Teologi Kontekstual dan Politik Emosi, “Dimanakah suara alumnus filsafat dan teologi?”

0
415

Sabtu, 21 September 2019, bertempat di Gramedia Matraman, Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero se Jabodetabek  merayakan pesta emas STFK-Ledalero.

Perayaan pesta emas ini dirayakan dengan mengadakan talk show bertema “Sumbangan Filsafat dan Teologi bagi Indonesia Unggul”.

Dr. Ignas Kleden, Dr. Karlina Supelli, Ansi Lema, S.IP, M.SI, tampil sebagai pemberi materi dalam acara tersebut. Modertaor diskusi Intelektual Muda Gusti Tetiro. Gagasan dan pemikiran mereka coba kami paparkan.

Filsafat Kontekstual

Berfilsafat dalam paparan Ignas Kleden adalah suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang siapakah manusia, apakah Tuhan ada, bagaimana menata negara, bagaimana hidup baik dan filsafat mencoba menjawab secara rasioanal, kritis, dan sistematis.

Menurur Ignas, dalam berfilsafat yang diandalkan hanyalah rasionalitas semata. Hal ini membedakan filsafat dengan cara kerja ilmu-ilmu empiris dimana ilmu-ilmu empiris tidak hanya mengandalkan rasionalitas tapi juga membutuhkan data dan fakta-fakta.

Dalam kaca mata Ignas Kleden,  filsafat digambarkan sebagai sebuah infrakstruktur.  Sebagai infrastruktur, filsafat diharapkan mampu mengatur secara baik lalu lintas ide-ide, gagasan, berita yang memenuhi ruang publik republik ini.

Filsafat dapat digunakan untuk mempertanyakan segala sesuatu untuk mendekati kebenaran. Kebenaran dalam filsafat tidak pernah bersifat final. Filsafat juga dapat dipakai sebagai pisau untuk mempertanyakan secara kritis asumsi-asumsi di balik cara kerja ilmu-ilmu termasuk ilmu filsafat sendiri.

Dengan filsafat, kata Ignas, kita dilatih untuk mampu berpikir lebih mendalam, rasional, dan komunikatif. “Filsafat bersifat terbuka, filsafat tidak memberikan kemapanan jawaban. Ia dan filsafat selalu menggugat dan mempertanyakan,”katanya.

Sumbangan filsafat buat Indonesia menurut Ignas adalah filsafat harus mampu membangun diskursus juga harus mampu membongkar pemikiran sempit ideologi.

Kata Ignas, bertolak dari pemikiran Hans Kung ( teolog katolik dari Jerman), Teologi Kristen tidak menciptakn kebenaran, tetapi hidup dari kebenaran Allah’”.

Ignas menegaskan ilmu teologi bertitik tolak dari “kebenaran Allah “ yang mau dibawa ke dalam kehidupan keseharian umat.  Teologi di Indonesia mesti mampu membaca keadaan umat pada saat mereka menerima Wahyu Tuhan untuk direfleksikan dalam keseharian mereka. Dan jenis teologi yang tepat untuk hal ini adalah Teologi Kontekstual. 

Ignas menjelaskan, teologi kontekstual adalah sebuah teologi yang memberikan minat dan komitmen untuk masalah khusus dalam percobaan menangapi Wahyu dan Iman. Refleksi teologi tidak berhenti pada teori belaka yang abstrak dan jauh dari realitas hidup sehari-hari. Teologi harus mampu mendorong iman umat untuk menghidupi Kebenaran Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Digitilisasi dan Ruang Publik

Karlina Supelli, Dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara memaparkan gagasannya tentang bagaimana  digitilisasi kehidupan membawa perubahan budaya baru yakni politik emosi.

Keberhasilan teknologi digital bermula dari gagasan teknis bahwa beragam ide dan fakta kehidupan dapat diwakilkan ke dua komponen bilangan nol dan satu. Asas pemandunya adalah logika algoritmik yang mengakar di paradigma  rasionalitas teknis.

Algoritma adalah sederetan perintah yang maknanya tunggal. Rasionalitas teknologi digital adalah rasionalitas instrumental yang mengalami peningkatan seketat-ketatnya tanpa peluang bagi penafsiran subyektif.

Dari rasionalitas yang demikian kaku, lanjut Karlina, tercipta ruang yang mengacak-ngacak bilik batin manusia yang paling pelik: hasrat, rasa perasaan, dan emosinya.

“Teknologi digital menyediakan pelataran yang dirancang secara cermat untuk memancing pengguna membuka bilik pribadinya lebar-lebar dam membagi isinya secara sukarela,” ungakpnya.

Dengan pengguna aktif media sekitar 2,3 miliar, emosi yang dirasa bersama (shared emotion) menjadi praktek kebudayaan baru yang membentuk presepsi khalayak ramai dan realitas.

“Sebagai ekspresi sosial dari rasa perasaan, emosi dapat disebar, dipertukarkan, dirangsang dan dipengaruhi. Media daring memiliki kemampuan untuk melecut emosi secara serentak. Kita masuk ke zaman emosi sebagai konsekuensi dari pola tanggapan kita sendiri terhadap perubahan yang dibawa oleh teknologi,” jelas Karlina.

Karlina mengatakan, pola tanggapan kita rupanya dikuasai lebih banyak oleh emosi dan hasrat . Emosi dan hasrat inilah yang paling gampang di seret ke arena politik. Akibatnya terhadap demokrasi sudah kita alami.

Rakyat memilih dalam sebuah pemilihan umum misalnya, dalam pemilihan itu ia tidak mempertimbangkan baik-buruk, calonnya mampu apa tak mampu tapi lebih pada emosi (sang calon seras, sang calon seiman) yang ditawarkan melalaui digitalisasi itu.

Karlina mencoba memberi jalan keluar mengatasi politik emosi yakni dengan membangun kebiasaan seperti yang terbentuk dalam budaya ilmiah tanpa harus menjadi seorang ilmuwan.

Kebiasaan-kebiasaan itu yakni melatih kejujuran dalam memperoleh pengetahuan, kesetiaan kepada fakta, keterbukaan terhadap kritik, kesediaan bekerja sama untuk saling menguji pendapat, penghormatan kepada kemerdekaan berpikir, dan keberanian untuk meragukan.

Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.SI, atau biasa disapa Ansi Lema mempersoalkan ‘Ruang Publik’ yang kian hari kian tercemar. Kata ‘Ruang Publik’, menurut Ansi, merupakan sebuah konsep yang dewasa ini menjadi popular di dalam ilmu-ilmu sosial, teori-teori demokrasi dan diskursus politis.

Dalam pandangan Ansi Lema, ‘ruang publik’ di republik ini telah dikotori oleh kata-kata, bahasa, ujaran ujaran  yang penuh kebencian. Ruang publik politik Indonesia penuh dengan berita-berita hoax, dan ujaran penistaan.

Situasi ini, menurut Ansi Lema mesti disikapi dengan cara merebut kembali ‘ruang publik’ dengan opini, bahasa- bahasa diskursus yang mencerdaskan dan mancerahkan. “Dimanakah suara para alumnus filsafat dan teologi?,”tanya Ansi.

Dia mengatakan, kini saatnya para filsuf dan teolog mesti tampil dan merebut ruang publik dengan cara masuk berdiskursus di ‘ruang publik’ lewat opini di surat kabar, menuangkan gagasan-gagasan di media-media online.

“Hal yang amat penting yang juga menjadi tantangan adalah berani memilih untuk terjun ke dunia politik untuk menjadi anggota dewan, agar dengan berbekal ilmu filsafat dan teologi segala keputusan pembuatan undang-undang dapat di kontrol. Bukankah keterlibatan setiap orang di dalam dunia adalah sakramen, maka kalau kita ambil bagian dan terlibat dalam ‘ruang politik’ kita telah membuat ruang publik itu menjadi ‘sakramen’,”ujarnya.

Penulis : Paskalis Bataona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here