Serambi Soekarno: Jasmerah

0
103

 Menyingkap yang tersembunyi – Menjaga yang terlupakan

SELAIN Taman Pancasila dimana ada pohon sukun tempat Bung Karno biasa duduk merenung, dekat rumah pengasingannya di kota Ende – Flores tahun 1934-1938, saat ini ada satu tempat istimewa yang baru dibuat yakni Serambi Soekarno

Serambi Soekarno itu ada di kompleks biara Santo Yoseph milik Serikat Sabda Allah – SVD. Lokasinya berdampingan dengan Gereja Kathedral, Christo Regi, bengkel SVD percetakan Arnoldus dan Gedung Imakulata di kota Ende – flores.

 Serambi Soekarno dan Jasmerah

Menurut penjelasan Pater Henri Daros, SVD. saat kami jumpai pada soreh hari tanggal 1 Juli 2021, Serambi Soekarno baru dibangun sekitar 3 tahun yang lalu. Nama yang dipilih, Serambi Soekarno, untuk menggarisbawahi fakta sejarah kehadiran Ir. Soekarno di kompleks ini, selama masa pengasingan beliau di kota Ende – Flores.

Lukisan 3 Tokoh: P.J. Bouma, SVD, Bung Karno, P.G. Huitinjk SVD

Bangunan yang dijadikan Serambi Soekarno adalah bagian dari biara St. Yoseph, masih terjaga keasliannya sejak zaman Bung Karno hidup di tempat ini. Ada ruangan untuk sejumlah buku-buku yang berhubungan dengan aktivitas membaca Bung Karno, ada kamar Pastor J Bouma, SVD yang sering menjadi tempat baca dan menginap Bung Karno, serta tempat diskusi bersama Pater J. Bouma, SVD. Ruang perpustakaan biara tempo dulu, tempat Bung Karno menghabiskan banyak waktu membaca, sudah tiada. Di bagian teras, masih asli dengan sejumlah kursi dan meja untuk tamu dan tempat istirahat para biarawan SVD, ada tambahan ornamen berupa patung Bung Karno duduk merenung dan latar belakang lukisan besar tiga tokoh yakni Bung Karno, P. J Bouma SVD dan P. G. Huitinjk SVD. Kedekatan persahabatan ketiga tokoh ini sudah ditulis dalam buku yang dipublikasikan Penerbit Nusa Indah, dengan judul Bung Karno, Ilham dari Ende untuk Nusantara

Ada juga satu kursi dan meja yang diabadikan khusus, karena sering menjadi tempat baca dan merenung oleh Sang Putra Fajar, selama berada di kompleks ini.

Sebagaimana sharing dari Pater Henri Daros, SVD,  misionaris yang pernah berkarya di Jepang, bahwa Serambi Soekarno dimaksudkan seperti ungkapan JASMERAH dari Bung Karno. ” Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.  Kehadiran Bung Karno di kota Ende, aktivitas beliau membaca dan berdiskusi, merenung tentang nasib dan perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajah, Ideologi negara, juga spiritualitas pribadi adalah hal-hal yang diabadikan di Serambi Soekarno.

Serambi Soekarno mengingatkan generasi bangsa dan pewaris NKRI bahwa relasi penuh persahabatan Bung Karno dengan masyarakat dan budaya Lio, warga kota Ende saat itu, para tokoh adat dan agama di Ende Flores, juga secara khusus komunitas biarawan SVD di Ende Flores  adalah bagian yang istimewa dalam sejarah perjuangan Ir. Soekarno – Proklamator NKRI. Itu berarti segenap pihak di kota Ende Flores, khusunya pihak masyarakat adat budaya dan tokoh Agama sungguh menjadi bagian integral dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, nilai dan data sejarahnya diabadikan dengan menghadirkan Serambi Soekarno.

 Serambi Soekarno dan Ilham Pancasila

Selain di bawah pohon sukun dekat lapangan Perse Ende, ternyata perpustakaan SVD di biara Santo Yoseph, dan beberapa sahabat misonaris di komunitas ini adalah sumber informasi dan interaksi diskusi serta permenungan Bung Karno. Sejarah perjuangan berbagai bangsa lain untuk merdeka, teori politik sosial ekonomi dan budaya, ideologi, spiritualitas berbagai agama dan keyakinan, bentuk negara serta strategi mendirikan NKRI menjadi tema permenungan Bung Karno selama di kota Ende, khususnya di kompleks Serambi Soekarno.

Karena itu, Ilham tentang Pancasila yang digali dan kemudian dirumuskan Bung Karno adalah fakta sejarah yang hendak diabadikan di tempat ini.  Serambi Soekarno adalah salah satu lokasi dan sumber yang berperan penting dalam proses penggalian dan permenungan Bung Karno, yang akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, di depan BPUPKI dinyatakan secara tegas dengan nama Pancasila dan penjelasan isinya kelima sila itu.

Dari sisi ini, patut dicatat sisi positif dari pengasingan Ir. Soekarno oleh penjajah Belanda ke kota terpecil Ende Flores, tahun 1934-1938. Bung Karno ternyata mendapat kesempatan untuk merenung, menggali dan menemukan, serta menimba kekuatan konsep dan spirit untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Di Serambi Soekarno juga disimpan data tentang karya seni Sang Putra Fajar, yakni toneel – sandiwara, yang dipentaskan bersama grup sandiwara selama beliau di kota Ende. Isi karya sandiwara yang dibuat Bung Karno adalah semangat mengobarkan patriotisme melawan penjajah dan memerdekakan bangsa Indonesia.

Kiranya Serambi Soekarno dapat dijadikan sebuah sumber data sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan dan melahirkan NKRI, yang sekarang kita warisi; khususnya dalam hubungannya denga Sang Proklamator Bung Karno – Babo Soekarno. Terimakasih untuk keluarga besar misionaris SVD, yang telah menghadirkan Serambi Soekarno, juga semua jasa dalam perjuangan untuk bangsa dan NKRI  tercinta.

*Simply da Flores, Ende-Flores 5 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here