Jalan Kaki bersama Rousseau

0
379
Agustinus Tetiro

Oleh Agustinus Tetiro, Koordinator Grup Wartawan NTT di Jakarta dan Dunia

For, as I think I have said, I can only meditate when I am walking. When I stop I cease to think; my mind only works with my legs (Jean-Jacques Rousseau)

Never did I think so much, exist so much, be myself so much as in the journeys I have made alone and on foot. Walking has something about it which animates and enlivens my ideas. I can hardly think while I am still; my body must be in motion to move my mind (Jean-Jacques Rousseau)

Jalan kaki mungkin salah satu tindakan yang paling demokratis. Presiden atau warga biasa, orang kaya atau orang miskin, uskup agung atau umat biasa—kalau tidak cacat– bisa berjalan kaki dengan cara yang sama. Ada banyak refleksi tentang dan selama jalan kaki yang dilakukan oleh para penulis dan sastrawan. Dalam lintasan sejarah filsafat, ada banyak filosof yang suka jalan kaki. Sokrates suka jalan kaki ke agora dan berkeliling dari pasar ke pasar menyambangi para pemuda dan warga biasa. Nietzsche adalah pejalan kaki yang hebat: dua jam sehari Nietzsche tamasya ke Pegunungan Alpen di Swiss. Thoreau adalah seorang penakluk alam liar: tiap hari jalan kaki empat jam di pedesaan Concord di Amerika Serikat. Immanuel Kant diceritakan mempunyai jadwal jalan kaki yang ketat di Koenigsberg, Prusia (sekarang Rusia): konon, Kant selalu jalan kaki setelah makan siang pada pukul 12.45 waktu setempat.

Akan tetapi, mungkin hanya Jean-Jaques Rousseau (1712-1778) filosof pertama yang memfilsafatkan jalan kaki. Rousseau merefleksikan jalan kaki dalam karyanya Rêveries du promeneur solitaire (Reveries of the Solitary Walker) yang tidak sempat diselesaikannya, tetapi diterbitkan pada 1782. Sang filosof juga menyinggung tentang jalan kaki pada beberapa karya lainnya. Rousseau memang seorang pengembara. Petualang. Dia pemalu, tetapi genit terhadap perempuan dalam pengembaraannya. Dia juga pencuriga dan tidak bisa bertahan lama di suatu tempat. Rousseau berjalan kaki dari kota ke kota, tanpa membawa buku-buku sumber utamanya, yang hampir pasti membuatnya tidak bisa dengan tekun mempelajari sesuatu secara rutin dan mendalam. Rousseau menulis berdasarkan bacaan yang dia peroleh selama di perjalanan, beberapa merupakan buku koleksi perempuan yang tidur dengannya, serta dari refleksinya atas kondisi sebuah kota yang didiaminya secara temporer. “Rousseau membuat karya-karya yang membuatnya dicurigai dimana-mana,” tulis F Budi Hardiman dalam Pemikiran Modern. Rousseau mengatakan, “aku tidak pernah mengerjakan apa-apa, tetapi sewaktu aku berjalan kaki, alam pedesaan itulah ruang kerjaku”

Filosof Perancis Frêdêric Gros menulis salah satu bab tentang Rousseau di dalam bukunya A Philosophy of Walking. Gros mengelompokkan cerita tentang jalan kaki Rousseau ke dalam tiga babak waktu: fajar, tengah hari, petang. Pembagian ini juga berdasarkan usia Rousseau. Rousseau berjalan kaki sejak berusia 16 tahun hingga sekitar 19 tahun. Maret 1728, Rousseau memutuskan untuk tidak lagi ke Jenewa setelah mendapati gerbang kota itu tertutup sepulangnya dari bermain ke luar kota. Saat itu dia bekerja di bengkel seorang juru grafir yang suka memukulnya. Rousseau kemudian meminta pekerjaan dari seorang imam Katolik. Sang pastor mengirimnya ke Annecy, tentu dengan jalan kaki, kepada seorang perempuan yang akan mengajarinya tentang Kekatolikan. Rousseau kemudian menjalin asmara dengan perempuan yang bernama Madame de Warens itu.

Setelah beberapa waktu, Rousseau ke Turin, jalan kaki dua puluh hari, menyeberangi Alpen via Mont Cenis. Perjalanan ini untuk memperdalam ajaran Katolik. Pada 1731, Rousseau berangkat dari Solothurn, Swiss ke Paris untuk dibina dalam bidang militer. Ternyata gagal. Lalu, sang filosof jalan kaki lagi ke Chambery demi kembali ke dalam pelukan Madame de Warens. “Di usia 16 bahkan 20, Anda tidak membawa beban apapun selain harapan-harapan ceria” (Gros)

Pada usia 40-an tahun Rousseau sudah melakoni banyak pekerjaan: sekretaris kedutaan besar di Venice, guru musik, penulis ensiklopedia. Dia ingin hidup yang lebih tenang. Namun, sang raja menemukan karyanya Discours sur le arts yang memang sedang booming saat ini. Rousseau kemudian diundang ke istana. Ini pun hanya sementara waktu saja. Karena, menurut Rousseau, tibalah waktunya untuk menarik diri dari pencarian sosial dan gosip yang tidak henti-henti. Dia hanya merindukan jalan setapak di hutan. Di masa ini dia menulis Discours sur l’origine et les fondements de l’inégalité parmi les hommes (Discourse on the Origin and Basis of Inequality Among Men) yang kemudian diterbitkan pada 1754.

Pada 1753, Rousseau suka berjalan kaki pagi hari ke hutan Saint-Germain atau Bois de Boulogne. Berjalan kaki sendirian dengan sepatu tebal. Untuk menikmati alam pedesaan yang indah. Gros berbicara tentang Rousseau sebagai manusia pejalan kaki (homo viator) yang sedang mencari bentuk manusia murni di dalam diri. Manusia murni tidak mencari hal lain selain melakukan apa yang berkenan dalam cinta diri yang otentik.

Rousseau berbicara tentang cinta diri. Bagi Rousseau, alam itu baik dan masyarakat jahat. Soal cinta diri, sang filosof membedakan dua hal: amour-de-soi dan amour-propre. Pada yang pertama, cinta diri karena dorongan alam(-iah), misalnya: menyanyi di kamar mandi. Yang kedua: cinta diri–sebagai produk masyarakat– karena senang bisa nyanyi di panggung (publik) dan dipuja-puji. Anda menyanyi dengan kualitas suara kaleng rombeng di kamar mandi, tapi sukacitamu menjadi penuh untuk dirimu, tidak terikat dengan pendapat orang lain, penilaian pitch-control atau senyuman para pemuja/tante-tante genit/om-om senang. Menyanyi di kamar mandi, oleh karena itu, lebih otentik. “Mengistimewakan diri adalah hal yang anda pelajari dari masyarakat. Anda harus melakukan perjalanan jauh untuk mempelajari kembali cinta-diri yang telah hilang” (Gros)

Di usia 60 tahun, Rousseau jadi orang buangan, ditolak, dikecam, di Jenewa yang republik ataupun di Perancis yang monarkhi. Dia luntang-lantung. Di usia ini, Rousseau berjalan kaki begitu saja, tanpa strategi untuk penemuan gagasan baru atau pencarian ide segar, dan lain-lain. Inilah aktivitas berjalan kaki untuk menemani waktu, mengimbangi kecepatannya. Jika di usia muda Rousseau mengatakan, saat berjalan kaki dia adalah penguasa hayalan-hayalannya, maka di usia tua, berjalan kaki adalah sebuah kepasrahan, kerelaan, perasaan kasih sayang kepada diri sendiri.

Dalam pemikiran Rousseau, berjalan kaki telah menjadi suatu kebiasaan untuk relaksasi diri. Relaksasi diri adalah elemen penting dalam pemikiran Rousseau, terutama dalam filsafat pendidikan. “Rahasia agung pendidikan adalah mengarahkan sedemikian rupa sehingga latihan-latihan jasmani dan rohani saling bekerja sama untuk menciptakan relaksasi (diri),” ujar Rousseau.

Sebagaimana diketahui, Rousseau adalah salah satu raksasa dalam sejarah filsafat. Kebesarannya terletak tepat pada kritiknya atas pencerahan. Kritik itu mulai dari sebuah perlombaan penulisan esai. Pada 1750, itu artinya saat berusia 38 tahun, Rousseau mengikuti lomba menulis esai dari Akademi Dijon. Pertanyaan untuk lomba itu adalah: Apakah pengembangan seni dan ilmu pengetahuan mempunyai dampak bagi perbaikan dan pemurnian moral?

Rousseau menjuarai perlombaan itu setelah memberikan jawaban negatif atas pertanyaan yang diajukan: pengembangan seni dan ilmu pengetahuan serta kebudayaan merusakan moral manusia. Rousseau, sebagaimana diuraikan Ignas Kleden, membuktikan kekuatan jawabannya dengan dua cara. Pertama, bukti-bukti dalam lintasan sejarah umat manusia dan peradaban-peradaban besar di dalamnya. Kedua, analisa tentang perilaku manusia yang telah dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan kesenian. Mesir, Yunani Antik, dan Roma  adalah bangsa-bangsa yang kuat karena warganya setia berpegang pada kebajikan, kemudian menjadi lemah dan merosot setelah berkenalan dengan ilmu pengetahuan, filsafat dan seni. Menurut Ignas Kleden, Rousseau menjadi menarik karena dia adalah contoh tentang kemunculan seorang filosof, penulis dan intelektual zamannya dari lingkungan yang tidak sepenuhnya mendukungnya. “Sensibilitas (Sensibility, sensibilite) muncul sebagai kata kunci yang baru setelah Eropa merasa letih dan jenuh dengan segala sesuatu yang rasional. Pengaruhnya ini berlaku dalam berbagai bidang, tetapi amat terasa gugatannya pada standar-standar etika dan estetika” (Kleden)

Selanjutnya, Rousseau dikenal sebagai pemikir romantisme. Romantisme dalam arti kritik terhadap kemajuan pencerahan dan kekuatan akal budi semata (counter-Enlightenment thinking). Pada Rousseau, untuk pertama kalinya dunia menemukan kritik amat tajam atas kemajuan ilmiah, setelah sebelumnya kritik hanya diajukan bagi agama/dogmatisme religius dan metafisika tradisional. 

Dengan basis pemikiran romantisme seperti itu pulalah filsafat pendidikan Rosseau dibangun. Karyanya Émile, ou de l’éducation (Emile, or On Education) pada 1762 telah menjadi salah satu insight romantis terpenting pada zamannya. Dalam penilaian Rosseau, pendidikan terlalu otoritatif, disiplin, dan mekanistis. Tujuan model pendidikan ini adalah penyeragaman tingkah laku dan informasi. Rousseau tidak setuju. Menurut Rousseau, manusia dari kodratnya baik, masyarakat dan kebudayaanlah yang merusak. Ignas Kleden menduga bahwa konsep itu dipelajari Rousseau dari iman Katolik sebagaimana ditulis dalam Kitab Kejadian. Adam dan Hawa diciptakan baik adanya oleh Tuhan. Datanglah penggoda yang membawa mereka pada pohon pengetahuan, yang ternyata membawa mereka pada banyak kesengsaraan.

Filsafat pendidikan Rousseau secara radikal mengajarkan manusia untuk terus mencari manusia yang murni dalam dirinya. Pencarian itu bisa dicapai bila manusia kembali kepada panggilan alam. Panggilan kembali ke alam bukan dalam arti anti-kemajuan, tetapi untuk selalu sadar bahwa yang paling otentik adalah rasa cinta pada diri dalam arti amour-de-soi, yang salah satunya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sambil menikmati alam yang selalu membisikkan suatu suara yang paling jujur tentang diri kita. Ini menjadi tantangan serentak ajakan serius bagi kita yang hidup di zaman yang serba cepat ini. Pada akhirnya, seperti kata penulis petualang Eric Weiner, “Berjalan kaki adalah cara bepergian paling lamban, tetapi merupakan rute tercepat kepada diri kita yang otentik”(*)

*****

SUMBER BACAAN:

Eric Weiner, The Socrates Express (Bandung: Qanita, 2020), hlm. 84-108

F Budi Hardiman, Pemikiran Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Yogyakarta: Kanisius, 2019), hlm. 111-119.

Frederic Gros, A Philosophy of Walking (Jakarta: Renebook, 2020), hlm. 79-99.

Ignas Kleden, Fragmen Sejarah Intelektual. Beberapa Profil Indonesia Merdeka (Jakarta: Buku Obor, 2020), hlm. 7-10.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here