Oleh Odemus Bei Witono
Jiwaku terasa sesak dalam kepungan jerebu
Ada rindu yang meronta, ingin pulang ke hulu
Namun jalan setapak telah raib disapu waktu
Menyisakan perih yang membeku di kalbu.
Rumah bukan lagi tempat berteduh dari hujan
Ia telah karam, tenggelam dimakan lumpur legam
Dinding-dinding kenangan runtuh dalam diam
Menyisakan nisan tanpa nama di atas pemakaman.
Mimpi-mimpi kini terasa gelap dan asing
Sunyi mencekam, memilin raga hingga pening
Di bawah langit yang tak lagi berbening
Kita hanyalah butiran debu yang terpelanting.
Lihatlah seragam sekolah yang kini kusam
Anak-anak kehilangan peluk bapak dan ibu
Dunia mereka runtuh, menyisakan masa depan kelam
Hanya ada isak yang tertahan di balik pintu.
Pun para orang tua, menatap tanah dengan nanar
Kehilangan tunas muda, harapan yang sempat berpijar
Kini terkubur di bawah endapan yang sukar
Meninggalkan lubang di hati, pedihnya tak terukur nalar.
Pedih dan sedih meledak hebat di sanubari
Menghantam dada, merobek sisa-sisa harga diri
Wahai Ibu Pertiwi, di mana gerangan kau sembunyi?
Kami butuh gelombang pengaman, dekapan yang abadi.
Mentari merangkak malas menuju ufuk barat
Membawa senyum getir di antara luka yang berkarat
Semburat jingganya tak lagi terasa hangat
Hanya pengingat bahwa waktu kian sekarat.
Gelondongan pohon misteri di tepi tubir
Sisa-sisa hutan yang tumbang, dipaksa menyingkir
Berserak ke sana kemari, terbawa arus banjir
Menjadi saksi bisu atas alam yang kian kikir.
Tanah yang dulu ramah kini menjadi amuk
Menelan apa saja dengan sekali teguk
Kita hanya bisa bersimpuh dan membungkuk
Di hadapan takdir yang datang mengetuk.
Duhai Belas Kasih, Sang Pemilik Semesta
Bangkitkan kembali ruh kami yang mati rasa
Jangan biarkan kami larut dalam nista
Di tengah bencana yang tak kunjung reda.
Tiupkan kembali semangat ke dalam nadi
Agar kami mampu berdiri di atas kaki sendiri
Membangun puing dari reruntuhan yang abadi
Meski luka ini takkan pernah benar-benar mati.
Biar kami kembali belajar untuk tersenyum
Walau rasanya sepahit empedu di dalam kerongkongan
Sebab hidup harus terus berjalan dalam pengabdian
Hingga fajar baru menghapus segala kenangan pahit.
———————————






