• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Senin, Maret 9, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Keadilan Sosial Sila Ke Lima Pancasila, Budaya “Ubuntu” Afrika Selatan,  Antara Soekarno – Nelson Mandela dan Desmon Tutu

by Redaksi
Desember 1, 2025
in OPINI
0
Keadilan Sosial Sila Ke Lima Pancasila, Budaya “Ubuntu” Afrika Selatan,  Antara Soekarno – Nelson Mandela dan Desmon Tutu
0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh  Agus  Widjajanto

 

Pada falsafah dan dasar negara kita Pancasila pada sila ke-lima, yang diimplementasikan lewat Pembukaan (Preambule) Kontitisi tertulis  negara yakni UUD 1945, secara tegas pada pokok pikiran kedua menyatakan “Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”  pernyataan ini menegaskan tujuan dari negara dimana para pendiri bangsa (founding fathers)  yang ingin menciptakan masyarakat adil makmur untuk semua warga negara. Yang mana hingga Indonesia merdeka ke-80 tahun masih jauh dari terwujud.

Makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia merupakan landasan fundamental dalam membentuk dan menyekenggarakan negara Indonesia yang merdeka seutuhnya.

Bung karno dalam pidatonya yang sangat terkenal menyatakan, bahwa Indonesia negara yang besar jika ingin menjadi mercusuar dunia maka Indonesia harus merdeka secara utuh, baik merdeka secara ekonomi, merdeka secara politik dan merdeka secara budaya. Bahwa musuh terberat saat Indonesia nanti mencapai tinggal landas justru berasal dari rakyat kita sendiri yang mabuk akan budaya asing  dan sistem kelola ekonomi asing dan mabuk akan agama, maka jikalau jadi Moeslim jadilah Moeslim Indonesia, jikalau saudara-saudara ingin jadi Kristen jadilah Kristen Indonesia dan demikian juga jikalau ingin jadi Hindu jadilah Hindu Indonesia yang berkarakter sesuai adat dan budaya orang Indonesia. Dimana  kondisi saat ini masih relevan untuk diketengahkan karena derasnya masuk budaya asing dan sistem liberal serta demokrasi yang sebenarnya tidak sesuai karakteristik bangsa Indonesia dengan adanya pemilihan langsung, atas pengaruh tekhnologi Informasi (IT) melalui media sosial  yang seolah negara tidak ada lagi batas dan sekat lagi secara global yang rentan akan pengaruh buruk yang sulit di filter dan ini tantangan dalam mempertahankan karakter bangsa.

Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia pertama tertulis tegas-tegas “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perileadilan “kalimat ini mengilhami tokoh-tokoh besar dunia, termasuk tokoh-tokoh Afrika Selatan (Nelson Mandela) dalam melawan politik Apartheid.

Nelson Mandela melihat rekonsiliasi sebagai langkah krusial untuk menyembuhkan luka sejarah Afrika Selatan. Setelah 27 tahun dipenjara, ia memilih jalan damai dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (Truth and Reconciliation Commission/TRC) pada 1995.

 

Beberapa pandangan Mandela tentang rekonsiliasi:

 – Pengakuan dan Pengampunan: Ia percaya bahwa mengungkap kebenaran secara jujur bisa membebaskan bangsa dari dendam. TRC memberikan amnesti bagi pelaku yang bersedia mengakui kejahatan mereka.

– Persatuan Nasional: Dalam pidato pelantikannya (1994), ia menyerukan “nation building”, bahwa tidak ada masa depan tanpa rekonsiliasi antar ras.

– Pengadilan Moral: Ia menekankan bahwa keadilan harus seimbang dengan kemanusiaan, bukan balas dendam.

 

Mandela juga pernah berkata:

“Jika kita ingin maju, kita harus membebaskan diri dari belenggu kebencian, kecurigaan, dan ketakutan.” Pendekatannya menunjukkan bahwa rekonsiliasi bukan hanya politik, tapi juga proses penyembuhan jiwa bangsa.

 

Demikian juga Uskup Agung Afrika Selatan Desmon Tutu.

Desmond Tutu melihat rekonsiliasi di Afrika Selatan sebagai proses yang sangat penting untuk menyembuhkan luka bangsa pasca-apartheid. Sebagai Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), ia mendorong dialog terbuka, pengampunan, dan pengungkapan kebenaran agar korban dan pelaku bisa bersama-sama membangun masa depan yang lebih adil.

Tutu menganggap rekonsiliasi bukan hanya sekadar kebijakan politik, tapi juga panggilan moral dan spiritual. Ia sering menggunakan konsep Ubuntu (kemanusiaan) untuk menegaskan bahwa identitas kita terikat dengan orang lain. Menurutnya, tanpa rekonsiliasi, masyarakat akan terus terbebani dendam dan ketakutan.

Ia juga menyadari tantangan yang ada. Dalam bukunya No Future Without Forgiveness, Tutu menjelaskan bahwa rekonsiliasi memerlukan pengakuan kesalahan, pengampunan yang tulus, dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Meski KKR mendapat kritik, Tutu tetap percaya bahwa proses ini menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin keluar dari konflik berat.

Jadi, pendeknya: Tutu mendukung rekonsiliasi sebagai jalan menuju kesembuhan nasional, dengan penekanan pada kebenaran, pengampunan, dan persatuan berdasarkan nilai kemanusiaan.

Hal ini berkaitan dengan budaya Ubuntu di Afrika Selatan yang hampir mirip dengan Budaya Pancasila menyangkut sila ke-lima dari Pancasila dan sifat kegotong royongan dalam sistem Ekonomi Kerakyatan yang diusung Bung Hatta.

Ubuntu adalah konsep budaya dari Afrika Selatan yang sering dirangkum dengan frasa “Saya ada karena kita ada” atau “Umuntu ngumuntu ngabantu” (dalam bahasa Xhosa/Zulu). Itu berarti identitas dan kemanusiaan seseorang tidak bisa dipisahkan dari komunitasnya.

 

Apa Makna Ubuntu?

– Kemanusiaan Bersama: Keberadaanmu diakui dan dihargai karena ada orang lain.

– Persatuan dan Kepedulian: Menekankan solidaritas, empati, dan tanggung jawab sosial.

– Harmoni Sosial: Konflik bisa diselesaikan melalui dialog dan penghormatan, bukan balas dendam.

 

Dalam Konteks Rekonsiliasi Afrika Selatan, Desmond Tutu sering mengangkat Ubuntu saat memimpin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Ia percaya bahwa tanpa mengakui kemanusiaan bersama, rekonsiliasi hanya jadi formalitas.

 

Contoh konkret:

– Pemulihan Hubungan: Korban dan pelaku diundang untuk berbicara, saling mendengar, dan melihat kemanusiaan masing-masing.

– Restorasi Komunitas: Fokus pada penyembuhan kolektif, bukan hanya individu.

 

Perspektif Global

Ubuntu juga menginspirasi gerakan kemanusiaan dan sosial di luar Afrika Selatan, termasuk konsep “humanity towards others” dalam etika global. Jadi, Ubuntu bukan hanya kata-kata, tapi filosofi hidup yang mengajak kita untuk satu untuk semua, semua untuk satu.

Dalam Dasar Negara Republik Indonsia  Pancasila yang berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Apa Maknanya?

– Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab:

    – Adil → Setiap orang diperlakukan sama di hadapan hukum, tanpa diskriminasi.

    – Beradab → Menghormati martabat manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menjauhi tindakan yang merendahkan orang lain.

 

Konteks Filosofis

Frasa ini mencerminkan semangat Pancasila sebagai dasar negara. Bung Karno dan para pendiri bangsa ingin Indonesia berdiri di atas prinsip kemanusiaan universal, yang sejalan dengan nilai-nilai seperti Ubuntu di Afrika Selatan—“Saya ada karena kita ada.”

 

Implementasi di Indonesia

– Undang-undang HAM: Perlindungan hak asasi, pengadilan HAM, dll.

– Program Sosial: Kartu kesehatan, bantuan pendidikan, untuk menjamin keadilan sosial.

– Pendidikan Karakter: Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi sejak dini.

 

Perbandingan dengan Ubuntu

Meski konteksnya berbeda, keduanya sama-sama mengutamakan kemanusiaan kolektif dan kesatuan sebagai fondasi masyarakat. Dalam kaitan ke-Indonesiaan menyangkut konflik politik masa lalu, mengapa tidak mengambil contoh Ubuntu dan kebesaran hati Nelson Mandela dan Uskup Agung Desmon Tutu? Bukan kah antara budaya Ubuntu dan Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa, sejalan dan seirama dalam kontek kemanusiaan yang adil dan beradap?  Mengapa para elit politik  tidak legowo dan berlapang dada, bukankah pada ajaran kepemimpinan dari Raja Jjawa Pakubuwono ke-V dalam Serat Wulang Reh juga mengajarkan :

 

Den ajembar

Den Momot

Lawan Den Wengku

Den Koyo Segoro

 

Den Ajembar: Senantiasa melapangksn hati dan pikiran kita dengan penuh rasa kemanusian yang berorientasi penuh kasih dan sayang terhadap sesama

Den Momot: agar diri kita bisa memuat berbagai aspirasi baik dari bawahan , teman sejawat maupun atasan, dengan lapang dada

Lawan den wengku: harus bisa melawan ego keinginan pribadi untuk kepentingan yang lebih luas dan besar

Den Koyo Segoro:  dengan demikian diri kita bisa menjadi pribadi yang punya wawasan hati pikiran dan keilmuan seluas samudera

—————————–

 

Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya. Tinggal di Jakarta.

ShareTweetSend
Next Post
Pemberian Rehabilitasi Oleh Presiden Selaku Kepala Negara, terhadap Terpidana yang Belum Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap, Apakah Tepat dari Sisi Hukum?

Pemberian Rehabilitasi Oleh Presiden Selaku Kepala Negara, terhadap Terpidana yang Belum Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap, Apakah Tepat dari Sisi Hukum?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Coretan Sang Pelintas Batas

Coretan Sang Pelintas Batas

5 tahun ago
Jual Buku : Antonio Gramsci

Jual Buku : Antonio Gramsci

6 tahun ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In