
Oleh Katarina Grace Hepinanda Mako, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Ali Akbar Navis adalah sastrawan Indonesia yang lahir di Padangpanjang, Sumatra Barat, pada 17 November 1924. Navis menamatkan studinya di perguruan INS Kayutanam pada tahun 1943. Perjalanan hidupnya cukup berwarna, mulai dari bekerja di pabrik porselen pada zaman Jepang, menjadi guru, hingga menjabat sebagai Kepala Bagian Kesenian di Bukittinggi. Nama Navis sangat melekat dengan cerpen “Robohnya Surau Kami” yang dimuat begitu mengesankan oleh para pecinta sastra Indonesia. Melalui pengalamannya memimpin koran dan menjadi anggota DPRD Sumatra Barat sejak tahun 1971, Navis memiliki ketajaman dalam melihat bagaimana aturan masyarakat sering kali menjepit kehidupan pribadi seseorang melalui tuntutan adat dan ekonomi yang kaku. Inilah yang dialami Badri dalam cerpen “Jodoh”. Kita tidak sedang membaca teori nasib yang membosankan, melainkan sedang menyaksikan bagaimana ego seorang lelaki runtuh berkeping-keping.
Dalam cerpen Jodoh, Navis membawa Anda pada suasana yang sangat nyata: sebuah zaman di mana lapangan kerja menyempit dan pengangguran berlimpahan. Pembaca diajak masuk ke dalam pikiran Badri, seorang pria lajang berusia hampir tiga puluh tahun yang memandang pernikahan bukan sebagai romansa, melainkan urusan statistik. Bagi Badri, jodoh adalah soal angka, ia menghitung setiap rupiah gajinya untuk membayar sewa kamar hingga biaya melahirkan yang dianggapnya mustahil untuk dipenuhi. Masyarakat memandang pria yang terlambat menikah sebagai beban keluarga yang menggelisahkan, dan kegelisahan inilah yang langsung menyalakan emosi pembaca sejak awal cerita.
Dari Meja Dewan ke Meja Badri
Cerpen yang memenangkan hadiah Kincir Emas dari Radio Nederland ini menunjukkan sebuah pergeseran identitas yang menarik dalam dunia naratologi. Secara nyata, Navis adalah seorang tokoh publik, mantan anggota DPRD, jurnalis, dan pejabat kebudayaan yang memiliki posisi sosial kuat. Dalam bidang naratologi (teori tentang cerita) identitas sosial dan biografi pengarang nyata ini disebut sebagai persona practica. Namun, saat membaca cerpen ini, identitas Navis di dunia nyata itu seolah menghilang untuk memberi jalan bagi suara Badri.
Disinilah konsep Implied Author (pengarang tersirat) yang diperkenalkan oleh Wayne C. Booth bekerja secara efektif. Implied Author atau sering disebut sebagai persona poetica adalah diri kedua yang diciptakan penulis untuk menyampaikan cerita kepada pembaca. Navis sengaja menciptakan jarak antara dirinya yang asli dengan suara pengarang yang ada di dalam teks. Ia tidak sedang memberikan pidato politik, melainkan membangun sebuah strategi bercerita agar pembaca bisa merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi Badri yang terjepit di antara idealisme sosial dan realitas ekonomi yang pahit.
Melalui persona poetica, Navis bisa menjadi sosok yang lebih sinis dan analitis daripada dirinya di dunia nyata. Ia mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat Badri sebagai tokoh rekaan, melainkan sebagai tegangan tertentu yang diciptakan pengarang pada saat menuliskan karyanya. Hal ini membuktikan bahwa pengarang seolah-olah diharuskan oleh kata-kata untuk menghadirkan kemungkinan-kemungkinan kaitan tertentu yang ada di dalam pikiran tokoh utamanya.
Labirin Pikiran Badri
Lewat sosok Badri, Navis menunjukan bahwa cara pikir yang selalu mengukur segala sesuatu dengan materi telah memenjarakan kebebasan manusia. Badri digambarkan memiliki idealisme tinggi, namun pikirannya terpenjara oleh kalkulasi biaya hidup yang sangat detail. Ia bahkan meneliti bahwa ongkos sekali periksa wanita hamil sama dengan dua hari gajinya. Melalui Badri, Implied Author menunjukkan bahwa jodoh telah dijadikan sekadar menjadi persoalan administratif yang kaku, di mana keinginan untuk berkeluarga harus tunduk pada hitungan rupiah yang sering kali tidak pernah mencapai angka yang pas.
Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini terasa sangat teknis, penuh dengan kolom-kolom catatan mengenai gadis-gadis yang dicatat dari rubrik Kontak Jodoh di surat kabar. Navis menggunakan citraan Badri yang sangat teliti, seorang pria yang mencatat pekerjaan, tinggi badan, hingga umur para pelamar, untuk mengkritik sistem sosial yang membuat orang takut melangkah karena alasan finansial. Strategi ini menonjolkan bagaimana identitas seseorang dalam mencari pasangan hidup sering kali hanya didasarkan pada syarat teknis seperti tinggi badan minimal 160 senti atau status sebagai guru negeri.
Struktur naratif cerpen ini juga memperlihatkan kekuasaan Implied Author dalam mengatur emosi dan tekanan batin pembaca melalui rincian biaya bayi. Navis menghadirkan daftar kebutuhan yang sangat spesifik, mulai dari popok, gurita, hingga tempat tidur mungil yang harus dibeli. Hal ini membuktikan bahwa pengarang sedang menggunakan strateginya untuk menggiring pembaca masuk ke dalam labirin pikiran Badri yang penuh dengan angka-angka pengeluaran. Dengan cara ini, pembaca dipaksa untuk ikut merasakan sesaknya napas Badri saat menyimpulkan bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa menikah untuk selama-lamanya jika hanya mengandalkan logika perhitungan.
Namun, di bagian akhir, terjadi transformasi nada yang drastis sebagai penyelesaian cerita yang reflektif. Ketika Badri akhirnya bertemu Lena melalui kontak jodoh dan kemudian memutuskan untuk menikah, si pengarang tersirat tidak lagi fokus pada angka-angka yang menjemukan. Navis, lewat tokoh Badri yang sudah menjadi suami dan ayah, akhirnya menyimpulkan bahwa seni hidup bukanlah perhitungan yang pasti. Di sini, persona poetica Navis bekerja untuk menyadarkan pembaca bahwa kebahagiaan sejati justru datang saat manusia berhenti terpenjara dengan logikanya sendiri dan mulai melakukan penyesuaian diri terhadap kenyataan hidup.
Akhir dari Segala Hitungan
Pada akhirnya, cerpen “Jodoh” menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara pengarang persona practica dengan persona poetica. Navis membuktikan bahwa ia bisa melepaskan jabatan publiknya untuk menjadi seorang Badri yang rapuh. Sastra bukan sekadar laporan biografi, melainkan sebuah pengalaman di mana pengarang dan pembaca bertemu dalam sebuah gagasan tentang kemanusiaan yang lebih luas.
Sastra di tangan Navis menjadi ruang transformasi di mana ketakutan akan masa depan ditebus melalui sebuah penyesuaian diri terhadap iklim yang membentuk masyarakat. Cerpen ini menjadi sebuah saksi bahwa hidup selalu memiliki jalannya sendiri yang tak terduga, yang sering kali tidak masuk dalam hitungan matematis. Kebahagiaan seorang suami dan ayah adalah bentuk keyakinan baru yang menggantikan angan-angan masa muda Badri. Navis menutup ceritanya dengan sebuah gambaran yang menggema, bahwa pada akhirnya, kertas-kertas rincian biaya itu hanyalah tumpukan kertas tua yang akan dibuang, karena hidup yang nyata ada pada kebahagiaan bersama keluarga di rumah.



