Memanjakan Mata di Bukit Nilo Maumere

0
307
Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

BNC,- Pulau Flores menyimpan sejuta pesona wisata. Bila Anda berada di Larantuka, kota Reina Rosari, Flores Timur di ujung timur. Pun berada di Labuanbajo, kota ujung barat nusa bunga. Maka melangkahlah lebih dalam, ke Maumere. Di sini tak sekadar Ledalero, kampus filsafat pencetak sarjana filsafat dan imam Katolik kelas dunia bakal membuat kagum. Merapatlah ke Nilo. Manjakan mata dengan pesona Maumere dan laut Flores dari ketinggian.

DARI Hotel Capa, Jalan Mairoa Waipare, Maumere, kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tukang ojek itu melaju kencang bersama Kewaama, tamu hotel milik Melchias Markus Mekeng, pengusaha sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Tak lama si tukang ojek berkulit legam itu menghentikan laju kendaraan. Di Jalan Brai, Kota Uneng, Alok, si tamu hotel itu minta diturunkan di jalan depan sebuah kapel kecil, persis di samping rumah tinggal para biarawati Katolik. Akhir Januari 2018, Kewaama, menyambangi Maumere, Flores.

“Saya minta tukang ojek berhenti di Jalan Brai. Saya tertegun melihat patung Bunda Maria Segala Bangsa berdiri megah. Saya sengaja melihat sejenak dari pinggir jalan keindahan Nilo. Selama ini saya hanya mendengar tempat wisata rohani itu dari kerabat yang pernah ke Maumere. Kali ini saya bisa menyaksikan sebuah maha karya rohani dari Kongregasi Carmel, sebuah tarekat religius klerikal diosesan. Saya memanjakan mata sejenak sebelum bertemu kerabat yang tinggal tak jauh dari kapel itu,” ujar Kewaama saat berbincang-bincang dengan berandanegeri.com saat dihubungi dari Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu, 11 Juni 2020.

Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

Celestinus Ola Koban, warga asal Atadei, Pulau Lembata yang lahir dan besar di Maumere juga mengakui, patung Bunda Maria Segala Bangsa unik itu terletak di  Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita. Bukit eksotik itu menjadi salah satu destinasi wisata di Maumere, Flores yang digandrungi para wisatawan dalam negeri maupun manca negara. Para wisatawan dalam negeri, menurut Tino Koban, menjadian Nilo sebagai salah satu destinasi favorit Maumere tatkala menyusuri keindahan Flores mulai dari Labuanbajo di bagian barat hingga Larantuka di ujung timur Flores.

Maumere adalah kota di Flores yang sudah mendunia. Setiap tahun, para wisatawan berbondong-bondong menyambangi kota yang dihempas gempa bumi dan gelombang tsunami tahun 1992 dan nyaris melumpuhkan seluruh aktivitas warga Sikka dan beberapa kabupaten lain seperti Ende dan Flores Timur. Selain itu, Maumere juga menyajikan pesona Nilo karena dari atas ketinggian wajah kota terlihat indah di dipandang mata. Pengalaman ini terasa lengkap setelah merasakan suasana damai bukit Ledalero, sekolah tinggi berusia puluhan tahun milik Kongregasi Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) yang sudah mencetak ribuan sarjana filsafat, imam Katolik maupun awam kelas dunia yang tak hanya menyebar dalam negeri namun hampir mengabdi di setiap ujung bumi di lima benua.

“Setiap tahun, wisatawan selalu ke Maumere kemudian memanjakan mata dari ketinggian Nilo. Dari atas wisatawan leluasa memandang Maumere. Selain ke Larantuka untuk mengikuti proses Semana Santa atau usai mengunjungi Lamalera yang dikenal di seluruh dunia atau menikmati keindahan alam danau Tiga Warna Kelimutu, perkampungan eksotik Moni di Kabupaten Ende, wisatawan akan melihat juga Nilo. Selain merasakan suasana khas sebagai obyek wisata bernuansa religi, wisatawan juga melihat wajah Maumere dari atas bukit. Suasana kota yang indah, warga kota yang ramah atau akses kuliner yang mudah adalah daya tarik lain yang memikat hati wisatawan betah,” ujar Tino Koban, praktisi hukum yang tinggal di Bogor, Jawa Barat.

Menggapai Nilo

Nilo dan Maumere adalah dua entitas yang sulit dipisahkan satu sama lain. Keduanya ibarat gadis kembar yang molek. Menyebut Nilo mengingatkan para pengunjung tentang sebuah destinasi wisata bernuansa religi, tempat para pengunjung menemukan kedamaian batin. Tak berlebihan, ke Maumere tanpa menyambangi patung Bunda Maria Segala Bangsa Nilo, rasanya nggak rame. Pun menyambangi Maumere tak akan pernah bebas dari kisah Paus Yohanes Paulus II (Sri Paus), Pemimpin Umat Katolik Sedunia, yang memilih bermalam di bukit sandar matahari, Ledalero tahun 1989 dalam kunjungan kenegaraan di Indonesia, termasuk Dili, kota Provinsi Timor Timur, yang kini bernama Republik Demokratik Timor Leste. Tahun 1992 Maumere juga menjadi pusat perhatian dunia akibat gempa bumi dan gelombang pasang (tsunami)  yang melumatkan banyak bangunan dan menewaskan ribuan orang.

Di atas bukit itu ditakhtakan patung perunggu setinggi 28 meter dengan berat 6 ton. Proses pembangunan dimulai pada 2004 dan dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agung Ende Mgr. Abdon Longinus da Cunha Pr melalui Misa Agung kemudian ditetapkan sebagai tempat ziarah pada 31 Mei 2005. Patung itu berada di atas ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (dpl). Posisi patung itu menghadap langsung Maumere di bawahnya. Mata wisatawan akan leluasa dimanjakan Laut Flores yang menawan hati. Tak berlebihan Nilo menjadi destinasi wisata aduhai bagi para penggila tours and travel karena dapat menikmati view Maumere dan Laut Flores dari ketinggian bukit.

“Jarak tempuh dari Maumere ke Nilo sekitar satu jam lebih. Kalau dalam rombongan pengunjung bisa menyewa kendaraan. Untuk perorangan cukup menyewa tukang ojek yang mangkal di sekitar hotel atau tempat penginapan. Sebelum sampai ke Nilo, pengunjung biasanya singgah terlebih dahulu di Ledalero atau Seminari Tinggi Santo Paulus Ritapiret. Di gerbang masuk kawasan wisata Nilo, semua kendaraan berhenti di area khusus yang disiapkan kemudian berjala kaki sejauh kurang lebih 500 meter menuju lokasi wisata. Dari bukit itu pengunjung leluasa menikmati panorama alam yang indah dan memandang Maumere dari atas ketinggian bukit,” ujar Anjebertus Magnus, warga Maumere.

Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Timur Dr Jelamu Ardu Marius M.Si mengatakan, obyek wisata favorit Bukit Bunda Maria Nilo selalu ramai dikunjung wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Obyek wisata ini juga menjadi pilihan bagi para peziarah rohani Katolik tak hanya dari daerah-daerah di NTT tetapi juga luar negeri seperti Timor Leste, Filipina, Portugal, Brazil, Amerika, Australia maupun negara-negara di benua Eropa. Berada di atas bukit dan memandang kota Maumere yang berada di bawah dan laut Flores yang tenang seolah membawa rasa damai bagi para pengunjung. Selain menghabiskan waktu sekadar berekreasi, para pengunjung beragama Kristiani mengisi waktu untuk berdoa dengan khusuk. Pepohonan yang hijau dan masih alami serta angin yang bertiup manja akan mengantar para pengunjung menyadari betapa Tuhan begitu murah menghadirkan Nilo bagi pengunjung.

“Obyek wisata Bunda Maria Segala Bangsa Nilo Maumere merupakan salah satu destinasi unggulan Flores. Dalam berbagai kegiatan kunjungan Bapak Gubernur Viktor Laiskodat ke luar negeri, beliau selalu mempromosikan obyek wisata Nilo dan beberapa obyek wisata favorit lainnya di Flores. Selain itu, di Flores kita punya Taman Nasional Komodo, Riung, Kelimutu, Larantuka, dan Lembata. Harapannya semakin banyak wisatawan yang berkunjung di NTT. Promosi ini membuka peluang pemasukan bagi masyarakat dan daerah. Kita tahu pariwisata menjadi perhatian Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur sejak awal memimpin NTT. Secara khusus beliau berdua menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan daerah,” ujar Marius, lulusan Sekolah Tinggil Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere.

Patung Yesus di Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

Berkunjung ke Maumere dan menyambangi Nilo dapat menggunakan pesawat atau kapal laut. Saat ini ada sejumlah maskapai penerbangan beroperasi di Bandara Udara Frans Seda Maumere seperti Sriwijaya Air, Lion Air, Wings Air, dan lain-lain. Penerbangan ke Maumere menempuh rute Jakarta via Denpasar dan Lombok atau Jakarta via Sumba-Kupang. Pengunjung bisa menempuh rute dengan kapal Pelni dari Jawa, Bali, Lombok atau Bima menuju beberapa kota kabupaten di Flores. Masyarakat Maumere dan Kabupaten Sikka umumnya terkenal menjaga dan melestarikan kerajinan tangan, budaya, adat-istiadat, dan kesenian. Lagu Gemu Fa Mi Re adalah salah satu lagu daerah yang digandrungi sebagian lapisan masyakarat Indonesia.

Maumere juga terkenal dengan kekhasan tenun ikatnya. Kota Maumere Maumere dikelilingi desa-desa kecil penghasil kerajinan tenun. Beberapa desa yang sudah familiar di kalangan pengunjung terdapat di daerah Sikka dan Lela. Hasil karya tangan khas ibu-ibu dan perempuan selalu jadi cinderamata para pengunjung. Selain menarik, corak dan motif kain tenun khas Maumere sangat unik dan mudah dibawa. Mengelliling Maumere juga membawa sensasi tersendiri bagi pengunjung. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Flores Timur. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ende dan sebelah selatan berhadapan muka dengan Laut Sawu.

Bagi para pencinta sejarah boleh jadi akan tertarik untuk menelusuri arti kata Maumere dan cikal bakal kota itu mendandani dirinya hingga terkenal di seluruh pelosok dunia. Maumere berasal dari kata bahasa Ende, yaitu Ma’u berarti pelabuhan dan Mere berarti besar. Sejumlah catatan melukiskan, Kata Maumere muncul jaman dulu saat Moang Juang Korung da Cunha ditugaskan Raja Sikka, Don Cosmo Semao da Silva untuk mengurus pelabuhan Alok Wolokoli yang ramai dikunjungi pedagang. Korung da Cunha lalu membangun sebuah perkampungan dan benteng di pantai sebuah teluk berbentuk cekung, dengan gugusan pulau di depannya. Tak lama Korung da Cunha melabeli tempat itu dengan Maumere yang berarti pelabuhan besar.

Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (Foto: Dok Marius Jelamu)

Warga Maumere Silverius Angi mengatakan, para pengunjung atau wisatawan yang bepergian ke Flore terutama Maumere tak terlalu sulit mendapatkan hotel atau home stay dengan harga sesuai kemampuan isi dompet. Di Maumere ada sejumlah hotel bintang 4 dan beberapa hotel melati jadi pilihan pengunjung sesuai dengan selera pengunjung. Misalnya, Hotel Sylvia; Capa Maumere Resort Hotel di Jalan Nairoa Waipare; Sea World Club Beach Resort di Waiara; Amrita Maumere Resort; Sunset Cottages Maumere; Hotel Binongko Jaya; Nusra Hotel atau Hotel El Tari Indah. “Banyak altenatif pengunjung tinggal dan menetap di Maumere selama melakukan perjalanan wisata. Mereka bisa tinggal dalam beberapa hari di kota Maumere setelah puas memanjakan mata di Nilo dan puas memandang Maumere dan Laut Flores dari atas bukit rohani itu,” kata Siflan, sapaan akrab Silverius Angi, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sikka. (Germanus Wisung/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here