
Oleh Yoseph Yapi Taum
Ada puisi yang enak dibaca dalam diam, ada pula yang menyala di atas panggung. Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, di halaman sekolah—di bawah tiang bendera, di aula, bahkan di ruang kelas—suara siswa-siswi kerap memecah suasana: “Beta Pattiradjawane…” Sejak itu, puisi tidak lagi hanya sekadar pelajaran, melainkan peristiwa.
Kita yang pernah menyaksikannya mungkin masih ingat: bagaimana suara itu naik turun seperti ombak, bagaimana jeda terasa seperti napas laut, bagaimana kata “api” bukan lagi metafora, melainkan ancaman yang hadir. Puisi “Cerita buat Dien Tamaela” karya Chairil Anwar hidup tidak hanya sebagai teks, melainkan sebagai tubuh—sebagai suara yang menjalar dari dada ke dada.
Cerita buat Dien Tamaela
(Chairil Anwar)
Beta Pattiradjawane
yang dijaga datu-datu
cuma satu
Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut
Beta Pattiradjawane
ketika lahir
laut pun pecah
memberi jalan
Beta Pattiradjawane
menjaga hutan pala
beta api di pantai
siapa mendekat
tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala badan perawan jadi
hidup sampai pagi tiba
Awas jangan bikin beta marah
beta bikin pala mati
gadis kaku
beta kirim datu-datu
(Dari Deru Campur Debu, 1949)
Persona Poetica
Membaca puisi ini seperti melangkah ke ruang yang bukan lagi sepenuhnya milik kita. Kita berdiri di pantai yang asing, di hutan pala yang mistis, mendengar irama tifa dari kejauhan—dan perlahan menyadari bahwa yang berbicara bukan lagi seorang penyair Jakarta, melainkan sesuatu yang lebih purba, lebih berdaulat, sangat khas Maluku.
Dalam istilah akademis, kita dapat menyebutnya sebagai implied author, sebagaimana dirumuskan Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961). Booth membedakan pengarang nyata dari “pengarang tersirat”: sosok yang tidak hadir secara biologis, tetapi terbentuk dari pilihan estetik, nada, dan nilai dalam teks. Ia adalah “diri kedua” yang membimbing pembaca.
Dalam puisi ini, Chairil Anwar sebagai sosok historis—rapuh, sakit, urban—menghilang, digantikan oleh Pattiradjawane: figur yang berdaulat, mistis, menyatu dengan laut dan api mistis di hutan-hitan pala Maluku. Persona poetica ini merupakan strategi retoris yang menciptakan otoritas. Kita tidak lagi mempertanyakan dunia puisi ini—kita menerimanya.
Penobatan Pattiradjawane
Larik yang berulang—“Beta Pattiradjawane”—bukan pengenalan, melainkan penobatan. Identitas ditegakkan, bukan dijelaskan. “Kikisan laut”, “berdarah laut”—manusia tidak lagi berdiri di hadapan alam, tetapi menjadi bagian darinya. Chairil tidak menggambarkan laut; ia menjelma laut.
Di sinilah retorika mencapai puncaknya. Puisi ini menciptakan hukum-hukumnya sendiri: wilayah (hutan pala), energi (api di pantai), dan ritual (menyebut nama tiga kali). Dunia yang dihadirkan bukan sekadar imajinatif, melainkan meyakinkan.
Chairil tidak meminta kita percaya—ia telah membuat kita percaya. Ia tidak menjelaskan Maluku—ia menciptakan Maluku dalam pengalaman kita. Fakta biografis menjadi tak relevan. Yang tersisa hanyalah suara, ritme, dan getaran.
Dien Tamaela
Di balik seluruh kedahsyatan puisi itu, ada satu nama yang diam: Dien Tamaela. Siapakah Dien? Ia adalah Leonardine Hendriette Tamaela, anak pasangan dokter Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane. Ia hidup dekat dengan Chairil—bertetangga dalam lingkar keluarga Sutan Syahrir, bergaul akrab, bahkan pernah dikunjungi Chairil ketika sakit di Yogyakarta.
Dalam sejarah, ia nyata. Dalam puisi, ia menjadi pusat yang kesunyian. Dien hadir di judul, tetapi nyaris tak bersuara. Justru karena itu, kehadirannya mengikat seluruh puisi—seperti pusat gravitasi yang tak terlihat. Puisi ini pada dasarnya adalah alamat: sebuah sapaan yang tidak diucapkan, sebuah pembuktian yang tidak dijelaskan. Seolah-olah penyair berkata: lihatlah aku—aku bukan yang kau kenal; aku adalah penjaga, aku adalah api, aku adalah laut.
Di sini, puisi menjadi ruang transformasi. Kenyataan yang gagal ditebus oleh hidup, diperbaiki oleh bahasa. Di balik sosok Pattiradjawane yang perkasa, tersembunyi hasrat yang rapuh: keinginan untuk hadir, diakui, dan layak dicintai. Hasrat ini tidak diucapkan secara sentimental, melainkan disublimasikan menjadi mitos—menjadi kekuasaan, menjadi suara yang menggema dari pantai ke pantai.
Ketika larik terakhir berbunyi—“beta kirim datu-datu”—yang terdengar bukan sekadar ancaman, melainkan kesepian yang telah menemukan bentuknya sebagai kekuatan. Barangkali itulah sebabnya puisi ini begitu kuat dalam tradisi deklamasi. Ia memiliki tubuh. Ia memiliki napas. Ia dapat dipinjam oleh siapa saja yang berani mengucapkannya. Setiap suara yang menghidupkannya kembali, sesungguhnya sedang menjadi Pattiradjawane—meski hanya sesaat.
Setiap kali itu terjadi, puisi ini menang lagi. Menang atas jarak. Menang atas tubuh.
Menang atas kenyataan. Dalam dunia nyata, Chairil Anwar adalah manusia yang fana. Tetapi dalam puisi ini, ia menciptakan sesuatu yang melampaui kefanaan: sebuah suara yang terus menyala—setiap kali seseorang berani menyebutnya. Tiga kali.
(Yoseph Yapi Taum, penyair, berdomisili di Yogyakarta).




