“Ajarkan Aku” – “Elok Dunia dan Aku” – “Tinggal Elegi” – “Perihal Pandang” – “Gitaris Angkringan”, Sajak-sajak G Dimitri

0
56
Foto; -Pahlawan dan Bambu Runcing- dari google

 

AJARKAN AKU

Ajarkan aku rasa sakit, ya pahlawan
Terputar di benakku banyak adegan
Engkau melawan senjata api dengan bambu yang diruncingkan
Tiada keluhan
Melawan bajingan

Ajarkan aku bau anyir darah, ya pahlawan
Ketika tertembus tubuhmu
Jiwa dan raga jadi bulan-bulanan
Tiada ampun
Melawan gempuran

Ajarkan aku rasa duka, ya pahlawan
Ketika kawan seperjuanganmu berguguran
Mayat bergelimpangan
Tiada batu nisan
Hanya isak tangis dan gigi gemertakan

Tangerang, 12 Juli 2020

————————————————-

ELOK DUNIA DAN AKU

Terang…
Tinta biru melawan api
Cakrawala terbelalak
Sejuta kelabu menyembunyikan sang raja
Melukis lembaran dunia
Dan aku terpaku

Beku…
Penguasa hari mengamuk
Bayangan diri terhilang
Terbakarlah semua yang kasat mata
Denting jam telah terhenti
Dan aku terdiam

Senja…
Secercah cahaya mengecup wajahnya
Malaikat pun iri akan senyumnya
Rintik lembut membelainya
Penghancur ini pengecut
Berderai berlian dari matanya
Dan aku tertunduk

Gelap…
Melodi yang tak berwujud
Dewi perak menangis
Jatuh cinta dengan yang membutakan
Membelai bumi menghukum diri
Dan aku tidak peduli

Sunyi…
Tatapan tanpa arti
Langkah pelan membawa rindu
Rembulan masih setia
Menjaga yang meninggalkannya
Dan aku tersujud malu

Apa daya acap kukatakan
Ribuan menit tak lagi acuh padaku lagi
Masih layakkah aku?
Membakar waktu cuma-cuma
Sebersit penyesalan sia-sia
Masih bisa layakkah aku?

Hancur degup jantungku
Kepingan-kepingan bodoh yang terbuang
Para saksi bisu pernah mencintaiku
Terbuai dengan gemerlap manusia
Aku tidak layak dikasihi mereka
Tidak seharusnya dilindungi mereka

Sisa-sisa butir kepercayaan
Terbawa arus kesepian
Apakah masih ada kesempatan?
Percik api tarian terakhir
Tinggalkan aku mengais debu
Selamanya kelayakan telah meninggalkan aku

Tangerang, 21 April 2018

———————————————-

TINGGAL ELEGI

Malam itu gusar
Malam itu penuh derak
Riak kolam mengiringi sejuta kematian
Para ikan pun berfirasat sama
Ingin mengikutimu ke alam baka

Satu purnama lalu
Kau genggam erat tanganku
Satu kemarau lalu
Kau merekam sebuah lagu
Helaan karya terakhirmu

Gundah itu terlalu sederhana
Debur biru di relung renjana
Mencari ke mana engkau berkelana
Jauh dari pandangan mata
Hanya terlihat kaku di kapel gereja

Swastamita kelabu
Yang membawa engkau berlalu
Tataplah resahku
Sebersit cemburu
Dari tempat yang belum bisa kutuju

Agar jiwaku jelita
Semua yang baik adanya
Dalam naungan cakrawala
Suatu saat akan tiba
Tunggu aku di sana

Yogyakarta, 4 September 2021

—————————————————–

PERIHAL PANDANG

Aku bukan periang
Bukan manis gula biang
Malah mental pecundang
Dengan hati yang gersang
Mata abu cemerlang

Angkasa dan bintang
Segala perasaan di antara bujur lintang
Datang tanpa bilang
Sayang tanpa ancang
Membuatku mabuk kepalang

Namun memang
Begini kalau akal sehat ditentang
Jantung kering kerontang
Diajak perang
Detak acak berdentang

Kepada si penumpang
Kupercayakan parang dan pedang
Silakan dipegang
Dan ketika tragedi tayang
Kuberdoa aku tidak kau serang

Tangerang, 20 September 2020

—————————————————

GITARIS ANGKRINGAN

Gitaris angkringan
Demi sepeser seribuan
Tatap-tatapan
Duga-dugaan
Yang bicara hanya mataku, tuan

Tangan gemetaran
Demi sedikit berkenalan
Di bawah rinai hujan
Namun tiadalah yang instan
Yang membuatku senyum dirimu, tuan

Tangerang, 13 Juni 2020

———————————————————–

Tentang Penulis

G Dimitri, lahir dengan nama Eugenia Kusumo di
Tangerang, 10 Desember 2001. Mengawali
pendidikan sekolah dasar di Sekolah Mentari
Bangsa di mana dia mulai mengasah bakatnya
dalam menulis berbagai puisi dan cerpen.
Menginjak jenjang sekolah menengah pertama di
Sekolah Terpadu Pahoa, ia memenangkan juara
kedua lomba menulis puisi yang diadakan di
sekolah dengan puisinya yang berjudul “Ungkapan
Terakhir”. Sempat berhenti menulis karena sibuk
di jenjang sekolah menengah atas yang ia tempuh
di UPH College dan Bina Insan Kamil. Pernah
mengikuti Kelas Menulis Puisi Online dan
dibimbing langsung oleh Muhammad Asqalani eNeSTe. Karya puisi dan
cerpennya pernah dibukukan dalam beberapa antologi bersama yang antara lain
berjudul “Pelangi Tak Pernah Datang Sebelum Hujan”, “Misteri Rasa dari Isyarat
Semesta”, “Menjadi Sajak dan Jarak”, dan lain-lain. Saat ini menempuh
pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma Fakultas Sastra dengan program
studi Sastra Inggris. Bercita-cita menjadi penulis profesional dan juga ingin
berkiprah di dunia seni peran. Kesibukan saat ini selain kuliah adalah bekerja
secara freelance sebagai seorang penerjemah dan juru tulis, dan juga menulis puisi
di waktu luang.
Eugene bisa dijumpai di Instagram-nya @offcialeugenek dan Instagram khusus
karyanya @xgdimitri, serta dapat melalui email ke
dimitri.eugene2001@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here