– Serupa Raga – Setapak Jalan – Tentang Ayah -, Sajak-sajak Marcelina Sri Rezeky

0
21
Foto ilustrasi dari google

 

Serupa  Raga

Mendasar pada raga yang rapuh
cahaya menilik menatap pedih,
sang penyair pun menyanjung perih
merangkul luka yang tergeletak terpisah
tak sakit pun tak sedih.

Pada malam hari, sang khalik
menarik busur takdir yang larik,
melirik pada empunya syair
agar menjadi suci bak musafir
dan menjadi pengembara sampai akhir.

Lalu datang si kupu malam
menyibak sutera , menjamu si teman malam
agar tak perlu lagi menjadi sendok emas
pada kisah nya yang tak terbalas,
melekang dan tak diingat sang makam
yang setia menunggu , si penjamu kelam.

Tentang menggerutu pada napas,
penyair pun menyulam sutera
untuk layak ditunangkan dengan luka
dan pada akhir nya takdir berbicara jua,
bertemu di ujung penantian hidup sang pemula
sebagaimana ditulis pada pasir dupa
tak mendalam, tak tertanam, abadi pun memikat, segan.
Bersama lonceng gereja kehidupan
berkumandang syair pelipur lara.

Yogyakarta, 9 Oktober 2021.

————————————————————–

Setapak  Jalan

Setapak jalan menuju senja
telusur bak nadi pada raga,
meluap rasa untuk tuan tanah
yang terpatri penuh dengan bunga.
Kicauan burung gagak
menjadi pengiring suara napas Ibu Pertiwi,
menutup mata yang berpeluh darah
untuk sekedar membuka mata
dari cahaya dahulu kala.

Rahim bumi bergejolak riuh
pada senja yang berujung hilang,
yang menjadi berita alam semesta
untuk tuan dan nyonya berjaga-jaga.
Terlepas dari gurau keras,
angin datang membawa kabar
ke penjuru tanah berantah
hingga yang lenyap pun bergema
untuk bersua dengan kehidupan.

Hijau nan indah pemandangan,
sejauh mata tak ada cela pun yang nampak
dari pelukan hangat sang kuasa.
Pesan berbintang terukir indah di langit
untuk menyambut malam penuh sunyi
agar tertidur lelap semua alam semesta
sehingga yang tabu pun tumbang
tumbuh hijau bersama hujan.

Yogyakarta, 30 Oktober 2021.

——————————————————————————-

Tentang   Ayah

Aku tak pandai bercakap dan bertanya tentang keadaan mu,
apakah kamu baik-baik saja, Ayah?
Waktu berjalan terlalu cepat, aku tak bisa
menyamakan langkah ku bersama nya.
Ayah bertambah tua, tak bisakah kau hentikan waktu, agar aku bisa
menua bersama mu.

Ayah tak banyak bicara, namun tatapannya menyirat begitu banyak kisah,
kisah yang tak ingin diceritakan pada putrinya,
tentang rasa sakit yang dipoles dengan senyuman ramahnya.
Ayah pandai menyimpan cerita, seolah seperti awan putih yang bersih dan indah,
namun menopang kesedihan yang telah mendarah daging.

Suara ayah terdengar gembira di seberang sana,
seperti kopi manis kesukaan nya,
hitam pekat nan manis ketika di seduh.
Ayah pun selalu punya banyak cerita,
tentang keluarga, tentang kampung, dan tentang rindu
pada anak perempuan nya yang tersirat dalam setiap kata yang diucapkan.

Anak perempuannya hanya mendengar dalam diam,
meresapi setiap kata dan mengunci setiap alunan suara
dalam kotak memori yang akan selalu di putar setiap malam sebelum tidur.
Ayah tak pandai bicara, hanya bergurau melepas penat,
mengisyaratkan kerinduan pada sang anak,
yang jauh dari pelukkanya.

Ayah pun selalu berdoa dalam diam,
untuk putri nya yang di tanah rantau,
semoga Tuhan selalu menjaga nya.
Doa ayah pun tak panjang,
karena dia percaya bahwa hatinya
telah banyak berbicara kepda Tuhan dalam diam.
Dalam diam dan sunyinya malam,
diselipkannnya kerinduan pada langit,
berharap agar bintang dan bulan
menghibur putri nya,
berharap putrinya cepat pulang ke rumah.

Yogyakarta, 9 September 202

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

BIODATA  PENULIS

Nama : Marchelina Sri Rezeky
Email : marchelinasrirezeky@gmail.com
Status: Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Fakultas SASTRA, Prodi Sastra Inggris (
2018)
Asal : Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here