• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home Featured

Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

by Redaksi
Agustus 13, 2021
in Featured
0
Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)
0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Dea Tantyo

APA yang membuat Mohammad Hatta (Bung Hatta) dikenang abadi?   Apa yang membuat jasad yang mati, tapi tetap tersebar luas di pikiran? Tulisan .

Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Mereka yang menulis kerap lebih mampu memecahkan persoalan hidup. Mereka yang kita kenal sebagai tokoh dunia dan para pemimoin menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi menulis juga menyatu pada darah Bung Hatta.

Tak kurang sekitar 150 judul buku tulisan Bung Hatta, lebih dari 100 artikel yang tersebar di majalah Belanda, dan lebih dari 40 buku mengisahkan tentang Bung Hatta.

Kemampuan intelektual seorang pemimpin terlihat dari kemampuan menulisnya. Jika pemimpin sejati adalah penulis sejati, Hatta termasuk di dalamnya. Beliau adalah tokoh yang sangat menggemari aktivitas menulis dan membaca. Bahkan di usia 18 tahun, Hatta telah menulis sebuah cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra sekitar tahun1920, berjudul  Namaku  Hindiana.

 Pada 1933, ketika Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Hatta membombardir Belanda dengan tulisannya mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi ini pemerintah colonial Belanda mulai serius menngawasi dan menangkap para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.

Tak berhenti di situ. Di tempat pengasingan Digul, tulisan Hatta rutin dimuat di koran Pemandangan di Jakarta, yang menceritakan nasib orang-orang buangan. Surat itu kemudian dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colin, yang kemudian mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul.

Pada 1937, bersama Syahrir, Hatta dipindahkan ke Banda Neira. Namun Hatta tak pernah berhenti, gagasan-gagasannya kian menjadi peluru yang mengusik ketenangan Belanda. Di sana, beliau rutin menulis untuk majalah Sin Tit Po terbitan Batavia dalam bahasa Belanda. Di samping itu, Hatta juga menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional) pimpinan Sam Ratulangi. Peluru-peluru yang tajam itu makin hari berubah menjadi Meriam. Tahun 1941, Mohammad Hatta menulis sebuah artikel yang lebih keras di koran Pemandangan mengenai seruan agar rakyat Indonesia tidak memihak Barat atau pun fasisme Jepang.

Hatta dan buku adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sampai ketika cinta mengetuk hidupnya, Hatta mempersembahkan sebuah maskawin kepada sang istri tercinta berupa sebuah buku yang ia tulis sendiri, Alam Pikiran Yunani.

Tulisan adalah tradisi para pemimpin. Melalui tulisan pula nama Bung Hatta terukir abadi. Kecintaan Bung Hatta terhadap proses menulis melebihi kecintaannya terhadap harta benda. “Saya mempunyai tiga istri: Indonesia, buku, dan istri saya sendiri, “ujar Hatta.

 

———————

*Naskah ini adalah ringkasan dari buku Leiden is Lijden, Inspirasi Hidup, Perjuangan, Kepemimpinan, dan Mata Air Keteladanan Founding Fathers, Dea Tantyo, Elex Media Komputindo, Jakarta 2017.

 

 

ShareTweetSend
Next Post
Emanuel Bria : Ilusi Industri Garam Bupati Simon 

Emanuel Bria : Ilusi Industri Garam Bupati Simon 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Menulis “C i n t a” Menemukan Sesama dan Tuhan

Menulis “C i n t a” Menemukan Sesama dan Tuhan

6 tahun ago
Kepemimpinan Politik Maritim

Kepemimpinan Politik Maritim

7 tahun ago

Popular News

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In