NTT Go Internasional?

0
173
Foto: Justin L Wejak

Oleh Dr Justin L Wejak, Dosen Kajian Indonesia Universitas Melbourne, Warga asal NTT kelahiran Baolangu, Lembata

DI UJUNG tahun 2019 saya diwawancarai Pak Marius Jelamu, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wawancara itu mengenai kunjungan Pak Viktor Laiskodat ke Eropa. Kunjungan perdana sebagai Gubernur tersebut dalam rangka memperkenalkan NTT kepada dunia.

Pak Marius yang fasih dalam beberapa bahasa asing sempat menawarkan kemungkinan wawancara dilakukan dalam Bahasa Inggris. Namun setelah saling berkiriman pesan melalui Whatsapp, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan saja Bahasa Indonesia.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan) melakukan salam komando usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9).

Sejak wawancara itu keingintahuan saya tentang Pak Viktor dan kebijakan-kebijakan pembangunannya bersama Wagub Pak Josef A Nae Soi semakin menggebu. Saya ingin tahu apa kebijakan-kebijakan mereka, dan bagaimana reaksi masyarakat NTT.

Beberapa pidatonya yang sempat menggemparkan khalayak saya tonton di Youtube. Terus terang saya kagum dengan gaya beliau berpidato. Sangat kharismatik. Tulisan-tulisan tentang Pak Viktor di koran pun saya baca semuanya dengan penuh gairah.

Entah kenapa tumbuh minat menggebu untuk tahu lebih banyak tentang Pak Viktor: anak kampung dari Tubululin, dan dari keluarga biasa-biasa, yang menjadi orang “luar biasa” asa NTT di rantau sebelum bale kampung halaman, tanah Flobamora.

NTT harus makin dikenal dunia

NTT memang harus makin dikenal dunia; itu bukan pilihan melainkan keperluan. Perjalanan Pak Viktor ke manca negara penting, selain untuk bertemu langsung dengan foreign stakeholders, juga (dan terpenting) untuk memperkenalkan NTT kontemporer ke dunia. Pak Wagub Josef A Nae Soi pun sudah beberapa kali ke Australia dalam rangka melihat bagaimana misalnya destinasi-destinasi wisata tertentu seperti Philip Island dikelola.

NTT memang harus makin dikenal dunia. Kata orang: kenal maka sayang. Makin dikenal maka makin disayangi.

Pasti untuk alasan itu, Pak Viktor memboyong sekelompok penari asal Sabu Raijua untuk mementaskan tarian tradisional dalam Festival Pariwisata di Norwegia beberapa waktu lalu. Selain tarian, diperkenalkan pula tenunan khas NTT, hal yang dilakukan isterinya, Ibu Julie Laiskodat, yang segera dilantik sebagai anggota DPR (PAW) menggantikan koleganya, Johnny G Plate, yang ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika RI. Semua kain tenunan yang dibawa habis terjual. Itu tanda pembeli memang suka produk tenunan NTT.

Bukan hanya tarian dan tenunan, masih ada juga produk-produk asli lain dari NTT yang sedang diperkenalkan kepada dunia. Termasuk di antaranya minuman keras sophia (sopi asli), se’i, dan kelor. Tentang kelor, disinyalir Jepang sudah mengimpor rata-rata 40 ton per minggu. Patut dicatat, khasiat kelor untuk kesehatan sudah diakui Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation, WHO). Sementara sophia dilirik para pengusaha minuman Rusia untuk keperluan pembuatan vodka di negeri pencetak petenis unggul perempuan itu. Awalnya, seperti diketahui, beberapa pihak memang menolak inisiatif pembuatan Sophia. Tetapi setelah melihat manfaat ekonomisnya kini mereka tak sungkan mengacungkan jempolnya.

Keterampilan menenun dan membuat minuman keras sudah lama ada dalam masyarakat NTT. Tugas pemerintah, melestarikan keterampilan-keterampilan itu dengan mencarikan pemasarannya di seantero dunia.

Selain produk-produk khas NTT: tenunan, sophia, se’i, pemerintah juga tengah gencar mempromosikan Komodo dan beberapa destinasi atraktif lain di NTT. Tahun 2019 Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur bersama rombongan “bertamasya” ke Perth, ibukota Negara Bagian Western Australia. Tamasya itu penting karena bisa menjadi ajang pembelajaran tentang bagaimana pariwisata dikelola di belahan dunia lain.

Promosi dan pengenalan memang penting. Tapi yang tak kalah penting (bahkan lebih penting) adalah kesiapan daerah. Sudah siapkah kita untuk menjadi “tuan rumah” yang manis dan ramah bagi para wisatawan –asing dan domestik– sehingga mereka betah di tempat kita?

Penangkapan ikan paus di Lamalera

Infrastruktur jalanan ke titik-titik wisata di Lembata, misalnya, belum cukup memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengunjung. Lamalera yang sudah berabad-abad dikenal dunia sebagai “kampung paus”, dan pantas dijadikan salah satu ikon wisata Lembata (bahkan NTT dan Indonesia), justru tergolong wilayah dengan kondisi jalan raya terparah di Lembata.

Pemerintahan Kabupaten Lembata di bawah komando Bupati Sunur yang menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan justru dinilai gagal membangun sarana dan prasarana memadai untuk mendukung pariwisata seperti jalan, air dan listrik.

Aspek-aspek seremonial seperti Festival Tiga Gunung dan beberapa festival lain sudah beberapa kali diadakan dan dihadiri baik pengunjung lokal maupun luar. Tujuannya, mempromosi wisata Lembata. Sayang, hasilnya hampir nihil; tak banyak membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat. Justru anak-anak perempuan usia sekolah menjadi hamil karena “kecelakaan seks”. Apa yang salah dengan promosi wisata Lembata?

Tak ada yang gratis

Jika promosi wisata disambut positif dan hasilnya terukur misalnya banyak wisatawan berkunjung, maka tentu saja ada dan banyak manfaat ekonomisnya. Tak ada kunjungan yang gratis, bukan?  Dalam Bahasa Inggris ada sebuah ucapan lazim –there is no such thing as a free lunch– artinya tak ada makan siang gratis. Bukan cuma tak gratis, melainkan diharapkan agar “makan siang” itu bisa menjadi sumber devisa berlimpah bagi masyarakat.

Teringat ucapan Pak Viktor sendiri dalam pidatonya di Kupang 14 November 2019. Kala itu beliau mendorong para pelancong kaya melirik NTT sebagai destinasi wisata. Tentu selain Bali yang notabene 85% ekonominya mengandalkan industri pariwisata. Apakah NTT bakal menjadi seperti –bahkan melampaui– Bali? 

Labuan Bajo, salah satu andalan parawisata NTT

Menurut Pak Viktor, wisata NTT siap masuk kategori wisata premium. Itu artinya NTT siap memanjakan para wisatawan khususnya yang berduit dengan fasilitas-fasilitas mewahnya dan pelayanan berkelas. Ditambahkannya, kebanyakan warga NTT miskin; dan mereka tak ingin melihat pelancong berkantong kempes datang ke NTT. Kemiskinan membuat warga tertekan dan terbebani.

Ucapan Pak Viktor dalam pidatonya memang sempat menuai kontroversi, meski tak sekontroversial beberapa pidatonya yang lain. Beberapa pemandu wisata, misalnya, sempat bereaksi tak suka. Mereka khawatir kehilangan nafakah hidup lantaran kemungkinan terjadi boikot dari para pelancong yang menolak datang ke NTT.

Terlepas dari aneka masalah yang melilit NTT, satu hal yang patut saya kagumi dari sosok Gubernur NTT adalah keberaniannya. Beliau berani mengucapkan pikirannya. Tak membiarkan dirinya dirundung ketakutan untuk berbicara apa adanya. Beliau siap menanggung apapun risiko dari ucapannya.

Felicem diem natalem

Hari ini 17 Februari, pas hari ulang tahun Gubernur NTT, Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat. Tulisan ini hadir sebagai kado ulang tahun buat Pak Viktor. Tentu tak mudah mencarikan hadiah yang cocok apalagi untuk seseorang yang belum cukup dikenal secara pribadi.

Namun, untuk Pak Viktor yang kebetulan adalah seorang Gubernur, hadiah berupa tulisan barangkali bisa dianggap layak. Setelah sejenak membaca beberapa catatan Pak Ansel Deri –staf khusus Pak Viktor saat masih di Senayan– akhirnya saya putuskan untuk mempersembahkan sekeping tulisan. Maka tulisan ini hadir sebagai kado ulang tahun buat Pak Viktor, Gubernur Provinsi kelahiranku, NTT.

Sekali lagi dari benua seberang ingin saya sampaikan ucapan selamat berbahagia kepada Pak Viktor:  Felicem diem natalem.

***

Sumber Tulisan: Victory News, 17 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here