Bukit Wokonggoro menjadi Cerita Kehidupan Sepanjang Masa (Bagian Pertama)

0
144
Sebanyak 47 siswa siswi Kelas III SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Senin, (12/4/2021) mengikuti ujian sekolah berbasis digital (USBD) dengan sarana handphone di Bukit Wokonggoro. Jaringan internet 4G dari Kabupaten Ngada. (BERANDANEGERI.COM/Markus Makur

Oleh Markus Makur

BUKIT Wokonggoro di Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi cerita kehidupan bagi 47 siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 04 Kota Komba di masa depan.

Mengapa bukit itu menjadi cerita perjuangan bagi generasi penerus Bangsa Indonesia, bagi Manggarai Timur, bagi Nusa Tenggara Timur dan bagi Desa Gunung dan beberapa desa tetangga?

Mari ikuti ceritanya. Saya coba menarasikan sesuai apa yang saya amati di bukit itu saat 47 siswa dan siswi, Senin, (12/4/2021).

Minggu malam, (11/4/2021), saya kontak Kepala Sekolah SMPN 04 Kota Komba, Fidelis Ambon. Saya ingin memperoleh informasi, apakah bukit Wokonggoro tetap dijadikan tempat untuk pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) 2021. Saya memperoleh jawaban iya, lalu saya memutuskan bahwa esok pagi, Senin, (12/4/2021) saya mau meliput USBD di bukit tersebut. Jawaban dari Kepala Sekolah, “terima kasih. Kami tunggu di bukit itu.

Saya bangun pagi Senin, (12/4/2021) jam 06.30 Wita. Sarapan pagi sudah disiapkan oleh istri saya. Ada minuman kopi pahit, kopi pait. Minuman kopi tanpa gula. Ini budaya minum kopi orang Manggarai Timur.

Selesai sarapan, saya mandi. Memakai baju serta mempersiapkan alat kerja. Saya pinjam motor tetangga. Tak lama sesudah itu saya bergegas menuju ke tempat ujian tersebut. Kurang lebih 45 menit menempuh perjalanan dari Kompleks Mabakou, Waelengga ke bukit tersebut. Saya berangkat sekitar jam 07.20 Wita.

Dari Waelengga, saya bergegas ke arah timur, melewati kampung Padarambu, Kampung Baru, Kali Waekoe, Kampung Marokima, Padang Savana Teleng.

Saya menikmati pemandangan yang indah sepanjang padang Savana Teleng. Saya menikmati suara merdu burung yang saling menyapa diantara mereka (baca burung) di kiri kanan jalan. Burung saja bisa saling menyala, saya membatin dalam perjalanan tersebut.

Setiba di Kampung Gurung, saya belok kanan di jalan rabat beton sampai di pintu gerbang sekolah. Saya berhenti di depan pintu gerbang.

Saya tidak tahu lokasi bukit tersebut. Lagi-lagi saya kontak Kepala Sekolah, bersyukur ada nada dering dan dia menyahutnya lewat sambungan kabel lunak di mobile phone. Saya tanya dimana lokasinya sebab saya sudah berada di depan pintu gerbang sekolah.

Lalu Kepala Sekolah memberikan petunjuk bahwa dari gerbang sekolah belok kiri di jalan tanah menuju ke puncak bukit. Bisa dengan motor. Sebelumnya saya dapat informasi bahwa lokasi ujiannya di bawah tenda darurat. Nah, saat di gerbang sekolah lihat ada tenda di bagian timur dari sekolah tersebut. Dalam hati saya mengungkapkan bahwa lokasi ujian ada di bawah tenda tersebut.

Perlahan-lahan, laju kendaraan roda dua melintasi jalan tanah tersebut. Saya laju terus tetapi belum dapat lokasi ujian tersebut. Lalu saya kembali ke bawah dan belok kiri di jalan tikus menuju ke tenda warna hijau. Saya parkir motor. Lalu jalan kaki menurun. Saya lihat di tenda itu tidak ada tanda-tanda bahwa anak sekolah yang sedang ujian.

Kemudian mata saya tertuju ke atas bukit dengan melihat tenda darurat warna biru. Lalu saya lihat anak sekolah dengan pakaian seragam putih hitam. Akhirnya saya balik lagi ke jalan raya. Mengendarai lagi sepeda motor ke arah bukit tersebut.

Perjuangan saya untuk menemukan bukit itu terwujud. Dari bawah jalan, saya melihat tenda darurat warna biru campur orange di bukit tersebut.

Saya parkir motor di tempat yang baik. Kemudian saya jalan kaki. Dari jauh saya melihat senyum kepala sekolah. Saya naik tangga darurat. Saya dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan. Ada satu meja dan 4 kursi. Saya tetap taat protokol kesehatan dengan memakai masker. Kami tidak salaman seperti biasanya. Kepalan tangan saling bersentuhan saja.

Dua kursi sudah ditempati Kepala Sekolah dan Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa. Kepala Sekolah dengan ramah menyapa saya dengan ucapan selamat pagi. Saya juga menjawabnya dengan selamat pagi.

Tak lama kemudian, saya minta ijin di kepala sekolah untuk mengabadi saat 47 anak sedang mengerjakan soal di handphone. Saya lihat anak-anak serius mengerjakan soal di handphone. Dua tangan anak-anak memegang handphone sambil mengerjakan soal ujian. Saya foto dan videokan peristiwa unik, langka tersebut.

Kemudian saya kembali duduk kursi. Selang beberapa menit, Ketua Panitia USBD SMPN 04, Yohanes Baeng duduk dan menyapa saya dengan ucapan yang sama, “selamat pagi”

USBD sebagai Tantangan dan Cerita Kehidupan di tengah Covid19

Kepala Sekolah SMPN 04, Fidelis Ambon mengisahkan bahwa Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) adalah sebuah tantangan di era digital sekaligus cerita kehidupan bagi lembaga pendidikan dan anak didiknya di masa akan datang.

USBD kali ini angkatan ke 11. Sekolah ini didirikan 2008 lalu. Sebelumnya dilaksanakan ujian secara manual. Tahun ini ditengah pandemi covid19, ujian menggunakan sarana digital.

Fidelis mengatakan, sekolah menyesuaikan diri dengan ujian berbasis digital. Berpikir. Berupaya dengan mencari lokasi sinyal yang daya tangkap jaringan 4G sangat kuat.

Ditengah kesulitan susah sinyal ditambahkan situasi wabah Covid19, sekolah terus mengikuti semua petunjuk dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga agar tetap melaksanakan USBD dan juga taat dengan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto didampingi Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di bukit Wokonggoro, Desa Gunung, Selasa, (13/4/2021). (BERANDANEGERI.com/Markus Makur).

Lokasi Bukit Wokonggoro, lanjut Fidelis, menjadi cerita sepanjang masa, baik oleh siswa dan siswi yang tamat tahun ini maupun oleh lembaga pendidikan SMPN 04 Kota Komba. Sebelumnya tak terbayangkan melaksanakan ujian di ruang terbuka di bukit.

“Kerja keras. Upaya tak kenal lelah dengan mencoba, mencari dan menangkap jaringan internet di bukit itu membuahkan hasil. Jaringan sinyal di bukit itu bersumber dari BTS di Kabupaten Ngada. Try out berhasil. Dan dua hari USBD juga berjalan lancar. Diharapkan USBD sampai Kamis, (15/4/2021) berjalan dengan lancar,” jelasnya.

Ketua Panitia USBD SMPN 04 Kota Komba, Yohanes Baeng menjelaskan, tuntutan di era digital dan regulasi memerintahkan ujian berbasis jaringan internet di tengah pandemi Covid19 membuat sekolah berpikir, berdiskusi untuk mencari dan menemukan solusinya. Antara regulasi dan kendala sekolah yang belum tersambung jaringan internet, listrik membuat Kepala Sekolah, guru, dan orang tua murid berjuang keras dengan berbagai upaya agar siswa dan siswi kelas III dapat melaksanakan USBD April 2021 ini.

Baeng menjelaskan, lembaga pendidikan memberikan tanggung jawab kepadanya sebagai Ketua Panitia USBD 2021. Tanggung jawab dan kepercayaan ini dilaksanakannya sepenuh hati dengan melibatkan semua guru. Saat uji coba (Try out) Maret 2021, mereka mencari sinyal di bukit Wokonggoro dengan membawa laptop. Alhasilnya, jaringan internet 4G sangat kuat di bukit. Sekolah memutuskan bahwa bukit ini menjadi tempat uji coba USBD dan pelaksanaan USBD April 2021 ini. Mereka melibatkan orang tua murid, guru dan anak sekolah untuk membangun tenda dengan ukuran 7×11 meter. Tenda ini dibagi dalam tiga ruangan. Terbuka. Tidak dipisahkan dengan dinding. Bagian luar di kiri kanan, depan belakang terbuka. Kursi dan meja secara gotong royong diangkut oleh orang tua murid, anak sekolah dan guru-guru. Sekolah juga menyiapkan mesin generator untuk cas laptop dan handphone.

Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa mengatakan, demi masa depan generasi penerus bangsa di Manggarai Timur umumnya, Desa Gunung dan desa tetangga khususnya, orang tua murid terlibat aktif untuk mensukseskan pelaksanaan USBD 2021 walaupun banyak kendala dihadapi seperti sarana internet belum memadai, komputer dan laptop di sekolah belum memadai, jaringan listrik juga belum tersambung.

Hilarius berharap bahwa Pemerintah bisa memberikan perhatian serius untuk tahun-tahun mendatang dengan melengkapi sarana penunjang bagi SMPN 04 di era digital ini. Pemerintah membuat regulasi tetapi tidak ditunjang dengan sarana yang memadai. Kiranya kali ini saja, USBD April 2021 yang melaksanakan di sebuah bukit di ruang terbuka di luar sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto berjanji memprioritaskan bantuan jaringan internet, komputer dan laptop di SMPN 04 Kota Komba di tahun 2022.

Teto sampaikan itu saat meninjau lokasi USBD dari SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021).

Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon saat meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021) memberikan motivasi kepada 47 siswa dan siswi di SMPN 04 bahwa ini sejarah langka dan unik bagi kisah perjalanan anak-anak sekolah di masa depan. Dimana, mereka melaksanakan ujian di bukit, di bawah tenda serta pinjam handphone orang tua, pulsa juga dibeli orang tua, pulsa hotspot dari guru serta bantuan pulsa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Camat Regina berpesan, jadikan peristiwa unik ini sebagai motivasi bagi 47 anak sekolah untuk meraih masa depan. Anak-anak ini calon pemimpin bagi Bangsa Indonesia, NTT dan Manggarai Timur.


Penulis adalah wartawan tinggal di Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here