
Oleh Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya
Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi, teknologi, atau militer. Bangsa yang besar juga lahir dari karakter para pemimpinnya. Karena itu, ketika Indonesia bercita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045, pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya sejauh mana pertumbuhan ekonomi dapat dicapai, melainkan juga bagaimana karakter kepemimpinan bangsa dibangun ditengah marak nya korupsi yang seolah sudah jadi budaya di negeri ini yang dilakukan oleh pejabat daerah, para penegak hukum , dan elit kekuasaan dalam beberapa kasus yang terungkap.
Jauh sebelum teori-teori kepemimpinan modern berkembang, lingkungan Pura Mangkunegaran telah melahirkan ajaran kepemimpinan yang berakar pada budaya Nusantara. Apabila KGPAA Mangkunegara IV melalui Serat Wredhatama membangun fondasi manusia utama dengan menekankan pengendalian diri, maka penerusnya, KGPAA Mangkunegara V (1881–1896), melengkapi fondasi tersebut melalui karya sastra yang lebih praktis dan humanis, yakni Serat Wulang Reh.
Berbeda dengan gaya Mangkunegara IV yang filosofis dan tegas, Mangkunegara V menawarkan pendekatan yang lebih lembut. Ia tidak hanya berbicara mengenai bagaimana manusia mengalahkan hawa nafsu, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin menghadirkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Masa pemerintahan Mangkunegara V memang relatif singkat. Namun dalam kurun waktu itu, ia meninggalkan warisan besar di bidang sastra, seni, musik, dan kebudayaan. Di bawah kepemimpinannya, Pura Mangkunegaran berkembang sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa modern yang memadukan tradisi dengan tantangan zaman.
Di antara karya-karyanya, Serat Wulang Reh menempati posisi penting karena berisi pedoman etika yang dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga pemerintahan.
Dalam pandangan penulis, terdapat empat inti ajaran kepemimpinan yang sangat relevan bagi Indonesia saat ini.
Pertama, Den Ajembar.
Seorang pemimpin harus memiliki hati yang luas, pikiran yang lapang, serta wawasan yang jauh ke depan. Luas hati berarti mampu memaafkan kesalahan bawahan, merangkul rakyat tanpa membeda-bedakan, bahkan tidak memelihara dendam terhadap lawan politik.
Di tengah demokrasi yang sering diwarnai polarisasi, ajaran ini menjadi sangat penting. Setelah kompetisi politik selesai, yang dibutuhkan bukan lagi permusuhan, melainkan rekonsiliasi untuk kepentingan bangsa.
Kedua, Den Momot.
Pemimpin tidak cukup hanya berpikiran luas. Ia juga harus mampu “momot”, yakni menampung berbagai aspirasi yang datang dari bawah, dari kanan maupun kiri, dari kelompok yang sependapat maupun yang berbeda pandangan.
Kemampuan mendengar merupakan salah satu ukuran kedewasaan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak boleh terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang hanya memperdengarkan pujian. Justru kritik yang membangun harus menjadi bahan pertimbangan dalam melahirkan kebijakan.
Musyawarah yang menjadi roh Demokrasi Pancasila hanya dapat hidup apabila seorang pemimpin memiliki kemampuan untuk mendengar sebelum memutuskan.
Ketiga, Lawan Den Wengku
Inilah ajaran yang paling berat. Musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah oposisi politik, melainkan egonya sendiri. Kekuasaan sering melahirkan rasa paling benar, paling tahu, dan paling berhak. Karena itu, Mangkunegara V mengingatkan bahwa seorang pemimpin sejati harus mampu menaklukkan kepentingan pribadi demi kepentingan rakyat.
Pemimpin tidak boleh menjadikan jabatan sebagai alat memperbesar diri, melainkan sebagai amanah untuk memperbesar manfaat bagi masyarakat.
Keempat, Den Koyo Segoro.
Samudra menjadi simbol keluasan hati dan kebijaksanaan. Laut menerima seluruh aliran sungai tanpa kehilangan jati dirinya. Begitu pula seorang pemimpin harus mampu menerima berbagai perbedaan tanpa kehilangan prinsip.
Ia tidak mudah tersulut emosi, tidak reaktif terhadap kritik, dan mampu melihat persoalan secara utuh sebelum mengambil keputusan.
Pemimpin seperti samudra tidak diukur dari kerasnya suara, tetapi dari kedalaman kebijaksanaannya. Keempat ajaran tersebut sesungguhnya saling berkaitan.
Hati yang luas melahirkan kemampuan menerima perbedaan. Kemampuan menerima perbedaan menghasilkan keputusan yang bijaksana. Kebijaksanaan hanya mungkin lahir apabila ego pribadi berhasil dikalahkan.
Dalam konteks pembangunan nasional, ajaran tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat. Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan masa kolonial. Persaingan tidak lagi hanya terjadi pada bidang ekonomi atau militer, tetapi juga pada perebutan pengaruh budaya, informasi, dan cara berpikir. Di sinilah karakter pemimpin menjadi benteng utama bangsa.
Apabila Serat Wredhatama mengajarkan bagaimana membangun manusia yang kuat secara batin melalui pengendalian sifat loba, dumeh, dan gumedhe, maka Serat Wulang Reh mengajarkan bagaimana manusia utama itu memimpin masyarakat melalui kasih sayang, kerendahan hati, keteladanan, dan pengabdian.
Keduanya bukan ajaran yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Serat Wredhatama membangun fondasi karakter. Serat Wulang Reh mengajarkan bagaimana karakter itu diwujudkan dalam kepemimpinan.
Inilah pakem kepemimpinan Nusantara yang lahir dari kearifan budaya bangsa sendiri. Di tengah derasnya arus globalisasi, Indonesia tentu perlu belajar dari berbagai bangsa. Namun, belajar tidak berarti kehilangan jati diri. Justru nilai-nilai luhur yang diwariskan para pujangga Nusantara perlu menjadi kompas moral dalam menyaring berbagai pengaruh luar.
Pemimpin yang berkarakter, berintegritas, dan berpihak kepada kepentingan rakyat tidak lahir hanya dari kecerdasan akademik. Ia lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan, keteladanan, pengalaman, dan kebijaksanaan.
Nilai-nilai seperti tepa selira, andhap asor, eling lan waspada, sepi ing pamrih, rame ing gawe, hingga urip iku urup merupakan fondasi etika yang tetap relevan untuk membangun pemerintahan yang bersih dan berkeadilan.
Apabila ajaran kepemimpinan dalam Serat Wredhatama karya Mangkunegara IV dipadukan dengan nilai-nilai Serat Wulang Reh karya Mangkunegara V, Indonesia sesungguhnya memiliki cetak biru kepemimpinan nasional yang lahir dari khazanah budayanya sendiri.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi semata. Lebih dari itu, Indonesia memerlukan pemimpin yang berhati lapang (den ajembar), mampu merangkul seluruh aspirasi (den momot), sanggup mengalahkan ego kekuasaan (lawan den wengku), serta memiliki keluasan pandangan dan kebijaksanaan laksana samudra (den koyo segoro).
Apabila nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi pedoman bagi para pemimpin Indonesia, maka cita-cita mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, sebagaimana diimpikan para pendiri bangsa, bukanlah sebuah keniscayaan, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan melalui kepemimpinan yang berakar pada karakter dan kebudayaan Indonesia sendiri.
Dalam kajian sejarah Pura Mangkunegaran, Mangkunegara V dikenal sebagai penguasa (Raja) yang memberi perhatian besar pada pengembangan sastra, seni pertunjukan wayang Orang, karawitan, Gending Jawa , tarian keraton dan pendidikan karakter di lingkungan istana. Warisan tersebut menobatkan Raja Mangkunegara V sebagai peletak dasar nilai nilai membangun karakter bangsa di era modern menuju Indonesia Merdeka . Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan dipandang bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan sarana membentuk budi pekerti, kepemimpinan, dan identitas bangsa. Nilai inilah yang tetap relevan sebagai inspirasi menuju Indonesia Emas 2045.
=======================



