Lereng Bukit Siku Ara jadi Saksi Hidup bagi Kesuksesan Anak Bangsa di Manggarai Timur (Bagian Kedua-Selesai)

Sebanyak 46 siswa dan siswi SMP Satu Atap (Satap) Munde, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu, (14/4/2021) melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) 2021. Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon meninjau lokasi ujian di lereng bukit tikungan Siku Ara tersebut. (BERANDANEGERI.com/Markus Makur)

Oleh Markus Makur

BORONG – Jarum jam menunjukkan 09.05 Wita, Camat Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Ibu Regina Malon memperoleh informasi dari stafnya bahwa sebanyak 46 siswa dan siswi SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Desa Komba melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di semak-semak di kebun milik warga setempat di lereng bukit di tikungan Siku Ara, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu, (14/4/2021).

Lalu dari ruang kerjanya, Ibu Camat mengatakan ayo kita ke sana. Ayo kita ke sana. Kita memantau lokasi USBD tersebut. Kemudian kendaraan dinasnya dihidupkan oleh Pak Feliks Bensa melaju ke arah barat dari Kantor Kecamatan tersebut.

Ibu Camat dikawal dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Robertus Jawa dan Moses N Rodja. Di dalam kendaraan itu ada tiga wartawan termasuk KOMPAS.com. kurang lebih 10 menit, rombongan tiba di lokasi ujian tersebut.

Dari bawah jalan terlihat 46 anak-anak sekolah dari SMP Satu Atap Munde duduk diatas batu, tanah sambil memegang handphone untuk mengerjakan soal ujian.

Ibu Camat naik ke lokasi ujian tersebut. Disambut kepala sekolah, Robertus Jani, guru-guru sedang mengawasi jalannya ujian tersebut.

Ibu Camat menyapa siswa dan siswi guru-guru dengan ucapan selamat pagi. Disambut gembira oleh guru dan siswa, siswi dengan ucapan selamat pagi Ibu Camat.

Camat Malon memberikan motivasi kepada siswa,siswi, guru-guru dengan menyampaikan apapun kendala yang dihadapi terkait susah sinyal tidak mengurangi semangat untuk mengerjakan ujian lewat handphone.

“Anak-anak tetap semangat walaupun melaksanakan USBD di ruang terbuka seperti di bukit tikungan Siku Ara,” jelasnya.

Camat Malon mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru yang memiliki semangat juang untuk melancarkan USBD walaupun di tengah tantangan susah sinyal di sekolah.

“Pagi ini saya bawa tamu 3 wartawan untuk meliput USBD di ruang terbuka di beberapa sekolah. Diantaranya, SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung yang melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro. Setelah ini kami meninjau USBD di tenda biru dibawah rumpun Bambu Betong Torok dari SMP Satu Atap (SATAP) Mesi, Desa Rana Kolong. Kemarin, Selasa, (13/4/2021) saya bersama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto meninjau USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro dibawah tenda biru campur orange,” jelasnya.

Kepala SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Robertus Jani kepada wartawan di lokasi USBD Tikungan Siku Ara menjelaskan, hari pertama dan kedua masih dilaksanakan USBD di ruang kelas di SMP tersebut.

“Selasa malam, (13/4/2021) sinyal sangat susah untuk mengakses internet. Pagi Rabu, (14/4/2021) saat berada di sekolah dan mau siap ujian, akses internet susah. Saya bersama guru mengambil keputusan cepat mencari lokasi sinyal. Kami memilih tempat di Tikungan Siku Ara untuk sinyal dari Waelengga dan Aimere. Sekolah sewa mobil pick up dua buah untuk mengangkut 46 anak-anak.jarak dari sekolah ke tikungan ini 3 kilometer.

Peserta ujian tampak santai mengerjakan soal-soal di bawah tempat teduh. Meski duduk bergerombol, mereka tetap menaati prokes COVID-19 seperti menjaga jarak dan memakai masker.

Mengerjakan ujian di atas rerumputan,semak-semak memang menemui banyak gangguan, antara lain peserta ujian selalu di gigit semut. Yang cukup menjengkelkan, misalnya ketika sedang mengerjakan ujian tiba-tiba baterai handphone mati.

Guru-guru pendamping memang sigap menolong peserta ujian yang mengalami kesulitan. Mereka meminjamkan handphone kepada siswa siswi yang handphone-nya mati mendadak.

Seperti yang dialami Tian, siswa kelas IX A Satu Atap (SATAP) Munde ini handphonenya sempat mati, hingga akhirnya ada guru meminjamkan Handphone kepadanya. Tapi sayangnya, Tian harus kembali mengerjakan soal dari awal.

“Saya sempat pusing pak, tadi itu handphone saya mati karena lowbat padahal saya sudah mengerjakan soal nomor 30, itu mau selesai tiba-tiba handphone mati. Lalu ada guru yang bantu, dia pinjamkan handphone-nya ke saya, saya nyaris putus asa karena harus login lagi dan kerja soal dari awal lagi,” jelas Tian.

Terpisah Siswi SMP Satu Atap (SATAP), Ermelinda Febriliadi Selvi Putri menjelaskan, mengikuti ujian hari ketiga ini dilaksanakan di semak-semak di bukit di Tikungan Siku Ara. Duduk di tanah, di atas batu kecil serta di sela-sela pohon jati yang sejuk. Udara segar. Lokasinya teduh. Namun, sesekali agak terganggu dengan bunyi kendaraan yang melintasi jalan Trans Flores.

“Saya bersyukur bisa mengerjakan soal ujian di handphone walaupun berada di ruang terbuka. Saya tidak membayangkan sebelumnya bahwa melaksanakan ujian hari ketiga di ruang terbuka. Harapan saya, semoga hanya kali ini saja melaksanakan ujian di ruang terbuka,” jelasnya.

Terpisah Kepala SMP SATU ATAP (Satap) Mesi, Desa Rana Kolong, Baltazar Rana menjelaskan, sekolahnya membangun tenda biru di bawah rumpun bambu Betok Torok. Jaraknya 4 kilometer dari sekolah yang berada di kampung Mesi.

Baltazar menjelaskan, 56 siswa dan siswi melaksanakan USBD didalam tenda biru dibawah rumpun Bambu. Tempat ini dikisahkan sangat mistis. Untuk itu sebelum ujian hari pertama dilaksanakan ritual adat oleh tetua adat setempat dengan nama ritual Tei Ghan Embo (beri sesajian kepada leluhur).

Baltazar mendapatkan informasi dari tetua adat setempat bahwa rumpun Bambu ini dinamakan Betong Torok. Betong artinya bambu besar, dan torok artinya bersujud. Jadi jikalau diterjemahkan secara harfiah, bambu bersujud.

“Rumpun Betong Torok dilarang ditebang. Bambu kering yang jatuh ke tanah juga tidak diambil masyarakat setempat. Tempat ini sangat mistis dan memiliki sejarah masa lalu,” jelasnya.

Baltazar menjelaskan, hingga hari ketiga USBD berjalan lancar. Sinyal dari tower Aimere tidak ada gangguan.

“Saya dan guru pernah mencoba di sekitar sekolah naik ke pohon untuk mencari sinyal. Namun, sinyalnya tidak bisa ditangkap. Letak sekolah ini memang ada di lembah di Kampung Mesi,” jelasnya.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari 16 SMP yang melaksanakan USBD, tujuh diantaranya melaksanakan di ruang terbuka dan memakai gedung sekolah dasar. Seperti SMPN 09 Nangarawa memakai gedung sekolah dasar di Kisol. Jarak dari Nanga Rawa ke Kisol 6 kilometer, SMP SATU ATAP (Satap) Bonggirita memakai gedung Sekolah SDK Waelengga, SMPN 04 Kota Komba melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro, SMP SATU ATAP (satap) Mesi di bawah rumpun bambu, SMPN 02 Kota Komba di Mok di ruang terbuka di sekitar sekolah tersebut. Sementara itu SMP SATU ATAP (satap) Munde dihari ketiga melaksanakan USBD di Tikungan Siku Ara dan SMPK Rosa Mistika Waerana terpaksa melaksanakan USBD di Pinggir Pantai Mbolata karena sinyal di sekolah tidak bagus.

Tantangan di Era Digital di Tengah Wabah Covid19

Tantangan dunia pendidikan mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih mengejutkan semua lembaga pendidikan yang belum memiliki sarana jaringan internet yang memadai di pelosok-pelosok Nusantara, khususnya di Manggarai Timur.

Keterbatasan jaringan internet tidak mengurangi semangat guru-guru untuk menyiapkan generasi cerdas di tengah perkembangan zaman yang terus berubah dengan kecanggihan teknologi.

Sejumlah Kepala Sekolah, Guru, pengurus komite sekolah, orang tua murid dan anak sekolah bahu membahu mencari lokasi sinyal, baik di bukit maupun di lereng-lereng bukit, bahkan meminjam gedung sekolah dasar untuk tempat ujian online.

Tuntutan regulasi dengan Ujian sekolah berbasis digital (USBD) membuat lembaga pendidikan berjuang keras untuk mencari sinyal agar ujian berjalan lancar dan sukses.

Salah satu Guru SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Yohanes Arianto Anggal menceritakan bahwa mencari sinyal di lereng bukit tikungan Siku Ara pada Rabu, (14/4/2021).

Awalnya, Cerita Anggal, pagi Rabu, sejumlah guru dibagi untuk mencari sinyal di bagian barat dan timur. Di bagian barat susah juga sinyal, sementara di bukit itu sinyal lancar dengan jaringan 4G. Lalu sejumlah guru itu melaporkan bahwa sinyal bagus di lereng bukit tersebut. Kemudian Kepala Sekolah, Robertus Jani bersama guru memutuskan mencari dua mobil pick up untuk mengangkut 46 siswa dan siswi agar melaksanakan USBD di lokasi itu.

“Jadi USBD selama dua hari, Rabu, (14/4/2021) dan Kamis, (15/4/2021) melaksanakan USBD di lereng bukit tersebut. Bersyukur ujian online berjalan lancar. Kami terima kasih kepada Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon dan wartawan yang mempublikasikan peristiwa ujian di lereng bukit dan bukit-bukit di Kecamatan Kota Komba,” jelasnya.

************

Penulis adalah wartawan tinggal di kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here