Jeritan Kematian Kala Pandemi

2
168

Oleh   Sindhunata

Di masa pandemi Covid-19, statistik amat berbicara. Kita suka membaca angka-angka. Tanpa kita sadari, kita terjebak pada cara membaca, yang membuat kita memahami Covid-19 itu seakan hanyalah naik turunnya kasus saja. Misalnya, data 15 Maret 2021, total kasus Covid-19 di dunia sebanyak 120.399.288, sembuh 96.944.566, meninggal 2.664.622. Di Indonesia, positif Covid-19 menembus angka 1.425.044, sembuh 1.249.947, dan meninggal 38.573.

Kita khawatir, bila angka itu naik. Dan terhibur, bila turun. Namun, benarkah bila kekhawatiran dan keterhiburan kita hanya kita gantungkan pada naik turunnya angka? Kita lupa bahwa kematian 2.664.622 di dunia dan 38.573 di Indonesia bukan sekadar angka, melainkan juga nyawa. Memang di balik sejumlah angka itu sesungguhnya ada rasa kesedihan, kehilangan, dan kekecewaan.

Kematian yang tragis

Kematian adalah kematian. Namun, jika kita melihat kematian sebagai sekadar angka, dengan serampangan kita bisa membandingkan kematian karena Covid-19 dengan kematian karena demam, serangan jantung, sakit ginjal, bahkan kecelakaan lalu lintas. Setiap tahun, kematian karena itu semuanya juga menempati statistik yang tinggi.

Anggapan macam ini membuat kita lupa bahwa kematian karena Covid-19 tak dapat dibandingkan dengan kematian lainnya. Karena bersama kematian itu terjadi peristiwa yang tidak terjadi pada kematian-kematian umumnya.

Kematian sering datang dengan lebih dini daripada yang dikira. Namun, mereka yang berpulang karena virus korona, kematian itu sungguh tragis. Karena datang tanpa dinyana, sering tanpa gejala, dan dalam waktu dekat sudah merenggut nyawanya. Kematian macam ini pasti meninggalkan kesedihan dan penderitaan luar biasa bagi mereka yang ditinggalkan. Seakan tanpa sebab apa pun, mereka tiba-tiba kehilangan orang yang tercinta.

Dokter, perawat, dan petugas kesehatan bisa tetap selamat ketika merawat pasien yang menderita sakit, misalnya kanker, jantung, atau ginjal. Tetapi dengan pasien virus korona, mereka harus merisikokan nyawanya. Akhirnya tak sedikit dari mereka ikut meregang nyawa.

Mereka yang terpapar lebih sedih lagi. Mereka terasing dari keluarganya justru di saat akhir mereka sangat membutuhkannya. Orang-orang yang bisa mendekat padanya harus pakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Mereka bahkan tak mengenali lagi, juga bila yang mengunjungi adalah keluarga terdekat.

Dan ketika kematian menjemputnya, nasibnya benar-benar merana. Tubuhnya disemprot habis-habisan dengan disinfektan. Tak diberi dandanan dan harus cepat-cepat dimakamkan. Penguburannya berlangsung sepi. Keluarga terdekatnya hanya boleh menyaksikan dari jauh. Mereka sungguh seperti orang yang terbuang dan dianggap sebagai wabah yang bisa menyebabkan penularan walau mereka sudah berpulang.

Biasanya, penguburan adalah saat di mana mereka yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir bagi yang berpulang. Saat terakhir cinta dicurahkan, maaf dimintakan, dan keluarga membisikkan pesan. Tentu saja disertai ritual keagamaan untuk mendoakan agar yang meninggal pergi dengan tenang dan yang ditinggalkan dianugerahi penghiburan.

Ini semua ditiadakan pada kematian mereka karena Covid-19. Alasannya, jangan sampai yang hidup ketularan. Itulah kematian yang tragis bagi mereka yang mati karena Covid-19.

Sudah selayaknya bahwa kematian dihiasi dengan kebahagiaan. Bahkan, mereka yang hidupnya paling nista pun layak mendapat kehormatan sebagai manusia pada saat kematiannya. Itulah yang dilakukan Ibu Theresa, perempuan suci dari Kalkuta.

Saat ia menerima hadiah Nobel tahun 1979 di Oslo, Ibu Theresa berpidato, ”Saya tak pernah lupa, bagaimana saya menemukan seorang laki-laki di jalanan. Sekujur tubuhnya dikerubungi lalat. Apa yang kelihatan bersih hanyalah wajahnya. Saya membawa orang itu ke tempat di mana kami menampung orang-orang yang mau meninggal. Inilah satu-satunya kata yang ia ucapkan, ’Saya hidup seperti binatang di jalanan, tapi sekarang saya akan mati sebagai seorang malaikat, dicinta dan dirawat’. Dan ia pun mati dengan indah. Ia berpulang ke Tuhan. Kematian tak lain adalah pulang kembali ke Tuhan. Saya merasa: Ia gembira dan bahagia karena mengalami cinta, bahwa ia dikasihi, diinginkan, dan bahwa adalah seseorang yang berarti bagi yang lain.”

Memang, menjelang ajal, siapa pun patut mengalami bahwa ia adalah manusia, yang dicinta dan dihargai sebagai manusia. Justru cinta dan penghargaan itulah yang hilang dalam kematian mereka yang terpapar Covid-19. ”Maaf, penguburan ini tak berkenaan dengan penghormatan,” inilah apologi di balik tiadanya ritual perpisahan dan keagamaan bagi mereka yang meninggal karena Covid-19.

Hal di atas kiranya adalah latar belakang mengapa terjadi kasus seperti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, belum lama ini. Ratusan sukarelawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) mendatangi DPRD Bantul. Mereka memprotes pernyataan salah seorang anggota Dewan sehubungan dengan pemakaman jenazah korban Covid-19.

Menurut para sukarelawan, anggota Dewan tersebut pernah menyatakan, pemakaman jenazah korban Covid-19 dilakukan dengan sangat tidak layak, seperti layaknya menguburkan binatang saja. Pernyataan ini jelas sangat melukai hati para sukarelawan, yang dalam segala keterbatasan telah menguburkan jenazah korban dengan ikhlas dan tulus. Syukurlah, kasus itu selesai dengan permintaan maaf dari anggota Dewan itu.

Kasus seperti di atas jelas memperlihatkan bahwa Covid-19 membawa problem tentang kematian. Seperti dikatakan oleh kolumnis dari die Zeit, Anna Mayr, Covid-19 mendorong kita untuk bicara terus mengenai turunnya angka kematian, tetapi kita tak berbicara tentang kematiannya sendiri. Kematian manusia menjadi anonim.

Di balik ketidakacuhan terhadap kematian ini bisa tersembunyi paham keselamatan liberal yang bilang, apa yang bernilai adalah keselamatanku, peduli amat dengan kematian korban, dan dukacita mereka yang ditinggalkan. Jika ketidakacuhan itu dibiarkan, kita takkan bakal bisa bersama-sama menemukan ide, bagaimana menghargai dan menghormati mereka yang telah berpulang dalam upacara ritual yang sepadan.

Lumpuhnya agama

Memudarnya upacara ritual kematian karena Covid-19 ini adalah salah satu tanda lumpuhnya kekuatan agama di era modernitas ini. Menurut filsuf Giorgio Agamben, sudah lama sebenarnya agama harus bersaing dengan kapitalisme dan ilmu pengetahuan. Berhadapan dengan pandemi ini terlihat agama terpaksa ”takluk” terhadap ilmu pengetahuan, khususnya medicine, ilmu kedokteran, dan obat-obatan.

Lewat kekuasaan politik, agama diminta tunduk pada ”ritual dan liturgi medicine”. Ini semua harus dibuat demi kesehatan dan kehidupan. Maklum, bagi medicine, kesehatan dan kehidupan adalah segala-galanya.

Begitulah, kesehatan telah menjadi berhala di era liberalisme ini. Kata Agamben, salvezza, keselamatan, telah dikurbankan demi salute, kesehatan. Ini disebabkan agama harus mengikatkan dirinya dalam sejarah, mencari keselamatan lewat sejarah. Akhirnya, apa yang ditemukan lewat sejarah ini bukan keselamatan, melainkan kesehatan. Tujuan akhir manusia adalah kesehatan. Apa pun yang di luar kesehatan—apalagi kematian—tidak lagi diperhitungkan. Itulah sebabnya manusia mengalami tiadanya lagi hubungan natural antara kehidupan dan kematian.

Diingkari atau diterima, pandemi Covid-19 ini jelas mendekatkan kembali kematian pada kehidupan. Menurut teolog Wolfgang Palaver, saat ini merupakan kesempatan agar kita tidak bersikap dingin terhadap kematian.

Dengan sikap itu, kita justru bisa menghargai kehidupan. Namun, seperti sudah ditunjukkan Agamben, kelirulah bila hidup itu kita sempitkan menjadi kesehatan. Begitu berpikir tentang kesehatan, orang mudah tergoda untuk mengutamakan kesehatannya sendiri.

Ini antara lain yang menyebabkan kita seperti sama sekali tak mempunyai kemungkinan untuk berpikir bagaimana memberi penghormatan yang layak bagi mereka yang mati karena Covid-19.

Memang, hidup tak sekadar kesehatan. Maka, Palaver setuju dengan filsuf Emmanuel Levinas yang mengatakan, menggenggam hidup demi alasan apa pun, adalah akar dari kekerasan dan peperangan. Hidup bukanlah sekadar hidup kita tetapi hidup demi dan bersama orang lain. Di sinilah letaknya kita boleh berpikir kembali tentang keselamatan, di samping atau melebihi kesehatan.

Maka, Palaver tak setuju dengan pikiran Agamben, seakan keselamatan bisa dipisahkan dari kesehatan. Keduanya tak terpisahkan dan keduanya ada di dalam sejarah. Tak mungkinlah mencari keselamatan di luar sejarah. Bila harus ditemukan dalam sejarah, keselamatan harus ada bersama kesehatan.

Namun, berbicara mengenai keselamatan, tak mungkin melupakan kematian. Dengan kematian, keselamatan itu mencapai kesempurnaannya. Kematian dalam arti inilah yang dilupakan selama pandemi. Kematian seakan hanya disebabkan terinfeksi virus belaka. Maka, ritualnya boleh diabaikan juga. Inilah kiranya yang menyakitkan hati banyak keluarga yang ditinggal orang tercinta yang mati karena virus korona ini.

Politik yang tuli

Sudah lama kita mendesak kematian sebagai bukan bagian dari politik. Sekarang ganti politik yang didesak oleh kematian, sampai gelagapan. Politik jadi kehilangan jalan menghadapi kematian yang bertubi-tubi datang. Politik dipaksa untuk takut pada kematian.

Menurut Palaver, takut akan kematian jangan diartikan hanya negatif. Takut juga meliputi respek. Jika menaruh respek terhadap kematian, politik pun akan menghasilkan tindakan-tindakan yang bertanggung jawab.

Di hadapan kematian yang demikian mengancam selama pandemi ini, politik dipaksa untuk menyadari bahwa hidup itu ternyata demikian berarti. Maka dengan menghormati kematian, politik pun pasti akan menghormati kehidupan. Karena bukan kematian melainkan hanya hiduplah yang bisa memberi orientasi, maka politik harus mencari manakah orientasi baru yang sekarang diberikan oleh hidup ini. Jika politik malas mencari orientasi baru itu, bisa terjadi akan datang lagi bahaya yang akan menerkam kita dengan kematiannya.

Pertama-tama, orientasi baru hendaklah menghapus pandangan darwinisme sosial yang secara kasar bersemboyan: yang mati biarlah mati, yang hidup biarlah hidup. Pandangan ini jelas merelakan yang lemah sebagai korban demi yang kuat. Tragis, bahwa selama pandemi ini darwinisme sosial ini sempat mengemuka justru di beberapa negara maju.

Sekali lagi tampak, seperti ditunjukkan Agamben, itulah berhala dari liberalisme yang mengukuhkan hidup dan kesehatan sebagai satu-satunya tujuan. Terbuka pula kedok dari berhala itu, karena ternyata hidup dan kesehatan yang diperjuangkannya adalah hidup dan kesehatan dari mereka yang kuat. Yang lemah dibiarkan tak terlindungi.

Di balik darwinisme sosial itu tersembunyi logika kalkulatif yang kejam. Logika demikian bisa dengan dingin berkesimpulan: bolehlah satu orang mati, jika ribuan orang diselamatkan. Secara moral, logika ini tak bisa dipertanggungjawabkan. Tak dapat diterima, bahwa manusia boleh dikorbankan, bahkan seorang saja, demi keuntungan sekian banyak orang lainnya.

Orientasi baru itu kiranya juga perlu menjauhi prinsip modernitas, yang memandang manusia itu bernilai sejauh ia berguna. Menurut sosiolog Zygmunt Bauman, prinsip ini bisa berpendapat, bahwa akhirnya manusia hanyalah sampah, bila sudah tidak ada gunanya lagi.

Karena sudah tidak berguna lagi, ia boleh dikecualikan, bahkan dibuang seperti sampah. Maklum prinsip itu berpandangan, hidup akan nyaman, bila tidak terganggu oleh mereka yang hanya menjadi beban. Dalam bahasa Agamben, kaum terbuang itu adalah homo sacer.

Di zaman dulu, homo sacer adalah kaum yang dianggap tidak berguna dan boleh dikorbankan. Di zaman ini, homo sacer adalah mereka yang tak bisa dan tak berkapasitas untuk bisa ikut dalam tata aturan demokrasi zaman modern. Karena itu, bahkan demokrasi pun diam-diam menyingkirkan mereka.

Bauman memerincikan homo sacer itu sebagai mereka yang kehilangan pekerjaan, para penganggur, dan kaum terpinggirkan. Mereka ini sudah tidak dapat berproduksi lagi karena itu mereka terbelit dengan problem finansial. Akibatnya, mereka juga tidak bisa menjadi konsumen yang ideal.

Mereka ini kehilangan suaranya. Akibatnya, mereka pasti akan tercampakkan dari proses demokrasi. Demokrasi mengandaikan warga yang bisa mengurusi dan menentukan nasibnya sendiri. Sementara kaum ini justru harus diurusi karena tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maka, bila digampangkan, politik dengan mudah menganggap mereka pengganggu bagi demokrasi.

Banyak yang keliru dalam modernitas di zaman ini. Sudah lama orang tidak mau keluar dari kekeliruan itu. Dengan jeritan kematiannya, pandemi Covid-19 memaksa kita untuk meluruskan lagi jalan yang keliru itu. Jeritan ini tak boleh kita diamkan karena jeritan itu tidak hanya menggugat, tetapi juga memberi kesempatan bagi kita untuk memikirkan kembali kehidupan.

Jeritan itu meneriakkan kematian itu sakral. Bila kita rela untuk kembali mensakralkan kematian, kehidupan juga akan kita sucikan. Maksudnya, kematian menghendaki kita untuk tidak bermain-main dengan kehidupan dan menyempitkan kehidupan hanya sebagai kesehatan belaka. Kehidupan adalah keselamatan, bukan bagi diri kita sendiri, melainkan juga demi sekian banyak manusia lainnya.

Di negeri ini, pandemi juga telah mendekatkan kita pada kematian. Politik kita pun sempat dibuat bingung dalam menghadapi kematian itu. Sayangnya, politik kita seakan menutup telinga terhadap jeritannya. Pesan utama kematian, yakni kehidupan itu bernilai, maka hargailah kehidupan dan jadikan kehidupan itu keselamatan.

Kita lupa akan pesan kematian itu. Politik tetap kita dangkalkan dengan remeh temeh persoalan yang tak kunjung padam. Politik kita jadikan arena pertikaian, perebutan kebenaran, yang kita sajikan lewat hujatan dan kebohongan.

Hiruk-pikuk politik yang dangkal, menjemukan dan menjengkelkan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah yang ditinggalkan pandemi dan harus kita urusi: pengangguran, hilangnya kesempatan kerja, kemiskinan, dan sekian banyak warga yang mendadak terpinggirkan.

Demokrasi kita tak boleh mengabaikan warga yang tiba-tiba-tiba menjadi homo sacer itu. Sayangnya, demokrasi kita malah menjadi ajang para elite politik untuk berebut kekuasaan, dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri. Elite itu menggembar-gemborkan antiliberalisme, tetapi sebenarnya mereka malah telah memeluk sikap liberal itu sendiri. Sikap liberal itu tak lain adalah kesombongan dan pamrih untuk mencari enaknya sendiri.

Rasanya, politik kita sungguh menyia-nyiakan jeritan kematian sekian banyak warga yang telah terenggut nyawanya karena pandemi ini. Kita seakan tidak berutang apa-apa pada mereka. Padahal, utang itu baru bisa kita bayar, bila kita mau menjalankan politik yang menghargai kehidupan. Dan itu kita baru benar-benar akan terwujudkan, bila politik mau membela dan memperjuangkan mereka yang hidupnya lemah dan terancam.

Orang Jawa mempunyai ajaran tentang mati sajroning urip, rela mati dalam hidup ini. Siapa mau mempraktikkan ajaran itu, ia akan menjadi arif dan bijak dalam kehidupan ini. Di sanalah kita diajar untuk tidak memutlakkan hidup kita sendiri, dan mau kehilangan sebagian hidup kita demi hidup orang lain. Pandemi telah mempertajam kebenaran ajaran itu. Bila mau peduli dengan kebenaran itu, politik kita pasti akan menjadi lebih arif dan bijaksana.

Sayang, politik kita tetap membandel dengan lagak-lagunya yang lama, seakan kematian di tengah pandemi ini tak menuntut apa-apa. Tak kelihatan sedikit pun manakah orientasi baru, yang harus kita temukan secara bersama-sama untuk menghadapi masa depan setelah pandemi mengancamkan kematiannya pada kita sekarang. Rupanya, politik kita juga tak juga mau menjadi arif kendati mendengar jeritan kematian di tengah pandemi ini.

———————————————————————————

*Sindhunata, Wartawan, Penanggung Jawab Majalah Basis, Yogyakarta

 

*Sumber Tulisan Kompas, Sabtu 20 Maret 2021

 

 

 

2 COMMENTS

  1. Ulasan yang holistik, tajam dan dalam sangat bagus untuk mengarahkan pola pikir, pola tindakan dan orientasi hidup baru di era pandemi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here