• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Minggu, Mei 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Keluarga Petani – Cerpen Gonsi Kusman

by Redaksi
Maret 19, 2026
in SASTRA
0
Keluarga   Petani – Cerpen Gonsi Kusman

Foto Ilustrasi dari id.pinterest.com

0
SHARES
54
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

 

Parang dan cangkul adalah sahabat setia keluarga kami. Bagaimana tidak, kami terlahir dan dibesarkan dalam keluarga petani. Sejak mentari berpijar hingga senja mengatup, kami mengais di kebun tanpa henti. Kami diajar ayah untuk memaknai waktu sebaik mungkin dan bekerja sekeras tenaga meski menguras keringat.  Bagi kami, kerja dengan memanfaatkan kesuburan tanah adalah cara terhormat dan bijaksana menghargai pemberian ilahi. Ayah mengajarkan itu karena sudah diwarisi dari nenek moyang yang juga petani. Dulu, nenek moyang kami mencangkul dengan alat seadanya, belum ada besi seperti sekarang. Di kebun, kami terus mengais dan mencangkul dengan lapang. Sampai tangan melepuh. Sampai peluh bertumpah-ruah membasahi tanah. Tak ada kata lelah, apalagi kalah. Kami mengabaikan lapar bahkan sakit sekalipun. Sungguh tak ada yang instan.

“Sipri!” Panggil ayah dari belakang dapur.

“Iya,” jawabku.

“Kau sudah asah parang?”

“Masih tajam. Tak perlu diasah. Biar di kebun saja baru asah kalau tak tajam lagi.”

Biasanya aku jarang asah parang di rumah. Soalnya batu asah di rumah susah membuat parang menjadi tajam. Kalaupun diasah, mesti butuh waktu yang lama untuk bisa tajam. Apalagi waktu berangkat ke kebun sangat mepet. Kami berangkat ke kebun mesti tepat waktu agar kerjanya maksimal.

“Asah saja di sini. Di kebun tak ada waktu lagi sibuk asah parang,” kata ayah, tegas.

“Tak ada waktu lagi,” jawabku.

“Dari tadi kau ke mana!”

Aku tak menjawab. Kalau aku terus menjawab, ayah pasti murka. Soalnya, tadi, aku bangun agak terlambat.

“Kalau begitu, siapkan air minum bawa ke kebun,” perintah ayah.

“Simpan pakai apa,” jawabku.

“Ada botol aqua besar di atas rak piring.”

Aku mengambil botol aqua besar itu lalu menuang air ke dalamnya. Botol aqua itu dibeli ibu saat pergi ke Kota Ruteng tiga bulan lalu. Masih berguna hingga sekarang. Setelah airnya habis diminum, ibu tak langsung membuang botolnya. Ia membawa pulang ke rumah, katanya untuk bawa air ke kebun. Barangkali demikian cara ibu mencintai lingkungan, memanfaatkan botol bekas. Tapi, bukankah botol aqua bekas tak baik untuk kesahatan? Apalagi jika digunakan untuk menyimpan air minum dan warnanya sudah pudar.

Setalah diisi air, aku letakkan di dalam karung bekas bertuliskan bulog 10kg .

“Jangan lupa garam dan korek api di regel,” kata ibu setelah pulang dari kandang babi.

Aku langsung ambil garam di regel lalu letakkan bersama botol air di dalam karung. Sedangkan korek api ada di ayah karena dia seorang perokok kuat. Di saku celananya tembakau gulung dan korek api selalu menyatu. Itu sudah pasti.

“Semua sudah beres. Jalan sudah,” kataku sambil mengikat parang di pinggang.

Aku, ayah dan ibu berangkat ke kebun. Selain membawa peralatan kerja, kami juga membawa air, garam dan korek api. Tak ada nasi, apalagi lauk yang kami bawa. Selain karena tak bisa membeli beras, toh selama di kebun kami tak kesusahan makanan. Di sana ada ubi kayu, pisang, kelapa, jagung, cabe rawit dan ubi talas. Tak hanya itu, di sana juga ada tikus hutan, motang,[1] musang dan babi landak yan gemar memangsa tanaman. Di pinggir kebun, ayah sudah memasang sejumlah jerat. Setiap hari pasti ada yang terjerat, dan itu menjadi santapan kami. Memang, alam sungguh kaya dan bisa mengihudupkan keluarga kami yang penuh keterbatasan.

Setiba di kebun, kami menyimpan barang-barang di sekang.[2] Seperti biasa, ibu langsung menyalakan api di tungku. Sedangkan, aku dan ayah langsung mengecek jerat. Total jerat yang dipasangkan ada sepuluh. Ayah memasang jerat itu di setiap pate.[3] Kami mengecek secara berurutan. Mulai dari jerat pertama tak ada tanda-tanda binatang yang lewat. Begitupun seterusnya sampai jerat ketujuh. Sedangkan jerat kedelapan dan kesembilan berhasil kabur, karena ayah mengikat ujung tali jeratnya kurang kuat. Saat mengecek jerat kesepuluh, kami mendapati seekor motang berukuran besar menjerit. Lehernya terjerat tali rem. Motang itu meronta-ronta, berusaha kabur ketika melihat kami. Tapi tali rem itu sangat kuat melilit lehernya. Untungnya, ayah mengikat ujung tali rem pada pohon yang agak besar, membuat motang itu tak berdaya untuk kabur. Aku dan ayah sangat senang melihat motang sebesar itu.

“Potong satu bambu! Ujungnya dibuat tajam,” perintah ayah.

“Oke.”

“Cepat!”

Tanpa berlama-lama, aku langsung memotong sebuah bambu berukuran sedang dan dibuat runcing sesuai yang diperintahkan. Aku memberikan bambu itu ke ayah. Dari jarak dekat, ayah menancap bambu runcing itu tepat di leher motang. Darahnya membucah mengenai muka ayah. Meski begitu, ayah sangat gembira.

“Mampus! Selama ini kau yang datang mengoyak tanaman di kebun ini,” kata ayah sambil mengelap percikan darah di pipinya.

Dengan segera, aku membantu ayah mengangkat motang itu ke sekang. Ibu terkejut melihat motang di pundakku. Sebelumnya, ayah tak pernah menangkap motang sebesar itu.  Ibu seolah tak percaya. Motang sebesar itu seolah  rezeki terbesar bagi kami.

“Tuhan mencintai kita,” kata ibu, spontan sambil menengadah ke langit.

“Ya. Tuhan tak pernah membiarkan kita kelaparan,” jawab ayah.

Aku dan ayah langsung membelah dan membersihkan bulu motang itu. Sedangkan ibu langsung pergi mencabut beberapa ubi kayu.

“Seandainya kita terlahir di kota atau setidaknya tempat ini dijadikan pusat kota dengan berbagai bangunan megah, kita tak akan pernah menikmati daging motang,“ ujar ibu sambil meletakan ubi di atas tumpukan kayu api.

Setelah semua selesai, ibu lanjut membakar sebagian daging motang untuk dimakan. Sambil menunggu, aku dan ayah mulai membersihkan rumput liar yang menghalang pertumbuhan ubi jalar.

Kami menebas rumput liar menggunakan parang. Ayah lebih cepat. Dia melaju beberapa langkah di depanku. Aku menebas rumput sedikit terlambat dari ayah, karena parang kurang tajam. Tak setajam parang ayah.

“Sudah diberitahu, tapi tak dengar,” kata ayah sambil mengayunkan parang, menebas rumput di depannya.

Aku tak menjawab. Aku tahu, aku yang salah bukan parang. Aku memang anak yang enggan mendengarkan nasihat orangtua.

“Kita ini petani. Jadi petani harus gesit, tak boleh lamban,“ kata ayah.

Sekali lagi aku tak menjawab. Aku membiarkan ayah memarahiku. Di balik ekspresinya, ada pesan yang tak sempat terucap, barangkali tersendat penat. Aku menyadari itu. Meski begitu, aku tetap lanjut membersihkan rumput liar itu.

“Petani tuhh panggilan hidup kita,” ungkap ayah sebelum kami dipanggil ibu untuk makan.

Benar. Ayah adalah keturunan petani. Ayah tahu persis seperti apa susah dan senang hidup sebagai petani. Dari pertanian, perut kami tak pernah kewalahan menanggung lapar. Sebab, melalui alam Tuhan berpihak pada kami.

Aku bangga lahir dari rahim keluarga petani yang hidup di tengah alam. Namun, aku cemas, jika suatu ketika alam tak lagi bersahabat. Hubungan kami dengan alam renggang, lalu ia tiba-tiba murka.

Jika alam murka, apakah kami masih bisa bertahan hidup?

“Sipri, betapa beruntungnya kita hidup di tengah alam yang kaya ini,” ujar ayah sambil mengelap keringat di mukanya.

Aku mengangguk penuh syukur. Bahwa, dari kekayaan alam keluarga kami bisa makmur. Paling kurang tidak pernah merasa lapar.

“Kau tahu, betapa bodohnya keluarga si Markuh itu. Ia rela jual tanah ke PLN untuk proyek geotermal,“ kata ayah sambil menghela napas panjang.

“Kenapa ayah berkata begitu. Bukankah mereka dapat uang banyak dan desa kita terjangkau listrik?“

“Kau sama bodohnya dengan mereka!“ Jawab ayah, sambil mengacungkan telunjuk.

Ia kecewa dengan jawabanku. Raut mukanya terlihat penuh penyesalan. Seketika, ia menghentikan ayunan parangnya, lalu mengajakku duduk sejenak. Tampaknya ayah ingin menjelaskan sesuatu padaku.

“Sipri, supaya kau tahu. Jual tanah itu tak baik. Awas kena kutuk. Tanah tuhh harga diri kita. Jika tanah dijual, itu sama halnya jual diri.”

Suara ayah kian keras nan tegas. Matanya berbinar melihat tanaman bertumbuh subur di sekitar kebun.

“Andai tanah kita dijual demi lembaran uang dan pembangunan, kita bisa makan apa? Kita pasti mati. Apalagi, proyek geothermal sangat mengancam pertumbuhan tanaman.”

“Tapi, aku sempat dengar dari Markuh kalau proyek itu hadir, kampung kita akan maju. Lapangan pekerjaan tercipta bagi kita di desa ini, mungkin aku bisa kerja di sana,” jawabku, mendukung perkataan Markuh saban lalu.

Tak disangka, jawaban itu memicu amarah ayah. Ia berdiri, lalu menggenggam parang di tangan kirinya. Ia mengayunkannya hampir mengenaiku.

Ayah garang dengan jawabanku.

“Kau bodoh! Kau sama dengan mereka; pengecut! Tanah ini hadiah dari Tuhan. Tuhan memberikan tanah dengan segala keindahannya. Tak pantas bagi kita menjual, apalagi merusaknya. Kita hanya boleh merawat dan mengelola. Bukan merusak. Ingat itu!”

Aku terdiam.

“Kalau kau sebut proyek itu sebagai lapangan pekerjaan, lalu apa bedanya dengan berkebun. Bukankah kita yang tiap hari mencangkul di kebun adalah sebuah pekerjaan. Terus mengapa kau tidak menamai kebun sebagai lapangan pekerjaan? Ingat! Jangan coba-coba tergiur dengan uang lalu korbankan harga diri!“ Tegas ayah dengan suara meraung.

Suara perdebatan antara aku dan ayah didengar ibu. Seketika, ibu pun mendekat.

“Tolong, jangan bertengkar gara-gara proyek bangsat itu!” Ungkap ibu dengan suara penuh permohonan.

Jawaban ibu jelas. Ia sepakat dengan ayah, mengutuk keras proyek geotermal itu.

“Sipri, benar yang dikatakan ayah. Kita tak punya keahlian di proyek itu. Kita ini petani. Kita hidup dari hasil pertanian, bukan dari geotermal,” ujar ibu meyakinkanku.

Aku terdiam mencerna segala penyampaian itu. Ungkapan ibu dan ayah benar adanya. Andaikan keluarga kami tanpa alam bisa saja mati. Tapi, alam tanpa keluarga kami tetap aman-aman saja.

“Maaf bu, yah. Aku mudah tergoda,“ kataku, memohon maaf pada ayah dan ibu. Aku sadar, bahwa alam adalah rahmat terindah dari Tuhan. Alam, segalanya tersedia. [*]

                                                                                                        Nitapleat, 2026

 

—————————

Gonsi Kusman, Mahasiswa Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

 

[1] Motang: Babi hutan

[2] Sekang: Pondok

[3] Pate: Bekas jalan binatang hutan

 

ShareTweetSend
Next Post
Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Benarkah Greenland Aset Masa Depan, Ataukah Ada Rahasia Dibalik Amerika Akan Mengambil Alih dari Denmark?

Benarkah Greenland Aset Masa Depan, Ataukah Ada Rahasia Dibalik Amerika Akan Mengambil Alih dari Denmark?

4 bulan ago
L I D A H

“Four’as Politica” dalam Pembagian  Kekuasaan di Era Negara Demokrasi Modern Saat Ini

2 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In