
Ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka di Jabodetabek, menghadiri Misa Syukur Tahbisan Episkopal Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Hans Monteiro di Gedung Zeni Angkatan Darat, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (26/7/2026).
Ribuan umat yang hadir adalah perantau dari Kabupaten Lembata dan Flores Timur, yang merupakan wilayah Keuskupan Larantuka. Begitu tiba di tempat acara, Mgr Hans Monteiro langsung disambut dengan tarian perang Hedung dari Adonara, dan sapaan adat menggunakan dialek Lamaholot dan pengalungan selendang tenun dari para sesepuh perantau di Jakarta.
Menariknya, dalam proses perarakan kedatangan itu, warga perantau Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam turut berpartisipasi menyambut Uskup Hans Monteiro, dan mengantarkannya ke dalam gedung tempat berlagsungnya acara, sebelum memimpin perayaan ekaristi. Mereka juga berpartisipasi menampilkan kesenian kasidahan dalam resepsi seusai perayaan ekaristi.
Ketua Panitia, Kolonel Yohanes Wain mengatakan, keterlibatan sesama perantau Lembatan dan Flores Timur yang beragama Islam bukan suatu kebetulan. Hal itu menurutnya adalah cerminan langsung dari budaya etnis Lamaholot — etnis mayoritas yang mendiami Flores Timur dan Lembata — yang sejak zaman leluhur menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kesetaraan, dan toleransi sebagai filosofi hidup bersama (gemohing, semangat gotong royong lintas sekat), yang terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun hingga ke tanah rantau.
Dia juga bersyukur bahwa kegiatan itu dapat terselenggara dengan baik, meski kepanitiaan bekerja dalam waktu yang relatif singkat. Semua itu berkat kerja sama dan keterlibatan berbagai elemen perantau dari dua kabupaten tersebut.
Yohanes Hans Monteiro adalah uskup Gereja Katolik Indonesia yang memimpin Keuskupan Larantuka. Berikut perjalanan panggilannya.
- Nama lengkap: Mgr. Yohanes Hans Monteiro
- Lahir: Larantuka, Flores Timur, 15 April 1971.
- Ditahbiskan sebagai imam: 14 Juli 1999 untuk Keuskupan Larantuka.
- Pendidikan:
- Seminari Menengah Santo Domingo Hokeng.
- Studi filsafat dan teologi di Institut Filsafat Katolik Ledalero (kini IFTK Ledalero).
- Melanjutkan studi lisensiat dan doktor di bidang liturgi di Universitas Wina.
- Pengalaman pelayanan:
- Pengajar di Seminari Menengah Santo Domingo Hokeng (1999–2004).
- Vikaris paroki di Keuskupan Agung Wina selama masa studi di Austria.
- Dosen liturgi di IFTK Ledalero.
- Formator di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret.
- Anggota Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
- Menjadi Uskup Larantuka:
- Diangkat sebagai Uskup Larantuka pada 22 November 2025.
- Ditahbiskan sebagai uskup pada 11 Februari 2026.
Larantuka, kota di tepian timur pulau bunga itu, menyulam sejarah khusus perjalanan sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Terkenal dengan sebutan Kota Reinha – Kota Bunda Maria – Larantuka juga menjadi salah satu pusat perkembangan agama Katolik di wilayah timur Nusantara.
Berawal dari Larantuka, berkembanglah agama Katolik sampai ke bagian barat Pulau Flores. Dari Larantuka itulah agama Katolik menyebar hingga menemukan ladang yang subur di seluruh daratan Flores. Dari Sejarah Gereja Larantuka banyak hal yang dapat kita teladani diantaranya: kuatnya spiritualitas awam, dan ziarah rohani Semana Santa yang tetap dihidupi hingga saat ini.
Prosesi Semana Santa adalah ikon Kota Larantuka. Tradisi peninggalan Portugis ini menjadi pusat perhatian umat Katolik pada setiap menjelang hingga puncak perayaan Paskah. Sejak Rabu hingga Jumat Agung dalam pekan suci umat Katolik itu, kota nan indah di kaki gunung Ile Mandiri ini disesaki seluruh penduduk kota, pemudik, dan peziarah dari kota-kota lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatra bahkan dari luar negeri.
Puluhan ribu peziarah dari berbagai suku bangsa itu mengikuti ritual Pekan Suci yang dalam bahasa aslinya, Portugis, disebut Semana Santa. Semana Santa atau pekan suci Paskah adalah saat yang paling dinantikan di kota Larantuka. Pada Jumat Suci, warga kota mengarak patung Maria Dukacita. Mereka berprosesi keliling kota seraya mengenang kematian Yesus. Di bawah cahaya ribuan lilin, kota di tepian timur pulau bunga ini hendak mengingatkan kita bahwa Tuhan sungguh berbelarasa dengan manusia lewat kematiannya di kayu salib.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro dikenal sebagai imam dan akademisi yang memiliki perhatian besar pada bidang liturgi, pembinaan calon imam dan pengembangan teologi kontekstual. Perhatian besar Mgr Yohanes Hans Monteiro itu diwujudkannya dalam buku Semana Santa di Larantuka – Sejarah dan Liturgi (Penerbit Ledalero). Buku ini adalah sebuah upaya untuk memahami “Semana Santa”. Dalam bukunya Semana Santa di Larantuka – Sejarah dan Liturgi, Mgr. Yohanes Hans Monteiro berpendapat bahwa Semana Santa bukan sekadar tradisi budaya atau atraksi religius, melainkan perayaan liturgis dan devosional yang menghidupkan misteri wafat dan kebangkitan Kristus dalam konteks budaya Lamaholot.
Bagi Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Semana Santa adalah warisan budaya, iman dan spiritualitas. Tentang bagaimana menjaga dan merawat Semana Santa di tengah arus globalisasi, Mgr Hans menawarkan beberapa gagasannya:
1. Semana Santa sebagai perjumpaan iman dan budaya.
- Yohanes Hans Monteiro menjelaskan bahwa tradisi Semana Santa di Larantuka lahir dari perjumpaan antara iman Katolik yang dibawa Portugis dengan budaya lokal Lamaholot.
- Tradisi ini bukan sekadar warisan sejarah, tetapi hasil inkulturasi, yaitu ketika iman Katolik dihayati melalui simbol, ritus, dan ekspresi budaya masyarakat setempat.
2. Liturgi dan devosi harus saling melengkapi
- Menurut Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Semana Santa memiliki unsur liturgi resmi Gereja sekaligus praktik devosi rakyat, penghormatan kepada Bunda Maria (Tuan Ma) dan Yesus (Tuan Ana).
- Devosi dipandang bukan sebagai pengganti liturgi, melainkan sarana yang membantu umat menghayati misteri keselamatan secara lebih mendalam.
3. Identitas religius masyarakat Larantuka
. Mgr Hans Monteiro melihat Semana Santa sebagai bagian dari identitas spiritual masyarakat Larantuka.
- Keterlibatan suku-suku adat, Konfreria dan berbagai ritus tradisional menunjukkan bahwa iman diwariskan melalui kehidupan bersama, bukan hanya melalui ibadah di gereja.
4. Makna Pastoral
- Mgr Hans menegaskan bahwa tujuan utama Semana Santa adalah pembaruan hidup umat.
- Perayaan Semana Santa mengajak umat untuk mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus sehingga terdorong hidup dalam pertobatan, pelayanan, dan solidaritas dengan sesama.
5. Menjaga kesakralan di tengah ziarah Semana Santa
. Mgr Hans juga menyoroti bahwa popularitas Semana Santa sebagai daya tarik wisata
tidak boleh mengaburkan makna religiusnya.
- Nilai sakral, doa, dan ziarah harus tetap menjadi inti perayaan Semana Santa, sementara aspek budaya dan ekonomi perlu ditempatkan sebagai pendukung, bukan tujuan utama.
Semana Santa adalah sebuah ziarah rohani. Ziarah adalah sebuah perjalanan dari tempat tinggal sendiri ke suatu tempat yang lain yang diyakini memiliki keistimewaan dari segi religius. Ziarah dapat membantu pertumbuhan iman.
Ziarah menggarisbawahi satu pemahaman dasar tentang iman sebagai pencarian akan wajah Allah. Sebagaimana ziarah memiliki tujuan, iman pun bukanlah pencarian tanpa tujuan. Yang dicari adalah wajah Allah. Iman adalah kesediaan mencari wajah Allah, menemukan kehendak dan memahami maksudnya-Nya. Ziarah membuat orang peka terhadap banyak hal yang kurang mendapat perhatian dalam keseharian. Orang berhadapan secara mendalam dengan situasi dirinya sendiri, dan ini membuat orang menjadi terbuka untuk mengalami kahausan dan kerinduannya untuk mencari wajah Alllah.
Salah satu hal menarik dari ziarah adalah kesempatan yang ditawarkannya untuk menjumpai orang dari berbagai latar belakang berbeda. Orang-orang yang tergerak oleh pencarian yang sama bertemu dan dapat saling meneguhkan dalam ziarah imannya. Yang mempersatukan mereka adalah kerinduan akan tujuan dan keyakinan akan pentingnya sebuah perjalanan demi mencapai tujuan itu. Berada di jalan, memahami diri sebagai peziarah, dapat membantu seseorang untuk menanggalkan berbagai konsep diri yang memisahkannya secara radikal dari orang lain.
Orang yang berjalan mencari Tuhan, menyadari bahwa dia tidak sendirian. Pencarian membutuhkan kepekaan kepada orang lain, keterbukaan mendengar suara lain, kesediaan bertanya dan meminta bantuan dari orang lain. Orang yang berjalan dan membuat ziarah mengalami bahwa dirinya terbatas dan menyadari bahwa dirinya juga butuh orang lain. Dengan demikian ziarah menumbuhkan solidaritas dengan orang lain (Paul Budi Kleden, “Pembelajaran Soldaritas Lewat Ziarah”, Basis 2007).
Agama tidak berada di langit yang sempurna dan suci murni dan dari sana mengantarai manusia dan Tuhan, tetapi selalu dia merupakan agama manusia biasa, dengan daging dan darah. Hakekat agama selalu merupakan suatu hakekat yang historis yang berjuang bersama kefanaan dan perubahan, dan bukanlah suatu hakekat metafisik, yang tertutup, selesai, tak mengandung gerak dalam dirinya dan mantap dalam keabadiaan. Agama ( Kekristenan ) mestinya setiap saat memperingatkan dirinya kembali untuk “pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaanNya, sebab di sini tak ada tempat tinggal yang tetap” (Ibr. 13:13).
(Paskalis Liko Bataona)





