• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, Juni 6, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Ketika Chairil Menjadi Pattiradjawane

by Redaksi
Juni 6, 2026
in SASTRA
0
Ketika Chairil Menjadi Pattiradjawane
0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh  Yoseph  Yapi  Taum

 

Ada puisi yang enak dibaca dalam diam, ada pula yang menyala di atas panggung. Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, di halaman sekolah—di bawah tiang bendera, di aula, bahkan di ruang kelas—suara siswa-siswi kerap memecah suasana: “Beta Pattiradjawane…” Sejak itu, puisi tidak lagi hanya sekadar pelajaran, melainkan peristiwa.

Kita yang pernah menyaksikannya mungkin masih ingat: bagaimana suara itu naik turun seperti ombak, bagaimana jeda terasa seperti napas laut, bagaimana kata “api” bukan lagi metafora, melainkan ancaman yang hadir. Puisi “Cerita buat Dien Tamaela” karya Chairil Anwar hidup tidak hanya sebagai teks, melainkan sebagai tubuh—sebagai suara yang menjalar dari dada ke dada.

 

Cerita buat Dien Tamaela
(Chairil Anwar)

Beta Pattiradjawane
yang dijaga datu-datu
cuma satu

Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut

Beta Pattiradjawane
ketika lahir
laut pun pecah
memberi jalan

Beta Pattiradjawane
menjaga hutan pala
beta api di pantai
siapa mendekat
tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala badan perawan jadi
hidup sampai pagi tiba

Awas jangan bikin beta marah
beta bikin pala mati
gadis kaku
beta kirim datu-datu

(Dari Deru Campur Debu, 1949)

 

Persona Poetica

Membaca puisi ini seperti melangkah ke ruang yang bukan lagi sepenuhnya milik kita. Kita berdiri di pantai yang asing, di hutan pala yang mistis, mendengar irama tifa dari kejauhan—dan perlahan menyadari bahwa yang berbicara bukan lagi seorang penyair Jakarta, melainkan sesuatu yang lebih purba, lebih berdaulat, sangat khas Maluku.

Dalam istilah akademis, kita dapat menyebutnya sebagai implied author, sebagaimana dirumuskan Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961). Booth membedakan pengarang nyata dari “pengarang tersirat”: sosok yang tidak hadir secara biologis, tetapi terbentuk dari pilihan estetik, nada, dan nilai dalam teks. Ia adalah “diri kedua” yang membimbing pembaca.

Dalam puisi ini, Chairil Anwar sebagai sosok historis—rapuh, sakit, urban—menghilang, digantikan oleh Pattiradjawane: figur yang berdaulat, mistis, menyatu dengan laut dan api mistis di hutan-hitan pala Maluku. Persona poetica ini merupakan strategi retoris yang menciptakan otoritas. Kita tidak lagi mempertanyakan dunia puisi ini—kita menerimanya.

 

Penobatan Pattiradjawane

Larik yang berulang—“Beta Pattiradjawane”—bukan pengenalan, melainkan penobatan. Identitas ditegakkan, bukan dijelaskan. “Kikisan laut”, “berdarah laut”—manusia tidak lagi berdiri di hadapan alam, tetapi menjadi bagian darinya. Chairil tidak menggambarkan laut; ia menjelma laut.

Di sinilah retorika mencapai puncaknya. Puisi ini menciptakan hukum-hukumnya sendiri: wilayah (hutan pala), energi (api di pantai), dan ritual (menyebut nama tiga kali). Dunia yang dihadirkan bukan sekadar imajinatif, melainkan meyakinkan.

Chairil tidak meminta kita percaya—ia telah membuat kita percaya. Ia tidak menjelaskan Maluku—ia menciptakan Maluku dalam pengalaman kita. Fakta biografis menjadi tak relevan. Yang tersisa hanyalah suara, ritme, dan getaran.

 

Dien Tamaela

Di balik seluruh kedahsyatan puisi itu, ada satu nama yang diam: Dien Tamaela. Siapakah Dien? Ia adalah Leonardine Hendriette Tamaela, anak pasangan dokter Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane. Ia hidup dekat dengan Chairil—bertetangga dalam lingkar keluarga Sutan Syahrir, bergaul akrab, bahkan pernah dikunjungi Chairil ketika sakit di Yogyakarta.

Dalam sejarah, ia nyata. Dalam puisi, ia menjadi pusat yang kesunyian. Dien hadir di judul, tetapi nyaris tak bersuara. Justru karena itu, kehadirannya mengikat seluruh puisi—seperti pusat gravitasi yang tak terlihat. Puisi ini pada dasarnya adalah alamat: sebuah sapaan yang tidak diucapkan, sebuah pembuktian yang tidak dijelaskan. Seolah-olah penyair berkata: lihatlah aku—aku bukan yang kau kenal; aku adalah penjaga, aku adalah api, aku adalah laut.

Di sini, puisi menjadi ruang transformasi. Kenyataan yang gagal ditebus oleh hidup, diperbaiki oleh bahasa. Di balik sosok Pattiradjawane yang perkasa, tersembunyi hasrat yang rapuh: keinginan untuk hadir, diakui, dan layak dicintai. Hasrat ini tidak diucapkan secara sentimental, melainkan disublimasikan menjadi mitos—menjadi kekuasaan, menjadi suara yang menggema dari pantai ke pantai.

Ketika larik terakhir berbunyi—“beta kirim datu-datu”—yang terdengar bukan sekadar ancaman, melainkan kesepian yang telah menemukan bentuknya sebagai kekuatan. Barangkali itulah sebabnya puisi ini begitu kuat dalam tradisi deklamasi. Ia memiliki tubuh. Ia memiliki napas. Ia dapat dipinjam oleh siapa saja yang berani mengucapkannya. Setiap suara yang menghidupkannya kembali, sesungguhnya sedang menjadi Pattiradjawane—meski hanya sesaat.

Setiap kali itu terjadi, puisi ini menang lagi. Menang atas jarak. Menang atas tubuh.
Menang atas kenyataan. Dalam dunia nyata, Chairil Anwar adalah manusia yang fana. Tetapi dalam puisi ini, ia menciptakan sesuatu yang melampaui kefanaan: sebuah suara yang terus menyala—setiap kali seseorang berani menyebutnya. Tiga kali.

 

(Yoseph Yapi Taum, penyair, berdomisili di Yogyakarta).

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ketika Pramoedya Ananta Toer menjadi Gus Muk

Ketika Pramoedya Ananta Toer menjadi Gus Muk

2 bulan ago
“Lamafa” dan Wajah-Wajah yang Diselamatkan

“Lamafa” dan Wajah-Wajah yang Diselamatkan

7 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In