
Foto Rofinus Pati
Dari budaya tutur kakek moyang yang buta aksara di kampung, tahun baru Cina hadir membawa ketakutan besar. Kata Imlek sama sekali tidak mereka pahami. Mereka hanya bisa membaca tanda-tanda alam bahwa tahun baru Cina identik dengan hujan lebat yang membuat tanah lembut, longsor dan batu-batu besar di punggung bukit, bisa berguguran dari ketinggian dan meluluhlantakkan rumah-rumah warga.
Hujan lebat sering mendatangkan banjir dari gunung. Selain hujan, angin kencang membongkar bahkan menerbangkan atap rumah dan meremukkan tanaman jagung serta singkong milik petani. Pepohonan tumbang menimpa rumah, bahkan menghantam manusia kalau tidak berhati-hati di jalan. Kecemasan warga sekampung akan gagal panen selalu terbayang di pelupuk mata.
Angin kencang dan hujan lebat menimbulkan petaka juga di laut. Para nahkoda dan anak buah kapal menahan rindu untuk berlayar sembari memaklumi bahwa rejekinya agak tertunda, meski tidak hilang. Kapal-kapal belum membelah laut lagi, bersandar rapat-rapat di sepanjang pelabuhan. Teluk-teluk menjadi tautan kapal yang masih menunggu murka alam reda. Risiko terburuk diantisipasi, pelayaran ditunda, demi keselamatan jiwa-jiwa manusia.
Bepergian lewat udara pada musim tahun baru Cina adalah risiko paling besar dari perjalanan lewat darat atau laut. Bandar-bandar udara sepi dari suara mesin pesawat, baik saat keberangkatan maupun kedatangan. Bandar udara Wunopito di Lembata pun tidak menunjukkan aktivitas sama sekali, sebab alam tidak bersahabat. Tiada seorang penumpang pun di sana. Semua orang yang hendak bepergian dengan pesawat harus menunggu sampai keadaan kembali kondusif untuk bisa terbang lagi ke Kupang.
Udara di tahun baru Cina selalu menebarkan rasa dingin ke dalam raga, sampai ke sumsum tulang belakang. Hujan dan angin datang seperti sekutu yang mengusik kenyamanan di seluruh kampung. Orang-orang kampung basah kuyup dan kedinginan menyebar ke seluruh tubuh. Orang selalu mencari kehangatan, duduk merapatkan badan ke tungku api. Semakin asyik suasananya, jika sambil membakar jagung muda dan ikan asin. Keadaan di luar rumah dibenci sejenak, karena becek, berlumpur dan menyebalkan kalau sering keluar masuk rumah.
Sejak Minggu sampai Senin, meski angin masih rajin bertiup dan mendung tebal tampak bergelayut di langit, namun hujan batal turun. Matahari masih memberikan sinar cukup teduh sepanjang hari ini. Orang di kampung dan kampung-kampung lain berdatangan, menuju ke sebuah rumah di dekat mushola Nurul Iman, Dusun Biarwala, Desa Mampir, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Mereka mengagumi suara Idris, seorang guru tulus dan bersahaja. Guru Idris merelakan dirinya, mengikhlaskan suaranya, bersedia mengumandangkan azan setiap hari, mengingatkan umatnya untuk mengumpulkan harta surga dan tidak hanya mengejar dan menimbun harta dunia.
Suara indahnya yang menyebar di udara, selalu menggetarkan hati dan mengajak orang untuk berhenti sejenak, menarik diri dari kesibukan, mengambil air wudhu dan segera menghadap kiblat. Suara indah itu sudah bertahun-tahun tersimpan dalam memori umat sebab sudah sekian purnama berganti, tapi suara indah dan nyaring itu tidak berubah. Suara itu tetap akrab di telinga. Apalagi, sudah sekitar setengah abad, guru Idris berdiri di depan kelas sebagai pengajar dan pendidik sejati, suaranya mempunyai dampak dan menjadi magnet tersendiri.
Bukti baktinya pada umat yang dicintainya, guru Idris merelakan sebidang tanah miliknya di Biarwala untuk dibangun mushola yang kemudian diberi nama Nurul Iman. Ini untuk mendukung praktik ibadah dan mendekatkan pelayanan iman kepada umat, sehingga dalam kegiatan rohani, mereka bisa memanfaatkan masjid Nurul Falaq di Dusun Mulewaq dan juga mushola Nurul Iman. Semua aktivitas rohani dikendalikan langsung darinya seperti ‘sholat’ lima waktu, kotbah, sembahyang berjamaah dan lain-lain, agar iman umatnya semakin bercahaya dan kuat melawan pengaruh negatif dari teknologi digital yang mengikis moral generasi muda.
Anak-anak remaja masjid tidak ketinggalan. Mereka juga datang ke rumah itu. Mereka melangkahkan kaki, melintas di samping mushola dengan doa dan harapan khusus dalam dada. Idris adalah seorang guru, pengajar ngaji dan ‘sholat’ yang diandalkan di kampung itu. Sudah sekian generasi dimahirkan dalam hal mengaji, ‘sholat’ dan membaca Al-Quran. Para remaja masjid merindukan sosok guru Idris yang selalu sabar, penyanyang dan rendah hati. Mereka berkunjung ke rumah itu untuk memberikan penghormatan. Mereka sudah lama menjadi anak-anak saleh dan saleha di bawah bimbingannya.
Para anggota kelompok Tahlilan sudah lama menanti kedatangan guru Idris yang senantiasa menyediakan diri melatih mereka dalam membaca kalimat tauhid dan juga doa bagi orang-orang yang sudah meninggal. Kecintaannya akan ibadah, hidup saleh, berbuat baik dan kemampuan agama Islam yang ditimbanya selama masa pendidikan.
Pendidikan agama dilalui guru Idris dengan pembentukan matang sejak awal. Ia menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Bareng pada 1972. Kemudian meneruskan ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), Rayon Flores Timur di Ende, selama 4 tahun. Setelah itu, pada 1977 ia melanjutkan studi selama 6 tahun di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Kupang.
Setelah menimba banyak ilmu, guru Idris mulai berencana menerapkan ilmunya bagi kepentingan banyak orang, sebab di situlah ia menemukan makna sejati hidupnya. Ia memulai mencerdaskan anak-anak bangsa di Madrasah Iswiyah Swasta (MIS) Al-Ihsan, Leuburi, suatu desa terletak agak di pedalaman, yang cukup jauh dari desanya di pesisir. Setelah itu, berpindah ke Sekolah Dasar Inpres (SDI) Leuwohung dan sejak 1987, bergabung di MIS Al Hidayah Leuwohung sampai usia purnatugas, namun tidak pernah berhenti mengajar.
Tidak hanya di sekolah. Di rumah dan masyarakat, guru Idris juga meluangkan waktu untuk mengajar ibu-ibu dan anak-anak membaca dan memahami Al-Quran tingkat dasar. Selain mengajar ngaji, ia memimpin tadarusan: melatih orang membaca ulang untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan membaca Al-Quran bagi ibu-ibu dan anak-anak. Kemampuannya ini membuatnya menjadi figur yang diidolakan, dirindukan dan diharapkan banyak orang. Kepribadian humoris dan tulus membuat orang-orang di sekitarnya selalu merasa segar dan nyaman.
Ketika wajah guru Idris lama tidak tampak, banyak ibu langsung merasa seperti tanah kering yang merindukan siraman air hujan. Murah senyum, tegur-sapa, gaya bicara khas, tutur kata dan keluwesannya dalam bergaul terselip amat rapi dalam lubuk hati. Ketika sakit, ibu-ibu yang merasa berutang budi dan jasa, selalu datang mengunjungi guru Idris dan memberikan motivasi agar segera sembuh.
Tokoh-tokoh agama juga datang bersilahturahim. Pergaulan guru Idris tidak mengenal sekat pembatas. Imannya berakar kuat di hatinya dan berdampak pada keluarganya. Ia sangat mantap pada keyakinannya sehingga membuatnya tidak gampang tersinggung dengan apa kata orang. Ia menerima dan menghargai orang yang berkeyakinan lain sebagai sesama peziarah pengharapan menuju Allah yang esa.
Pada acara Natalan bersama setiap tahun atau “Halal bil Halal”, ia selalu menghadirkan diri dan mengambil perannya di antara sesama yang berkeyakinan lain. Semua tokoh agama di puluhan desa mengenalnya sebagai seorang yang beriman sejati, penyayang keluarga dan sesama, pembawa damai dan kabar sukacita, seorang yang “rahmatan lil alamin”.
Ratusan bahkan ribuan murid yang pernah dididiknya di Desa Leuburi, Desa Leuwohung dan sekitarnya, banyak yang sempat datang menemuinya. Mereka yakin, seribu ucapan kata terima kasih belumlah cukup untuk membalas jasanya yang amat besar. Para alumni sekolah MIS (Madrasah Iswiyah Swasta) Al Hidayah Leuwohung, Kecamatan Buyasuri sungguh berhutang budi.
Guru Idris sendiri ikut membidani kelahiran atau berdirinya sekolah itu dan membuka jalan ke masa depan bagi sangat banyak murid. Gaya mengajarnya unik. Guru yang selalu menebar senyum, periang, santun, humoris dan rendah hati, menjadi ingatan teramat lestari yang tidak akan pernah dikalahkan oleh lupa. Kesuksesan dan kejayaan begitu banyak muridnya mewarisi sebagian dari jiwanya yang rela berkorban dalam kesederhanaan demi masa depan para murid.
Guru Idris juga adalah seorang seniman panggung. Pada hari raya agamanya, ia melatih kelompok qasidah ketika ada perlombaan kasidah atau membaca Al-Quran di tingkat desa, kecamatan bahkan kabupaten. Ia adalah pendamping bertangan dingin, yang sering memboyong juara.
Anak-anak binaannya berbangga memiliki seorang guru berbakat. Sesama pelatih dan pendamping kelompok qasidah dari puluhan desa lain tidak asing lagi mendengar namanya, sebab mereka sudah lama saling kenal. Mereka mengenalnya sebagai figur saleh, seorang tokoh panutan yang giat melibatkan diri dalam pelbagai kegiatan keagamaan.
Selain itu, sebagai seorang tuan tanah di kampungnya, guru Idris bersama warga lainnya, selalu mengikuti secara jeli perkembangan demi perkembangan yang terjadi di atas tanah leluhurnya. Tradisi dan kebudayaan tetap dirawat meski kemajuan teknologi datang dan menyerbu masuk sampai ke ruang-ruang pribadi. Dalam kapasitas sebagai seniman dan budayawan desa, guru Idris selalu melatih generasi muda mementaskan tarian-tarian daerah pada momen-momen tertentu.
Semua warga mengakui dan maklum. Pelbagai kegiatan tradisi atau perlombaan seni budaya tingkat desa, akan terasa hidup, cair dan penuh gelak tawa, ketika guru Idris tampil dan berbicara dengan pengeras suara di tangannya. Humor-humor segar selalu mencairkan suasana yang datar atau kering. Tradisi menjadi barang paling berharga baginya untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tercabut dari akar tradisi dan agar ia memiliki alasan untuk puas melangkah masuk pada senja kehidupan.
Di dalam konteks desa, guru Idris adalah seorang tokoh masyarakat. Dirinya segera diberikan tanpa syarat, meski terkadang dimangsa letih. Tidak ada alasan baginya untuk mengelak ketika kampung halaman memanggilnya untuk turun ke medan bakti. Pikiran-pikirannya disumbangkan secara tulus tanpa bermaksud memaksakan kehendak. Setiap gagasannya selalu mengutamakan kepentingan umum, kebaikan bersama, tanpa membangun kubu-kubu atau sekat pembatas yang menciptakan jarak.
Pengalaman hidup yang matang membuatnya selalu bijaksana dan tenang berhadapan dengan setiap peristiwa yang terkadang muncul tak terduga. Ibarat kelapa yang semakin tua, semakin berminyak, demikian pula guru Idris dalam ilmu, pengalaman dan kebijaksanaan. Banyak generasi muda yang datang belajar dan mendengar petuah darinya, sebagai bekal hidup kelak.
Di dalam keluarga suku atau fam Amunrian di dusun Biarwala, guru Idris adalah pelayan sejati. Hajatan keluarga seperti pesta pernikahan, urusan adat, kematian dan lain-lain, guru Idris tampil sebagai penunjuk jalan dan memastikan semuanya berjalan baik dan memuaskan semua pihak.
Ketika timbul salah paham atau persoalan, guru Idris hadir sebagai bagian dari solusi dan tidak sebagai bagian dari masalah atau hanya pasif menonton. Ia tidak pernah menambah rumit persoalan, tetapi membantu mengurainya. Ia selalu berniat baik, ingin berbuat baik dan menjadikan semuanya baik serta damai dalam keluarganya, selama hayat dikandung badan. Ia tidak hanya pencinta dan pembawa damai, tapi pencipta atau perajut damai yang sungguh mengagumkan.
Di jalur adat terkhusus urusan kawin-mawin dan mahar perkawinan, guru Idris adalah satu dari orang-orang yang dituakan dan diizinkan berbicara di forum adat. Gagasannya memancarkan keteduhan dan kenyamanan untuk kedua pihak. Pemberi gadis dan penerima gadis mendapatkan pemikiran segar dan saling memahami, sehingga satu pihak tidak merasa dibebani. Jalur pembicaraannya lurus, tidak berbelok-belok, tidak akal-akalan, seperti sering terdengar dari mulut para sesepuh adat dahulu sebagai politik adat. Tidak ada niat untuk memakan riba atau menarik untung dari nilai mahar perkawinan.
Mahar perkawinan berupa barang adat yakni gong bermakna keramat dan magis. Memberi kurang atau menerima lebih akan menanggung risiko secara adat. Gong diyakini mempunyai nyawa karena merupakan personifikasi perempuan dan simbol ikatan antarkeluarga. Gong adalah belahan atau kembaran diri dari seorang perempuan suku Kedang yang mulia, dihormati dan dijunjung tinggi. Guru Idris tidak hanya menginginkan yang baik di dalam pikiran dan perkataan, tapi hendak menerapkannya dalam perbuatan hari demi hari.
Semua itu tidak tanpa alasan. Sejarah telah mengukir jejak dan memberi warna khas pada pribadinya. Terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia, nama Idris tidak sekedar nama. Melainkan cermin yang memantulkan segenap perjalanan dan pengalaman hidup yang telah dilakoninya. Nama adalah tanda bermakna yang mengandung pesan dan harapan, bahkan restu dari langit ketujuh.
dris adalah nama seorang nabi yang diangkat Allah ke martabat tinggi karena pribadinya yang sabar dan saleh. Idris dalam bahasa Arab berarti “orang yang belajar” atau “orang yang bijak”. Demikianlah guru Idris yang selalu belajar bersama generasi tua, muda, bahkan anak-anak tanpa mengenal batas usia dan bijaksana dalam hidup di era digital yang penuh gejolak. Karena selalu belajar dan bijak dalam hidup, guru Idris memang bukanlah orang kaya, tapi kaya orang. Sangat banyak orang yang datang padanya dari berbagai desa memenuhi undangannya. Bahkan, duduk makan di atas batu pun bukan masalah bagi sebagian besar pengunjung, sebab mereka datang karena cinta sekaligus menunjukkan bahwa guru Idris memang kaya orang.
Pada Minggu, 25 Januari 2026, di Dusun Biarwala, guru Idris berdiri dengan ceria, senyum bahagia terpancar dari bibirnya. Ia berpamitan dengan ribuan sesama yang saling mengenal semasa hidupnya. Dalam usia 76 tahun, guru Idris memikul bekalnya berupa kebaikan yang berlimpah-limpah di bahunya. Sesudah berhenti sejenak di mushola Nurul Iman yang dirintisnya, ia meneruskan ziarah, mengayunkan langkah pasti, berjalan melintasi lorong-lorong sang waktu. Ia pergi ke pangkuan Allahnya yang ia sembah dengan penuh cinta kasih, lima kali sehari, selama hidupnya.
Semua warga desa sungguh kehilangan seorang tokoh berpengaruh di kampung, pribadi yang tulus, bersahaja, saleh, suri teladan, rendah hati, humoris, pembawa damai yang amat mengesankan, bermakna hidupnya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kini, guru Idris tidak bisa melihat lagi mereka semua dengan mata manusia biasa, seperti di hari-hari yang telah pamit.
Begitulah guru Idris kehilangan mereka semua. Namun, ia pergi, bukan untuk meninggalkan semua orang di kampung halamannya. Ia pergi untuk mendapatkan kembali mereka semuanya. Guru Idris akan mengetuk pintu hati dan menggugah kesadaran mereka, sehingga suatu saat, boleh tampil Idris-Idris muda sebagai pengganti dalam keluarga Amunrian sekaligus Desa Mampir, setelah kepergiannya ke alam baka di mana tak seorang pun dapat memanggilnya kembali.
———————————




