Kopi Pencerahan

Komunitas Cenggo Inung Kopi Online (CIKO) Manggarai Timur menghadirkan Mantan Pemred Suara Pembaruan, Willy Hangguman untuk pencerahan berliterasi, Minggu, (2/5/2021). (DOK/KOMUNITAS CIKO MATIM)

Oleh Markus Makur

ORANG Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai memiliki tradisi lejong (berkunjung). Saat lejong itu ada ngara mbaru dan meka (tamu). Biasanya tuan rumah selalu menyuguhkan kopi asli Manggarai Timur, khususnya Kopi Colol. Pendamping minuman kopi biasanya dengan Tete (ubi jalar), Teko (Ubi Keladi), Daeng (ubi kayu). Kadang-kadang juga minum kopi saja. Kebiasaan lainnya adalah Cenggo, Senggo Inung Kopi. Orang Manggarai Raya itu sangat ramah. Siapa saja yang dikenal atau tamu tak dikenal biasanya diajak  mai cenggo, Senggo di (mari mampir). Saat Cenggo, Senggo, tuan rumah selalu suguhkan kopi pahit, kopi pait. Nenek moyang orang Manggarai Raya tidak mengenal gula pasir. Belakangan minuman kopi ditambah dengan gula pasir. Zaman dulu, minuman kopi dicampur dengan gula Kolang. Gula yang terbuat dari pohon aren. Biasanya pohon kopi berada di antara pohon aren. Pohon aren sebagai pelindung pohon kopi. Kopi mencerahkan. Kopi saling menginspirasi. Kopi juga membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kopi, selain untuk keperluan minuman persaudaraan, biasanya saat minum kopi ada sharing pengalaman, diskusi seputar masalah sosial. Ada nilai keakraban, nilai persaudaraan, nilai kekeluargaan. Kopi juga sebagai identitas dalam kehidupan budaya orang Manggarai Raya. Jikalau tuan rumah tak memiliki kopi tepung saat ada tamu, maka tuan rumah bisa minta di tetangga. Intinya dalam rumah orang Manggarai Raya selalu tersedia kopi biji dan kopi tepung. Tidak bisa tidak. Harus ada kopi didalam rumah tangga.

Jual Biji Kopi demi Biaya Anak Sekolah

Selain untuk keperluan minum, kopi biji juga dijual kepada pembeli demi biaya anak sekolah. Pendapatan utama orang Manggarai Raya adalah kopi. Belakangan ada jenis tanaman perkebunan lainnya. Yang pertama tanaman perkebunan di wilayah Manggarai Raya adalah kopi. Selain biaya pendidikan, hasil jual kopi biji dan tepung untuk acara ritual adat, biaya perkawinan dan biaya-biaya lainnya.

Saya ingat orangtua dulu memetik kopi, menjemur kopi dan menjual kepada penadah di kampung. Uangnya untuk biaya pendidikan dan keperluan dalam keluarga. Panen kopi sekali dalam satu tahun kalender kerja.

Suguhan Kopi saat Ritual Adat

Apabila ada ritual adat, ritual adat perkawinan. Ritual mempertemukan jodoh antara keluarga perempuan dan laki-laki. Biasanya keluarga perempuan menyambut tamu anak wina, pihak laki-laki dengan suguhan minuman kopi. Tak ada minuman lain. Hanya minuman kopi. Jadi minuman kopi sebagai minuman pembuka bagi tamu yang berkunjung. Jadi utamakan minuman kopi terlebih dahulu.

Bukan hanya didalam rumah disuguhkan minuman kopi. Tapi, saat bekerja di kebun, sawah, ladang, saat bangun rumah dan keperluan lain selalu disediakan minuman kopi.

Missionaris Pembawa Tanaman Kopi

Para missionaris yang melakukan misi pewartaan di bumi Manggarai Raya melihat kesuburan tanah serta alamnya sangat cocok ditanami kopi. Orang Manggarai Raya harus berterima kasih kepada missionaris dari Ordo Serikat Sabda Allah yang berkarya di bumi Manggarai Raya. Jikalau mereka tidak bawa tanamam kopi maka orang Manggarai Raya tidak mengenal tanaman kopi. Pewartaan lewat tanaman kopi. Ini menarik. Cikal bakal pertama tanaman kopi di wilayah Manggarai Raya berasal dari kampung Colol. Maka disebut kopi Colol. Ini tak bisa dibantah. Ada bukti sejarah yang sudah ditulis dalam media KOMPAS. Bahkan saat diadakan sayembara tanaman kopi oleh Belanda. Salah satu petani di colol mendapatkan penghargaan dari ratu Belanda berupa bendera Belanda. Bendera itu sebagai benda keramat di wilayah Colol. (Baca KOMPAS yang ditulis wartawan KOMPAS, Frans Sarong). Untuk itu dari Colol tersebar tanaman kopi di seluruh Manggarai Raya. Orang Eropa, khususnya Belanda adalah penyuka, penikmat minuman kopi. Hanya kelemahannya, kopi tidak menjadi branding utama di wilayah Manggarai Raya.

Kopi Simbol Persahabatan

Dimana ada dua tiga orang berkumpul sambil Inung kopi, minum kopi  terjalin sebuah persahabatan. Banyak diskusi, sharing pengalaman, berbagi ilmu pengetahuan. Air, tepung kopi tak terpisahkan. Kopi melebur di air hingga disebut minuman kopi. Bukan lagi sebut air bening. Antara air dan kopi  sudah menyatu menjadi satu. Siapapun yang minum kopi dalam sebuah perkumpulan, menyatu semua ide dan pemikiran. Kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata. Perubahan itu ada di aksi nyata. “Minumlah kopi Colol. Ada persaudaraan dan persahabatan yang dibangun saat minum kopi.”


Anggota Komunitas Cenggo Inung Kopi Online Manggarai Timur sedang berdiskusi sambil minum kopi sebagai kekhasaan komunitas ini, Januari 2021. (DOK/KOMUNITAS CIKO MATIM)

                          ***********************

Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur, NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here