Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

0
48

Oleh Dea Tantyo

APA yang membuat Mohammad Hatta (Bung Hatta) dikenang abadi?   Apa yang membuat jasad yang mati, tapi tetap tersebar luas di pikiran? Tulisan .

Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Mereka yang menulis kerap lebih mampu memecahkan persoalan hidup. Mereka yang kita kenal sebagai tokoh dunia dan para pemimoin menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi menulis juga menyatu pada darah Bung Hatta.

Tak kurang sekitar 150 judul buku tulisan Bung Hatta, lebih dari 100 artikel yang tersebar di majalah Belanda, dan lebih dari 40 buku mengisahkan tentang Bung Hatta.

Kemampuan intelektual seorang pemimpin terlihat dari kemampuan menulisnya. Jika pemimpin sejati adalah penulis sejati, Hatta termasuk di dalamnya. Beliau adalah tokoh yang sangat menggemari aktivitas menulis dan membaca. Bahkan di usia 18 tahun, Hatta telah menulis sebuah cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra sekitar tahun1920, berjudul  Namaku  Hindiana.

 Pada 1933, ketika Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Hatta membombardir Belanda dengan tulisannya mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi ini pemerintah colonial Belanda mulai serius menngawasi dan menangkap para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.

Tak berhenti di situ. Di tempat pengasingan Digul, tulisan Hatta rutin dimuat di koran Pemandangan di Jakarta, yang menceritakan nasib orang-orang buangan. Surat itu kemudian dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colin, yang kemudian mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul.

Pada 1937, bersama Syahrir, Hatta dipindahkan ke Banda Neira. Namun Hatta tak pernah berhenti, gagasan-gagasannya kian menjadi peluru yang mengusik ketenangan Belanda. Di sana, beliau rutin menulis untuk majalah Sin Tit Po terbitan Batavia dalam bahasa Belanda. Di samping itu, Hatta juga menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional) pimpinan Sam Ratulangi. Peluru-peluru yang tajam itu makin hari berubah menjadi Meriam. Tahun 1941, Mohammad Hatta menulis sebuah artikel yang lebih keras di koran Pemandangan mengenai seruan agar rakyat Indonesia tidak memihak Barat atau pun fasisme Jepang.

Hatta dan buku adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sampai ketika cinta mengetuk hidupnya, Hatta mempersembahkan sebuah maskawin kepada sang istri tercinta berupa sebuah buku yang ia tulis sendiri, Alam Pikiran Yunani.

Tulisan adalah tradisi para pemimpin. Melalui tulisan pula nama Bung Hatta terukir abadi. Kecintaan Bung Hatta terhadap proses menulis melebihi kecintaannya terhadap harta benda. “Saya mempunyai tiga istri: Indonesia, buku, dan istri saya sendiri, “ujar Hatta.

 

———————

*Naskah ini adalah ringkasan dari buku Leiden is Lijden, Inspirasi Hidup, Perjuangan, Kepemimpinan, dan Mata Air Keteladanan Founding Fathers, Dea Tantyo, Elex Media Komputindo, Jakarta 2017.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here