjanya pun bukan sembarang kerja. Magun Jose, begitu ia akrab dipanggil, hanya seorang tukang pungut sampah. Pemulung, kata orang Jakarta.

Tukang sampah ini lahir di Lamabaka, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, 30 Oktober 1959. Jejak pengabdian menyisir setiap rumah tangga mengambil sampah warga, menarik perhatian Andy Flores Noya alias Andy F Noya, owner Kick Andy, reality show di Metro TV, tivi milik Surya Paloh, pengusaha media nasional.

Andy F Noya memandang Josef Blikololong perlu hadir di acara Kick Andy memberikan testimoni bagaimana suka-duka menjadi pemulung di tengah kota Kupang sembari menghidupi dua lembaga pendidikan yang ia rintis: SMP Lamaholot dan PAUD Peduli Kasih di bilangan Kelapa Lima, Kota Kupang.

“Setahun belakangan, uang transpor sembilan guru saya di SMP belum saya bayar. Saya agak kewalahan membayar uang transpor mereka. Harga sampah yang saya ambil dan pilah-pilah sebelum saya over ke teman untuk dikirim ke Surabaya makin mahal. Saat ini saya harus bayar Rp. 3 juta lebih,” kata Joseph sedih.

Ia mengaku, beberapa anak buahnya yang pernah bersama memungut sampah warga malah berbenti kerja karena tak kuat lagi dengan uang transpor yang ia berikan. Tak hanya itu. Kecemasan mendera batinnya karena tidak hanya guru SMP miliknya tak mampu ia bayar transpor mereka. Tiga guru PAUD yang membantu mengajar juga sudah puasa transpor dari kantong pribadinya.

Beberapa guru di sekolah miliknya, pernah diambil data untuk diberi insentif dari pihak Dinas PPO Kota Kupang, namun belum ada tanda-tanda realisasi. Situasi ini tak melumpuhkan semangatnya untuk memungut sampah demi uang transpor para guru di sekolahnya.

“Saya pikir agak berlebihan kalau menyebut jasa mengajar guru dengan sebutan honor. Honor tentu identik dengan bayaran profesional. Saya menyebutnya dengan uang transpor. Sebulan, per guru baya bayar Rp. 100.000 sampai 150.000. Tentu jauh dari ketentuan ketenagakerjaan. Untungnya, bapa ibu guru maklum dengan kondisi kami,” kata Joseph.

Joseph tukang pungut sampah ini berniat bertemu Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat untuk menyampaikan persoalan melangitnya harga sampah yang diambil dari produsennya. Ia berkilah, sebaiknya harga sampah jangan terlalu mahal. Ini karena selain ia masih memilah-milah sampah sebelum dibawa ke rekannya sebelum dibawa ke Jawa, ia juga masih menyewa bemo.

“Keuntungan saya per bulan hanya sekitar Rp. 2 juta. Berkat ini masih saya bagi untuk anak saya yang masih kuliah. Akibatnya, hampir setahun belakangan, uang transpor guru mandek,” ujarnya.

Ansel Deri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here