Hidup adalah Hadiah

0
74

Oleh Stephie Kleden-Beetz *

Adalah Henry Ford, si raja mobil itu, pada suatu hari keluar kota bersama mobilnya. Kebiasaannya adalah selalu melihat-lihat dan menikmati pemandangan sekitar.

Ketika mereka sampai di sebuah desa terpencil, ada beberapa anak sedang bermain bola. Fokus perhatian Henry Ford tiba-tiba tertuju pada seorang anak yang hanya tertatih-tatih. Berhenti sebentar, perintahnya kepada sopir.

Si raja mobil itu turun lalu menghampiri anak yang cacat kakinya. Siapa namamu? Jimmy jawab si anak. Berapa umurmu? 8 tahun. Kamu suka bila kakimu sama dengan kaki teman-temanmu itu? Tentu saja, jawab Jimmy, tetapi kenapa bapak bertanya? Henry Ford menjawab: sebab saya mau kakimu menjadi normal dan boleh bermain bola dengan lincah.

Kemudian ia masuk lagi ke dalam mobil dan berkata kepada sopirnya: tugas utamamu hari ini adalah mencari tahu di mana rumah orang tua Jimmy. Tanyalah apakah mereka setuju, jika kaki Jimmy dioperasi.

Ayah-ibu Jimmy yang sederhana heran, kaget dan tidak percaya. Mana ada orang di saman sekarang mau berbuat baik tanpa pamrih? Tetapi sopir itu terus bertanya dan meminta jawaban. Singkat cerita, persetujuan orang tua Jimmy didapat dan Jimmy boleh dioperasi. Mereka tetap mendesak dan bertanya siapa sih yang berbaik hati semacam ini? Sopir menjawab: Penderma itu tidak mau namanya disebut.

Kini Jimmy berseri-seri karena gembira, kakinya sudah dioperasi dan mendapat pula sepatu khusus. Masih ada lagi tugasmu, kata Henry Ford kepada sopirnya, pergilah lagi kepada ayah-ibu Jimmy dan katakan mereka sekeluarga boleh membeli pakaian dan sepatu baru untuk Natal.

Prinsip si raja mobil itu ialah: kita membantu orang agar mereka membantu diri sendiri dan jangan pernah kita biarkan orang bergantung pada kita.

Kisah lain adalah seorang gadis buta. Dia membenci dirinya dan orang lain karena dia buta. Satu-satunya orang yang dia sayangi adalah pacarnya. Pacarnya selalu menemaninya dan membantunya di mana pun juga. Maka kata si gadis buta itu: seandainya pada suatu hari saya bisa melihat, maka saya akan menikahi pacar saya.

Pada suatu hari si gadis buta mendapat dua mata yang sehat dari seorang penderma. Si gadis buta akhirnya bisa melihat dunia dan ia amat bahagia. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat bahwa pacarnya itu buta. Pacarnya bertanya, sekarang kamu sudah melihat, marilah kita menikah. Tetapi si gadis buta yamg kini sudah melihat itu, menolak dan tidak mau menikahi pacarnya. Dengan berurai air mata, pacarnya pergi. Lalu menulis surat yang berbunyi begini: “Tolong jaga baik-baik kedua mata saya, yamg sudah saya hadiahkan untukmu”. Begitulah banyak orang mengingkari janjinya, bila keadaan telah berubah.

Hari ini bila Anda menghadapi makanan yang kurang enak dan Anda hendak mengomel, ingatlah ada banyak orang yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk dimakan.

Sebelum Anda mengeluh tentang istri dan suami Anda, ingatlah masih ada orang yang minta pada Tuhan untuk mendapatkan pasangan hidup.

Bila Anda mengeluh tentang hidup, ingatlah bahwa ada banyak orang yang mempunyai umur yang pendek.

Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak, ingatlah bahwa ada banyak orang yang tetap mengharapkan keturunan.

Sebelum Anda mengeluh tentang rumah yang terlalu kecil atau kotor, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai rumah.

Sebelum Anda mengeluh tentang pekerjaanmu, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai pekerjaan.

Sebelum Anda menuduh seseorang akan kesalahannya, ingatlah bahwa tak ada seseorang pun yang luput dari kesalahan dan dosa. Dan bila tekanan hidup amat menekan Anda, senyumlah dan berterima kasihlah pada Pencipta bahwa Anda masih hidup, dan boleh menikmati keindahan sekitar dan sesame yang baik terhadapmu.

Hidup adalah hadiah, nikmatilah, rasakanlah dan isilah hidup Anda dengan hal-hal yang berguna.

*Stephie Kleden-Beetz, lahir di Waibalun Flores Timur. Stephie pernah bekerja di Deutsche Welle-radio nasional Jerman  dan seorang wartawan lepas.  Stephie telah menerbitkan beberapa buku antara lain: Cerita Kecil Saja (Kanisius, 2009), Merajut Kata-Kata (Kanisius, 2011), Tanda Mata (Lamalera, 2016).

Sumber tulisan Majalah Warta Flobamora

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here