Puisi Helena Lose Beraf
Hai, Rosalina
Kita tak pernah bertemu dan saling kenal,
tapi sejak namamu ramai disebutkan di media sosial,
aku mengenalmu.
Kamu; guru yang menolak segala bentuk kemapanan.
Berani mengabdikan diri di tempat jauh terpencil; Papua.
Sebuah keberanian yang tak pernah ada dalam diriku.
Aku membayangkan dirimu,
tiap pagi memekarkan senyum
menunggu anak-anak itu
menenteng noken di pundaknya mencari sekolah.
Dirimu tentu sudah sering
mengamati matahari yang gemetar,
menatap lingkar bulan di mata bocah-bocah itu,
ketika khidmat memberi hormat saat upacara bendera
di tanah yang katanya sudah merdeka
Atau adakah kisah
hari terakhir bocah petani miskin
berada di sekolah,
sebab tak cukup biaya untuk melanjutkannya.
Ditulisnya cita-cita di selembar kertas,
lalu ia kubur di pekarangan belakang sekolah
lalu pulang dengan membawa cangkul
menyusul bapaknya di kebun mencari buah pinang
Dear Rosalina,
benarkah bahwa di sana
negeri yang katanya kaya raya itu;
tidur di atas emas-berenang di atas minyak
telah mengaburkan nasib anak-anak itu
dan sejarah lupa pada nama-nama penguasa
yang dimakan sumpahsetelah kesaksian
dan kosong bangku-bangku sekolah
yang tak mencatat apa-apa ?
Rosalina, adakah bocah-bocah itu bicara:
aku lelah bercita-cita. Apa mereka nyata?
Atau sekadar biodata di buku tulis.
Rosalina, ketika melihat tubuhmu tak bernyawa
dalam kantong jenazah
dan digotong orang -orang keluar dari kampung itu
aku mengumpat dalam hatiku
bagaimana bisa, sekian tahun
kau ajarkan anak-anak itu berhitung,
mengenal huruf, menulis dan mencintai buku.
Sekian tahun kau sanggup hidup terpisah dari keluarga.
Kau abdikan raga, hati, pikiran dan waktumu
demi sebuah kemerdekaan.
Kemerdekaan yang katanya sejak dalam pikiran. Kemerdekaan untuk menjadi
manusia berakhlak dan budi pekerti luhur. Hari ini tubuhmu kembali ke pangkuan lewotana,
pulanglah Rosalina. Pulang pada palung ina yang menunggumu dengan tangan terbuka.
Sesungguhnya engkau lahir untuk hal besar;
membuka mata banyak orang
bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Guru diserang – dibunuh,
tak seperti ketika Hirosima-Nagasaki dibom,
Kaisar Hirohito menanyakan jumlah guru yang tersisa. Menandakan betapa pentingnya peran guru dalam pembangunan bangsa.
Esok setelah kau tiada,
mungkinkah bocah-bocah itu akan mencarimu, Rosalina.
Guru mereka yang terbunuh atas nama kemerdekaan.
Percayalah, setelah semua ini berlalu
akan ada satu dari mereka yang berkata
“karena kau yang mengajariku membaca dan menulis,
maka kutulislah kau; “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”.




