
Oleh Katarina Grace Hepinanda Mako, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Sering kali kita melihat hidup seseorang dari luarnya saja. Kalau kita melihat Nayla dalam cerpen “Rumah-rumah Nayla” karya Djenar Maesa Ayu, di awal cerita mungkin kita ingin hidup seperti Nayla. Memiliki suami kaya yang pengertian, rumah elit dengan pos penjaga, dan anak-anak yang cantik serta sehat. Hidupnya ringan, mewah, dan menjadi idaman bagi kebanyakan orang. Namun, di balik semua kemewahan itu, ada aroma alkohol, jejak narkoba, dan luka pemerkosaan masa kecil yang masih membekas, sebuah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh meski sudah ditutupi dengan tembok rumah yang mahal. Di sinilah Djenar Maesa Ayu menunjukkan wewenang sebagai makhluk otonom yang memiliki kebebasan kreatif untuk mencurahkan perasaan dan pikiran dari kedalaman jiwanya, menjadikan cerpen ini sebagai pernyataan batin yang jujur.
Djenar mengajak untuk masuk ke dalam ingatan Nayla yang tumpang tindih antara kenyataan pahit dan khayalan yang dia bangun di laptopnya. Dan Longinus merupakan pelopor yang menegaskan bahwa ukuran seni sastra adalah keluhuran (peri hypsous). Jika menggunakan perspektif Longinus, cerpen ini bukan sekadar cerita sedih biasa. Longinus berpendapat bahwa fungsi karya sastra yang besar adalah membawa pembaca “keluar dari dirinya sendiri” (transport the reader out of himself) menuju suka cita ilahi. Karya ini menjadi hebat karena ia memiliki kekuatan untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi melalui emosi yang mengguncang, sebuah proses imajinatif di mana Djenar merangkai ingatan traumatis menjadi sebuah keluhuran seni.
Djenar Maesa Ayu lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang erat dengan dunia seni sebagai putri dari sutradara legendaris Sjuman Djaya dan aktris Toeti Kirana. Namun, menariknya, meski dikelilingi suasana seni, Djenar mengaku dibesarkan dalam lingkungan yang religius dan konservatif. Ketegangan antara kebebasan individu dan norma sosial yang ia alami di masa kecil inilah yang ia tonjolkan ke dalam sosok Nayla. Latar belakang pendidikan Djenar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia serta pengalamannya sebagai wartawan membentuk sudut pandang kritisnya terhadap patriarki dan struktur kekuasaan. Dalam “Rumah-rumah Nayla”, dapat dilihat bagaimana Djenar menggunakan wewenang kreatifnya untuk menggugat larangan. Karakter Nayla yang digambarkan kehilangan birahi akibat pemerkosaan adalah bentuk kejujuran Djenar dalam mengangkat isu seksualitas dan kekerasan yang kerap dianggap sebuah larangan oleh lingkungan tempat ia tumbuh.
Keluhuran dalam Rumah-rumah Nayla
Langkah awal untuk memahami keluhuran dalam karya Djenar adalah dengan berani melihat sisi gelapnya. Nayla punya masa lalu yang hancur, dan Longinus yakin bahwa keluhuran sejati sering kali muncul dari objek-objek yang membuat batin bergetar. Rasa sakit inilah yang menjadi mesin penggerak cerita. Bagi Nayla, rumah mewahnya itu tidak nyata. Rumah yang beraroma cinta justru hanya ada di laptopnya. Di sinilah cerpen ini memenuhi lima prinsip sumber keluhuran Longinus yang menyatu dalam ekspresi Djenar.
Pertama, adanya daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts) di mana Nayla memutuskan untuk tidak menyerah dan membangun “rumah” sendiri di dalam imajinasinya. Pikiran besar ini muncul dari jiwa yang besar. Sebagai penulis yang sering dicap kontroversial namun berpengaruh, Djenar menunjukkan wawasan agungnya melalui keberanian tokoh Nayla untuk menetap di sebuah kontainer. Jiwa besar Djenar terpancar pada kemampuan Nayla untuk berhenti menjadi objek yang menyenangkan orang lain dan mulai menjadi subjek yang otonom atas hidupnya sendiri.
Keluhuran ini semakin diperkuat oleh emosi atau nafsu (passion) yang mulia. Cerpen ini lahir dari dorongan emosi yang sangat kuat untuk jujur pada penderitaan. Dalam kacamata Longinus, adegan trauma pemerkosaan yang ditulis Djenar “Aroma alkohol menyeruak dari desahan mereka. Nayla menangis dan mengiba” mungkin terasa brutal, namun luhur secara estetis. Penderitaan Nayla yang meluap diubah menjadi energi kreatif yang menggetarkan, membuktikan bahwa karya luhur harus memiliki perasaan yang jujur. Kejujuran inilah yang menurut Longinus mampu mengangkat pikiran pembaca ke tahap sublimasi.
Selanjutnya melalui retorika yang unggul, Djenar mengatur alur ceritanya dengan unik. Sebagai seniman multidisiplin, ia mengajak pembaca melihat sisi indah di awal hanya untuk menghancurkannya di tengah cerita, sebuah teknik yang membuat pembaca kehilangan kontrol diri dan terseret ke dalam sublimasi batin Nayla. Djenar juga menggunakan pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora yang menusuk. Benda-benda seperti sejumput rambut atau gincu yang hampir habis menjadi simbol hati yang sakit, membuktikan bahwa keluhuran tidak butuh kata-kata berlebihan, melainkan keagungan pikiran yang merasuki kata-kata.
Seluruh penggubahan ini menjadi mulia ketika ditutup dengan adegan Nayla yang menutup laptopnya, sebuah penegasan bahwa dunia keluhurannya ada di dalam tulisan. Sesuai prinsip Longinus bahwa tidak ada sastra tanpa transformasi, Djenar telah mentransformasi penderitaan menjadi sebuah monumen keluhuran yang mengguncang jiwa. Pada akhirnya, keluhuran sejati akan selalu membawa suka cita ilahi (divine joy) bagi pembaca. Meskipun cerita Nayla penuh tragedi, ada kepuasan batin saat kita melihat seorang manusia mampu melampaui traumanya melalui seni.
Sublimasi dalam Kesunyian Kontainer
Pada akhirnya, keluhuran sejati akan selalu membawa kepuasan batin saat melihat seseorang mampu melampaui traumanya melalui seni. Nayla yang sekarang duduk sendirian di meja sudut kontainernya adalah simbol manusia otonom yang sudah mencapai tahap sublimasi. Ia tidak lagi butuh validasi dari suaminya atau kemewahan. ia hanya butuh ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Melalui kejujuran ekspresi Djenar Maesa Ayu, kita diajak memahami bahwa ketika dunia nyata terlalu jahat untuk ditinggali, menulis adalah cara untuk membangun istana keluhuran yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Djenar telah menunjukkan bahwa kemegahan yang paling abadi justru ditemukan di titik paling sunyi dalam kejujuran batin, sebuah suka cita ilahi yang lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri.
——————



