Daniel Dhakidae dan Perihal Isi Dalam

Ket. Foto: Daniel Dhakidae, Sumber Foto google.co.id

SEJAK jadi penjual koran eceran di Kupang tahun 1992, nama Dr Daniel Dhakidae sudah saya baca di Kompas. Di koran harian paling besar di Indonesia itu, saya baca nama (Daniel) itu dalam box redaksi. Selain nama Marcel Beding, Pius Karo, Ansel da Lopez, Valens Doy, Rikar Bagun atau Damyan Godho. Bele Marcel adalah wartawan senior dari kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Lembata. Sedang moat Pius dan om Ansel dari Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. Ka’e (kaka) Daniel dan om Damy dari Ngada. Di luar itu ada banyak nama wartawan senior asal NTT kala itu yang akrab di telinga setelah saya kaget lihat langsung koran-koran besar terbitan Jakarta yang beredar di Kupang. Kaget karena baru tahun 1991 mata saya melihat dan memegang koran-koran itu di Kupang. Maklum. Sejak SD hingga tamat SMA saya mulai agak akrab dengan DIAN dan HIDUP. Itu pun memegang dan membaca musiman. Di Boto, kampungku, kami meloi dari jauh dan hanya diceritakan kembali pastor ini berita dan artikel saja.

Bele Marcel, demikian juga Goris Prawin hanya saya dengar saat mereka konon mengikuti perayaan 100 tahun Gereja Katolik masuk Lamalera. Marcel belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Marcel Beding, wartawan Kompas. Begitu pula Goris Perawin belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Gorys Keraf, Guru Besar Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Moat Pius Karo dikenalkan moat Ardi, kerabatnya dari Maumere. Moat Ardi, memperkenalkan pria yang sama-sama duduk di bangku adalah kerabatnya yang pernah wartawan Kompas. “Maaf, apa Pius yang dimaksud itu moat Pius Karo,” kata saya setengah berbisik kepada moat Ardi. “Benar. Dulu sama-sama tinggal di kos selama saya jadi supir bus ke Jawa,” kata moat Ardi.

Ka’e Daniel Dhakidae awalnya sua bikin gerogi. Maklum. Namanya tertera di box redaksi Kompas dan tentu ia orang hebat, pintar, dan susah ngobrol. Apalagi ia seorang intelektual dengan kualifikasi pendidikan doktor. Lulusan Amerika, apalagi. Itu yang ada dalam pikiran saya. Bertemu pertama kali pun bahasa saya masih kuat dengan logat Kupang càmpur baur Lembata. Itu hal lain yang bikin lidah berat memulai omong dari mana agar bisa nyambung ka’e Daniel. Saya sengaja pepet Daniel saat beliau ambil nasi dari tempat nasi besi. “Saya kira kita ambil dari seringan. Ini tuan pesta taro di baskom besar,” kata saya.

Berharap ada respon ka’e Daniel. Dan benar adanya. “Aji isi dalam rapi sekali ko. Dari San Dominggo ko?,” tanya Daniel. Celana kain dan baju kotak-kota memang saya sisip rapi, isi dalam. “Saya cuma dengar cerita emperan San Dominggo, ka’e,” jawab saya ke Daniel. “Dari Larantuka, Solor, Adonara atau Lembata,” tanya Daniel. “Saya dari Lembata, ka’e. Kampung tetangga, bapa Marcel Beding,” kata saya. Saya sengaja menyebut “kampung tetangga” bele Marcel agar obrolan dengan Daniel bisa berlanjut di sela-sela jedah diskusi dan bedah yang ia juga tampil sebagai pembicara.

Taktik mendekati lalu akrab dengan narasumber lalu bertanya banyak sudah diajarkan para senior saat pelatihan jurnalistik bagi anggota baru PMKRI Santo Fransiskus Xaverius Cabang Kupang. Kalau narasumber pasang muka sanger, cari akal agar bisa tembus lalu wawancara. Kalau seorang narasumber agak kaku, nyeletuk saja. “Pak, maaf. Tali sepatu terlepas,” pesan senior saya, yang pernah ngepos di sebuah koran terbitan Jakarta. “Tapi, cepat-cepat tanya materi yang kamu bawa dari kantor,” lanjutnya mengingatkan. Nah, “ilmu” itu yang saya terapkan saat bertemu Daniel dalam jarak sejengkal. Tatkala menyebut “seringan”, Daniel tersenyum diikuti omongan, “Aji isi dalam rapi, ko“.

Begitu saat hendak mewancarai Menteri Kawasan Timur Indonesia, Manuel Kaisiepo, saya nyaris ditolak karena sang menteri segera ke bandara untuk kunjungan kerja. “Kàka, nanti Pemred saya marah besar kalau tak jadi wawancara. Kami terdesak deadline. Atau saya wawancara dalam oto kaka saja. Selesai di mana baru kaka kasi turun saya,” kata saya kepada Manuel. Manuel tertawa lalu. “Dua puluh hingga tiga puluh menit cukup ya?” katanya. Saya oke. Jadilah wawancara khusus terkait Papua itu saya turunkan dalam judul, ‘Manuel Kaisiepo: Adà Disparitas Regional’. Ingatan saya kembali ke Daniel, intelektual Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Hari ini, ka’e Daniel Dhakidae berpulang. Damailah di sisi-Nya. Ja’o (saya) senang pernah bertemu ka’e, sosok intelektual rendah hati yang dimiliki Indonesia. Dewa beka.

Jakarta, 6 April 2021 Ansel Deri Orang udik dari kampung; Menghormati ka’e Daniel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here