Pendidikan Penopang Masa Depan Anak-Anak

0
630
Foto dari Google

 

Cicilia Damayanti,  Dosen FMIPA Universtas Indraprasta PGRI

 

Pendahuluan

 PENDIDIKAN yang ada di Indonesia saat ini masih terpaku oleh sistem yang kaku. Sistem ini mengajar murid untuk meniru dan menghafal semua materi yang diajarkan oleh gurunya. Seorang anak dibentuk sedemikian rupa tanpa memperhatikan apa yang menjadi minat mereka yang sesungguhnya. Mereka semua diseragamkan pola pikirnya. Apabila anak mempunyai pendapat yang berbeda, pendapat mereka biasanya dianggap salah atau diabaikan. Sebab tidak sesuai dengan yang dijelaskan oleh gurunya di kelas. Seperti rengekan anak ini, “Ma, aku sekolah di luar negri aja ya, abis di kelas aku nggak boleh nanya sama Bu Guru”. Anak ini kecewa  karena dia tidak boleh bertanya – kritis – di kelasnya. Padahal dia ingin membandingkan penjelasan gurunya itu dengan yang diketahui melalui sumber lain yang didapatnya.

Bila keadaan ini tidak segera diantisipasi bukannya tidak mungkin kelak anak didik kita akan menjadi anak yang pasif, kreatifitasnya terhambat, dan menjadi robot yang hanya dapat mengikuti petunjuk yang telah tersedia. Tulisan ini mencoba untuk memberikan gambaran mengapa pendidikan kita harus mulai dibenahi agar dapat berkembang menjadi lebih baik, sehingga setiap anak Indonesia akan tertarik untuk belajar di negrinya sendiri dan tidak memilih sekolah di luar negri. Artikel ini menggunakan metode analisis teks berdasarkan buku-buku tentang pendidikan yang ditulis oleh para ahli dalam bidang pendidikan.

Permasalah dalam Dunia Pendidikan

Sewaktu mengikuti Seminar Temu Dosen Katolik dengan tema Amalkan Pancasila: “Panggilan Cendekiawan Katolik Dalam Mewujudkan Keadilan dan Keadaban” yang diselenggarakan pada 18 November 2017 di Gedung Karya Sosial KAJ, saya mendapat informasi bahwa jumlah perguruan tinggi di Indonesia berjumlah lebih dari 4000, baik negeri maupun swasta. Dengan penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 200 juta orang, membuat rasionya tidak seimbang dengan jumlah peserta didik. Hal ini membuat banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba untuk mendapatkan peserta didik agar memilih tempat mereka. Efek dari hal ini adalah banyak lembaga pendidikan yang ada lebih mementingkan jumlah peserta didik yang masuk. Mengapa? Tindakan ini untuk memenuhi persyaratan kuota dari Mendikbudristek agar tidak ditutup atau disatukan dengan lembaga pendidikan yang lain. Tantangan yang terjadi selanjutnya adalah kehadiran peserta didik lebih dijadikan sebagai komoditi bisnis, dan kurang memanusiakan mereka. Dalam sebuah lembaga pendidikan, yang terjadi adalah peserta didik adalah klien yang harus diikuti segala keinginan dan kemauannya. Target lembaga pendidikan tertuju kepada jumlah peserta didik yang banyak daripada meningkatkan mutu lulusannya. Lembaga pendidikan jatuh pada ladang bisnis dan kurang menjadikan tempat pendidikan yang memanusiakan manusia. Banyak lembaga pendidikan yang sudah tidak memiliki jiwa mendidik. Hal ini ternyata tidak saja terjadi di Indonesia, bahkan di Amerika kekhawatiran bahwa beberapa universitas tidak memiliki semangat mendidik pun juga terjadi (Palmer, ParkerJ., 2010:3). Banyak dari peserta didik yang memilih untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi hanya karena ikut teman mereka.  Terkadang agar mereka mempunyai status dalam masyaraka, sehingga tidak dicap sebagai pengangguran. Hal ini membuat mereka lebih mementingkan untuk mendapatkan selembar ijazah dibandingkan untuk mendapatkan ilmu. Bagaimana dengan nasib anak-anak yang baru pertama kali mengecap bangku sekolah?

Anak dan Seluk Beluknya

 Sebelum kita membicarakan tentang pendidikan, lebih baik kita memulai untuk memahami anak terlebih dahulu. Anak, menurut Mangunwijaya, sebagaimana dikutip dari Jean Jacques Rousseau, adalah seorang dewasa mini (Mangunwijaya. 1999:102). Akan tetapi Seto Mulyadi, sebagaimana dikutip dari Sindhunata, berpendapat lain. Menurutnya, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran mini. Anak-anak pada hakekatnya memiliki keunikan yang khas. Mereka memiliki dunianya sendiri yang harus dilihat melalui kacamatanya. Sebab, pandangan anak-anak berbeda dari orang dewasa (Sindhunata, ed. 2000: 86). Terutama dalam menilai sesuatu hal yang terjadi dalam hidup anak-anak. Banyak hal yang belum mereka mengerti, yang masih menjadi samar-samar, sehingga tak jarang mereka masih percaya pada tahayul, seperti hantu, peri, dan malaikat, yang bagi orang dewasa tidak masuk akal.

Dalam masa pertumbuhannya, seorang anak perlu dipahami bakat dan minatnya dengan baik. Hal ini bertujuan agar kelak pendidikan mereka dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Anak-anak pada hakekatnya adalah manusia yang sedang tumbuh dan belajar sesuai dengan kapasitasnya. Memahami anak adalah memahami dunia mereka seperti:

Dunia bermain, seorang anak akan rajin belajar, mendengarkan keterangan guru, atau melakukan pekerjaan rumahnya apabila belajar adalah suasana yang menyenangkan dan menumbuhkan tantangan.

Berkembang, selain tumbuh secara fisik, mereka juga berkembang secara kejiwaan. Dengan memahami bahwa anak berkembang, kita akan tetap tenang bersikap dengan tepat menghadapi berbagai gejala yang mungkin muncul pada setiap tahap perkembangan tersebut.

Senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah dengan cara meniru. Dengan demikian, orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku kreatif dan bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru.

Kreatif, anak-anak pada dasarnya sangat kreatif, misalnya rasa ingin tahu yang besar, imajinasi yang tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi resiko, bebas dalam berpikir, senang akan hal-hal baru, dan sebagainya (Sindhunata, ed. 2000: 87).

Dengan memahami anak dengan baik, kita diharapkan mampu membimbing dan mengajarkan mereka ke arah yang lebih baik dan sesuai dengan pikirannya. Pikiran sebagai anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Hal ini untuk mempersiapkan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Memberikan kepada mereka kesempatan untuk dapat melatih nalar kritis, memberi kebebasan untuk berkreatifitas, dan mengajarkan kemandirian, sehingga tidak selalu tergantung kepada orang dewasa. Dengan memberikan kepercayaan kepada anak-anak, kita telah melatih mereka untuk dapat bertanggung jawab atas pilihan sendir sesuai dengan keinginannya. Kita, sebagai orang dewasa, hanya dapat mengarahkan mereka agar tidak salah jalan. Pendidikan bagaimana yang sesuai untuk anak-anak?

Pendidikan yang Mendukung Anak-Anak

 Ketika seorang anak mulai memasuki usia sekolah, setiap orang tua pasti akan mulai memikirkan untuk mencarikan sekolah dengan mutu pendidikan yang baik. Namun kesulitan yang muncul adalah pendidikan seperti apa yang baik itu? Apakah yang memiliki program ekstrakurikuler yang banyak? Apakah yang lengkap fasilitasnya? Apakah yang pengajarnya lulusan luar negri? Atau sekolah yang bonafid dan terkenal?

Pendidikan yang diharapkan, menurut Paulo Freire, adalah pendidikan yang membuat manusia berani membicarakan masalah-masalah lingkungan dan turun tangan dalam lingkungan tersebut. Pendidikan yang mampu memperingatkan manusia dari bahaya-bahaya zama. Dan pendidikan yang memberikan kepercayaan dan kekuatan untuk menghadapi bahaya-bahaya tersebut. Jadi bukan pendidikan yang menjadikan akal anak-anak menyerah patuh pada keputusan-keputusan orang lain. Dengan mengajak mereka terus menerus melakukan penilaian kembali, menganalisis “penemuan-penemuan”, menggunakan metode-metode dan proses-proses ilmu pengetahuan, dan melihat diri sendiri dalam hubungan dialektis dengan realitas sosial. Pendidikan seperti ini yang dapat menolong anak-anak untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia, dan dengan demikian mampu mengubahnya (Freire. 1984: 34). Ariel Heryanto, sebagaimana dikutip dari Sindhunata, mengatakan bahwa pendidikan merupakan hal-hal yang bersifat nilai, budaya dan etika, serta hal-hal yang bersifat materi, kelembagaan, kebendaan, serta duniawi (Sindhunata, 2000: 39). Purwa Hadiwardoyo, seperti dikutip dari Sindhunata, menyoroti pendidikan dari segi humanisasi. Menurutnya, karena kekhasan manusia terutama terletak pada adanya perasaan, akal, hati nurani dan kemampuan beriman pada dirinya, maka pendidikan atau humanisasi haruslah menyentuh segi-segi yang khas pada manusia. Pendidikan tidaklah bermanfaat bila tidak meningkatkan kemampuan-kemampuan yang khas pada manusia tersebut (Sindhunata, 2000: 81)  Sementara itu B. Suprapto Brotosiswojo menyoroti pendidikan dari sudut alam dan teknologi. Menurutnya, kita lebih banyak menyampaikan informasi pengetahuan tentang alam ini. Padahal tumbuhnya teknologi itu terjadi karena adanya kegiatan budaya yang digerakan oleh sikap ingin tahu tentang alam tempat hidup kita. Dan upaya untuk memanfaatkannya dengan cara searif mungkin (Sindhunata, 2000: 97). Sedangkan Conny Semiawan melihat dari sudut anak didik sendiri, yang menjadi subyek pendidikan. Di mana secara legal sistem pendidikan dilandasi oleh suatu filsafat pendidikan yang mendalam, melalui keunikan tiap pribadi. Artinya keragaman, martabat, serta perbedaan nilai dalam pertumbuhan anak Indonesia secara implisit mengandung peluang untuk mewujudkan asas eksploratif. Dan kecenderungan kreatif dalam seluruh proses tumbuh kembangnya (Sindhunata, ed. 2000: 20).

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pendidikan yang menunjang merupakan pendidikan bagi si peserta didik itu sendiri. Di mana pendidikan harus dapat membuat murid menjadi kritis, mampu untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Pendidikan yang melihat anak sebagai pribadi unik. Dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada dalam diri mereka, juga perlu ditambahkan perlunya pendidikan yang memperhatikan alam. Tidak hanya mengeksploitasi, tetapi perlu memperhatikan kelestarian alam sebagai tempat hidup. Kemudian mulai menanamkan dalam diri anak semangat untuk melestarikan alam melalui materi-materi pelajaran yang diberikan. Hal ini membantu mereka mendapatkan pengetahuan cukup tentang alam sekitar, sehingga mampu menjaga dan menciptakan keharmonisan di alam sekitarnya.

Mengapa Harus Pendidikan Dasar

 Menyoroti pendidikan, hal yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah pendidikan dasar, yang menjadi dasar (sokoguru) bagi pendidikan selanjutnya. Mangunwijaya  mengatakan, kalau dasarnya keropos, atasnya pasti keropos (Mangunwijaya. 1999:85). Dasar yang baik menjadi tempat pijakan kuat untuk pendidikan selanjutnya. Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk memperbaiki sistem pendidikan dasar. Apalagi sistem KB yang berhasil membuat rencana perbaikan ini semakin mudah untuk dijalankan. Sebab anak usia sekolah dasar semakin sedikit dan guru yang tersedia cukup banyak (Mangunwijaya. 1999:21).

Bagi Mangunwijaya, anak-anak membutuhkan tuntunan dan bimbingan dari orang dewasa. Mereka belum dapat dilepas bebas begitu saja, tetapi juga tidak boleh terlalu dikekang. Untuk itu diperlukan suatu dialektika antara pemberian kemerdekaan dan disiplin, serta pembinaan. Pengarahan yang tepat untuk anak-anak secara implisit sudah terungkap dalam kearifan tradisional Jawa: mendidik selalu melewati ajrih-asih (Mangunwijaya. 1999:103). Disiplin seperti apa yang harus diterapkan? Alex Lanur berpendapat bahwa hanya bila disiplin diri menjadi kebiasaan untuk melakukan secara teratur hal-hal yang secara objektif baik, dan menghindarkan hal-hal yang secara objektif jahat, maka kejasmanian manusia dapat diselaraskan dengan tuntutan dan tuntunan jiwanya (Sindhunata, ed. 2000: 87). Karenanya pendidikan budi pekerti sebaiknya dikembalikan ke dalam kurikulum pendidikan. Hal ini penting, sebab, diharapkan pendidikan budi pekerti menjadi penyaring dan menjadi ajaran moral bagi perkembangan jiwa anak didik, sehingga sopan santun tetap terjaga dan  mampu menyaring tindakan yang patut ditiru dan yang tidak. Hal ini untuk menghasilkan perbuatan baik untuk tindakan mereka.

Selain budi pekerti perlu juga dikembangkan pendidikan yang dapat membuat mereka kreatif dalam mencipta. Pendidikan yang memberi kebebasan bagi mereka untuk berimajinasi, menumbuhkan rasa percaya diri. Dan dapat membentuk pandangan bahwa berbeda bukanlah berarti aneh atau salah. Walaupun berbeda mereka tetap berharga, bahkan perbedaan itulah yang membuat hidup semakin beragam dan kaya. Di samping itu juga perlu mendidik mereka untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang diambil (Sindhunata, ed. 2000: 89). Freire juga menyarankan untuk membuat pendidikan menjadi tempat untuk membuat anak-anak semakin mampu menghadapi problem-problem mereka – akrab dengan problem-problem tersebut – berorientasi kepada penelitian-penelitian, tidak hanya menghafal. Suatu pendidikan yang berbentuk “saya ingin tahu” dan tidak sekedar “saya taat berbuat” (Freire. 1984: 37).

Setiap anak harus mulai diajak untuk berpikir kritis dan tidak hanya patuh pada kata pendidiknya saja. Mereka sebaiknya diajarkan untuk mencari sendiri jawaban kreatif dari setiap persoalan yang  dihadapi. Di samping itu metode menghafal dapat dihilangkan. Mereka perlu memahami materi yang disampaikan, dan mulai ditekankan pada diri mereka untuk memahami pelajaran dan mengerti maksudnya, sehingga tidak untuk mengejar nilai yang tinggi dengan menghalalkan segala cara (baca: menyontek). Sebab dengan paham diharapkan si anak mampu untuk mencari sendiri jawaban dari setiap persoalan melalui media apa saja. Sehingga tidak selalu terpaku pada kata guru saja atau dari buku-buku pegangan sekolah. Andi Hakim Nasution menyarankan untuk mulai diadakan pelatihan bagi murid untuk mencari keterangan dari buku, majalah, atau surat kabar, yang menjadi sumber rujukan dalam menyimpulkan suatu pendapat. Namun tidak perlu sama dengan apa yang dikemukakan oleh buku, majalah, atau surat kabar (Sindhunata, ed. 2000: 165). Dengan melakukan hal tersebut, anak diharapkan dapat meluaskan wawasannya dan tidak hanya berpegang pada satu sumber saja.

Sudah saatnya kita memulai membangun sistem pendidikan yang demokratis, sehingga anak didik juga mampu mengembangkan daya nalarnya. Dan membuat mereka berpikir sendiri. Tidak hanya dengan memasukan bahan atau materi-materi terus menerus, melainkan mulai diajak untuk mencari sendiri jawaban dari persoalan yang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk mengeluarkan isi pikiran yang terkandung dalam diri mereka. Hal ini menjadikan mereka mandiri dan tangguh dalam memecahkan masalahnya sendiri. Kita diharapkan dapat menjadi bidan – seperti pandangan Sokrates – yang membantu proses pengeluaran pikiran anak-anak. Membuat mereka kritis dan berpikir sendiri. Namun bila mereka sudah kesulitan dan sudah mentok, barulah tangan dingin orang dewasa dapat membantu dalam proses dialog yang terbuka (Freire. 1984: 118). Sehingga  anak-anak tetap dapat menjadi diri mereka sendiri. Anak-anak yang mandiri dan tidak tergantung kepada orang dewasa.

Memperbaiki Kerja Para Pendidik

 Membicarakan tentang pendidikan tidak dapat terlepas dari si pendidik yang mengajarkan anak-anak di sekolah. Saat di sekolah, anak akan bertemu dengan teman-temannya dan gurunya. Guru adalah seseorang di mana anak-anak dapat belajar darinya. Untuk memperoleh ilmu, dan pengganti orang tua saat ada di sekolah. Apa yang  harus dilakukan pendidik agar pendidikan dapat berjalan dengan bpul?

Karlina Supelli, seperti dikutip dari Sindhunata, mengatakan bahwa dalam tradisi lisan, otoritas pemegang pengetahuan muncul dari hubungan antara guru dan murid. Antara pemegang “akses ke kebenaran serta moralitas” dan mereka yang mendengarkan dengan tekun. Seorang murid mencapai kebijaksanaan yang asali dengan cara menghormati otoritas yang ada dalam diri gurunya. Otoritas diri yang tumbuh melalui pematangan pengetahuan, bukan yang dicapai dengan membaca pemahaman orang lain (Sindhunata, ed. 2000: 129). Conny  Semiawan juga menambahkan pengamatan menunjukkan bahwa para pendidik di kelas adalah aktor utama. Fungsi edukatifnya terutama berkenaan dengan menyajikan, menjelaskan, menganalisis, dan mempertanggungjawabkan body of material yang harus diajarkan. Peserta didik secara dominan bersikap pasif. Mereka mendengarkan dan membuat catatan tentang penjelasan para pendidik. Terutama saat belajar dalam kelas. Ekspresi tertentu berbentuk pertanyaan atau komentar dibatasi atau bahkan sering dihambat. Terjadi deteorisasi dalam mengembangkan tulisan tangan atas dasar pikirannya sendiri, karena yang menjadi kebiasaan adalah fotokopi dari diktat atau buku teks (Sindhunata, ed. 2000: 21). Di samping itu Alex Lanur juga menambahkan bahwa anak sebagai peserta didik adalah subjek dan bukan sekedar objek pendidikan. Istilah “peserta didik” sendiri mau menyatakan bahwa dalam pendidikan itu terjadi komunikasi dua arah. Bukan hanya pihak yang mendidik (guru) yang aktif dan menentukan, tetapi juga pihak yang dididik (murid). Pola pendidikan yang berorientasi pada program dan tidak berorientasi pada anak-anak, mengandung bahaya verbalisme dan pencetakan manusia robot (Sindhunata, ed. 2000: 192).

Seorang pendidik bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak di sekolah. Sudah menjadi tugas guru untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar anak-anak. Dengan menjadikan mereka kritis dan dapat mengembangkan imajinasinya. Para pendidik adalah yang memegang kekuasaan dalam kelas. Mereka yang membentuk  pola berpikir anak-anak. Namun hal ini sering menjadikan mereka menjadi seorang diktator yang berkuasa penuh terhadap diri anak-anak. Anak-anak harus patuh dan taat pada perintah mereka. Anak-anak dipaksa untuk mengikuti pelajaran yang belum tentu menjadi minatnya. Kalau ingin mengembangkan bakat dan mintanya, anak-anak dapat mengikutinya dengan cara les atau kursus di luar. Sekolah hanya menyediakan dan melanjutkan program-program pendidikan yang sudah ada secara turun temurun. Bagi para guru yang penting adalah menyelesaikan materi pelajaran tepat pada waktunya. Tanpa menghiraukan apakah anak-anak paham atau tidak dengan pelajarannya. Banyak murid yang menjadi diam sehabis diterangkan (baca: diajar) oleh gurunya. Selain itu banyak guru yang hanya terpaku pada buku-buku yang menjadi pegangan di kelas saja. Mereka – yang mungkin karena kesibukannya – kurang mencari informasi lain (misalnya dengan membaca buku dari sumber yang lain), sehingga bila ada murid yang bertanya melampaui pengetahuan gurunya, mereka akan menganggap para murid yang bertanya itu aneh dan tidak serius dalam belajar. Bahkan kadang anak tersebut dimarahi guru yang tidak bisa menjawab pertanyaannya itu. Mereka bahkan dipermalukan di depan kelas, sehingga mereka berpikir untuk apa bertanya kalau gurunya tidak bisa menjawab. Mereka akan terkena getahnya: dipermalukan di depan teman-temannya dalam kelas. Murid tidak dirangsang guru agar bertanya-tanya karena guru tidak siap menjawab pertanyaan muridnya (Sindhunata, ed. 2000: 164).

Pada akhirnya pendidikan yang dijalankan adalah pendidikan yang tertuju kepada program dan bukan untuk anak-anak. Maka tidak heran ketika Seto Mulyadi mengatakan bahwa begitu anak masuk ke sekolah dasar, kreatifitas anak justru semakin menurun. Hal ini sering disebabkan karena pelajaran di sekolah dasar terlalu menekankan pada cara berpikir konvergen, sementara cara berpikir divergen kurang dirangsang. Kepada mereka tetaplah perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya secara “liar”. Dibuka peluang bagi munculnya alternatif jawaban yang kreatif (Sindhunata,  2000: 87). Ada baiknya bila kita mengikuti nasihat Freire yang mengatakan bahwa kita harus membersihkan pendidikan dari kecenderungan verbal. Dari tiadanya kepercayaan terhadap murid dan kemampuan untuk berdiskusi, bekerja dan mencipta (Freire. 1984: 38). Inilah saatnya bagi kita untuk mulai memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk dapat menjadi diri mereka sendiri, untuk dapat berpikir kritis, dan untuk dapat menjadi apa yang mereka inginkan. Kita hanya dapat mengarahkan mereka untuk berbuat baik, bukan menjadi penguasa bagi mereka. Tut wuri handayani, demikian Ki Hajar memberi nasihat bagi orang tua, terutama para pendidik.

Melalui buku-buku yang ditulis oleh Nel Noddings, saya melihat perlunya rasa empati dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan karakter. Selain itu perlu memberikan pembekalan bagi para pendidik untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembentukan moral anak-didi. Bagi Noddings, pendidik yang tidak mengajar pendidikan moral tetap dapat menyelipkan pesan moral dalam proses mendidik dalam kelas. Contohnya guru matematika dapat memasukkan pesan moral lewat pemikiran Descartes dan Pascal saat mengajar (Noddings 2002, 33-34).

Dalam pelajaran matematika para murid dapat diajak untuk menganalisa pernyataan Descartes tentang keberadaan Tuhan. Jika ternyata pernyataan itu salah, apakah ini berarti Tuhan tidak pernah ada? Kemudian ajukan pendekatan alternative dari Pascal. Pascal, penemu tentang probabilitas dan teori permainan, berkata bahwa kita perlu untuk bertaruh tentang keberadaan Tuhan. Jika kita bertaruh bahwa Tuhan ada dalam hidup kita, dan jika Tuhan tidak ada, apa yang kita peroleh dalam hidup? Jika Tuhan tidak ada, apa kerugiannya? Kisah seperti ini dapat memperkaya pemahaman para murid di kelas matematika. Dan membantu mereka untuk merasa tidak sendirian dalam perjuangan yang tidak nyata.

Lewat teknik bercerita yang menarik, para peserta didik dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu mereka akan mendapat pesan moral bagi perkembangan karakternya. Untuk itu diperlukan bahasa sebagai sarana berkomunikasi yang baik. Dalam proses belajar, bahasa merupakan komponen penting dalam berkomunikasi dan memperoleh ilmu. Kita tidak bisa mengelak bahwa dalam percakapan sehari-hari bahasa negatif sering terlontar, contoh: jangan menyontek! Tanpa kita sadari penggunaan bahasa negatif ini menguatkan persepsi peserta didik dan menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Ketika pendidik berkata jangan atau tidak boleh, sebenarnya maksud dari bahasa itu adalah untuk tidak dikerjakan. Akan tetapi yang ditangkap oleh peserta didik adalah rasa penasaran. Mengapa tindakan ini tidak boleh dilakukan? Untuk menjawab rasa penasaran itu, mereka malah tertantang melakukannya. Bahasa negatif perlu dikurangi dan mengubahnya menjadi bahasa positif. Contoh daripada mengatakan “kita tidak bisa melakukan hal itu”, bisa diubah menjadi “itu memang menantang, tapi mari kita coba kerjakan dahulu”. Selain itu kita juga bisa mengubah menjadi pertanyaan. Contoh: daripada mengatakan “kita tidak boleh melakukan hal yang terlarang”, bisa dirubah menjadi “Hmm. Ini memang menantang untuk dikerjakan, tapi apakah nanti tidak akan menimbulkan konflik dengan pimpinan kalau tetap dikerjakan?”. (http://effectivecommunicationadvice.com/negative-language)

Membicarakan pendidikan selalu menjadi topik yang menarik untuk kita. Apalagi saat ini pemerintah sendiri mencanangkan pendidikan dasar dua belas tahun. Namun sebelum kita merombak program-program pendidikan yang ada, sebaiknya dibenahi dulu Pendidikan para guru. Mereka, sebagai pemegang otoritas di kelas, harus mulai diberdayakan dan ditambah wawasannya. Apalagi mengingat kemajuan teknologi yang semakin cepat membuat informasi yang di dapat pun semakin cepat. Sebaiknya pemerintah mulai memperhatikan kesejahteraan para guru, mulai menaikkan gajinya, diberi kemudahan dan fasilitas yang lengkap untuk menambah wawasannya, misalnya di sekolah-sekolah – terutama sekolah negri – disediakan jaringan internet yang stabil sehingga memudahkan mereka surfing di internet, untuk menambah wawasan. Mereka dapat mencari informasi terbaru yang penting untuk pendidikan. Mengikutsertakan para guru dalam seminar-seminar tentang pendidikan. Akan lebih baik diadakan studi banding  ke luar negri bagi para guru. Sehingga mereka memiliki cara pandang yang baru dalam mengajar para murid. Dan bukan hanya para pejabat-pejabat yang duduk negara saja yang studi banding ke luar negri. Sehingga bila kita ingin memulai perubahan sistem dan kurikulum, sebaiknya dimulai dari mempersiapkan para pendidiknya terlebih dulu (Sindhunata, ed. 2000: 172).

Penutup

 Pendidikan sebagai bagian dari kehidupan manusia tidak akan pernah lekang oleh waktu. Dalam hidup manusia ada proses yang tidak akan pernah berhenti, yakni belajar. Belajar di sini bisa lewat pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal dilakukan dalam suatu lembaga resmi yang diakui oleh negara: sekolah. Terdiri dari sekolah negeri atau sekolah swasta. Setelah selesai pendidikan formal kita akan mendapatkan surat, yang biasa disebut ijazah. Surat ini dapat dipakai untuk keperluan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, mencari pekerjaan, atau untuk mendapatkan posisi yang lebih baik di pekerjaan. Sedangkan pendidikan informal dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang tidak langsung di bawah otoritas negara tetapi tetap diakui keberadaannya, seperti lembaga kursus. Setelah lulus dari pendidikan informal bisa mendapatkan sertifikat. Tetapi sertifikat tidak resmi seperti ijazah, melainkan hanya sebagai surat penunjang. Bahwa kita memiliki ketrampilan tertentu. Melalui dua bentuk pendidikan ini, kita dapat belajar dan bertemu dengan orang lain dan berkomunikasi, serta berbagi. Ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ada komunikasi, ada pertukaran informasi, dan dari situ ada proses transfer ilmu. Proses belajar juga melibatkan kemampuan seseorang untuk bisa berpikir kritis terhadap setiap informasi yang didapatkannya. Selain itu ada proses belajar formal, di mana seseorang dituntut untuk terlibat aktif dalam suatu lembaga belajar, baik lembaga belajar milik pemerintah atau swasta.

Menghadapi bonus demografi penduduk(bonus demografi adalah bonus yang dinikmati suatu Negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif, rentang usia15-64 tahun, dalam evolusi kependudukan yang dialaminya, https://www.kompasiana.com/andhinirosari/5a2e2c4acf01b4574160ed32/bonus-demografi-dan-dampak-terhadap-indonesia#), yang akan terjadi di Indonesia sekitar tahun 2020-2030, pemerintah, sebagai agen perubahan, diharapkan mampu mempersiapkan sumber daya manusia  agar menjadi manusia yang berkualitas baik. Bagaimana caranya? Cara terbaik yang   dapat dilaksanakan adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, para founding fathers mencetuskan tentang mencerdaskan kehidupan Bangsa. Namun pendidikan yang ada di bangsa ini terlihat seperti jalan di tempat, kalau tidak ingin dikatakan menurun. Apalagi bila dibandingkan dengan pendidikan di negara tetangga, seolah terlihat tertinggal jauh. Hal ini bisa dilihat dari tingginya angka lulusan anak-anak setingkat menengah keatas dan perguruan tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan mutu kualitas lulusannya. Juga adanya penyebaran berita bohong dimedia sosial belakangan ini. Mudahnya akses teknologi informasi dewasa ini, efek dari kemajuan globalisasi, membuat anak-anak milenial dengan mudah mengakses informasi lewat internet. Kekhawatiran yang terjadi adalah apakah anak-anak ini mampu menyaring informasi dengan baik? Mampukah mereka berpikir kritis dan mencari kebenaran dari sumber informasi yang didapat? Di sinilah pendidikan, melalui tenaga pendidiknya yang berkualitas mendidik dan bukan semata mengajar, sangat dibutuhkan. Pendidikan pertama harus memperhatikan tenaga pendidiknya terlebih dahulu. Dalam hal ini pemerintah harus memberikan pelatihan dan pembekalan bagi tenaga pendidik.

Dalam memperbaiki sistem pendidikan, kita sebaiknya mulai dari membenahi sistem pendidikan dasar, yang menjadi landasan bagi pendidikan selanjutnya. Pandangan tentang pendidikan harus mulai diubah, bahwa pada kenyataannya kita semua harus dapat mengikuti zaman. Dimulai dengan membuat cetak biru Pendidikan yang terpusat pads manusia (Sindhunata. 2000: 25).  Dimulai dengan membuat kurikulumnya, terutama disesuaikan dengan kebutuhan faktual anak-anak. Menjadikan sekolah tempat yang menyenangkan untuk belajar dan berbagi bersama kawan-kawan dan guru-guru. Freire jauh sebelumnya sudah mengingatkan bahwa dalam proses belajar, orang yang sungguh-sungguh belajar hanyalah  yang paham dengan yang dipelajarinya. Mereka dapat menerapkan apa yang dipelajarinya kepada situasi eksistensial konkret (Freire. 1984: 73). Karena itu proses belajar tidak lagi hanya menjadi proses pengalihan pengetahuan dari guru kepada murid semata. Namun menjadi proses yang dapat mendukung dan mengembangkan bakat dan minat anak-anak yang dapat digunakan untuk kehidupan nyata mereka.

Hal mendesak yang perlu diantisipasi adalah tidak menjadikan sistem pendidikan menjadi ajang bisnis. Sebab bila sekolah-sekolah sudah tidak murni lagi tujuannya, yaitu untuk mendidik, hal ini dapat menghambat kemajuan anak didik yang cerdas tetapi tidak mampu untuk membayar uang sekolah. Dewasa ini sekolah-sekolah bonafid – biasa disebut sekolah plus – yang terkenal bagus mutu pendidikannya sangat mahal biayanya. Bahkan di Jakarta sudah ada sekolah yang bekerja sama dengan luar negri, biasanya mereka juga mengimport guru-gurunya Sekolah-sekolah terbaik ini sangat mahal biayanya sehingga hanya orang-orang yang mampu saja yang dapat menyekolahkan anaknya di sana. Lalu bagaimana dengan masa depan anak-anak cerdas tetapi tidak mampu untuk membayar SPP? Anak-anak jalanan yang putus sekolah? Bagaimana masa depan bangsa ini kalau sekian juta anak-anaknya tidak memiliki pendidikan yang cukup karena tidak punya biaya untuk sekolah?

Sudah saatnya pemerintah mulai memikirkan tentang pendidikan, mulai menyediakan anggaran yang cukup untuk memperbaiki sistem pendidikan kita. Jangan subsidi yang ada  lebih banyak digunakan untuk membeli peralatan perang dan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Pemerintah perlu membuat perubahan dalam sitem pendidikan. Namun diharapkan agar sistem pendidikan itu adalah sistem pendidikan yang lebih berorientasi kepada peserta didik, subyek pendidikan itu sendiri. Tidak berganti sistem pendidikan bila mentri pendidikannya juga berubah. Sebab biasanya bila ganti mentri (pendidikan) biasanya sistem pendidikan yang ada juga akan berubah sesuai dengan kebijakan mentri yang baru. Hal ini dapat membuat kacau program-program pendidikan dari mentri yang lama, yang telah mempersiapkan program-program tersebut namun belum sempat dilaksanakan karena mentrinya terlanjur diganti dengan yang baru dan tentunya juga sudah memiliki program yang baru pula. Ada baiknya bagi mentri yang baru untuk melanjutkan program lama, tetapi perlu juga dipilah agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Yang tak kalah penting adalah juga memperhatikan nasib anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu atau kekurangan biaya untuk sekolah. Nasib anak-anak ini perlu diperhatikan juga karena mereka adalah warga negara Indonesia yang berhak untuk mendapat kesempatan belajar yang sama seperti anak-anak Indonesia lainnya yang lebih mampu. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat program beasiswa bagi anak-anak yang tidak mampu dan putus sekolah. Akhirnya bila semua anak Indonesia dapat kesempatan untuk belajar, maka masa depan bangsa ini dapat semakin maju karena semua anak-anak dapat mengenyam pendidikan yang layak sehingga dapat membangun bangsa dan dapat bersaing dengan dunia luar yang kian maju peradabannya. Mari kita bersama-sama  membangun Indonesia yang lebih baik dengan mulai memajukan pendidikannya dengan mengutamakan pendidikan yang berorientasi kepada peserta didik.

 

*****************************************

 

Daftar Pustaka:

Freire, Paulo (1984). Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan, Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Mangunwijaya, Y. B. (1999). Saya Ingin Membayar Hutang Kepada Rakyat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Noddings, Nel. (2002). Educating Moral People: A Caring Alternative To Character Education. New York: Teachers Collage Press.

Parker J. Palmer and Arthur Zajonc with Megan Scribner. (2010). The Heart of Higher Education: A Call To Renewal, San Francisco: Jossey-Bass.

Sindhunata, ed. (2000). Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita: Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

——– (2000). Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Pustaka Online:

http://effectivecommunicationadvice.com/negative-language, diunduh pada 20-5-2018, 6:20PM, Jakarta-Indonesia.

https://www.kompasiana.com/andhinirosari/5a2e2c4acf01b4574160ed32/bonus-demografi-dan-dampak-terhadap-indonesia#, Bonus Demografi dan Dampak Terhadap Indonesia, oleh Andhini Rosari, diunduh 23 Mei 2018, 6:22PM, Jakarta-Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here