Oleh Afrilia Ekayanti Ayuwandira Lamanele, Mahasiswa Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Kajian postkolonialisme adalah salah satu metode yang muncul untuk menganalisis pengaruh kolonialisme terhadap komunitas yang pernah dijajah. Metode ini tidak hanya menganalisis penjajahan sebagai suatu peristiwa historis, tetapi juga meneliti bagaimana kolonialisme membentuk identitas, budaya, bahasa, pengetahuan, dan relasi kekuasaan yang masih berlanjut meskipun periode kolonial telah berakhir. Di Indonesia, kajian pascakolonial menjadi sangat relevan karena pengalaman kolonial yang berkepanjangan telah meninggalkan banyak jejak dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Salah satu sastra dalam negeri yang sering diperiksa dengan metode postkolonial adalah Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 dan menceritakan kehidupan Minke, seorang pribumi berpendidikan di era Hindia Belanda yang berjuang menemukan siapa dirinya di tengah sistem kolonial yang penuh diskriminasi. Karya ini kemudian diubah menjadi film oleh Hanung Bramantyo pada tahun 2019. Baik dalam novel maupun film, terdapat gambaran yang mendalam tentang hubungan antara penjajah dan masyarakat lokal serta usaha individu dalam melawan ketidakadilan yang muncul akibat kolonialisme.
Melalui tokoh-tokohnya, Bumi Manusia menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah dalam aspek politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup pengaruh terhadap pola pikir, sistem hukum, pendidikan, dan pembentukan identitas masyarakat. Karya ini mengangkat beragam masalah yang menjadi perhatian dalam kajian pascakolonial, seperti perasaan rendah diri pribumi, penguasaan budaya Barat, pencampuran identitas, serta usaha melawan kekuasaan kolonial.
Esai ini bertujuan untuk menganalisis representasi pascakolonial dalam Bumi Manusia dengan menekankan tiga hal utama, yaitu pembentukan identitas lokal dalam sistem kolonial, tindakan hegemoni dan diskriminasi yang terjadi selama masa kolonial, serta cara-cara perlawanan yang ditunjukkan oleh para tokoh terhadap kekuasaan kolonia.
Kajian postkolonial muncul dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Chakravorty Spivak. Dalam karyanya yang berjudul Orientalism, Edward Said mengungkapkan bahwa kolonialisme dilakukan tidak hanya lewat kekuatan militer dan politik, tetapi juga melalui penciptaan pengetahuan. Negara-negara Barat menciptakan citra bahwa Timur adalah masyarakat yang mundur, tidak rasional, dan memerlukan petunjuk. Gambar ini kemudian dimanfaatkan untuk membenarkan tindakan kolonial.
Homi Bhabha menggambarkan konsep mengenai hibriditas dan mimikri. Dia berpendapat bahwa masyarakat yang terjajah biasanya mencontoh budaya dari penjajah sebagai cara untuk beradaptasi. Namun, usaha peniruan ini tidak pernah sepenuhnya berhasil, sehingga muncul identitas baru yang bercampur. Situasi ini menghasilkan ruang ambivalensi yang bisa menjadi bentuk penolakan terhadap kekuasaan kolonial.
Sementara itu, Gayatri Spivak membahas isu mengenai kelompok subaltern, yang merupakan kelompok yang sering kali tidak diperhitungkan dalam struktur kekuasaan yang lebih besar. Dalam konteks masyarakat kolonial, orang-orang asli sering kali menjadi bagian dari kelompok subaltern yang tidak diberikan peluang untuk berbicara serta menentukan masa depan mereka sendiri.
Ketiga konsep tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengerti berbagai masalah yang muncul dalam Bumi Manusia. Karakter-karakter dalam karya ini menghadapi konflik identitas, ketidakadilan kekuasaan, dan usaha untuk meraih kesempatan berbicara dalam sistem kolonial yang menekan.
Salah satu isu penting dalam Bumi Manusia adalah identitas. Karakter utama, Minke, adalah seorang pribumi yang mendapatkan pendidikan dari Belanda dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Pendidikan yang diterimanya memberinya peluang untuk mengakses dunia modern, yang pada waktu itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kelompok. Namun, posisi sosial Minke masih belum setara dengan orang Eropa. Ia terjebak dalam keadaan yang membingungkan. Di satu sisi, ia mengagumi pengetahuan dan kemajuan yang dicapai melalui pendidikan Barat. Di sisi lain, ia menyadari bahwa sistem kolonial terus melihatnya sebagai pribumi yang lebih rendah dibandingkan orang Eropa.
Kondisi ini menggambarkan bagaimana kolonialisme membentuk identitas yang terfragmentasi. Minke tidak sepenuhnya diterima dalam komunitas Eropa meskipun ia memiliki pendidikan yang setara. Ia juga merasakan jarak dengan masyarakat lokal karena perbedaan dalam latar belakang pendidikannya. Situasi ini mencerminkan gagasan hibriditas yang diajukan oleh Homi Bhabha. Minke menjadi lambang bagi generasi lokal yang terpelajar yang mulai mempertanyakan sistem kolonial. Pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial sebenarnya bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang mendukung pemerintahan Belanda. Namun, pendidikan tersebut justru membuka kesadaran kritis yang memicu lahirnya perlawanan terhadap kolonialisme.
Dalam berbagai bagaian cerita, Minke kerap mengajukan pertanyaan mengapa seseorang layak dihormati atau dipandang rendah hanya berdasarkan ras dan latar belakangnya. Pertanyaan itu mencerminkan perkembangan kesadaran bahwa jati diri manusia seharusnya tidak ditentukan oleh klasifikasi kolonial yang membedakan antara Eropa, Timur, dan penduduk asli.
Aspek penting lainnya dalam Bumi Manusia adalah ilustrasi tentang dominasi kolonial. Dominasi adalah bentuk penguasaan yang tidak hanya terjadi melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui penerimaan nilai-nilai oleh masyarakat yang dianggap normal. Dalam sistem kolonial Hindia Belanda, masyarakat dikelompokkan ke dalam berbagai kategori sosial dengan hak yang berbeda-beda. Orang Eropa berada di puncak hierarki, diikuti oleh kelompok Timur Asing, sedangkan penduduk asli berada di posisi terendah. Stratifikasi ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial, tetapi juga memengaruhi akses terhadap pendidikan, sistem hukum, dan kekuasaan.
Diskriminasi ini terlihat secara jelas dalam perjalanan hidup Minke dan Nyai Ontosoroh. Walaupun Minke adalah siswa yang pintar dan berprestasi, statusnya sebagai pribumi menjadi kendala dalam mendapatkan pengakuan yang setara dengan orang Eropa. Di sisi lain, Nyai Ontosoroh menghadapi bentuk diskriminasi yang lebih rumit. Sebagai perempuan pribumi yang juga seorang nyai, ia tidak memiliki legitimasi hukum yang kuat dalam sistem kolonial. Kendati berhasil dalam mengelola bisnis dan menunjukkan bakat manajerial yang luar biasa, status sosialnya tetap dianggap rendah.
Melalui sosok Nyai Ontosoroh, Pramoedya menggambarkan bagaimana penjajahan tidak hanya menekan berdasarkan ras, tetapi juga berdasarkan jenis kelamin. Perempuan lokal mengalami marginalisasi ganda karena mereka berada di posisi lebih rendah baik sebagai wanita maupun sebagai bagian dari kelompok yang terjajah. Kisah perjuangan untuk hak Annelies menjadi contoh nyata tentang bagaimana sistem hukum kolonial beroperasi dengan cara yang diskriminatif. Pengadilan tidak mempertimbangkan ikatan emosional, kemampuan merawat, atau kontribusi Nyai Ontosoroh dalam mendidik anaknya. Keputusan hukum lebih memprioritaskan peraturan kolonial yang mengutamakan orang Eropa sebagai pihak yang memiliki otoritas.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa hukum yang diterapkan pada masa kolonial tidaklah bersifat netral. Hukum digunakan sebagai sarana untuk menjaga kekuasaan kolonial dan memastikan bahwa otoritas tetap dipegang oleh para penjajah.
Di antara semua karakter dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh adalah simbol paling kuat dari perlawanan terhadap kolonialisme. Karakter ini menolak pandangan umum yang mengatakan bahwa perempuan pribumi tidak bisa berpikir dan bertindak mandiri. Walaupun tidak mendapatkan pendidikan formal yang cukup, Nyai Ontosoroh sukses mendidik dirinya sendiri. Dia belajar membaca, menulis, mengelola usaha, serta memahami banyak aspek bisnis. Kemampuannya bahkan melebihi banyak karakter pria dalam cerita.
Perlawanan yang dilakukan oleh Nyai Ontosoroh tidak dilakukan dengan cara kekerasan, melainkan dengan menguasai pengetahuan dan kemampuan intelektual. Dia menunjukkan bahwa kolonialisme dapat dilawan dengan menunjukkan potensi diri yang selama ini dianggap tidak ada pada masyarakat lokal. Saat menghadapi proses pengadilan, Nyai Ontosoroh tidak menyerah begitu saja. Dia terus memperjuangkan haknya meskipun menyadari bahwa sistem hukum kolonial kemungkinan besar akan mendukung pihak Eropa. Sikapnya tersebut menunjukkan bentuk perlawanan yang penting dalam perspektif pascakolonial, yaitu keberanian untuk menolak menganggap ketidakadilan sebagai hal yang wajar.
Karakter Nyai Ontosoroh juga bisa dilihat sebagai representasi dari suara yang terpinggirkan yang berupaya untuk bersuara di dalam sistem yang menekannya. Walaupun pada akhirnya ia tidak berhasil dalam jalur hukum, usaha yang dilakukannya memiliki arti simbolis yang signifikan karena menampilkan bahwa kelompok yang terasing bisa melawan kekuasaan kolonial.
Perjalanan kehidupan Minke dalam Bumi Manusia juga mencerminkan perkembangan munculnya rasa nasionalisme. Di awal cerita, Minke lebih cenderung memuja budaya Barat dan meyakini bahwa pendidikan dari Eropa adalah kunci menuju kemajuan. Namun, pengalaman diskriminasi yang ia alami menyadarkan bahwa kolonialisme tidak pernah benar-benar menghadirkan kesetaraan bagi masyarakat lokal. Kesadaran ini mendorongnya untuk mengubah perspektifnya terhadap komunitas dan negerinya sendiri.
Dalam sudut pandang pascakolonial, hal ini bisa dilihat sebagai usaha untuk mendekolonisasi pemikiran. Minke mulai melepaskan pandangan yang dipengaruhi oleh kolonialisme dan berupaya menciptakan kesadaran baru sebagai bagian dari komunitas lokal. Perubahan ini sangat penting karena mengisyaratkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak hanya terjadi dalam bentuk perlawanan fisik, tetapi juga melalui perubahan pola pikir. Kesadaran terhadap ketidakadilan merupakan langkah pertama menuju pembentukan identitas nasional yang lebih berdaulat.
Melalui karakter Minke, Pramoedya menunjukkan munculnya generasi cendekiawan lokal yang nantinya akan turut serta dalam perjuangan kebangsaan Indonesia. Dengan cara ini, Bumi Manusia tidak sekadar mengisahkan pengalaman seseorang, tetapi juga menggambarkan proses sejarah yang lebih besar dalam kemajuan nasionalisme Indonesia.
Film Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo mencoba untuk mengadaptasi berbagai isu postkolonial yang ada dalam novel ke dalam bentuk visual. Dengan penggunaan lokasi, pakaian, percakapan, dan teknik pengambilan gambar, film ini menyuguhkan sebuah gambaran tentang lapisan sosial dalam masyarakat pada masa kolonial. Gambar yang menunjukkan perbedaan tempat antara orang Eropa dan penduduk asli memperkuat kesan adanya jarak sosial yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Penonton dapat menyaksikan bagaimana pengaruh kekuasaan kolonial terwujud dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Karakter Nyai Ontosoroh yang diperankan dengan kuat juga membantu memperlihatkan kompleksitas posisi perempuan pribumi dalam masyarakat kolonial. Film berhasil menunjukkan kecerdasan, keberanian, dan keteguhan karakter tersebut sehingga pesan perlawanannya tetap terasa relevan. Meskipun terdapat beberapa penyederhanaan dibandingkan novel, film tetap mempertahankan tema utama mengenai ketidakadilan kolonial dan perjuangan memperoleh martabat sebagai manusia. Dengan demikian, adaptasi ini berhasil memperluas jangkauan gagasan postkolonial kepada generasi penonton yang lebih luas.
Meskipun kolonialisme secara formal telah berakhir, berbagai persoalan yang dibahas dalam Bumi Manusia masih memiliki relevansi hingga saat ini. Salah satunya adalah persoalan ketimpangan sosial dan budaya yang merupakan warisan dari sistem kolonial. Dalam berbagai bidang, masih terdapat kecenderungan untuk menganggap budaya Barat sebagai standar utama kemajuan. Pola pikir tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya meninggalkan dampak material, tetapi juga dampak psikologis yang terus memengaruhi masyarakat.
Selain itu, persoalan mengenai suara kelompok marginal juga tetap menjadi isu penting. Banyak kelompok masyarakat yang masih menghadapi kesulitan untuk memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, hukum, dan representasi politik. Melalui pembacaan postkolonial terhadap Bumi Manusia, pembaca diajak untuk lebih kritis dalam memahami hubungan kekuasaan yang masih berlangsung dalam masyarakat modern. Kajian ini membantu mengungkap bagaimana berbagai bentuk ketidaksetaraan sering kali memiliki akar sejarah yang panjang.
Bumi Manusia merupakan karya sastra yang sangat kaya untuk dianalisis melalui pendekatan postkolonial. Novel dan film ini memperlihatkan bahwa kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah, tetapi juga dengan pembentukan identitas, produksi pengetahuan, serta struktur sosial yang diskriminatif. Melalui tokoh Minke, pembaca melihat bagaimana kolonialisme menciptakan krisis identitas sekaligus melahirkan kesadaran kritis yang menjadi dasar perlawanan. Melalui tokoh Nyai Ontosoroh, karya ini menghadirkan figur perempuan pribumi yang mampu menantang stereotip kolonial dan memperjuangkan martabatnya sebagai manusia.
Representasi hegemoni kolonial dalam sistem pendidikan, hukum, dan hubungan sosial menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja secara kompleks dalam kehidupan masyarakat. Namun, karya ini juga menegaskan bahwa dominasi tersebut tidak pernah sepenuhnya berhasil karena selalu ada ruang untuk resistensi dan perjuangan. Dengan demikian, Bumi Manusia bukan hanya sebuah kisah tentang masa kolonial, melainkan juga refleksi mengenai pentingnya kesadaran kritis terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang masih hadir hingga sekarang. Kajian postkolonial terhadap karya ini membantu memahami bagaimana sejarah kolonial terus memengaruhi masyarakat Indonesia sekaligus menunjukkan pentingnya upaya dekolonisasi pikiran dalam membangun identitas yang lebih merdeka dan setara.
———————————–
DAFTAR PUSTAKA
Toer, Pramoedya Ananta. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara, 2005.
Bramantyo, Hanung, dir. Bumi Manusia. Jakarta: Falcon Pictures, 2019.
Spivak, Gayatri Chakravorty. “Can the Subaltern Speak?” In Marxism and the Interpretation of Culture, edited by Cary Nelson and Lawrence Grossberg, 271–313. Urbana: University of Illinois Press, 1988.
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths, and Helen Tiffin. The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures. 2nd ed. London: Routledge, 2002.
Bhabha, Homi K. The Location of Culture. London: Routledge, 1994.



