Puisi-puisi Wendy Lim: – Sepasang Merpati – Cita Cinta – Mimpi dan Nasib – Catatan Cinta – Mata, Mulut dan Telinga – Perpustakaan –

0
57

 

Sepasang Merpati

Kamu menjadi merpati putih
Ada bahasa yang gembira
Sembunyi di bulu putih
Seperti malu-malu
Di ucapan rahasia

Aku menjadi merpati hitam
Ada riak yang acak
Berbunyi di bulu hitam
Seperti ragu-ragu
Di hadapan bahaya

Kita menjadi sepasang merpati
Ada kosakata cinta
Dalam sunyi hitam putih
Seperti ulu hati
Di kutipan aksara

Seperti elu batin
Di endapan asmara
Lalu adu mata
Di kecupan cahaya

————————————————————-

Cita Cinta

Karena ada rencana dan renjana
Di sudut bibir kita berdua
Aku mengemas kebahagiaan kita
Ketika kita ciuman mesra
Lalu menikmati liburan jiwa

Karena ada kembara dan bara
Di dalam mulut kita berdua
Aku menempuh semangat kita
Ketika kita bicara mesra
Lalu berjuang untuk bersama

Karena ada canda dan tanda
Di hangat tangan kita berdua
Aku sudah hafal bahasa kita
Ketika kita gandengan mesra
Lalu menjadi kamus cinta

Karena ada setia dan sedia
Di jantung hati kita berdua
Aku tetap ingin leluasa
Ketika kita bersama
Lalu belajar menerima

———————————————————

Mimpi dan Nasib

Burung hantu berkukuk tiga kali
tanda kita lelap dalam mimpi
satu mimpi yang aku mau
yaitu lelap di pangkuan hatimu

Matahari memang sudah raib
tanda kita terjebak dalam nasib
satu nasib yang aku mau
yaitu terjebak di labirin cintamu

Gelap menebar indah seperti lagu
tanda kita dewasa dalam pinta
satu pinta yang aku mau
yaitu dewasa di ranjang nikah kita

——————————————————————

Catatan Cinta

/1/
Tarian angin
Halusnya sayap cinta
Mandi cahaya

/2/
Kecipak air
Wangi pagi asmara
Saling bercanda

/3/
Ciuman api
Lilin kecil di mata
Terangi jiwa

——————————————————————

Mata, Mulut dan Telinga

Aku dengan mataku yang padam
Karena telah ditiup asing dunia
Hingga mataku tidur dengan imaji ide
Dan aku melihat dunia melalui mimpi

Aku dengan mulutku yang setipis kertas
Karena suaraku mengecil pada dunia bebas
Hingga mulutku belajar bahasa sunyi
Dan aku bisa bicara bebas dalam diri

Aku dengan telingaku yang mencari frekuensi
Karena bising dan penuh dengan distorsi dunia
Hingga telingaku menangkap suatu suara
Dan aku mendengar tangisan batinku sendiri

—————————————————————–

Perpustakaan

Kamu telah menjadi perpustakaan bagi jiwaku
Ketika aku mencari pemahaman diri yang tergeletak
Di kolam mata yang luas dan wangi serat buku
Dan lorong jiwa yang sehening nasib kertas
Aku mau membaca rahasia ketenangan batin

—————————————————————————————————

 

Tentang Penulis

Wendy Lim, lahir tanggal 10 Juni 1996 di Pontianak, adalah seorang mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2016 dengan jurusan S1 Sastra Indonesia. Pada tahun 2020 Wendy Lim kembali kuliah di Universitas Widya Dharma Pontianak dengan jurusan D3 Bahasa Inggris. Salah satu buku puisinya adalah Pilu Memilu Aku Berlagu yang diterbitkan Enggang Media pada akhir tahun 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here