• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Selasa, Maret 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Menepis Beban di Leher Zaka

by Redaksi
Februari 24, 2026
in SASTRA
0
Menepis Beban di Leher Zaka
0
SHARES
72
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh  Mariana  Sogen,  Misionaris NTT, Berkarya di Timor Leste

 

Di tengah amis pasar dan hiruk-pikuk manusia yang saling sikut berebut rezeki, Zaka berjalan menyamping, menyelip di antara keranjang sayur dan bau keringat. Di lehernya, sampo rentengan bergelantungan seperti kalung nasib yang berat. Setiap Rabu pagi, saat lonceng sekolah seharusnya memanggil namanya, ia justru memilih berkutat dengan debu pasar, menjajakan dagangan yang ia ambil dari toko kecil di sudut sana.

Zaka adalah murid kelas satu SMP di sekolahku. Baru dua bulan ia terdaftar sebagai siswa baru tahun ini, namun kursi kelasnya lebih sering kosong saat hari pasar tiba.

“Zakarias Tamo Ama,” kutepuk bahunya dari belakang.

Ia tersentak, berpaling dengan wajah yang seketika pucat meski kulitnya sepekat malam. Matanya yang bening memancarkan kilat kaget sekaligus takut. Di sekolah, aku adalah sosok yang ditakuti—sosok yang setiap pagi mengontrol kelas, memastikan setiap sudut bersih dan setiap murid patuh pada aturan. Dan di sini, ia tertangkap basah melanggar aturan paling dasar: hadir untuk belajar.

“Jualan apa?” tanyaku dengan nada datar, berusaha menyembunyikan getar emosi di balik wajah tanpa ekspresi.

“Ini, Suster,” sahutnya lirih, nyaris tertelan bising pasar. Ia menunjukkan rentengan sampo di lehernya dengan jemari yang kasar—tangan seorang pekerja keras yang dipaksa dewasa oleh keadaan.

Kami sempat berbicara sejenak. Dengan jujur yang polos, tanpa rasa bersalah yang dibuat-buat, ia menjelaskan modal dan keuntungan receh yang ia kejar. Ia bercerita dengan semangat yang menyayat hati, seolah membolos adalah satu-satunya cara untuk menyambung napas.

“Saya mau beli semua jualanmu, Zaka,” kataku.

Perlahan, ia menurunkan beban plastik itu dari lehernya. Mulutnya komat-kamit menghitung, memperlihatkan barisan gigi rapi yang kontras dengan kulit gelapnya. Di bawah terik matahari, matanya bersinar serupa bintang—begitu lugu dan tanpa cela.

“Dua puluh lima ribu, Suster,” ucapnya malu-malu saat menerima uang dariku. Kutambahkan lagi dua puluh lima ribu rupiah ke telapak tangannya. “Untuk membeli sepatu sekolahmu,” bisikku.

Sebab aku tahu, Zaka bukan hanya absen di hari Rabu. Ia juga sering menghilang saat apel bendera hari Senin. Bukan karena malas, tapi karena ia takut dihukum guru piket lantaran hanya memiliki sepasang sandal untuk membungkus kakinya yang penuh debu pasar.

“Zaka, kamu hebat sudah bisa membantu orang tua. Tapi sekolah adalah jalanmu untuk memiliki masa depan,” ujarku sambil menatap sosoknya yang pendek gempal.

Ia menatapku lama sekali. Tatapan itu bukan sekadar tatapan anak SMP; itu adalah tatapan seseorang yang memikul beban dunia di pundak kecilnya. Sorot mata bening itu seolah bicara padaku: “Suster, jika aku tak di sini, siapa yang akan memberi makan adik-adikku hari ini?”

“Suster,” suaranya bergetar, namun bukan karena takut, melainkan permohonan yang lahir dari desakan perut yang lapar. “Aku akan tetap ke sekolah, tapi izinkan aku ke pasar setiap Rabu. Aku harus mencari uang untuk makan adik-adikku. Mama baru saja melahirkan, dan Bapak… ia pergi merantau saat adik bungsuku masih dalam kandungan. Sampai detik ini, tak ada kabar, tak ada kiriman, tak ada jejak.”

Kami terpaku dalam keheningan yang menyesakkan. Di kepalaku, ribuan kata pujian berebut ingin keluar; aku ingin meneriakkan betapa bangganya aku pada pundak kecil itu. Aku tak kuasa melarangnya mencari nafkah, aku hanya ingin ia tak kehilangan masa mudanya di antara tumpukan sampah pasar.

“Zaka, aku tak bisa memberimu jawaban sekarang,” ucapku, mencoba menjaga wibawa yang mulai retak. “Aku hanya ingin berkunjung ke rumahmu.”

Ia menunduk, seolah malu mengakui dunianya yang sempit. “Suster, kami tidak punya rumah. Kami hanya menumpang di bekas dapur orang, sebuah ruang sempit yang dipaksakan jadi tempat tinggal.”

Aku mengangguk cepat, lalu segera membalikkan badan. Aku tak boleh membiarkan Zaka melihat pertahananku runtuh. Aku, yang selama ini dipandang sebagai karang yang tak bisa patah, yang tak pernah menyerah, apalagi menangis, kini harus menyerah pada air mata yang membanjir tanpa henti.

Pikiranku berkecamuk. Bagaimana mungkin seorang bocah sekecil itu sudah memikul nakhoda ekonomi untuk ibu dan adik-adiknya? Di hadapan penderitaan yang begitu murni, aku sadar tugas utamaku bukan lagi sekadar mengontrol kebersihan kelas, melainkan memberi api pada semangat hidupnya yang mulai redup.

“Apa yang harus kuperbuat untukmu, muridku?” tanyaku pada angin pasar yang membawa aroma duka.

***

Motor tuaku terbatuk sebelum akhirnya bungkam di depan sebuah gubuk reyot yang lebih mirip rongsokan daripada hunian. Bangunan itu hanyalah bekas dapur milik kerabat jauh keluarga Zaka—sebuah kotak kayu tanpa jendela maupun ventilasi. Di dalamnya, udara terasa mati, berputar-putar membawa hawa panas yang berkelindan dengan aroma sampah dari luar. Pakaian-pakaian kecil yang kotor berserakan di sana-sini, melukiskan kemiskinan yang akut.

“Mohon maaf, Suster. Rumah kami gelap,” suara Mama Zaka menyambutku dari balik bayang-bayang. Bahkan wajah bayi dalam gendongannya pun nyaris tak terlihat, terkubur dalam pekatnya ruangan. Sambil membagikan beberapa bungkus biskuit kepada adik-adik Zaka, pandanganku mencari sosok sang pahlawan kecil itu.

“Mana Zaka?” tanyaku.

“Ia sedang menjajakan sampo di pasar senja. Kalau Rabu, dia harus ke pasar besar,” jawab ibunya. Aku terpaku dalam kekaguman yang pedih; bocah itu benar-benar telah menjadi tulang punggung yang menopang seluruh beban keluarga ini.

Dengan ketegasan yang kupaksakan, aku berujar, “Zaka harus sekolah di hari Rabu. Ia butuh masa depan. Nanti, setelah lulus SMA, barulah ia bisa bekerja lebih layak untuk membantu Mama dan adik-adiknya”. Itulah impian yang kupeluk untuknya.

Namun, jawaban Mama Zaka meruntuhkan keyakinanku. “Suster, Zaka boleh sekolah, tapi aku belum bisa mandiri. Hanya di hari Rabu itulah jualan samponya bisa membawa untung besar”. Pikiranku buntu. Bagaimana mungkin aku menuntutnya mengejar ilmu sementara adik-adiknya terancam tak makan?

Aku pamit dengan hati yang berat. Di atas motor tua yang bergetar, kalimat Mama Zaka terus terngiang seperti kutukan: “Hari Rabu itu hasilnya cukup untuk membeli sekilo beras”. Aku sadar, menyelamatkan Zaka berarti harus menyelamatkan keluarganya terlebih dahulu.

Malam itu, badai mengamuk di luar biara. Suara hujan menghantam atap seng dengan bising yang menyiksa, namun pikiranku justru terbang ke gubuk Zaka yang beratap ilalang tua. Aku terjaga dalam doa dan cemas, membayangkan bangunan rapuh itu akan rata dengan tanah.

Keesokan harinya, kursi Zaka di kelas kosong. Itu bukan hari Rabu. Kabar buruk segera menyebar dari mulut ke mulut—sebuah “telepon gaib” khas anak-anak yang menyebutkan bahwa rumah Zaka luluh lantak diterjang angin kencang semalam. Aku hanya mampu mengangguk pelan, merasai duka yang kini bukan lagi sekadar berita, melainkan luka yang nyata.

***

Sore itu, langkahku kembali membawaku ke rumah Zaka. Tidak ada keranjang sampo di lehernya; ia absen dari pasar senja. Di halaman, ia hanya duduk terpaku, matanya kosong menatap adik-adiknya yang bermain tanpa beban, sementara di belakangnya, gubuk itu telah menjadi bangkai yang porak-poranda. Atap ilalang berserakan dan dinding bambunya terkelupas, menyerah pada amukan badai semalam.

“Mama, rumah kami hancur…” ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca menahan bendungan air mata.

Aku berdiri mematung. Zaka yang biasanya tegar kini tampak begitu rapuh, wajahnya lesu seolah baru saja kehilangan segala-galanya dalam satu pertaruhan hidup. Tubuhnya kotor oleh sisa-sisa puing yang ia bersihkan seharian. Pemandangan itu menyayat hati; bagaimana mungkin tubuh sekecil itu sanggup memikul beban yang begitu kolosal?.

Satu hal yang membuat dadaku sesak: ia mengubah panggilannya kepadaku menjadi “Mama”. Sebuah isyarat bisu bahwa ia butuh sandaran, bahwa punggung kecilnya telah retak dan ia membutuhkan rahim emosional untuk berlindung. Matanya yang dulu cemerlang bak bintang kini meredup, seolah cahaya di dalamnya ikut padam bersama robohnya gubuk itu.

“Sabar, Zaka. Tuhan pasti punya jalan,” bisikku di sela senja yang mulai jatuh.

Tangis bayi yang kedinginan membelah kesunyian, memicu belas kasih sang pemilik tanah untuk memanggil mereka berteduh. Namun, Zaka bersikukuh tetap tinggal. Ia memilih menjaga sisa-sisa kehidupan keluarganya—panci dan pakaian yang berserakan—di dalam reruntuhan itu.

Sepanjang jalan pulang, batinku mengerang. Ingin rasanya kubawa ia ke asrama biara, namun ia punya adik-adik yang harus ia jaga. Ia dipaksa dewasa sebelum waktunya, berjalan cepat menuju sekolah dengan perut kosong hanya agar bisa segera pulang dan bekerja. Zaka telah menjadi bagian dari napas hidupku.

Tiga hari aku bergulat dengan pikiran, hingga Zaka datang membawa secercah harapan: ada tanah pinjaman. Melalui perjanjian singkat dan gotong royong warga, sebuah pondok kecil kembali berdiri. Zaka kembali menjajakan sampo di pasar senja, mencoba merajut kembali hari-harinya yang koyak. Namun, takdir rupanya masih ingin menguji ketabahannya. Tak lama berselang, sebuah “pil pahit” kembali harus ia telan; pemilik tanah meminta tanah itu kembali, memaksa mereka harus segera angkat kaki sekali lagi.

***

Aku mengerahkan seluruh daya agar Zaka tak lagi menjadi pengembara di atas tanah orang. Sebidang tanah mungil, sepuluh kali sepuluh meter, berhasil kubeli dari kemurahan hati para donatur. Zaka, yang saat itu masih duduk di kelas dua SMP dan belum paham benar arti kepemilikan, membubuhkan tanda tangannya di atas sertifikat itu sebagai pemilik sah. Kepindahan kali ini terasa berbeda; langkahnya ringan, tanpa bayang-bayang pengusiran yang menghantui. Di atas tanah itu, sebuah rumah sederhana dari dinding bambu berdiri—sempit, namun sehat dan merdeka.

Zaka bangkit dari penderitaan panjangnya. Meski jarak ke sekolah kian menjauh, ia tak pernah terlambat; semangatnya telah pulih. Ia tak lagi menjajakan sampo renteng. Berkat bantuan orang tua asuh dan pekerjaan ibunya sebagai tukang cuci di pastoran, roda nasib mereka mulai berputar ke arah yang lebih baik.

Waktu berlalu hingga Zaka berdiri di hadapanku dengan selembar ijazah SMA. “Mama, aku sudah lulus. Lalu, aku harus ke mana?” tanyanya dengan nada yang begitu ringan, seolah seluruh beban dunia telah menguap dari pundaknya. Ia memilih jalan sebagai tukang ojek untuk melunasi kredit motornya sendiri, sebuah rencana yang telah ia susun dengan matang.

Lima tahun kemudian, Zaka kembali dengan kabar yang mengejutkan: ia ingin menikah. Di usianya yang hampir tiga puluh tahun, ia telah menemukan tambatan hati— Adriana Tallu,  seorang guru yang sering menjadi langganan ojeknya. Untuk pertama kalinya, aku melihat Zaka tersenyum begitu manis; kulitnya yang hitam manis tampak bersinar dengan ketampanan yang matang.

Pernikahan itu berlangsung khidmat di kapela kecil biara kami, hanya dihadiri keluarga inti. Air mataku tumpah tak terbendung saat Zaka memeluk kakiku, memohon restu. Kutumpangkan tangan di atas kepalanya dengan suara terbata-bata: “Anakku, engkau bukan lagi milikku yang harus kugenggam erat. Engkau adalah suami bagi istrimu. Berjalanlah, raihlah kebahagiaanmu. Tuhan menuntunmu selalu”.

Beberapa bulan kemudian, sebuah mobil Avanza parkir di halaman biara. Zaka turun dengan penampilan yang berubah total—bersih, rapi, dan tanpa beban. Ia datang memohon restu untuk usaha rental mobilnya. Aku tersenyum, sebuah senyuman paling tulus yang lahir dari kedalaman hatiku, melihat ia telah menjelma menjadi pebisnis yang mandiri.

Kuberikan seutas Rosario dari sakuku. “Gantungkan ini di mobilmu. Biarkan Tuhan dan Bunda-Nya menjagamu di jalan”. Aku melepasnya pergi dengan kekaguman yang membuncah. “Engkau telah memenangkan kehidupan ini, Nak. Engkau adalah pemenang sejati”.

Saat mobil itu bergerak menjauh, mataku tertuju pada bagian belakangnya. Di sana, tertempel berbagai merek sampo—pengingat bisu akan tahun-tahun penuh peluh di pasar. Sampo renteng yang dulu melilit lehernya kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kendaraan menuju masa depan yang cerah.

 

 

ShareTweetSend
Next Post
Indonesia Memposisikan Diri Netral dalam Kasus Taiwan sebagai Implementasi Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Penerima Beasiswa Studi ke Luar Negeri dan  Nasionalisme yang Luntur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ben Oleona, dari Guru Beralih ke Profesi Wartawan

Ben Oleona, dari Guru Beralih ke Profesi Wartawan

6 tahun ago
Lamafa  – untuk Umbu Landu Paranggi

Lamafa – untuk Umbu Landu Paranggi

3 tahun ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In