Semangkuk Doa Ibu
Apa yang sedang dikeluhkan musim Ibu?
Mungkinkah Tuhan begitu asik mengantarkan duka ke depan pintu
sehingga bola matamu menjadi mendung
Engkau bercerita tentang ayah yang telah lama pergi sejauh yang asing.
Ia melambai, sebagai serentang ranting pohon yang gelisah
sunyi di kepalamu adalah rimbunan rindu , sepotong harapan tegak merekah di atas tanah-tanah retak, namun tak mampu membawa pulang ayah.
semenjak itu, aku selalu memilih dungu di hadapan cermin
sambil mengira-ngira bayang ayah sebagai angan yang selalu aku ingini.
Setiap hari kulihat Ibu memikul matahari di kepala
keringatnya jatuh sebagai tetes dan doa
yang mengalir deras ke tubuh yatim
Di matanya yang cinta, luka tak pernah membutakan apa-apa
walau di palung malam, luka itu menggali tubuhnya sendiri seraya menghitung duka yang ditanamnya
Setelah senja beranjak
api telah melahap kayu pada tungku
cahayanya menampar wajah kami yang ditikam lapar
Ibu mengepulkan doa , mengisi mangkuk-mangkuk yang kosong
nasi ia tanak dengan asin air mata
sebab periuk ibu dari tambak kemiskinan
Adakah yang lebih elegi dari sepiring nasi, Bu?
Yang peluh tanpa reda sebagai airmata
Ibu, kemanakah kunci pada pintu di sepasang daun telingamu
disana engkau tabah mengumpulkan rahasia yang tak terucap oleh kata
Mungkinkah ada telapak tangan ayah yang tak pernah kemarau bercucur peluh sebagai pengorbanan yang bisa kita cicipi?
Di dalam lumbung gelisah, kata kata bersembunyi
“Tuhan, biarkan gadis kecil itu tidur di matanya yang telah malam”
rindu pelukan pada sang ayah
tinggal mimpi yang dikekalkan detik
Jejak doa Ibu, terbaca jelas di langit
( Helena Beraf, 25 Mei 2022)
————————————
Sebelum Suara
Puisi memanggilku kembali ke jantung malam
mendengar degup bunyi sunyi yang selalu jujur membahasakan kelembutanya
kebanyakan manusia terlalu banyak bersuara, sementara mereka tidaklah sadar
kesunyian sedang menenun puisi, menjahit kata-kata yang kelak dibaca sebagai pakaiannya.
Puisi memanggilku kembali
pulang merengkuh sepi
dengan telinga dan mata pena
ku amati gerak rahasia angin yang terkunci pada selembar daun
kudengar getar degup cinta yang diam-diam membunyikan diriku
Ku dengar namaMu di bisik keheningan
dan pada segala bentuk alasan manusia ingin pulang
seperti suara cinta yang memanggil dari patahan-patahan hati
Puisi memanggilku kembali
membahasakan apa-apa yang dirahasiakan dan sulit diucapkan
seumpama manusia yang berbeda
-tidak akan pernah menjanjikan cinta yang sama
Maka percayalah puisiku
antara kau dan aku
:cinta tak terlahir dari apapun
ia ada sebelum tangis pertama kita
memecah kecemasan manusia
Puisiku
aku pulang,
mendekapmu penuh seluruh
———————————-
Birama Sunyi
Ia duduk di hadapan malam
dan sunyi belajar menjadi lembut
senar senar membuka rahasia-pelan, agar rindu tak terkejut.
nada mengalir jatuh ke dadaku menjadi hangat tak bernama namun setia pada getar
Aku selalu mencintai caranya menunggu bunyi, seperti menunggu bibir yang tak lagi menyebut
Dan di sepasang mata teduh, tempat musik meletakan kepala. Ada rindu yang berhenti mencari bentuk.
Aku luruh
menjadi dengar
yang tak selesai
———————–

Helena Lose Beraf, Penulis dan Bidan. Di kota yang bising, menepi dalam puisi, menyelami sunyi, dan mendengar musik sebagai rahasia.



