• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Jejak Sarjana di Balik Motor Sayur

by Redaksi
Agustus 30, 2025
in SASTRA
0
Jejak Sarjana di Balik Motor Sayur

Foto: Bagas sedang Memanen Sayuran. Foto oleh Odemus Bei Witono

0
SHARES
120
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Odemus Bei Witono, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan

 

Langit Bekasi sering kali memudar menjadi jingga kemerahan saat sore menjelang, dan di tengah keramaian yang mulai mereda, sebuah sepeda motor tua menjadi satu-satunya titik tenang. Di motor itu, berdiri seorang pemuda dengan tatapan mata tegas, namun sesekali menerawang jauh. Dialah Bagas, seorang sarjana pertanian dari sebuah politeknik kedinasan yang prestisius di Gowa, Sulawesi Selatan. Selain itu ia juga fasih berbahasa asing yakni Inggris dan Jerman. Bahasa tesebut tidak asing baginya setelah belajar dan mendalami keduanya.

Meskipun lahir dan besar di Bekasi, ia memilih untuk mengadu nasib dengan cara yang jauh dari bayangan banyak orang: menjual sayuran hasil tanamnya sendiri.
Jalan yang dipilih Bagas bukanlah sebuah pilihan mudah.

Sebagai putra Bekasi, ia sadar betul akan hiruk pikuk kota kelahirannya. Ia adalah produk terbaik dari sistem pendidikan di sana yang dirancang untuk menghasilkan tenaga profesional di bidang pertanian, atau birokrat pembuat kebijakan yang duduk di balik meja.

Namun, setelah lulus sarjana terapan, lalu sempat bekerja di perkebunan sawit, ia kembali dihadapkan pada realitas yang tak seideal teori-teori di bangku kuliah. Kesempatan kerja yang terbatas, birokrasi yang rumit, dan rasa idealisme yang membuncah membuatnya merasa tercekik.

Bagas, yang telah ditempa untuk mengelola lahan dalam skala besar, justru menemukan dirinya terjebak dalam dilema. “Saya belajar untuk memajukan pertanian Indonesia, tapi saya tidak bisa hanya menunggu kesempatan itu datang,” ungkapnya suatu sore, sambil menata rapi sayuran di kantong motornya.

Ia memutuskan untuk kembali ke akar, ke kota tempat ia dilahirkan untuk berjualan. Dengan modal seadanya, ia menyewa sepetak lahan kosong di pinggir kota masuk wilayah Kabupaten Bogor. Lahan itu dulunya terbengkalai, dipenuhi ilalang dan rumput liar. Namun, di mata Bagas, tanah itu adalah kanvas kosong yang siap ia lukis dengan kerja keras dan ilmu yang ia miliki.

Hari-hari awal di lahan sewaan adalah hari-hari yang penuh perjuangan. Ia harus mengolah tanah yang keras, memperbaiki irigasi seadanya, dan berhadapan dengan hama serta cuaca yang tak terduga. Pengetahuan akademisnya tentang rotasi tanaman, pemupukan organik, dan pengendalian hama terpadu kini diuji dalam praktik nyata.

Teori-teori yang dulu ia hafal di kelas kini menjadi alat-alat praktis untuk memastikan setiap tanaman tumbuh subur. “Tidak ada kurikulum khusus yang mengajari saya bagaimana rasanya tangan lecet karena cangkul, atau bagaimana rasanya memanen di bawah terik matahari yang menyengat,” ujarnya sambil tersenyum getir.

Namun, semangatnya tak pernah surut. Bagas percaya bahwa hasil dari tangannya sendiri adalah hasil yang paling jujur. Ia baru menanam sayuran bayam, sawi, dan varian lain.

Proses tanam hingga panen ia lakukan sendiri, dengan penuh ketelitian. Ia tahu, setiap helai daun yang dijual adalah cerminan dari kerja kerasnya.
Setelah panen, perjuangan lain dimulai: berjualan. Bagas menggunakan sepeda motornya yang dimodifikasi. Di sisi kiri dan kanan belakang, terpasang dua kantong besar yang dapat menampung hasil panennya.

Setiap pagi, ia mulai menjajakan sayuran dari pintu ke pintu di beberapa perumahan. Namun, ia menyadari bahwa cara itu tidak efektif. Ia butuh tempat yang strategis. Ia pun memutuskan untuk “mangkal” di area dekat sebuah sekolah, tempat yang ramai dan mudah dijangkau oleh banyak orang. Di situlah ia menemukan ritme hidup barunya.

Motor Bagas bukan hanya sekadar tempat berjualan, melainkan juga sebuah “etalase” dari etos kerjanya. Sayurannya selalu terlihat segar dan bersih, ia menyusunnya dengan rapi, dan ia selalu ramah melayani setiap pembeli.

Ia sering berinteraksi dengan pembeli, menjelaskan keunggulan sayurannya yang ditanam tanpa pestisida berbahaya, dan bahkan memberikan tips-tips sederhana tentang cara mengolah sayuran. Pembeli setianya pun mulai terbentuk, mereka datang bukan hanya karena sayurannya, tetapi juga karena cerita dan semangat yang Bagas pancarkan.

Kehidupan Bagas tak lepas dari tantangan. Terkadang, cuaca buruk membuat panennya gagal. Terkadang, dagangannya tidak laku dan ia harus menanggung kerugian. Namun, setiap kegagalan dijadikan pelajaran. Ia belajar tentang manajemen risiko, tentang fluktuasi harga pasar, dan yang paling penting, tentang ketangguhan.

Ia, yang dulu terbiasa dengan fasilitas lengkap di sekolahnya, kini harus berhadapan dengan terik matahari, hujan, dan dinginnya malam.
“Banyak teman yang bertanya, ‘kenapa Bagas, sarjana pertanian malah jualan sayur?'” cerita Bagas.

“Saya tidak malu. Saya justru bangga. Ilmu yang saya dapatkan tidak hanya menjadi teori di buku, tapi saya terapkan langsung. Saya tidak menunggu pekerjaan datang, saya menciptakan pekerjaan itu sendiri.”

Perjalanan Bagas dari seorang mahasiswa berprestasi di Gowa hingga menjadi penjual sayur keliling di Bekasi adalah cerminan dari sebuah perjuangan yang jujur. Ia membuktikan bahwa gelar sarjana bukanlah jaminan untuk duduk di kursi empuk, melainkan modal untuk berani memulai dari nol, berani kotor, dan berani menghadapi kenyataan.

Kisahnya merupakan sebuah pengingat bahwa ketabahan dan kerja keras adalah kunci untuk mengukir nasib, terlepas dari latar belakang apa pun.
Saat senja semakin dalam dan kantong-kantong di motor Bagas mulai kosong, ia bersiap untuk pulang.

Di balik lelahnya, ada kepuasan yang tak terhingga. Ia bukan hanya menjual sayuran, tetapi juga seorang sarjana yang tidak malu berjuang di jalanan, karena ia tahu, di setiap tetes keringatnya, ia sedang  menanam masa depan yang lebih baik.   

ShareTweetSend
Next Post
Pajak sebagai Kontrak Sosial dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Pajak sebagai Kontrak Sosial dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Pancasila Rumah Kita

5 tahun ago
Peringatan Lahirnya TNI dan Kemanunggalan Rakyat

Peringatan Lahirnya TNI dan Kemanunggalan Rakyat

6 bulan ago

Popular News

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In