• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Prospek Detoks Digital sebagai Pertobatan Menuju Interaksi Sosial yang Humanis

by Redaksi
April 6, 2025
in OPINI
2
Prospek Detoks Digital sebagai Pertobatan Menuju Interaksi Sosial yang Humanis

Foto Ilusrasi dari Thinkstock

0
SHARES
481
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Dr. Don Bosco Doho, MM., CET., C.Ht

 

Pendahuluan

Di era digital yang semakin canggih, smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Teknologi ini memungkinkan kita untuk terhubung dengan dunia dalam hitungan detik, mengakses informasi tanpa batas, dan menjalankan berbagai aktivitas secara efisien. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada harga yang harus dibayar: kelelahan mental, kecanduan media sosial, hilangnya privasi, hingga merenggangnya hubungan sosial yang autentik.

Fenomena Gen Z di Amerika Serikat yang mulai meninggalkan smartphone dan beralih ke featured phone (ponsel fitur sederhana) menunjukkan tren baru yang menarik: “detoks digital.” Mereka mencari cara untuk kembali ke interaksi sosial yang lebih humanis, di mana kehadiran fisik dan komunikasi langsung lebih diutamakan daripada eksistensi virtual. Lalu, apakah fenomena ini mungkin melanda Gen Z Indonesia? Apa prospeknya bagi generasi muda di negara kita yang masih sangat bergantung pada teknologi?

Rasanya apa yang dialami oleh Gen Z di Negeri Paman Sam butuh waktu yang lama didukung oleh good will Pemerintah dalam hal ini Kementerian/Lembaga terkait agar keinginan untuk kembali menjalani interaksi sosial yang khas manusia dapat terwujud. Ada kegamangan memperlakukan smartphone sebagai berhala baru di kalangan generasi muda khususya Gen Z dan Generasi Alfa. Mengapa Gen Z di Amerika seperti dilansir CNBC Indonesia tiba-tiba mengalami kejenuhan terhadap smartphone. Mungkin kehadiran smartphone memuat Gen Z terus-menerus terhubung dengan dunia digital tanpa henti. Artinya sejak bangun tidur, hingga tidur kembali Gen Z selalu terkoneksi dengan perangkat digital mereka.

Apa benar keinginan untuk detox digital semata-mata datang dari kesadaran mereka sendiri bahwa telah terjadi dampak negatif seperti kecanduan media soaial dan gangguan kesehatan mental? Jika itu datang dari pikiran dan kesadaran mereka sendiri, maka baiknya kita telusuri bagaimana kesadaran itu muncul menjadi sebuah kesadaran kolektif. Andaikata ada pranata sosial atau otoritas atau public figure yang menginisiasi niat baik tersebut, boleh kita berguru agar kita bisa memulai dari lingkungan kita, dari jumlah terkecil, dan sekarang.

Sebagai pengamat dan pegiat literasi digital di Kemeterian Komunikasi dan Informasi (sekarang Komunikasi dan Digital/Komdigi) dalam dua tahun belakangan ini, rasanya apa yang terjadi di Amerika masih butuh effort yang panjang, masif dan terstruktur. Apa argumentasinya?

Di Indonesia hingga detik ini, smartphone bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol status sosial. Bagi Gen Z Indonesia, memiliki smartphone canggih sering kali dianggap penting untuk menunjukkan eksistensi diri, baik secara pribadi maupun di media sosial. Itulah sebabnya smartphone kebanyakan Gen Z lebih keren dibandingkan dengan yang dimiliki orangtua mereka.

Suka atau tidak suka kita perlu menyikapi teori dampak negatif overload teknologi. Terjadi

semacam kecanduan media sosial dan mental health. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health (2017), media sosial dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri, terutama di kalangan anak muda. Penggunaan berlebihan media sosial sering kali membuat individu terjebak dalam perbandingan sosial (social comparison ), yang dapat merusak kesejahteraan psikologis.

Untuk konteks Indonesia, survei oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (2022) menunjukkan bahwa 93% Gen Z aktif menggunakan media sosial setiap hari. Hal ini menunjukkan potensi risiko besar terhadap kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik.

Di sisi lain, telah terjadi erosi hubungan sosial autentik. Karena secara teoretikal, Social Presence Theory (Short et al., 1976) menjelaskan bahwa teknologi dapat mengubah cara manusia berinteraksi. Meskipun teknologi memungkinkan komunikasi jarak jauh, interaksi virtual sering kali kurang personal dibandingkan pertemuan tatap muka. Akibatnya, hubungan sosial menjadi lebih dangkal dan kurang bermakna.

Fenomena ini terlihat di Indonesia, di mana banyak anak muda lebih nyaman berkomunikasi melalui pesan instan atau media sosial daripada bertemu langsung. Ini berpotensi merusak nilai-nilai humanisme dalam interaksi sosial.

 

Mungkinkah Gen Z Indonesia mengalami Detoks Digital?

Di tengah keprihatinan yang mendalam tentang dampak smartphone bagi kehidupan manusia uda Indonesia, masih ada harapan baru karena masih adanya orang-orang yang berkehendak baik melestarikan aspek humanisme dalam interaksi sosial. Sebab sebaik-baiknya keakraban yang terbangun berkat bantuan teknologi, tetap lebih baik dan lebih manusiawi, lebih humanis bila menjalaninya dengan sentuhan langsung (personal touch, direct touch). Jika demikian maka, digital detoks dapat menjadi solusi.

Konsep digital detox atau detoks digital adalah proses sengaja mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan teknologi digital untuk sementara waktu. Tujuannya adalah untuk mengembalikan keseimbangan hidup, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki kualitas interaksi sosial. Studi oleh University of Pennsylvania (2018) menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan media sosial selama tiga jam per hari dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kebahagiaan individu.

Ada tanda-tanda perubahan. Beberapa anak muda mulai menyadari dampak buruk dari penggunaan smartphone berlebihan, seperti kehilangan waktu produktif atau merasa tertekan oleh ekspektasi media sosial. Jika tren ini terus berkembang, tidak menutup kemungkinan sebagian Gen Z Indonesia akan mencari cara untuk “detoks digital.”

 

Contoh Kasus di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, beberapa anggota Gen Z mulai beralih ke featured phone karena mereka merasa smartphone telah mengambil alih hidup mereka. Misalnya, seorang mahasiswa bernama Emma (dilaporkan oleh The New York Times , 2023) mengaku bahwa setelah beralih ke ponsel sederhana, dia merasa lebih fokus pada studi, lebih produktif, dan lebih mampu menjalin hubungan dengan teman-temannya secara langsung.

Selain itu, gerakan minimalism (minimalisme digital) juga semakin populer di kalangan anak muda Amerika. Mereka mulai menghapus aplikasi media sosial, membatasi waktu layar, dan lebih memilih aktivitas offline seperti membaca buku, berolahraga, atau berkumpul dengan teman.

 

Prospek di Indonesia

Hingga kini, masaih tetap ada kesadaran akan dampak negatif smartphone. Di Indonesia, kesadaran akan dampak negatif penggunaan smartphone sudah mulai tumbuh. Beberapa influencer dan akademisi mulai mengampanyekan gaya hidup minimalis digital. Sebagai contoh, seorang content creator bernama Nadya Karima (2022) membagikan pengalamannya melakukan detoks digital selama satu bulan dan merasakan peningkatan signifikan dalam produktivitas dan kualitas tidur.

Kita memang sedang dalam tantangan budaya dan ekonomi. Ada tantangan besar bagi Gen Z Indonesia untuk sepenuhnya beralih ke featured phone. Banyak layanan penting seperti Gojek, OVO, Shopee, dan Zoom sangat bergantung pada smartphone. Selain itu, budaya konsumtif dan status sosial yang melekat pada kepemilikan smartphone canggih juga sulit diabaikan. Namun di balik tantangan yang diuraikan itu, kita tetap punya potensi gerakan minimalisme digital. Meskipun transisi ke featured phone mungkin belum menjadi tren utama, gerakan minimalisme digital memiliki peluang besar di Indonesia. Anak muda bisa mulai dengan langkah-langkah kecil, seperti membatasi waktu layar, menghapus aplikasi media sosial yang tidak penting, atau bahkan menggunakan mode “grayscale” untuk mengurangi godaan visual.

 

Prospek Masa Depan

Bila tren detoks digital terus berkembang, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi di kalangan Gen Z Indonesia:

1. Meningkatnya Kesadaran Akan Pentingnya Interaksi Sosial Autentik

Dengan semakin banyaknya kampanye tentang dampak negatif teknologi, Gen Z Indonesia mungkin mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata. Mereka akan lebih memprioritaskan pertemuan tatap muka dan aktivitas offline yang membangun hubungan emosional yang lebih kuat.

2. Transformasi Teknologi yang Lebih Ramah Pengguna

Produsen teknologi mungkin mulai merancang produk yang mendukung gaya hidup minimalis digital. Misalnya, smartphone dengan mode “fokus” yang hanya memungkinkan akses ke aplikasi esensial, atau featured phone modern yang tetap mendukung fungsi dasar seperti WhatsApp tanpa distraksi berlebihan.

3. Dukungan Sosial dan Institusional

Pemerintah dan lembaga pendidikan dapat berperan penting dalam mendukung gerakan detoks digital. Program literasi digital yang mengajarkan anak muda cara menggunakan teknologi secara bijak bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan generasi yang lebih sadar akan dampak teknologi.

 

Detoks Digital Menujui Interaksi Sosial yang Humanis

Interaksi sosial yang humanis adalah bentuk komunikasi yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan, empati, kehadiran fisik, dan hubungan emosional yang mendalam. Berbeda dengan interaksi via digital yang sering kali terbatas pada teks, gambar, atau suara tanpa kontak langsung, interaksi humanis melibatkan keterlibatan penuh dari semua indra manusia, termasuk bahasa tubuh, ekspresi wajah, sentuhan, dan suasana hati yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi oleh teknologi.

Interaksi sosial yang humanis mensyaratkan kehadiran fisik (Presence) Kehadiran fisik memungkinkan seseorang untuk merasakan energi dan suasana secara langsung. Misalnya, saat bertemu teman di kafe, kita bisa merasakan senyum mereka, mendengar nada suara mereka, dan melihat gerakan tangan mereka saat berbicara. Atau,  ketika seorang sahabat datang ke rumah untuk memberikan dukungan saat kita sedang mengalami kesulitan. Kehadirannya memberikan rasa nyaman dan penghiburan yang tidak bisa digantikan oleh pesan teks atau panggilan video. Kehadiran fisik ini sudah terkikis oleh kehadiran media digital dan melanda Generasi Milenial, Generasi Z hingga generasi Alfa.

Memang diakui bahwa komunikasi digital seperti chat, email, atau panggilan video hanya memungkinkan interaksi sebagian. Meskipun panggilan video menawarkan visual, banyak elemen seperti nuansa suasana atau sentuhan fisik yang hilang. Manakah seorang teman mengirim emoji “😊” atau kata-kata “Semoga cepat sembuh” melalui WhatsApp, pesan tersebut mungkin terasa hangat, tetapi tidak sekuat jika mereka benar-benar hadir di samping kita. Itulah bedanya sentuhan fisik manusiawai dengan sentuhan melalui media digital.

Ketika melakukan interaksi sosial yang humanis, di sana hadir empati dan respons emosional. Semua orang paham bahwa dalam interaksi tatap muka, kita bisa merasakan emosi orang lain secara langsung melalui ekspresi wajah, mata berkaca-kaca, atau bahkan tangisan. Hal ini memungkinkan kita untuk merespons dengan empati yang lebih mendalam.

Saat seorang teman bercerita tentang kegagalan dalam pekerjaan, kita bisa melihat kesedihan di matanya dan memberikan pelukan sebagai bentuk dukungan. Pelukan tersebut memberikan rasa aman dan pengertian yang sulit dicapai melalui media digital. Bagaimana dengan pemberian respons emosional dalam komunikasi digital? Sering kali hanya terbatas pada teks atau emoji. Bahkan saat menggunakan fitur suara atau video, ada batasan dalam menyampaikan emosi secara utuh. Di saat sahabat atau orang terdekat kita menceritakan masalahnya melalui pesan singkat, kita mungkin hanya bisa membalas dengan “Aku turut bersamamu” atau emoji “😢”. Meskipun maksudnya baik, respons ini tidak memiliki dampak emosional yang sama dibandingkan dengan kehadiran fisik kita.

Interaksi sosial yang humanis cenderung bertahan dalam jangka panjang dan terbangun kepercayaan yang bertahan. Sebab pertemuan tatap muka membantu membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang karena ada transparansi dalam komunikasi. Kita bisa melihat apakah seseorang jujur atau tidak melalui bahasa tubuh dan nada suaranya. Ambil contoh, ketika kita  bekerja dalam tim proyek, pertemuan langsung memungkinkan anggota tim untuk saling mengenal lebih baik, sehingga meningkatkan kolaborasi dan solidaritas. Ini menciptakan hubungan yang lebih kuat dibandingkan rapat online yang sering kali terasa formal dan kurang personal.

Sementara dalam komunikasi digital, ada risiko salah paham karena kurangnya konteks non-verbal. Misalnya, pesan singkat yang ditulis dengan nada netral bisa disalahartikan sebagai dingin atau kasar. Dalam rapat online, anggota tim mungkin cenderung diam atau kurang berkontribusi karena merasa tidak terhubung secara emosional dengan kelompok. Hal ini dapat menghambat pembentukan hubungan kerja yang erat.

Dalam interaksi humanis dimungkinkan terjadinya aktivitas bersama yang bermakna. Aktivitas bersama seperti makan malam, bermain olahraga, atau melakukan hobi bersama memperkuat ikatan sosial karena ada pengalaman langsung yang dinikmati bersama. Sebuah keluarga yang menghabiskan waktu bersama dengan makan malam sambil bercerita tentang hari mereka akan merasakan kedekatan emosional yang mendalam. Ini adalah momen yang sulit direplikasi melalui layar. Sedangkan, aktivitas bersama secara digital, seperti bermain game online atau menonton film bersama melalui aplikasi streaming, memang bisa menghubungkan orang, tetapi tidak memiliki kedalaman yang sama.

Terakhir, interaksi sosial yang humanis dapat menjadi solusi konflik karena dalam situasi konflik, interaksi tatap muka memungkinkan dialog yang lebih terbuka dan jujur. Kita bisa melihat reaksi orang lain secara langsung dan menyesuaikan cara berbicara agar konflik dapat diselesaikan dengan damai. Bila terjadi kesalahpahaman antara dua orang atau lebih kita bisa duduk bersama, saling mendengarkan, dan menyelesaikan masalah dengan percakapan yang tulus. Karena penyelesaian konflik melalui media digital sering kali lebih rumit karena kurangnya konteks non-verbal. Pesan teks bisa disalahartikan, dan emosi negatif bisa meningkat akibat ketidakjelasan.

Nilai dan identitas diri hanya dapat terbentuk melalui interaksi sosial yang humanis. Dengan dan melalui interaksi sosial yang humanis membantu membentuk identitas individu dan nilai-nilai moral melalui contoh nyata dari orang-orang di sekitar. Anak-anak belajar tentang empati, toleransi, dan kerja sama melalui pengalaman langsung. Karena anak-anak yang melihat orang tuanya membantu tetangga yang sedang sakit akan belajar tentang pentingnya kepedulian sosial. Sementara, media digital sering kali menawarkan informasi yang diproses melalui filter algoritma, yang bisa membatasi pandangan dunia seseorang. Pembentukan nilai-nilai melalui interaksi digital lebih rentan terhadap bias dan manipulasi. Sebab, anak-anak yang terlalu banyak mengonsumsi konten di media sosial mungkin lebih mudah terpengaruh oleh tren yang tidak selalu positif, seperti budaya konsumerisme atau standar kecantikan yang tidak realistis.

 

Penutup

Detoks digital bukan sekadar tren, melainkan sebuah “pertobatan” menuju gaya hidup yang lebih sehat dan humanis. Bagi Gen Z Indonesia, fenomena ini mungkin belum menjadi arus utama, tetapi potensinya sangat besar. Dengan meningkatnya kesadaran akan dampak negatif teknologi dan dukungan dari berbagai pihak, gerakan ini bisa menjadi solusi untuk mengembalikan nilai-nilai interaksi sosial yang lebih autentik.

Interaksi sosial yang humanis menawarkan pengalaman yang lebih autentik, mendalam, dan bermakna dibandingkan interaksi via digital. Meskipun teknologi memungkinkan kita untuk tetap terhubung dalam jarak jauh, ia tidak dapat sepenuhnya menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang hanya dapat dirasakan melalui kehadiran fisik dan komunikasi langsung.

Bagi Gen Z Indonesia, fenomena detoks digital bisa menjadi langkah awal untuk kembali kepada interaksi sosial yang lebih humanis. Dengan mengurangi ketergantungan pada teknologi dan lebih memprioritaskan pertemuan langsung, generasi muda dapat membangun hubungan yang lebih kuat, empatik, dan bermakna—sesuatu yang sangat dibutuhkan di era digital ini.

Akhirnya, pertanyaan besar yang harus kita renungkan adalah: Apakah kita siap untuk mengambil langkah mundur dari dunia digital demi masa depan yang lebih manusiawi? Prospeknya ada tergantung niat baik semua pihak.

 ——————————–

 

Penulis adalah Dosen Etika dan Filsafat Komunikasi pada LSPR Institute of Communication and Business Jakarta, Narasumber dan Trainer Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika  2023-2024

ShareTweetSend
Next Post
Sampah yang Berputar di Luar Rahasia

Sampah yang Berputar di Luar Rahasia

Comments 2

  1. Gabriel G. Kabelen says:
    1 tahun ago

    Thank you so much Pa Don Bosco for a very professional writing which NeoGen be the focus. Hopefully it will be the Game Changer and our future Generation be the Socialists and not cling too much to the Cell-phone which makes them far from the real world.

    Balas
  2. partner tech solution says:
    6 bulan ago

    Prospek detoks digital sebagai pertobatan menuju interaksi sosial sangatlah bermanfaat. Perkembangan teknologi digital saat ini membuka peluang besar untuk menciptakan pengalaman visual yang lebih imersif, kreatif, dan bermakna. Melalui layanan digital interaktif, Your Creative-Tech Partner siap membantu perusahaan merancang solusi teknologi yang relevan, efektif, dan bernilai tinggi bagi setiap pengalaman digital.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Gabriel G. Kabelen Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Emmak  Matte

Emmak Matte

11 bulan ago

Kopi Pencerahan

5 tahun ago

Popular News

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In