Oleh Yoseph Yapi Taum
“Don’t go where the path may lead. Go instead where there is no path and leave a trail.”
“Janganlah berjalan di jalan yang biasa dilalui orang. Pergilah ke tempat yang belum memiliki jalan, lalu tinggalkan jejak.”
— Ralph Waldo Emerson —
Lebih dari satu abad yang lalu, filsuf dan esais Amerika Ralph Waldo Emerson mengajukan sebuah gagasan yang kemudian menjadi salah satu prinsip paling berpengaruh dalam filsafat kehidupan modern. Manusia, katanya, tidak diciptakan untuk sekadar mengikuti jejak yang telah dibuat orang lain. Jalan yang ramai memang menawarkan rasa aman, tetapi hampir tidak pernah melahirkan perubahan. Perubahan justru lahir ketika seseorang berani memasuki wilayah yang belum dipetakan, membuka jalan baru, dan meninggalkan jejak yang kelak diikuti orang lain.
Gagasan Emerson itu sering dipahami secara sederhana sebagai ajakan untuk menjadi pribadi yang berani tampil berbeda. Padahal, maknanya jauh lebih dalam. Emerson tidak sedang memuji sikap berbeda demi menjadi berbeda. Ia sedang berbicara tentang keberanian moral: keberanian meninggalkan kenyamanan ketika hati nurani memanggil seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang lebih bermakna. Jalan yang belum pernah dilalui bukan sekadar jalan fisik, melainkan jalan pengabdian, jalan pengorbanan, dan jalan yang sering kali tampak tidak masuk akal di mata kebanyakan orang.
Puluhan tahun sesudah Emerson menuliskan gagasan itu, Robert Frost mengabadikannya dalam puisi The Road Not Taken. Puisi itu sering dipahami sebagai kisah tentang seseorang yang memilih “jalan yang lebih sedikit dilalui orang”. Namun, sesungguhnya Frost sedang berbicara tentang satu keputusan yang mengubah seluruh hidup manusia. Ada pilihan-pilihan yang tidak dapat diulang. Ada jalan-jalan yang, sekali dipilih, akan menentukan siapa diri kita pada akhirnya. Barangkali karena itulah dua kutipan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan Joakim Deke Kokomaking.
Ia tidak pernah mengutip Emerson dalam pidato-pidatonya. Ia juga tidak menjadikan puisi Robert Frost sebagai semboyan yang dipasang di dinding rumahnya. Namun, seluruh perjalanan hidupnya seolah merupakan tafsir nyata atas kedua pemikiran itu. Apa yang ditulis Emerson menjadi cara berpikirnya; apa yang dipuisikan Frost menjadi jalan hidupnya.
Ketika sebagian besar orang memandang masa pensiun sebagai saat menikmati hasil kerja selama puluhan tahun, Joakim justru mengambil keputusan yang bagi banyak orang tampak nyaris mustahil. Pada tahun 2017 ia meninggalkan karier akademiknya sebagai dosen di President University, Cikarang—sebuah pekerjaan yang mapan, bergengsi, dan menjanjikan masa tua yang nyaman. Ia tidak pindah ke universitas lain, tidak pula membuka lembaga pendidikan atau perusahaan konsultan sebagaimana lazim dilakukan para akademisi setelah pensiun.
Ia justru pulang.
Pulang ke Desa Muruona, di pinggiran Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Pulang ke tanah berbatu yang sejak kecil dikenalnya. Pulang ke sebidang tanah warisan keluarga yang bertahun-tahun terbengkalai. Pulang bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memulai pekerjaan yang jauh lebih berat daripada seluruh pekerjaan yang pernah dilakukannya selama menjadi dosen.
Banyak orang menganggap keputusan itu tidak masuk akal. Mengapa meninggalkan kehidupan yang nyaman di Jakarta untuk berkutat dengan tanah tandus yang bahkan air pun sulit diperoleh? Mengapa menghabiskan tabungan dan tenaga di usia senja demi sebuah kebun yang belum tentu menghasilkan keuntungan? Mengapa memilih kehidupan yang jauh lebih keras ketika sebenarnya ia telah memiliki segala alasan untuk menikmati masa pensiun? Joakim tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan teori yang panjang. Ia menjawabnya dengan bekerja.
Di atas lahan sekitar satu setengah hektare, ia mulai membangun apa yang kemudian dinamainya Nugu Terpadu—sebuah meeting point, titik temu bagi pemerintah, Gereja, petani, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun model pertanian organik terpadu. Baginya, kebun itu bukan sekadar kebun. Ia adalah laboratorium kehidupan; sebuah ruang belajar tempat manusia kembali berdamai dengan tanah yang selama bertahun-tahun diperlakukan hanya sebagai alat produksi.
Di situlah sesungguhnya jalan sunyi itu dimulai.
Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan udara Lembata perlahan kehilangan panasnya, seorang lelaki berusia lebih dari enam puluh tahun memanggul cangkul, memasuki kebun yang dipenuhi pohon mangga, kelengkeng, sawo, pisang, kolam ikan, kandang ternak, dan instalasi pupuk organik. Dari kejauhan, kebun itu tampak seperti sebuah oasis hijau yang tumbuh menantang bentang alam berbatu. Hampir tidak ada yang menyangka bahwa seluruh kehidupan di tempat itu bergantung pada tenaga satu orang manusia.
Orang-orang mengenalnya sebagai Joakim Deke Kokomaking.
Tetapi sesungguhnya, yang sedang mereka saksikan adalah seorang manusia yang memilih meninggalkan jalan yang ramai untuk membuka jalan yang baru—sebagaimana pernah diimpikan Emerson lebih dari satu abad sebelumnya.




