• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, Februari 13, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home Featured

Daniel Dhakidae dan Perihal Isi Dalam

by Redaksi
April 6, 2021
in Featured
0
Daniel Dhakidae dan Perihal Isi Dalam

Ket. Foto: Daniel Dhakidae, Sumber Foto google.co.id

0
SHARES
20
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

SEJAK jadi penjual koran eceran di Kupang tahun 1992, nama Dr Daniel Dhakidae sudah saya baca di Kompas. Di koran harian paling besar di Indonesia itu, saya baca nama (Daniel) itu dalam box redaksi. Selain nama Marcel Beding, Pius Karo, Ansel da Lopez, Valens Doy, Rikar Bagun atau Damyan Godho. Bele Marcel adalah wartawan senior dari kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Lembata. Sedang moat Pius dan om Ansel dari Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. Ka’e (kaka) Daniel dan om Damy dari Ngada. Di luar itu ada banyak nama wartawan senior asal NTT kala itu yang akrab di telinga setelah saya kaget lihat langsung koran-koran besar terbitan Jakarta yang beredar di Kupang. Kaget karena baru tahun 1991 mata saya melihat dan memegang koran-koran itu di Kupang. Maklum. Sejak SD hingga tamat SMA saya mulai agak akrab dengan DIAN dan HIDUP. Itu pun memegang dan membaca musiman. Di Boto, kampungku, kami meloi dari jauh dan hanya diceritakan kembali pastor ini berita dan artikel saja.

Bele Marcel, demikian juga Goris Prawin hanya saya dengar saat mereka konon mengikuti perayaan 100 tahun Gereja Katolik masuk Lamalera. Marcel belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Marcel Beding, wartawan Kompas. Begitu pula Goris Perawin belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Gorys Keraf, Guru Besar Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Moat Pius Karo dikenalkan moat Ardi, kerabatnya dari Maumere. Moat Ardi, memperkenalkan pria yang sama-sama duduk di bangku adalah kerabatnya yang pernah wartawan Kompas. “Maaf, apa Pius yang dimaksud itu moat Pius Karo,” kata saya setengah berbisik kepada moat Ardi. “Benar. Dulu sama-sama tinggal di kos selama saya jadi supir bus ke Jawa,” kata moat Ardi.

Ka’e Daniel Dhakidae awalnya sua bikin gerogi. Maklum. Namanya tertera di box redaksi Kompas dan tentu ia orang hebat, pintar, dan susah ngobrol. Apalagi ia seorang intelektual dengan kualifikasi pendidikan doktor. Lulusan Amerika, apalagi. Itu yang ada dalam pikiran saya. Bertemu pertama kali pun bahasa saya masih kuat dengan logat Kupang càmpur baur Lembata. Itu hal lain yang bikin lidah berat memulai omong dari mana agar bisa nyambung ka’e Daniel. Saya sengaja pepet Daniel saat beliau ambil nasi dari tempat nasi besi. “Saya kira kita ambil dari seringan. Ini tuan pesta taro di baskom besar,” kata saya.

Berharap ada respon ka’e Daniel. Dan benar adanya. “Aji isi dalam rapi sekali ko. Dari San Dominggo ko?,” tanya Daniel. Celana kain dan baju kotak-kota memang saya sisip rapi, isi dalam. “Saya cuma dengar cerita emperan San Dominggo, ka’e,” jawab saya ke Daniel. “Dari Larantuka, Solor, Adonara atau Lembata,” tanya Daniel. “Saya dari Lembata, ka’e. Kampung tetangga, bapa Marcel Beding,” kata saya. Saya sengaja menyebut “kampung tetangga” bele Marcel agar obrolan dengan Daniel bisa berlanjut di sela-sela jedah diskusi dan bedah yang ia juga tampil sebagai pembicara.

Taktik mendekati lalu akrab dengan narasumber lalu bertanya banyak sudah diajarkan para senior saat pelatihan jurnalistik bagi anggota baru PMKRI Santo Fransiskus Xaverius Cabang Kupang. Kalau narasumber pasang muka sanger, cari akal agar bisa tembus lalu wawancara. Kalau seorang narasumber agak kaku, nyeletuk saja. “Pak, maaf. Tali sepatu terlepas,” pesan senior saya, yang pernah ngepos di sebuah koran terbitan Jakarta. “Tapi, cepat-cepat tanya materi yang kamu bawa dari kantor,” lanjutnya mengingatkan. Nah, “ilmu” itu yang saya terapkan saat bertemu Daniel dalam jarak sejengkal. Tatkala menyebut “seringan”, Daniel tersenyum diikuti omongan, “Aji isi dalam rapi, ko“.

Begitu saat hendak mewancarai Menteri Kawasan Timur Indonesia, Manuel Kaisiepo, saya nyaris ditolak karena sang menteri segera ke bandara untuk kunjungan kerja. “Kàka, nanti Pemred saya marah besar kalau tak jadi wawancara. Kami terdesak deadline. Atau saya wawancara dalam oto kaka saja. Selesai di mana baru kaka kasi turun saya,” kata saya kepada Manuel. Manuel tertawa lalu. “Dua puluh hingga tiga puluh menit cukup ya?” katanya. Saya oke. Jadilah wawancara khusus terkait Papua itu saya turunkan dalam judul, ‘Manuel Kaisiepo: Adà Disparitas Regional’. Ingatan saya kembali ke Daniel, intelektual Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Hari ini, ka’e Daniel Dhakidae berpulang. Damailah di sisi-Nya. Ja’o (saya) senang pernah bertemu ka’e, sosok intelektual rendah hati yang dimiliki Indonesia. Dewa beka.

Jakarta, 6 April 2021 Ansel Deri Orang udik dari kampung; Menghormati ka’e Daniel.

ShareTweetSend
Next Post

Presiden Bantu 5000 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Kabupaten Flores Timur dan Lembata

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

L a u t

L a u t

1 tahun ago
Workshop Peningkatan Kompetensi Guru SMAN 2 Maumere: Fokus pada Literasi dan Numerasi untuk Pembimbingan Karya Tulis Ilmiah

Workshop Peningkatan Kompetensi Guru SMAN 2 Maumere: Fokus pada Literasi dan Numerasi untuk Pembimbingan Karya Tulis Ilmiah

1 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In