• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Idris Daud Kehilangan Semua Orang di Kampung Halaman – Cerpen Rofinus Pati

by Redaksi
Februari 3, 2026
in SASTRA
0
Ilustrasi gambar pinterest.com

Foto diambil dari id.pinterest.com

0
SHARES
170
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Foto Rofinus Pati

 

 

Dari budaya tutur kakek moyang yang buta aksara di kampung, tahun baru Cina hadir membawa  ketakutan besar. Kata Imlek sama sekali tidak mereka pahami. Mereka hanya bisa membaca tanda-tanda alam bahwa tahun baru Cina identik dengan hujan lebat yang  membuat tanah lembut, longsor dan batu-batu besar di punggung bukit, bisa berguguran dari ketinggian dan meluluhlantakkan  rumah-rumah warga.

Hujan lebat sering  mendatangkan banjir dari gunung. Selain hujan, angin kencang membongkar bahkan menerbangkan atap rumah dan meremukkan tanaman jagung serta singkong milik petani. Pepohonan tumbang menimpa rumah, bahkan menghantam  manusia kalau tidak berhati-hati di jalan. Kecemasan warga sekampung akan gagal panen selalu terbayang di pelupuk mata.

Angin kencang dan hujan lebat menimbulkan petaka juga di laut. Para nahkoda dan anak buah kapal menahan rindu untuk berlayar sembari memaklumi bahwa rejekinya agak tertunda, meski tidak hilang. Kapal-kapal belum membelah laut lagi, bersandar rapat-rapat di sepanjang pelabuhan. Teluk-teluk menjadi tautan kapal yang masih menunggu murka alam reda. Risiko terburuk diantisipasi, pelayaran ditunda, demi keselamatan jiwa-jiwa manusia.

Bepergian lewat udara pada musim  tahun baru Cina  adalah risiko paling besar dari perjalanan lewat  darat atau laut. Bandar-bandar udara sepi dari suara mesin pesawat, baik saat keberangkatan maupun kedatangan. Bandar udara Wunopito di  Lembata pun tidak menunjukkan aktivitas sama sekali, sebab alam tidak bersahabat. Tiada seorang penumpang pun di sana. Semua orang yang hendak bepergian dengan pesawat harus menunggu sampai keadaan kembali kondusif untuk bisa terbang lagi ke Kupang.

Udara di tahun baru Cina selalu  menebarkan rasa dingin ke dalam raga, sampai ke sumsum tulang belakang. Hujan dan angin datang seperti sekutu yang mengusik kenyamanan di seluruh kampung. Orang-orang kampung basah kuyup dan kedinginan menyebar ke seluruh tubuh. Orang selalu mencari kehangatan, duduk merapatkan badan ke tungku api. Semakin asyik suasananya, jika sambil membakar jagung muda dan ikan asin. Keadaan di luar rumah dibenci sejenak, karena becek, berlumpur dan menyebalkan kalau sering keluar masuk rumah.

Sejak Minggu sampai Senin, meski angin masih rajin bertiup dan mendung tebal tampak bergelayut di langit, namun hujan batal turun. Matahari masih memberikan sinar  cukup teduh sepanjang hari ini. Orang di kampung  dan kampung-kampung lain berdatangan, menuju ke sebuah  rumah di dekat mushola Nurul Iman, Dusun Biarwala, Desa Mampir, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.  Mereka mengagumi suara Idris, seorang guru tulus dan bersahaja. Guru  Idris merelakan dirinya,  mengikhlaskan suaranya, bersedia  mengumandangkan azan setiap hari, mengingatkan umatnya untuk mengumpulkan harta surga dan tidak hanya mengejar dan menimbun harta dunia.

Suara indahnya yang menyebar di udara, selalu menggetarkan hati  dan mengajak orang untuk berhenti sejenak, menarik diri dari kesibukan, mengambil air wudhu dan segera menghadap kiblat. Suara indah  itu sudah bertahun-tahun  tersimpan dalam memori umat sebab sudah sekian purnama berganti, tapi suara indah dan nyaring itu tidak berubah. Suara itu tetap akrab di telinga. Apalagi, sudah sekitar setengah abad, guru Idris berdiri di depan kelas sebagai pengajar dan pendidik sejati, suaranya mempunyai dampak dan menjadi magnet tersendiri.

Bukti baktinya pada umat yang dicintainya, guru Idris merelakan sebidang tanah miliknya di Biarwala untuk dibangun mushola yang kemudian diberi nama Nurul Iman. Ini untuk mendukung praktik ibadah dan mendekatkan  pelayanan iman kepada umat, sehingga dalam kegiatan rohani, mereka bisa memanfaatkan  masjid Nurul Falaq di Dusun Mulewaq dan juga mushola Nurul Iman. Semua aktivitas rohani dikendalikan  langsung darinya seperti ‘sholat’ lima waktu, kotbah, sembahyang berjamaah dan lain-lain, agar iman umatnya semakin bercahaya dan kuat melawan pengaruh negatif dari teknologi digital yang mengikis moral generasi muda.

Anak-anak remaja masjid tidak ketinggalan. Mereka juga datang ke rumah itu.  Mereka   melangkahkan kaki,  melintas di samping mushola dengan doa dan harapan khusus dalam dada. Idris adalah seorang guru, pengajar ngaji dan ‘sholat’ yang diandalkan di kampung itu. Sudah sekian generasi dimahirkan dalam hal mengaji, ‘sholat’ dan membaca Al-Quran. Para remaja masjid merindukan sosok  guru Idris yang selalu sabar, penyanyang dan rendah hati. Mereka berkunjung ke rumah itu untuk  memberikan penghormatan. Mereka sudah lama menjadi anak-anak saleh dan saleha di bawah bimbingannya.

Para anggota kelompok Tahlilan sudah lama menanti kedatangan guru Idris yang senantiasa menyediakan diri melatih mereka dalam membaca kalimat tauhid dan juga doa bagi orang-orang yang sudah meninggal. Kecintaannya akan ibadah, hidup saleh, berbuat baik dan kemampuan agama Islam yang ditimbanya selama masa pendidikan.

Pendidikan agama dilalui guru Idris dengan pembentukan  matang sejak awal. Ia menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Bareng pada 1972. Kemudian meneruskan ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), Rayon Flores Timur di Ende, selama 4 tahun. Setelah itu, pada 1977 ia melanjutkan studi selama 6 tahun di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Kupang.

Setelah menimba banyak ilmu, guru Idris mulai berencana menerapkan ilmunya bagi  kepentingan banyak orang, sebab di situlah ia menemukan makna sejati hidupnya. Ia memulai mencerdaskan anak-anak bangsa di Madrasah Iswiyah Swasta (MIS) Al-Ihsan,  Leuburi, suatu desa terletak agak di pedalaman, yang cukup jauh dari desanya di pesisir. Setelah itu, berpindah ke Sekolah Dasar Inpres (SDI) Leuwohung dan sejak 1987, bergabung di MIS Al Hidayah Leuwohung sampai usia purnatugas, namun tidak pernah berhenti mengajar.

Tidak hanya di sekolah. Di rumah dan masyarakat, guru Idris juga  meluangkan waktu untuk mengajar ibu-ibu dan  anak-anak  membaca dan memahami Al-Quran tingkat dasar. Selain mengajar ngaji, ia memimpin  tadarusan: melatih orang membaca ulang untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan membaca Al-Quran bagi ibu-ibu dan anak-anak. Kemampuannya ini membuatnya  menjadi figur yang  diidolakan, dirindukan dan diharapkan banyak orang. Kepribadian  humoris dan tulus membuat  orang-orang di sekitarnya selalu  merasa segar dan nyaman.

Ketika wajah guru Idris lama tidak tampak, banyak ibu langsung merasa seperti tanah kering yang merindukan siraman air hujan. Murah senyum, tegur-sapa, gaya bicara khas, tutur kata dan keluwesannya dalam bergaul terselip amat rapi dalam lubuk hati. Ketika sakit, ibu-ibu yang merasa berutang budi dan jasa, selalu datang mengunjungi guru Idris dan memberikan motivasi agar segera sembuh.

Tokoh-tokoh agama  juga datang bersilahturahim. Pergaulan guru Idris tidak mengenal sekat pembatas. Imannya berakar kuat di hatinya dan berdampak pada keluarganya. Ia sangat mantap pada keyakinannya sehingga membuatnya tidak gampang tersinggung dengan apa kata orang. Ia menerima dan menghargai orang yang  berkeyakinan lain sebagai sesama peziarah pengharapan menuju Allah yang esa.

Pada acara Natalan bersama setiap tahun atau “Halal bil Halal”, ia selalu menghadirkan diri dan mengambil perannya di antara sesama yang berkeyakinan lain. Semua tokoh agama di puluhan desa mengenalnya sebagai seorang yang beriman sejati, penyayang keluarga dan sesama, pembawa damai dan kabar sukacita, seorang yang “rahmatan lil alamin”.

Ratusan bahkan ribuan murid yang pernah dididiknya di Desa Leuburi,  Desa Leuwohung dan sekitarnya,  banyak yang sempat datang  menemuinya.  Mereka yakin,  seribu ucapan kata terima kasih belumlah cukup untuk membalas jasanya yang amat besar. Para alumni sekolah MIS (Madrasah Iswiyah Swasta) Al Hidayah Leuwohung, Kecamatan Buyasuri sungguh  berhutang budi.

Guru Idris sendiri ikut membidani kelahiran atau  berdirinya sekolah itu dan membuka jalan ke masa depan bagi sangat banyak murid. Gaya mengajarnya unik. Guru yang selalu menebar senyum, periang, santun,  humoris dan rendah hati, menjadi ingatan teramat lestari yang tidak akan pernah dikalahkan oleh lupa. Kesuksesan dan kejayaan begitu banyak muridnya mewarisi sebagian dari jiwanya yang rela berkorban dalam kesederhanaan demi masa depan para murid.

Guru Idris juga adalah seorang seniman panggung.  Pada hari raya  agamanya, ia melatih kelompok  qasidah ketika ada perlombaan kasidah atau membaca Al-Quran di tingkat desa, kecamatan bahkan kabupaten. Ia adalah pendamping bertangan dingin, yang sering memboyong juara.

Anak-anak binaannya berbangga memiliki seorang guru berbakat. Sesama pelatih dan pendamping kelompok qasidah dari puluhan desa lain tidak asing lagi mendengar namanya, sebab mereka sudah lama saling kenal. Mereka mengenalnya sebagai figur saleh, seorang tokoh  panutan yang giat melibatkan diri dalam pelbagai kegiatan keagamaan.

Selain itu, sebagai seorang tuan tanah di kampungnya, guru Idris bersama warga lainnya, selalu mengikuti secara jeli perkembangan demi perkembangan yang terjadi di atas tanah leluhurnya. Tradisi dan kebudayaan tetap dirawat meski kemajuan teknologi datang dan menyerbu masuk sampai ke ruang-ruang pribadi. Dalam kapasitas sebagai  seniman dan budayawan desa, guru Idris selalu melatih generasi muda mementaskan tarian-tarian daerah pada momen-momen  tertentu.

Semua warga mengakui dan maklum. Pelbagai kegiatan tradisi atau perlombaan seni budaya tingkat desa, akan terasa hidup, cair dan penuh gelak tawa, ketika guru Idris tampil dan berbicara dengan pengeras suara di tangannya. Humor-humor segar selalu mencairkan suasana yang datar atau kering. Tradisi menjadi barang paling berharga baginya untuk dilestarikan dan  diwariskan kepada generasi muda agar tidak tercabut dari akar tradisi dan agar ia memiliki alasan untuk puas melangkah masuk pada senja kehidupan.

Di dalam konteks desa, guru Idris adalah seorang tokoh masyarakat. Dirinya segera diberikan tanpa syarat, meski terkadang dimangsa letih. Tidak ada alasan baginya untuk mengelak ketika kampung halaman memanggilnya untuk turun ke medan bakti.  Pikiran-pikirannya disumbangkan secara tulus tanpa bermaksud memaksakan kehendak. Setiap gagasannya selalu mengutamakan kepentingan umum,  kebaikan bersama, tanpa membangun kubu-kubu atau sekat pembatas yang menciptakan jarak.

Pengalaman hidup yang matang membuatnya selalu bijaksana dan tenang berhadapan dengan setiap peristiwa yang terkadang muncul tak terduga. Ibarat kelapa yang semakin tua, semakin berminyak, demikian pula guru Idris dalam ilmu,  pengalaman dan kebijaksanaan.  Banyak generasi muda yang datang  belajar dan mendengar petuah  darinya, sebagai bekal hidup kelak.

Di dalam keluarga suku atau fam  Amunrian di dusun Biarwala, guru Idris adalah pelayan sejati. Hajatan keluarga seperti pesta pernikahan, urusan adat,  kematian dan lain-lain, guru Idris tampil sebagai  penunjuk jalan dan memastikan semuanya berjalan baik dan memuaskan semua   pihak.

Ketika timbul salah paham atau persoalan, guru Idris hadir sebagai bagian dari solusi dan tidak sebagai bagian dari masalah atau hanya pasif menonton. Ia tidak pernah menambah rumit persoalan, tetapi membantu mengurainya. Ia selalu berniat baik, ingin berbuat baik dan menjadikan semuanya baik serta damai dalam keluarganya, selama hayat dikandung badan. Ia tidak hanya pencinta dan pembawa damai, tapi pencipta atau perajut damai yang sungguh mengagumkan.

Di jalur adat terkhusus urusan kawin-mawin dan mahar perkawinan, guru Idris adalah satu dari orang-orang yang dituakan dan diizinkan berbicara di forum adat. Gagasannya memancarkan keteduhan dan kenyamanan untuk kedua pihak. Pemberi gadis dan penerima gadis mendapatkan pemikiran segar dan saling memahami, sehingga satu pihak tidak merasa dibebani. Jalur pembicaraannya lurus, tidak berbelok-belok, tidak akal-akalan, seperti sering terdengar dari mulut para sesepuh adat dahulu sebagai politik adat. Tidak ada niat untuk memakan riba atau menarik untung dari nilai mahar perkawinan.

Mahar perkawinan berupa barang adat yakni gong bermakna keramat dan magis. Memberi kurang atau menerima lebih akan menanggung risiko  secara adat. Gong diyakini mempunyai   nyawa karena merupakan personifikasi perempuan dan  simbol ikatan antarkeluarga. Gong adalah belahan atau  kembaran diri dari seorang  perempuan suku Kedang yang mulia,  dihormati dan  dijunjung tinggi. Guru Idris tidak hanya menginginkan yang baik di dalam pikiran dan perkataan, tapi hendak menerapkannya dalam perbuatan hari demi hari.

Semua itu tidak tanpa alasan. Sejarah telah mengukir jejak dan memberi warna khas pada pribadinya. Terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia, nama Idris tidak sekedar nama. Melainkan cermin yang memantulkan segenap perjalanan dan pengalaman hidup yang telah  dilakoninya. Nama adalah tanda bermakna yang mengandung pesan dan harapan, bahkan restu dari  langit ketujuh.

dris adalah nama seorang nabi yang diangkat Allah ke martabat tinggi karena pribadinya yang sabar dan saleh. Idris dalam bahasa Arab berarti “orang yang belajar” atau “orang yang bijak”. Demikianlah guru Idris yang selalu belajar bersama generasi tua, muda, bahkan anak-anak tanpa mengenal batas usia dan bijaksana dalam hidup di era digital yang penuh gejolak. Karena selalu belajar dan bijak dalam hidup, guru Idris memang bukanlah orang kaya, tapi kaya orang. Sangat banyak orang yang datang padanya dari berbagai desa memenuhi undangannya. Bahkan, duduk makan di atas batu pun bukan masalah bagi sebagian besar pengunjung, sebab mereka datang karena cinta  sekaligus menunjukkan bahwa guru Idris memang kaya orang.

Pada Minggu, 25 Januari 2026, di Dusun Biarwala, guru Idris berdiri  dengan ceria, senyum bahagia terpancar dari bibirnya. Ia berpamitan dengan ribuan sesama  yang saling mengenal semasa hidupnya. Dalam usia 76 tahun, guru Idris memikul bekalnya berupa kebaikan yang  berlimpah-limpah di bahunya. Sesudah berhenti sejenak di mushola Nurul Iman yang dirintisnya, ia meneruskan ziarah,  mengayunkan  langkah pasti, berjalan melintasi lorong-lorong sang waktu. Ia pergi ke pangkuan Allahnya  yang ia sembah dengan penuh cinta kasih, lima kali sehari, selama hidupnya.

Semua warga desa  sungguh kehilangan seorang tokoh berpengaruh di kampung, pribadi yang tulus,  bersahaja, saleh, suri teladan, rendah hati, humoris, pembawa damai yang amat mengesankan,  bermakna hidupnya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kini, guru Idris tidak bisa melihat lagi mereka semua dengan mata manusia biasa, seperti di hari-hari yang telah pamit.

Begitulah guru Idris  kehilangan mereka semua. Namun, ia  pergi, bukan untuk meninggalkan semua orang di kampung halamannya. Ia pergi untuk mendapatkan kembali mereka semuanya. Guru Idris akan  mengetuk pintu hati dan menggugah kesadaran mereka, sehingga suatu saat, boleh tampil Idris-Idris muda sebagai pengganti  dalam keluarga Amunrian sekaligus  Desa Mampir, setelah  kepergiannya ke alam baka di mana tak seorang pun dapat memanggilnya kembali.

———————————

ShareTweetSend
Next Post
Peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Kasus Nicolas Maduro, Dipertanyakan

Inggit Ganarsih, Seorang Inspirator serta  Stabilisator dan Sekaligus  Dinamisator bagi Bung Karno

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Kepemimpinan yang Melayani

Kepemimpinan yang Melayani

6 tahun ago
Yayasan Supersemar Telah Lahirkan Jutaan Sarjana dan Ribuan Guru Besar sebagai Soko Guru Pendidikan bagi Generasi Bangsa

Yayasan Supersemar Telah Lahirkan Jutaan Sarjana dan Ribuan Guru Besar sebagai Soko Guru Pendidikan bagi Generasi Bangsa

2 tahun ago

Popular News

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In