Belanda di Larantuka : Perubahan yang Terlampau Cepat

Foto Ilustrasi : Kapal yang bersandar di pelabuhan Larantuka (Foto : Dok FBC)

Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Tulisan ini merupakan artikel kesembilan. Semoga berguna.

Penulis : Benjamin Tukan

Kedatangan Belanda mengubah segalanya. Mengubah sesuatu yang dibangun selama masa Portugis, mengubah pola perdagangan, tradisi dan mempraktikan cara-cara baru membangun masyarakat.

Kata kunci untuk mendapatkan gambaran dari sepak terjang Belanda di Larantuka dan sekitarnya adalah politik sentralisme khas Belanda. Suatu politik baru yang mulai diperkenalkan kepada kerajaan-kerajaan lokal yang sebelumnya sangat otonom.

Kenyataan dihadapi tidaklah mudah. Sentralisme yang di dalamnya mengandung ambisi untuk mempersatukan bukan hanya soal kompromi di tingkat penguasa dan pemimpin lokal, tapi juga masalah integrasi sosial di antara penduduk yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki perasaan untuk bersatu.

Tidak mudah bagi Belanda menerapkan politik sentralisme yang memperkuat penguasaan teritorial. Politik devide et impera yang merupakan “senjata” ampuh melemahkan kekuatan-kekuatan lokal seperti yang dipraktikan di seantero nusantara mau tidak mau dipraktikan disini. Belanda harus bersekutu dengan kekuatan lokal untuk menghadapi kekuatan lokal yang lain, termasuk bersekutu dengan kekuatan lokal untuk menghadapi sisa-sisa kekuatan Portugis di wilayah ini.

Di masa awal Belanda menancapkan pengaruhnya di wilayah ini, untuk politik dan pertahanan, ketegangan dan pertikaian memang sering terjadi di antara penduduk lokal juga antara penduduk lokal dengan Belanda. Sepertinya semua sedang mencari jalan terbaik untuk berhadapan dengan sistem baru.

Di tengah pergolakan menuju penyatuan itu, politik etis tengah berkembang di pusat pemerintahan Belanda di Batavia juga di Parlemen Belanda. Mau tidak mau berpengaruh juga di wilayah ini. Belanda harus menerapkan politik untuk membangun masyarakat pribumi.

Dalam kerangka ini dua hal yang mau dikemukakan dari tulisan ini adalah politik penyatuan dalam kerangka sentralime dan politik etis dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat dimana pihak gereja dilibatkan.

***

Belanda menggantikan Portugis. Pertikaian demi pertikaian yang masih terjadi di wilayah ini menghendaki Belanda harus mencari jalan keluar yang lebih baik. Pada 28 Juni 1861, Belanda mengikat kontrak dengan Kerajaan Larantuka dan para pembesar di wilayah Solor. Sebelumnya, Belanda dan Portugis pada 20 April 1859 sudah melakukan perjanjian untuk menyerahkan wilayah ini ke tangan Belanda dari Portugis. Kontrak 28 Juni 1861 menjadikan Kerajaan Larantuka menjadi bagian dari pemerintahan Belanda, sekalipun tidak memiliki kekuasaan langsung. Raja masih memiliki kekuasaan.

Tapi bagaimana model kekuasaan itu diterapkan? Sudah bisa dibayangkan bahwa tidak mudah Raja Larantuka memiliki kekuasaan yang otonom di tengah bayang-bayang kekuasaan Belanda. Belanda boleh memiliki taktik dan strategi, tapi Raja Larantuka pun harus punya taktik dan strateginya sendiri.

Apa yang terjadi? Raja Larantuka juga ketika itu menerapkan strategi politik “sekutu dan seteru”(Lihat : Disertasi Didik Pradjoko). Konsekuensinya, suatu waktu Raja bisa bersekutu dengan pihak gereja untuk melawan pemerintah Belanda, di waktu yang lain Raja bisa bersekutu dengan pemerintahan atau masyarakat lokal untuk menghadapi pihak gereja. Berputar-putar terus di titik yang sama hanya untuk mempertahankan kekuasaan.

Di tengah pergualatan demi pergulatan untuk menemukan pola kekuasaan yang pas untuk Kerajaan Larantuka, politik kolonial terus menancapkan pengaruhnya di wilayah ini. Di pusat kerajaan Larantuka mulai mucul pertikaian yang semakin melemahkan pengaruh raja. Demikian juga Raja mulai berhadapan dengan aturan baru pemerintahan yang berarti raja pun dapat ditindak.

Perlahan-lahan, struktur kerajaan yang menempatkan pemimpin-pemimpin lokal di bawah kerajaan Larantuka seperti kekakangan mulai dikoptasi dalam kepentingan Belanda. Kekakangan mulai berubah menjadi hamente yang mempengaruhi seluruh dinamika kekuasaan Belanda di sini pada waktu itu.

Politik penyatuan terus terjadi. Mulai bergabungnya beberapa kerajaan kecil dalam suatu lanskap kerajaan Larantuka, yang nota bene di bawah pemerintahan Belanda yang berada di Larantuka. Hubungan-hubungan baru dengan Kerajaan Adonara pun mulai menunjukkan arah yang jelas untuk sebuah proses penyatuan pemerintahan Belanda di kemudian hari. Belanda membuat sebuah lanskap yang meliputi Flores daratan bagian Timur, Adonara, Solor, Lembata.

Dalam pemerintahan, Belanda mulai memperkenalkan cara-cara baru mengadministrasikan kekuasaan kerajaan dan adat yang sebelumnya otonom. Maka di sini mulai ada praktik-praktik pemungutan pajak, hingga persoalan gaji untuk pejabat-pejabat di lingkungan Hamente. Kunjungan wakil pemeritah Belanda ke pelosok-pelosok desa mulai memberikan laporan pada kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Demikian pertikaian-pertikaian di antara penduduk lokal mulai diambil alih oleh Belanda kerangka menjaga keamanan wilayah.

Oleh pemerintahan Belanda, perhatian mulai diberikan kepada penataan pemukiman penduduk. Di sini mulai ada cerita tentang “kampung lama” dan “kampung baru” yang terjadi hampir merata di Flores daratan, Adonara, Solor dan Lembata. Masyarakat pun mulai belajar hidup dalam kampung. Soalnya sederhana, bahwa kampung atau Lewo dalam bahasa lokal, tidak seperti yang dimaksudkan Belanda atau seperti yang dialami saat ini. Lewo dalam masyarakat setempat ketika itu lebih menyerupai rumah besar (lango belen) yang berada dekat dengan kebun dan tempat penyembahan (Korke dan Nubanara). Pemukiman jenis ini umumnya juga mempertimbangkan sisi pertahanan, sehingga umumnya berada di atas ketinggian.

Berhubungan dengan penataan kampung, mulai diterapkan kebijakan untuk memindahkan penduduk dari gunung ke daerah pesisir pantai. Beberapa wilayah kampung di pantai kemudian dipindahkan kembali ke gunung karena pertimbangan wabah malaria yang menyerang daerah pantai. Perpindahan yang terjadi juga dikarenakan kebijakan untuk mengurangi perang antar penduduk.

Pembangunan pemukiman baru, membawa konsekuensi lain tentang pembangunan bentuk-bentuk rumah. Mulai ada pembangunan rumah dengan fondasi, atau juga berlantai batu. Baik pemukiman dan bentuk rumah yang mulai ditata, tidak lain menunjukkan arti penting kekuasaan itu yang mulai masuk dalam kehidupan masyarakat sampai dalam kehidupan rumah tangga.

***

Lain pemerintahan, lain juga Gereja yang diwakili para misionaris. Kedatangan Belanda juga disertai dengan masuknya misi katolik. Namun dalam hal politik etis misionaris juga menerima mandat dari pemerintah Belanda untuk mengelola pendidikan sekolah dasar.

Salah satu Kapela di Larantukan (Foto : Dok FBC)

Di wilayah pelayanan gereja, kehadiran misionaris Belanda, awalnya begitu menegangkan, tapi lama kelamaan mereka dapat diterima. Menegangkan karena dalam masa yang begitu lama umat tidak dilayani oleh misionaris, tapi kini harus kembali dengan misionaris yang nota bene segala bentuk peribadatan, harus kembali mendengar apa kata misionaris.

Hal yang menegangkan itu termasuk hubungan gereja dan Raja Larantuka kemudian bisa diatasi. Misionaris yang baru datang ini umumnya lebih bersahaja dan mau menyelami kehidupan masyarakat yang dilayani. Perselisihan awal pun bisa diatasi, dan tidak berlebihan di kemudian hari misionaris-misionaris ini menjadi panutan masyarakat.

Misionaris mulai menata perayaan-perayaaan keagamaaan termasuk semana santa dan prosesi Jumat Agung ke arah peribadatan yang memusatkan pada ibadah gereja. Rumah-rumah adat berubah menjadi kapela-kapela seiring dengan perkembangan umat. Mulai ada kunjungan tetap ke wilayah-wilayah di luar kota Larantuka, dan mulai ada pembangunan paroki dan stasi. Begitu pun peran raja dalam bidang keagamaan, termasuk konfreria juga mendapat perhatian yang baik.

Perkembangan gereja yang dimotori para misionaris ini perlahan mulai memberi perhatian pada bidang pendidikan, dan kesehatan. Pada 3 Desember 1862 misionaris mendirikan sekolah pertama di Larantuka. Kedatangan Pastor Gregorius Mets, Sj ke Larantuka 17 Maret 1863 secara khusus memberi perhatian untuk meletakan dasar-dasar pengelolaan sekolah.

Pendidikan mulai diperkenalkan, belajar pun mulai teratur. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun mulai terbiasa dengan kebiasaan belajar. Anak-anak pribumi mulai dikumpulkan belajar dan dikirim untuk belajar di sekolah formal. Sementara bahasa Melayu dipaksa untuk dipergunakan dalam pendidikan dan ibadah.

Tidak saja lembaga pendidikan yang dibangun dekat dengan masyarakat, anak-anak ini pun mulai diperkenalkan dengan sekolah-sekolah favorit yang ada di luar bahkan hingga Eropa. Tidak berlebihan jika orientasi pendidikan adalah keluar dan titel pendidikan memberi label khusus akan hadirnya kelas baru dalam masyarakat.

Berhadapan dengan kebutuhan masyarakat, pendidikan yang diterapkan di Larantuka,mulai menyentuh bidang pertanian, pertukangan juga sekolah putri untuk keterampilan rumah tangga dan perkantoran. Perkebunan misi, misalnya perkebunan kopi mulai dibangun untuk memperkenalkan cara-cara baru pertanian dan perkebunan ke tengan masyarakat. Demikian pertukangan dengan dibukanya bengkel-bengkel misi dan pembangunan sekolah dan gereja yang dilakukan misi.

Berbagai kerajinan tangan mulai diperkenalkan. Salah satunya yang dilakukan Bruder Henricus Adan di halaman bengkel. Di tempat ini dilatih pembuatan kerajinan pahat khusus dari kayu, seperti patung-patung para orang kudus, serta altar yang dikirim ke berbagai tempat misi di Indonesia. Selain memimpin bengkel kayu, Bruder Adan juga adalah seorang musisi berbakat yang memimpin sebuah kelompok musik tiup yang dimainkan para siswa di sekolah Larantuka. Dalam tahun 1874 di Larantuka sudah ada tiga guru, Bruder Biggelaar, Guru musik tamatan kursus musik di surabaya Torco Fernandez dan Petrus Suplanit asal Ambon.

Di kemudian hari, dua bruder misionaris SVD berkebangsaan Belanda dan Jerman, Br. Conradus, SVD dan Br. Stanislaus, SVD mulai merintis sebuah sekolah pertukangan bagian kayu dan besi di Keuskupan Larantuka dengan nama Ambachschool yang selanjutnya dikenal dengan nama Pertukangan St. Yusuf Larantuka.

Sejalan dengan tugas pokok yakni mentrampilkan para karyawan dalam bidang bangunan besi dan kayu, kedua bruder tersebut membina juga bakat mereka dibidang musik khususnya Musik Trompet yang disebut Musik Fanfare melanjutkan tradisi para pendahulunya.

Pada 29 April 1879 datang suster Fransiskanes ke Larantuka dan dibulan Mei 1879 mereka mendirikan sekolah Putri di Balela.  Kepada remaja-remaja putri, Suster Ambrosia, Sr Ernestine, Sr Pelagia, Sr Fransisca, Sr Cunegonde, dan Sr Marceline yang merupakan suster-suster pertama yang datang ke Larantuka, mengajarkan membaca, berhitung, katakismus.

Sementara sore hari diajarkan keterampilan berkebun, memintal benang, mewarnai benang, menenun kain dan menjahit pakaian. Mereka juga diajarkan kesehatan tubuh, kebersihan rumah dan halaman, dan berbagai keterampilan rumah tangga, praktek agama dan tata krama.

Dalam bidang kesehatan, juga mulai diperkenalkan pengobatan-pengobatan gratis yang tidak membedakan suku agama. Pada tahun 1869 mereka mengirim Michael Lobato ke Batavia untuk belajar di sekolah Dokter Jawa selama 2 tahun dan kembali ke Larantuka.

Memang misonaris SVD yang menggantikan Serikat Yesus tidak memiliki relasi yang erat dengan raja Larantuka, mereka jauh lebih banyak bergerak di bidang pendidikan. Piet Noyen bisa dipandang sebagai seorang arsitek besar, yang merancang strategi untuk misi ketika itu. Ia menjadikan Ende sebagai pusat misi baru dan menghendaki sebuah misi yang terpusat bagi kaum muda yang didik dalam sekolah misi.

Kehadiran para misonaris turut pula berperan dalam membangun dan menata kota. Meski di bawah kaki gunung, mereka mampu menata kota untuk menjadi lebih apik. Di tempat tersebut, ada lapangan sepak bola , toko, dll.

Sebuah sumur air lengkap dengan instalasi pipa yang memompa air minum ke rumah para pejabat pemerintahan Belanda di kaki gunung ile mandiri. Satu pembangkit listrik tenaga diesel juga dibangun dan listrik pun mengaliri pelabuhan, kawasan pergudangan, dan semua permukiman di Kota Larantuka.

Infrastruktur penunjang pulau itu juga dibangun. Beberapa kapal ditangkan untuk melayani rute antar pulau. Pelabuhan-pelabuhan kecil dibangun lebih permanen. Selain untuk memudahkan pelayanan gereja, pelabuhan-pelabuhan kecil ini juga sebagai sarana menjemput anak-anak yang hendak bersekolah ke luar.

Penghargaan akan pentingnya pendidikan, dan kebutuhan untuk mengisi tenaga administrasi pemerintahan dan gereja, menyebabkan penduduk daerah ini mulai memahami arti penting sekolah. Dengan pembukaan beberapa model pendidikan baru termasuk seminari, orang-orang semakin mengenal akan pendidikan diluar.

Suatu cara baru kehidupan mulai diperkenalkan. Pentingnya pendidikan formal dengan melatih kemampuan dasar tentu saja, tapi lebih dari itu adalah kerja keras, ketekunan dan kesetiaan adalah cara ampuh yang diperkenalkan agar masyarakat sanggup menghadapi perubahan.

Etos kerja baru kemudian menjadi semacam rujukan tentang manusia yang ideal. Orang berbangga kalau anaknya bisa bersekolah ke pendidikan yang lebih tinggi, bahkan menempuh pendidikan di Eropa. Perlahan masyarakat wilayah ini dikenal sebagai masyarakat yang menghargai arti penting pendidikan, berpikir rasional dan sistematis, berbahasa Indonesia yang baik, pekerja keras, memiliki hati yang kuat dan sanggup hidup dalam masyarakat yang beragam.

Dasar-dasar pendidikan sudah diperkenalkan , demikian dasar-dasar adminsitrasi pemerintahan. Memang banyak postif yang belum tersentuh lagi dari perkembangan yang dibawa Belanda ini. Itu pula sebabnya, menghadapi kebutuhan saat ini yang membutuhkan sikap dan nilai dasar yang mumpuni, orang bisa berujar : Belanda di Larantuka: perubahan terlampau cepat”. Barangkali juga terlalu singkat (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here