Orang Nagi Larantuka, “Dari Masyarakat Benteng ke Masyarakat Terbuka”

Kelompok Musik Fanfare, salah satu kelompok musik di Larantuka. (Foto : Dok BN)

Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keempat Semoga berguna.

Oleh : Benjamin Tukan

Larantuka pada awal perkembangannya, cenderung memusat hanya pada daerah Postoh di bagian timur hingga Sandominggo, kelurahan Larantuka di sebelah barat, yang merupakan pergerakan wilayah misi Katolik, kerajaan dan pemerintahan.

Di Postoh ada gereja Katedral, rumah para pastor, sekolah dan pertukangan misi, kompleks tentara, penjara, pasar dan pelabuhan. Di Sandominggo ada rumah Uskup Larantuka yang sebelumnya pada masa portugis terdapat sebuah gereja, juga ada sekolah. Di antara timur dan barat, ada rumah jabatan bupati, kantor pemerintahan, rumah raja, dan beberapa kapela.

Dari timur hingga barat, Larantuka menyerupai sebuah benteng. Segala keperluan penduduk dipenuhi di dalam “benteng” itu. Postoh mungkin lebih dikenal sebagai benteng sesungguhnya karena fasilitasnya yang lebih lengkap yang berhubungan dengan pusat militer (tansi tentara) dan penjara.

Wilayah dari Postoh hingga Sandominggo, itulah poros perkembangan penduduk Larantuka. Oleh karena kehidupan begitu terkonsentrasi di dalam “benteng” itu, maka melekat pula perasaan sebagai “orang dalam” untuk membedakan dari “orang luar”. Perasaan-perasaan semacam ini masih terbawa hingga saat ini.

Penduduk yang mendiami wilayah Larantuka ini sering menamakan diri mereka orang Nagi. Kata “Nagi” sering diidentikkan dengan “Nagarai” pengaruh kosa kata Melayu, yang sama artinya dengan kampung  atau sama dengan “Lewo” dalam bahasa Lamaholot. Orang Nagi menggunakan bahasa Nagi atau bahasa Melayu dialek Larantuka.

Aktivitas warga Larantuka

Dalam kehidupan keseharian, orang nagi  terbiasa  menjalankan tradisi keagamaan  yang ditinggalkan Portugis. Setiap kampung memiliki kapela, dengan kewajiban bagi setiap warga atau umatnya untuk selalu membersihkan dan memelihara tempat dan ornamento termasuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Tradisi prosesi Jumat Agung dan tradisi semana santa merupakan tradisi bersama di antara orang nagi.

Selain aktif di gereja, orang Nagi pun dekat dengan kerajaan dan juga dengan pemerintahan modern. Ini juga membawa konsekuensi lain, bahwa penduduk yang tinggal di dalam wilayah ini lebih dahulu berkembang atau minimal dapat lebih dahulu tahu akan kebijakan yang datang dari pusat kekuasaan. Dalam hubungan dengan akses terhadap pendidikan juga lowongan untuk menjadi pegawai, tentu orang nagi lebih banyak memiliki peluang. Di antara tamatan-tamatan dalam pendidikan awal, banyak orang nagi yang menjadi guru dan duduk di lembaga pemerintahan.

Sebagai sebuah komunitas kota yang tumbuh dan berkembang dekat dengan pusat kekuasaan, konsekuensi lain yang tidak bisa dihindarkan adalah perasaan untuk mengidentifikasikan diri sebagai yang paling tahu, terpelajar dan punya kebudayaan tinggi. Tidak jarang pula dalam kehidupan sosial muncul anggapan tentang keterbelakangan yang dialami oleh masyarakat di sekitarnya, sebagai sesuatu yang terberi.

Jika sejarah mau dilihat lagi, perasaan-perasaan yang merasa paling tahu ini kadang menciptakan gap antara masyarakat yang ada di dalam dan di luar “benteng”. Kota tetap dimaknai  hanya milik mereka yang kebetulan punya akses dengan sumber-sumber kekuasaan ataupun pengetahuan.  

Perkembangan masyarakat memang tak terhindarkan. Cepatnya perubahan pasca kemerdekaan, membuat kehidupan orang nagi mulai bercampur baur dengan penduduk lain yang datang ke ibukota Kabupaten dan yang datang ke pusat misi. Pendidikan yang diperoleh beberapa anak di luar orang nagi, akibat peluang yang dibuka gereja dan pemerintahan, memungkinkan tamatannya bekerja di Larantuka. Kendati ada perasaan untuk memiliki tradisi yang diwariskan, otoritas gereja setempat dan pemerintah tidak mungkinkan untuk membeda-bedakan satu dengan yang lain, jika tidak pada pertimbangan khusus atau berdasarkan kompetensi.

Orang nagi yang tamatan sekolah guru dan pertukangan dikirim untuk bekerja di di desa-desa sekitarnya ataupun dikirim ke perkampungan-perkampungan di Flores, Sumba dan Timor. Hal ini telah juga jauh sebelum kemerdekaan. Tapi mau dikatakan di sini bahwa orang nagi tidak saja mengenal budaya lain dari kedatangan penduduk ke Larantuka, tapi juga mengenal budaya lain karena ditugaskan untuk bekerja di wilayah lain. Terjadi proses kawin mawin, juga bentuk-bentuk pembauran yang terjadi membuahkan makna-makna baru pada kehidupan orang nagi.

Bencana banjir 1979, yang memporak-porandakan kota Larantuka membuka lembaran baru untuk mereka yang tinggal di dalam “benteng” untuk menerobos keluar dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya.  Mereka yang menjadi korban dibangun pemukiman baru di luar kota/benteng yang berakibat berubah pula pola interaksi masyarakat.

Sebagaimana contoh, di perkampungan baru Weri (pemukiman untuk korban banjir yang dibangun pemerintah pasca banjir 1979) orang nagi mulai lebih intens berbaur dengan masyarakat umumnya. Apalagi pemukiman korban banjir ini, dalam perkembangan kemudian, lebih menyerupai perumahan perumahan baru bagi siapa saja yang hendak tinggal di Larantuka.

Pelabuhan Larantuka (Foto : FBC)

Dari Weri di ujung timur, jika hendak kembali ke Larantuka (wilayah Postoh -Sandominggo) maka orang akan melewati berbagai kampung kecil seperti kota Sau, Kota Rowidho, Kampung tengah, Lebao , dan seterusnya hingga Amagarapati dan Ekasapta. Tak berlebihan kampung-kampung kecil ini dengan sendirinya terdongkrak untuk diperhatikan. Perkembangan kota terjadi juga di Barat pada desa-desa selepas Sandominggo yakni Pante Besar, Lewolere dan Waibalun. Mulai terjadi pergerakan untuk keluar dari benteng, sekaligus menorobos masuk ke dalam benteng.

Pasca banjir 1979, banyak kantor dibangun kembali di luar benteng. Kantor Bupati dan kantor-kantor lainnya yang dibangun di tempat baru menyerupai kompleks perkantoran itu, semakin meninggalkan Larantuka sebagai sebuah benteng. Larantuka perlahan mulai menjemput perkembangan kota modern yang didalamnya harus pula merayakan pluralitas.

Sedikit berkembang dari kota yang hanya dalam benteng, kini sedikit mulai meluas, sekalipun masih terkesan sangat sempit untuk menampung segala fasilitas perkotaan. Namun, ada optimisme bahwa masyarakat kota yang lebih plural dapat saja segera terwujud. Sementara beberapa perkampungan tradisional yang berada di sekitar pegunungan Ile mandiri mulai ditata sekaligus menjanjikan suasana pembangunan kota yang lebih baik dan bernilai untuk jangka panjang.

Berhadapan dengan perkembangan masyarakat tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisi yang dimiliki masyarakat, maka pekerjaan rumah yang besar adalah mencari formula yang pas agar kehidupan itu bisa mendatangkan kebahagian bagi semua orang tanpa ada yang merasa tersisih dari perkembangan yang ada. Perayaan Semana Santa, misalnya, di satu sisi adalah perayaan orang nagi Larantuka dengan segala aturan yang ditetapkan, tapi sebagai perayaan keagamaan harus terus membuka diri untuk keterlibatan pihak lain.

Diskusi masih terbuka. Gereja, Pemerintah, dan Kerajaan, tokoh masyarakat, akademisi mestinya selalu duduk bicara menghadapi perubahan yang terus datang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here