Dari HOTS ke STEAM: Untuk Guru Agama

0
99

Oleh JB Kleden (Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang)

TANGGAL 3 Oktober 2019 lalu Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Kristen (KKGPAK) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) dan Online di SDI Oesapa. Sebagai seseorang yang diminta untuk ikut serta, saya mencari referensi mengenai barang ini agar bisa nimbrung kalau para guru ngomong.

Salah satu sumber saya adalah medsos terutama FB. Banyak aspek kehidupan sosial, politik, agama bahkan pribadi digelontorkan di sana secara vulgar, meski harus hati-hati dengan hoaks. Jika ada yang terasa pas saya minta ijin kepada pemilik postingan melalui messenger. Jika diijinkan, saya gunakansebagai kutipan resmi. Jika berkeberatan, atau tidak menjawab, saya hanya menggunakannya secara imajiner sebagai titik tolak dan sumber inspirasi tanpa menyebutkan identitasnya. Itu etika.

Saya lalu search status para guru agama yang merupakan teman-teman seperjalanan saya. Sebuah status menarik dari seorang guru berkenaan dengan pernyataan pengamat pendidikan Indra Charismiadji bahwa kurikulum 2013 (K-13) sudah harus diubah karena masanya sudah lewat. Isi K-13 sama dengan kurikulum dunia internasional pada 2001. Saat ini siswa di Indonesia mulai berkutat dengan HOTS, dunia internasional sudah melaksanakan STEAM. Dengan selera humor yang tinggi sang guru itu berkomentar dalam dialek Kupang, “Belum khatam su minta mau ubah lae, apa yang baik?.” Yang lain nimbrung, “Bapa e, katong baru mau peluk yang HOTS eh malah disuruh lepas, kejar yang STEAM lagi”.

SAYA kemudian membaca utuh pernyataan Indra Charismiadji yang dilampirkan. Ternyata pernyataan Indra tersebut sudah lama berselang, saat peluncuran Indonesia STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) Week 2019 di Kantor Kemendikbud. Namun muncul pas ketika saya sedang mencari soal HOTS, postingan itu justeru terasa menohok.

Sebetulnya apa yang dilontarkan Indra Charismiadji ini menjadi sebuah alarm yang mengingatkan kita bahwa saat ini kita sekarang berada dalam Revolusi Industri 4.0 yang menandai ke mana pendulum peradaban akan bergerak. Kita sedang berada di era digitalisasi kehidupan yang mengubah gaya hidup secara total dengan parameter lajunya yang tidak bisa ditemukan sebelumnya. Kita seperti pengemis yang mengharap dengan cemas di pinggir jalan.

Betapa tidak. Data yang dilansir McKinsey Global Institute (2017), diperkirakan pada tahun 2030 sebanyak 800 juta pekerjaan di seluruh dunia akan hilang akibat otomatisasi. Otomatisasi dipahami sebagai berakhirnya peran manual yang dikerjakan oleh fisik manusia, digantikan peran algoritma digital yang lahir dari perkembangan teknologi terkini, anak kandung Revolusi Industri 4.0. Belum lagi data World Employment and Social Outlook: Trends 2019 dari ILO (International Labour Organization) yang menunjukkan pada tahun 2018 mayoritas dari 3 milyar lebih pekerja di dunia mengalami problem kualitas menghadapi tekanan perkembangan teknologi baru yang mengancam pencapain pasar tenaga kerja yang ada.

Suka tidak suka, semua ini akan datang menghampiri kita dengan kecepatan yang tidak bisa kita prediksi. Kita musti bergerak cepat jika tidak mau dilindasnya. Maka lahirlah Making Indonesia 4.0 pada tahun 2018 sebagai sebuah upaya bersama untuk membuat ekosistem ekonomi digital dalam bentuk kerangka strategis dengan pendekatan memangkas regulasi yang dipandang tidak lagi relevan dan sepenuhnya mendorong inovasi digital . Dan Making Indonesia 4.0 sebagai peta dan strategi menuju Revolusi Industri 4.0 telah mengenalkan berbagai keterampilan baru kepada generasi milenial kita: internet of things, artificial intelligent, e-commerce, Big Data, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, Additive Manufactirung 3D Printing, Nanotech dan Biotech, dll.

Kita yang tua pun dibuat terbengong-bengong karena seperti melompat dari masa pre-literer ke post literer tanpa mengenal yang literer. Kendati demikian, biar gaptek, kita musti ikut berselancar dengan irama yang ada, juga dalam dunia pendidikan. Karena dunia pendidikan kita, seperti disinyalir para pakar pendidikan, sudah tertinggal 17 tahun dengan luar negeri. Tahun 2001, dunia internasional sudah mengenal HOTS dan 2009 menerapkan STEAM, kita baru heboh dengan soal HOTS di 2018 dalam UNBK jenjang SMA. Itupun masih pro-kontra untuk meneruskan atau menunda. Maka bukan tanpa alasan jika terdapat usulan untuk merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada STEAM untuk menyelaraskannya dengan kebutuhan industri di masa mendatang.

Lalu apakah kita hanya bisa meratapi nasib seperti perempuan yang dilindas kesepian mengeluh dengan perih, “Bapa e ketong baru mau peluk yang HOTS, disuruh lepas, kejar lagi yang STEAM,” sebelum akhirnya terhempas pasrah “Kami yang paling bawah nih siap terima apa yang ditumpahkan saja, entah nanti mau ke kiri kita ke kiri, mau ke kanan kita juga ke kanan pula, sekalian kita joged lagu Maumere saja e bapa eeee hahahaha”.

LEBIH dari satu dasawarsa lalu Ahmad Djauzak telah menulis artikel berjudul “Kurikulum KambingHitam Pendidikan.” Dia menegaskan bahwa guru perlu menyadari dirinnya harus menjadi ahli menafsir kurikulum dan bukan penerima pasif kurikulum yang diturunkan dari atas oleh birokrasi pendidikan. Guru perlu terus menerus belajar dan meningkatkan kualitas dirinya, karena di tangan guru yang demikian kurikulum yang buruk dan sederhana akan menghasilkan proses pendidikan yang bermutu. Kebalikannya guru yang tidak bermutu tidak akan mampu menjabarkan kurikulum yang paling baik sekalipun.Yang dihasilkannya justru adalah kegiatan pendidikan yang kacau dan membingungkan siswa.

Benar bahwa kita para guru musti menyadari bahwa pemanfaatan teknologi digital harus mewarnai berbagai aspek pendidikan, yakni proses dan model belajar (gamifikasi e-commerce, elearning, dll), strategi dan teknik belajar, dan keterampilan dasar TIK. Sepintas, kondisi ini seperti menomorsatukan teknologi digital pada semua aspek pendidikan, namun demikian, ada catatan penyeimbang bahwa nilai-nilai keagamaan, keterampilan social, karakter dan moralitas, tidak dapat digantikan oleh robot/teknologi; demikian juga toleransi, imajinasi, intregitas, kebijaksanaan, kreativitas, dan semangat juang. Maka ada tempat untuk mempertimbangkan guru agama dalam Making Indonesia 4.0.

TUGAS penting guru agama dalam Making Indonesia 4.0 adalah membuat Pendidikan Agama di sekolah menjadi pendidikan yang mencerahkan kehidupan berbangsa dan bernegara menuju Indonesia Maju. Pendidikan Agama sebagai ilmu memiliki dua karakteristik yakni statis dan dinamis. Statis adalah hal-hal yang bersifat doktrinal, yang dogmatis. Ini tentu tidak bisa diubah karena sudah taken for granted. Yang dinamis adalah keilmuan agama yang berkembang tak berujung. Semakin kita mengkajinya, semakin dalam luasnya. Maka entah yang dipeluk HOTS atau yang STEAM, dekaplah itu dengan sungguh-sungguh.

Mau HOTS atau STEAM, pola pendidikan agama tidak boleh membuat murid menjadi terasing dengan agamanya dan bahkan dengan kehidupan itu sendiri. Kita tidak boleh lagi menjejali anakanak hanya dengan doktrin kebenaran tunggal dengan klaim-klaim sepihak sehingga membuat mereka terperangkap dalam pemahaman agamanya yang legal formalistik seperti surga-neraka, haram-halal, iman-kafir dan sejenisnya. Sedangkan ajaran dasar agama yang abadi, yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas, moralitas dan humanity semisal kedamaian dan keadilan menjadi terbengkelai

Di tengah digitalisasi kehidupan yang nyaris tanpa satu konsensus pada level moral dan religius, melalui pendidikan agama, para guru agama harus bisa membawa para murid menafsirkan kembali cara beragama, bahwa beragama yang sehat tidak cukup hanya bersyukur sujud berurai air mata di dalam dinding rumah ibadat tetapi perlu diimplementasikan dalam sikap keberpihakan yang jelas terhadap sesama manusia dan lingkungan hidupnya.

Seorang yang beragama secara benar adalah seorang yang bertaqwa kepada Sang Pencipta dan Pemelihara Kehidupan sekaligus memiliki mata hati terhadap sesama dan lingkungan hidupnya, terutama terhadap mereka yang tertindas. Soal HOTS atau STEAM akan efektif jika dan hanya jika melalui soal-soal itu para siswa mampu mengambil risiko untuk berpihak pada kemanusiaan, kepada sesama dan lingkungan hidupnya yang tertindas, dan tidak takut untuk menyatakan kebenaran.

Hanya melalui pola seperti itu, pendidikan agama dapat mencerahkan umat manusia dan kehidupan. Hanya dengan itu para murid akan mampu mengubah agama formal dengan hati yang membantu menjadi agama manusia dengan hati yang berdaging dan berdarah, yang selalu peka terhadap manusia dan penderitaannya. Jika para guru mampu membuat soal dengan daya kreatif seperti itu, anak akan berhasil menuju alam bebas dengan iman yang kukuh sekaligus mampu memahami dan menghormati pemeluk agama lain yang diwujudkan dalam bentuk kerjasama lintas agama-lintas iman untuk membangun Indonesia menjadi Rumah Bersama yang berkedamaian dan berkeadilan di mana semua orang boleh hidup dengan aman dan nyaman sambil menikmati indahnya janji dan harapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here