– Rindu Klaten – Putus – Esensi Cinta – Dentang Keduabelas -, Sajak-sajak Faustina Hanna

0
131
Ilustrasi Gambar Oleh: Alexandra Georgina Celestine

 

Rindu Klaten

   : Live In SMU Bunda Hati Kudus, 2004

Setumpuk cahaya kunang-kunang membentuk telapak tangan seorang gadis kecil. Ketiga garis utama di telapak tangannya itu membentangkan jalan; menuju lahan persawahan, menuju api pengkhotbah santo antonius padua yang tiada pernah padam, dan menuju cangkir-cangkir bening tempat bulan berendam di atap rumah penduduk.

Aku menyusutkan diri, hendak bertualang di sepanjang garis tangan yang bercabang. Kurindu hingga kuresapi bau matahari yang itu, yang hangatnya mengasihi rerumputan, gembala bebek di tepi sawah, pengairan yang diusahakan bapak. Petikan gitar malam hari, anjing-anjing hitam bergantian mendengkur dan terjaga di tepi lapangan bola.

Kurindu, berkali-kali ingin kembali.

2017

——————————————————————

Putus

pada saat seorang perempuan memutuskan untuk menghapus, atau pun memelihara sebuah perapian cinta; saya rasa dasar dari cinta itu sendiri tetaplah tentang suatu keindahan. semacam getar, serupa bola mata biru besar yang tengah membidik, diam-diam. pada detak polos jarum jam yang basah bermain hujan, di atas telapak tangan seorang perempuan berambut lurus panjang. bersiagalah, sebab jantung yang nakal senang menjalarkan permainan berburu anak-anak tangga yang sedemikian kencang, ke sepanjang nadi, juga tentang jarum nasib yang tak pernah lupa menghujani telapak tangan mereka (ketika mereka merasa begitu genting dengan arus cinta).

lalu dapat kupastikan: kau bakal rela menerima dan menyambut terbuka kedatanganku, yang tidak terlampau dini ini, yang mungkin diriku sendiri telah telanjur amat menyukai pisau pengerat arus, yang kubeli seminggu lalu ini, juga pemberhentian hatimu yang selalu sembarang dan tiba-tiba

2012

———————————————————————

Esensi Cinta

kumohon, jangan pernah terlintas sepagi ini akan secangkir gurauan, ketika aku berucap sedemikian lembut pada-Mu; aku telah memangkas sembilan puluh sembilan malam berkantung api −ari api− dengan hutan kirmizi yang berkecamuk di dalamnya, yang rimbun bertarung sebagai calon pengantinku. kala itu pastilah aku tengah telaten mengasuh harum dari gaharu, hingga dupa. sepenuhnya, aku berjanji takkan pernah sembunyi seperti simpul bibir pada akar-akar lupa. tahukah Engkau? (aku selalu mencari-cari Engkau…)

lalu aku mengunci pintu dari dalam −kulepaskan sepasang mata ini, hati tunggal yang penurut, serta kutegur tegas napas-napas jernih yang masih sibuk menggerai rambut. melalui jendela kamar kuterbangkannya (satu per satu) kepada-Mu Yang MahaKudus di atas sana. ke tempat indah yang begitu mulia, dan rahasia.

sepagi ini, ya Tuhan… (alam adalah simbol diri yang akrab untuk memulai hari). mentari pun rembulan senantiasa meneruskan kandung musim dari kidung-kidung sahaja yang telah Kau pilih. izinkanlah aku: untuk selalu menjadi satu malam klimis yang bersimpuh dalam hening kasih-Mu, abadi cinta-Mu

2012

———————————————————————

Dentang  Keduabelas
: kerinduan kepada penyairku

/masihkah ingat dengan rambut hitam ini, tempat kau biasa membaringkan sajaksajakmu/

satu…
satu…
dan satu yang kemudian menjagai bulibuli pada dasar sepi

lalang berpatahan
surut dalam mimpinya melengkapi langit, serupa setumpuk nasib antre untuk dimasak di benua sendiri
jika harum tanah terlebih aku damba dibanding kepundan yang rapi berdandan
akankah merah menjadi penghibur bagi kesekian jariku yang berduri

jangan dulu memejam hai nisannisan yang letih tertawa
masih ada darah dan duka mengumandangkan nama kita
tidakkah kamu lihat
tatkala aku menuju kamu
menagih luka itu

di antara dangkal ruparupanya ada yang terlupa
adalah detik bersuara melantunkan duka yang kedua
sayang, dengarlah
kala kita urung bermuara, kemudian sekiranya kita hadir bagai lencana pada sepanjang dada imaji yang merekah

lidah puisi karam menuju tilam yang kusebut kusam
tersebab ada jarak teramat pekat ~menyangsikan sepenuhnya bintik purnama yang merindui genggaman alam
: masihkah kita berkutat dengan skema hati yang terbengkalai di tahuntahun silam?

mengapa tiada lelah kita merangkum malam menjadi beranda kata yang sungkan
sedang gunting diam dibungkam rembulan
dan inti setiap patahan kepalang diungsikan dengan isak tangis di lembar tertua
: segala ketajaman masih mencari air mata yang baru
di mana kembara tak hendak bercerita tentang pulau sendu yang menimangi anakanak randu

sekadar mengulum suatu kepastian untuk laut jemu yang kau sajikan kemarau lalu
aku memunguti bebutiran birunya ~sederhana dari lingkar kesabaran yang kau biarkan terbengkalai
kini kurangkai berbekal hati,
kujadikan mata pagi yang sungguh berhatihati
(memandangimu di seberang sana)

sebelum mentari segera merapat dan cemburu kepada dua tiga baris suara sederhana
ada baiknya kita menyusun agenda tentang setiap perjalanan rasa, meski tak sempat terbaca
kita bukan sejarah yang menghadirkan langit biar terkenang
atau rindu berulang tengah dikubur di ladangladang usang
hanyalah penghuni sementara -menumpuk di pelabuhan hujan-

hujan… ya, hujan masih saja dibentuk dari gerimis syair yang gerutu
belum lagi angkaangka terencana tengah menggandakan jeruji mati di atas jam yang berdiri
; kau membuatku mengantarkan dentang keduabelas kepada inspirasi sunyi

03/2012

============================================

 

  Tentang  Penulis

Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival), Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto.

Beberapa sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Kutukan Negeri Rantau (Forum Sastra Bumi Pertiwi, 2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (UmaHaju Publisher, 2012), Kursi Tanpa Takhta (Writing Revolution, 2012), Berbagi Kasih (Penerbit Sahabat Kata, 2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan (Penerbit Jendela Sastra Indonesia, 2020). Turut bergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG).

Menjuarai lomba penulisan puisi, di antaranya: Juara 3 Sajak TKI (UmaHaju Publisher, 2012), Juara Harapan 1 “Ekspresikan Dirimu dengan Puisi” (Writing Revolution, 2012). Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here