• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Selasa, Maret 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Dua Puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta

by Redaksi
Mei 2, 2023
in SASTRA
0
Dua Puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta
0
SHARES
69
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Yoseph Yapi Taum

 

Jakarta sebagai ibu kota negara dapat memancarkan sejuta warna bagi para seniman. Puisi-puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta, “Petir di Jakarta” dan “Kutinggalkan Kota Jakarta,” menggambarkan sisi kelamnya. Penggunaan kata-kata kiasan yang kuat dan berani dimaksudkan untuk menggambarkannya sebagai simbol kekuatan sekaligus ketakutan. Penggunaan kata-kata yang berkonotasi kuat seperti “terbakar api dan amarah” mengekspresikan rasa putus asa dan rasa ingin segera meninggalkannya. Puisi ini memancarkan suasana sedih dan kehilangan, dengan tema yang meskipun mengandung rasa nostalgia yang kuat.

 

PETIR DI JAKARTA

Tawa kanak-kanak terdiam tiba-tiba
Langit biru masih menggantung
Namun petir itu merobek jantung juga
Berlarilah wahai kanak-kanak,
berlarilah demi surga yang tertunda

Merataplah wahai kanak-kanak,
Merataplah demi luka yang pedih
Petir itu serigala liar, bertaring, dan bertanduk
Lucifer yang menyala dari kusut jiwanya

Maka merunduklah dalam-dalam
di lembah bisu ini, hapus semua air matamu
karena itu mata air murni, sangat murni
yang bakal menangkal petir di Jakarta

Tarian kanak-kanak terhenti tiba-tiba
Wajah mereka sayu, sedih, dan menangis
Menangislah dalam sepi anak sungai
Yang bakal mengalirkan susu dan madu
Karena setiap butir tangismu dihitung langit

Yogyakarta, 28 Juni 2021

—————————————————————–

 

KUTINGGALKAN KOTA JAKARTA

Di tengah hujan asin dan air laut duka
perempuan-perempuan menangis
Seorang laki-laki menyebut namamu
dengan mata berlinang di simpang jalan

Kuketuk dinding-dinding Jakarta
kala kota itu terbakar api dan amarah
Mereka teriakkan nama tuhan di sudut-sudut kota
dinding baja merancap keras di jantungnya

Kutinggalkan Jakarta yang sangar
menjemput masa depan anak-anakku
Bunga-bunga bakung di sungai ciliwung
tenggelam dengan perlahan

Kutinggalkan semua tuhan dan malaikatnya
matahari, bumi, bulan, dan bintang-bintangnya
Kota ini menyimpan dendam tak sudah
maka kulambaikan tangan bersama hujan gerimis

Yogyakarta, 10 Oktober 2019


 

Tentang Penulis

*Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

 

 

ShareTweetSend
Next Post
Misa Arwah – Misa Lefa dan Mendulang Cinta Tuhan

Misa Arwah – Misa Lefa dan Mendulang Cinta Tuhan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Mengembalikan Kekuatan Gerakan Masyarakat Sipil di Indonesia yang Beradab (Sebuah Tinjauan Sosiologi Politik)

6 bulan ago
Aku Disandera – Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas

Aku Disandera – Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas

5 tahun ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In