Membidik B. Herry-Priyono Mengatasi Melankoli

0
165

oleh Khudori Husnan (Esais, Alumnus STF Driyarkara dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Irony is the positive name which the melancholic gives to his solitude, his asocial choices. (Susan Sontag, Under the Sign of Saturn).

Pengantar

Di akhir 2017 atau mungkin 2018, saya lupa persisnya, sambil menenteng kamera saya mendatangi kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkaa Jakarta.  Selain ada  buka puasa bersama, di sana  digelar acara tutup semester untuk Mahasiswa S2, sekaligus perayaan ulang tahun  untuk sejumlah dosen  termasuk, seingat saya, Prof. Dr.Franz Magnis Suseno, SJ, (Romo Magnis)  Prof. Dr.  Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. J. Sudarminta, SJ,   Dr. Simon Petrus Lili Tjahjadi (Romo Lili), dan Dr. B. Herry-Priyono, SJ.  (selanjutnya disebut BHP).

Berulang kali saya coba merekam gerak-gerik BHP, berkali-kali juga BHP selalu terlihat tidak nyaman,  gelisah dan berusaha menghindar.  Sikap berbeda diperlihatkan sejumlah dosen lain yang memilih cuek saat berkonfrontasi dengan kamera. Romo Lilil  bahkan tampak luwes berpose.

Tulisan ini bukan tentang hiruk-pikuk acara tutup semester, melainkan tentang bagaimana sikap seorang BHP saat berhadap-hadapan dengan lensa kamera dan dari cara BHP bersikap pada kamera itu, saya akan menguraikan  kesan-kesan saya tentang BHP.

Kreativitas di Balik Kamera

Selain mampu menghadirkan kembali masa lalu di masa kini, fotografi juga berkemampuan memasa-lalukan masa kini. Lewat bidikan juru kamera, obyek-obyek usang akan selalu dikenali di masa kini dan lewat mata juru kamera pula, obyek-obyek di masa kini, akan segera menjadi masa lalu usai dipotret.

Mengacu ke pemikiran Roland Barthes dalam Camera Lucida, melalui apa yang disebutnya sebagai ‘spektrum fotografi,’ praktik fotografi mencakup tiga unsur pokok yaitu juru kamera, penyimak, dan target. Jika perhatian kita terpusat pada juru kamera, maka kita akan berhubungan dengan suatu keahlian  dan tujuan-tujuan tertentu  dari juru kamera.

Sementara itu, jika perhatian kita arahkan pada para penyimak potret, maka kita terhubung dengan fungsi sosial dari produk fotografi  yang dapat disimak oleh  khalayak ramai. Terkakhir,  jika fokus kita adalah obyek yang dipotret, maka kita akan menemukan hubungan yang tampak  eksploitatif   antara juru kamera  dengan target yang dipotret.

Kamera, dalam pandangan sejumlah pemikir,  sering dianggap memiliki kemampuan melakukan objektifikasi secara agresif.  Susan Sontag dalam On Photography, misalnya,  menyebut kamera  sebagai  a predatory weapon,  satu unit kamera, dalam bayangan Sontag, tak ubahnya  senjata pemangsa yang mematikan. Lebih jauh, Susan Sontag   mengatakan  “Just as camera is a sublimate of the gun, to photograph someone is  sublimated murder a soft murder, appropriate to a sad, a frightened time.”

Melalui fotografi, tatapan mata juru kamera adalah jenis tatapan mata yang berkehendak melakukan obyektivikasi.  Kamera, meminjam istilah yang sedikit teknis, bisa dan biasa mereduksi subyetivitas menjadikanya sekadar obyek belaka, yang secara simbolik bisa dimiliki oleh orang lain (baca juru kamera) untuk kemudian  dimanfaatkan  sesuka hatinya.

Sementara itu,  obyektivikasi terjadi hanya ketika komunikasi, sebagai perwujudan dari subyektivitas, disangkal oleh pihak-pihak yang terlibat. Artinya,  seumpama  antara juru potret dengan target yang dipotret ada suatu hubungan timbal balik yang mesra, obyektivikasi atau penguasaan subyek atas obyek, barangkali bisa dihindari. 

Selain itu, dari kaca mata juru kamera  dan penyimak foto, sebuah foto yang bagus biasanya dihasilkan dari adanya  kesepahaman atau sikap  saling pengertian antara juru potret dan yang dipotret; Juru potret yang keren dan berpengalaman biasanya akan mengutamakan empati dan ‘rasa’  saat memotret.

Pokok perkaranya  barangkali bukan terletak pada  adanya dua kutub berlawanan yang mengatakan  di satu pihak fotografi   adalah medium bagi berlangsungnya  obyektivikasi atau dengan lain perkataan fotografi  “mematikan” kekhasan subyek, dan di pihak lain  fotografi  bisa “menghidupkan” subyek dengan cara menonjolkan kekhasan-kekhasannya, tapi, yang perlu digaris-bawahi adalah  perlunya sebuah sikap kreatif dan bertanggung jawab terhadap  fotografi.

BHP vs Kamera

Di hadapan kamera, siapapun dia, akan merasa kikuk  meski hanya berlangsung sepersekian detik. Di hadapan kamera juga,  karakter seseorang, dari sebuah pemeriksan yang terperinci, akan bisa dikenali, seperti pernah dilakukan fotografer senior Darwis Triadi saat dia mengatakan, “sudah ratusan ribu saya foto dan saya tau betul membaca wajah dari pengalaman saya dan wajah Ahok adalah jujur, tegas, dan komitmen.”

Ihwal BHP yang tampak tak nyaman dan terkesan selalu merasa terancam saat di hadapan kamera, bisa pembaca periksa pada beberapa fotonya di internet serta  di sejumlah tayangan video di YouTube dan menampilkan BHP. Di sana akan terpampang jelas bagaimana mata  BHP nyaris tak pernah menatap langsung ke arah kamera, bahkan ketika ia sedang melakukan diskusi virtual via aplikasi Zoom.

Keengganan BHP diabadikan lewat kamera pernah disinggung B. Josie Susilo Hardianto dalam tulisan berjudul  Bertekun dalam Sepi   (dalam A. Tri Nugroho dkk [ed], B. Herry Priyono Dalam Kenangan,   Ikatan Alumni STF Driyarkara, 2021, hal, 61-62). B. Jossie Susilo Hardianto mengisahkan pengalamannya saat menulis untuk rubrik Sosok koran Kompas dan dia gagal mendapat  foto diri  BHP,  hingga akhirnya visualisasi sosok  BHP, hanya  muncul dalam bentuk karikatur berdasar salah satu foto BHP.

BHP, demikian Jossie Susilo Hardianto, “tidak ingin terjebak dalam selebrasi dan menjadi selebritas.”   B. Jossie Susilo Hardianto juga menulis  BHP “ingin menyisihkan lebih banyak waktu untuk bergumul dengan buku, data, dan statistik … baginya   menghindar jauh dari sorotan lensa dan cahaya studio membuatnya lebih bebas bergumul denga isu-isu yang menjadi keprihatinannya.”

BHP  sepertinya paham  ada risiko tertentu di balik selebrasi dan menjadi selebritas yang dimediasi oleh kamera. Walhasil, ia memilih menghindar. Terlepas dari masalah selebritas dan selebrasi, yang diperantarai oleh perkakas bernama kamera, ada perkara yang lebih mendalam  di balik praktik fotografi dan BHP.

Di lembar-lembar terakhir buku  B. Herry Priyono dalam Kenangan, terdapat sejumlah foto BHP, dan dari delapan foto BHP, setidaknya hanya ada tiga foto yang menunjukkan BHP dengan wajah mengarah ke lensa kamera–itu pun saat BHP berfoto dengan sejumlah orang.

Pada foto tertanggal 14 Agustus 2014 BHP terlihat memicingkan mata, menatap ke arah kamera dengan tatapan mata  yang khas BHP, “sinis tak sinis,” meminjam istilah dari Romo Magnis, seperti tertulis juga di buku  B. Herry Priyono dalam Kenangan (Hal.  108).

Foto dari tahun 2001 di Tana Toraja. BHP berdiri seorang diri di  teras sebuah rumah besar  dengan latar belakang sebuah pemandangan alam. BHP  tak beralas kaki. Tangan kiri BHP memegang pergelangan tangan kanan dan  diletakkan di  depan  perut.

Stola putih, penanda sakramen imamat yang diterima dan dihayati BHP  sebagai seorang imam Jesuit, yang dikalungkan di leher terlihat kontras  dengan busana serba gelap yang dikenakannya.  Stola warna putih dipakai para imam  di Hari Raya Natal, Paskah,  Hari Kamis Putih, Hari Raya Orang Kudus, atau hari raya-hari raya  khusus dalam liturgi Gereja Katolik.

Wajah BHP tertunduk,  seperti sedang merenung, terlihat murung, dan  sedih.   Juru kamera membidik BHP dari samping  dan seperti biasa, tidak ada kontak mata langsung antara  BHP dengan lensa kamera. Foto sepertinya diambil secara  diam-diam. Sebuah foto yang sangat melankolis.

BHP dalam tulisan  Kangen Kepada Tuhan  (akan diulas lebih jauh di bawah) banyak bicara tentang ketegangan yang selalu membayangi posisinya yang sekaligus sebagai  ilmuwan sosial dan imam Jesuit.  Stola yang terkalung di leher terkesan  begitu berat ditanggung BHP hingga tubuh BHP pun terlihat ringkih dan menunduk. Tapi, ia  berusaha untuk tetap berdiri.

Suasana murung  di foto BHP ber-Stola menyiratkan  ketegangan antara di satu pihak sikap percaya kepada Tuhan (iman) yang harus diutamakan oleh seorang agamawan di satu pihak dan  sikap skeptis  dan kritis  khas  seorang ilmuwan  yang  selalu bekerja dengan penalaran, data, statistika, dan penelitian empirik di lain pihaknya. Kemurungan BHP di foto BHP ber-Stola bisa jadi merupakan ekspresi ketegangan antara nalar/akal budi di satu sisi dan iman kepada Tuhan di sisi lainnya.

Foto BHP ber-Stola ini sangat dramatis. Foto ini  berhasil mengungkap karakteristik BHP yang kompleks;  memiliki kepekaan tinggi, terkesan sombong,  serius, hati-hati, cerdas, tertutup, penyendiri,  keras kepala, konsisten, dan tanpa basa-basi.   

Peziarah yang Melampaui Melankoli 

 Kangen Kepada Tuhan (dalam B. Herry Priyono Dalam Kenangan hal.  313-314) adalah catatan  yang dibuat BHP sehari  sebelum BHP  menghembuskan nafas terakhir pada 21 Desember 2020 karena serangan jantung di usia 60 tahun. Romo  Magnis, salah seorang mentor penting BHP, melukiskan kabar  meninggalnya BHP yang mengejutkan banyak pihak itu dengan kalimat “seperti kilat di hari cerah.”

Catatan  Kangen Kepada Tuhan  dibuka dengan tulisan “Ya … itu terasa sebagai sebuah kekosongan yang pedih. Tapi, setelah jatuh-bangun melalui banyak krisis besar, lambat laun saya punya cara sendiri.”

Sulit untuk tidak merasakan adanya suasana melankolis  dalam  tulisan “Kangen Kepada Tuhan” yang sangat personal dari BHP ini.  “Kekosongan yang pedih,” lalu “jatuh bangun melalui banyak krisis besar,” terdengar seperti sebuah pengakuan akan adanya pergulatan batin yang dahsyat  dan  beban hidup  amat berat,  yang harus dipikul   BHP sendirian.  Seorang melankolis , demikian tulis pemikir mutakhir asal Inggris  Alain de Botton, tidak sekadar mengetahui dimensi tragis dari insight-insight  mereka tapi juga  berani menanggungnya seorang diri.

BHP menulis,  “‘Kangen Kepada Tuhan’itu juga membuat saya perlahan belajar bahwa tidak pernah ada situasi ideal. Situasi selalu situasional. Artinya, tidak permah terjadi sepenuhnya apa yang saya inginkan…”

BHP mafhum segala sesuatu yang terjadi di dunia,   tak selalu berjalan sebagaimana seharusnya seperti yang ia cita-citakan. Sebaliknya, kenyataan di sekitar BHP kerap melenceng jauh dari apa yang ia bayangkan sebagai yang ideal.  Kendati demikian, BHP juga menolak untuk menanggapi situasi  tidak beres,  bahkan cenderung brengsek  itu, dengan tindakan-tindakan ekstrim  berbalut kemarahan   yang frontal.  BHP memilih melakukan orkestrasi antara antara yang idealistis  dengan yang realistis.

Sikap BHP menunjukkan kekhasan seorang melankolis yang,  karena kecakapan dan kedalaman    wawasan keilmuannya,  mengetahui dimensi-dimensi realitas   secara jauh lebih luas  bila dibandingkan dengan  orang kebanyakan. Ia adalah seorang pembaca tanda-tanda zaman yang jempolan. 

BHP  menegaskan  “Maka mari peluk ciri terbatas situasi! Mari peluk kondisi yang selalu terbatas  ini! Peluklah ketidak-terjadinya kepenuhan ini! Yaa mari kita peluk kegembiraan hanya dengan Anugerah Kangen Kepada Tuhan” saja! Itu sudah cukup bagi saya bukan hanya untuk hidupi kondisi terbatas (karena pandemi  ini), tetapi juga untuk tetap mengalami bahwa Dia menuntun saya. Maka, saya juga dekati dengan mata batin “keterbatasan” dan ciri tidak ideal situasi, dan saya tidak kehilangan kegembiraan batin.”

BHP  yang menyebut dirinya seorang peziarah itu, dikenal luas sebagai imam Katolik dari ordo Yesuit, ilmuwan, penulis, pemikir, aktivis, dan akademisi.  Aneka penyebutan untuk BHP menyiratkan kesan BHP tidak hanya terpaku pada satu bidang kajian. Kendati demikian, BHP  bukanlah seorang  yang hanya mengetahui suatu pengetahuan sekadar dari kulit permukaannya belaka. Ia menekuni semuanya sejauh masih berada di aras refleksi kritis dan radikal khas modus berpikir filosofis.

BHP di catatannya Kangen Kepada Tuhan mennulis  Sebagai Jesuit, saya memeluk mistik hidup dalam tegangan; antara sorga dan dunia, antara kontemplasi dan aksi, antara yang tak terbatas dengan yang terbatas. Yang pertama bukan musuh yang kedua, yang kedua bukan musuh yang pertama.”

BHP  merelakan dirinya tetap terbuka   bagi berbagai diskursus, aneka  disiplin ilmu dan arus gagasan-gagasan besar. BHP tampaknya berpandangan hanya dengan cara seperti itu  dia  tetap bisa berkiprah merawat kehidupan dan membela kemanusiaan di tengah situasi-situasi yang melulu tidak ideal.

Melalui jalan “mistik hidup dalam tegangan,”  BHP terselamatkan dari kemalangan eksistensial seperti banyak dialami para melankolis   seperti salah satunya oleh  sang melankolis,   pemikir dan kritikus terkemuka Walter Benjamin, yang diyakini banyak pihak memilih mati  bunuh diri di usia 48 tahun.

Susan Sontag dalam tulisan berjudul Under the Sign of Saturn yang mengulas  karakter melankolis pemikiran dan sepak terjang  Walter Benjamin, pernah menulis begini; “Benjamin menempatkan dirinya pada persimpangan jalan (crossroads). Hal ini penting baginya untuk tetap berada di banyak ‘posisi;’ teologis, surealis/estetis, komunis. Satu posisi mengoreksi yang lain; dia  memerlukan semuanya.”

Berada di banyak posisi dan hidup dalam buaian  ketegangan, sementara Walter Benjamin  harus  tumbang dalam kemalangan di akhir hayatnya, tapi tidak demikian halnya dengan BHP  seperti saat dia  menulis “saya tetap lihat wajah Tuhan dalam tegangan itu, dan saya tetap dengar suara-Nya dalam tegangan dua kutub itu. ” Lugasnya, BHP  “tidak kehilangan kegembiraan batin.”

Orang-orang melankolis sering dikatakan terlahir  “di bawah tanda Saturnus.”   Saturnus sendiri adalah bintang terjauh yang dapat diketahui dari planet bumi. Saturnus sering diasosiasikan  dingin, bayangan, dan kematian. Tapi, Saturnus,   kata Alain de Botton, “juga berkaitan dengan kekuatan untuk menginspirasi pencapaian-pencapaian luar biasa di  bidang  pemikiran dan imajinasi.”

Ya. Kekuatan terbesar BHP adalah dalam hal  memberikan inspirasi bagi orang-orang terdekatnya. Daya inspiratorial BHP  terrekam dalam sebuah buku berjudul  B. Herry Priyono dalam Kenangan Kami  (A. Tri Nugroho dkk [ed], Ikatan Alumni STF Driyarkara, 2021).  Di buku setebal kebih dari tiga ratus halaman ini, pembaca akan menemukan begitu banyak cerita, kesaksian, insight dari berbagai pihak yang pernah berinteraksi dengan BHP; para mentor, anak didik, kolega, keluarga, dan masih banyak lagi.

Kebanyakan kontributor tulisan di buku ini mengaku sangat terkesan dengan kecerdasan BHP, sosok yang pernah menyandang predikat sebagai mahasiswa  terbaik di LSE (London School of Economics and Political Science). Mereka  merasa berhutang banyak pada BHP melalui caranya mengajar, menulis, gerak-gerik, hingga   kebiasaan-kebiasaannya di keseharian.

Tangan dingin BHP berhasil membangkitkan jiwa-jiwa yang sebelumnya “minder” menjadi sangat penuh percaya diri.  Tidak sedikit yang  nyaris tersesat dalam studi, akhirnya terselamatkan oleh sentuhan ajaib BHP. Di sini BHP tak ubahnya juru selamat.

                                 ************

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here