
Oleh Don Bosco Doho, Dosen Logika dan Filsafat Ilmu pada Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Jakarta
Sebuah proklamasi kematian filsafat baru saja menggema di ruang digital Indonesia dan menghebohkan republik maya. Dengan ketenangan yang nyaris teatrikal, Youtuber Ferry Irwandi, didampingi oleh penulis Dea Anugrah, mendeklarasikan sebuah fatwa: “Jurusan Filsafat perlu dibubarkan.” Sontak, semesta intelektual yang tadinya adem ayem menjadi gaduh. Pernyataan itu, yang dilempar laksana batu ke kolam yang tenang, menciptakan riak-riak yang tak terduga. Tagline-tagline dramatis bermunculan di linimasa: “Mari merayakan kematian Filsafat,” “Selamat Tinggal Ibu Ilmu Pengetahuan,” “RIP Akal Sehat.” Para akademisi, mahasiswa filsafat, dan para pegiat literasi serentak memasang kuda-kuda, siap melontarkan antitesis. Tapi belum tahu apa reaksi dan pandangan Rocky Gerung sang pencetus akal sehat itu.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Alih-alih menjadi eulogi duka cita, kegaduhan ini justru bermetamorfosis menjadi sebuah festival keingintahuan massal. Seruan untuk membubarkan filsafat secara paradoksal justru menjadi kampanye promosi paling efektif untuk filsafat itu sendiri dalam satu dekade terakhir. Publik yang sebelumnya mungkin memandang filsafat sebagai disiplin ilmu yang angkuh, berdebu, dan terkurung di menara gading, tiba-tiba menoleh. Mereka bertanya: “Apa sebenarnya filsafat itu? Mengapa ia begitu dibenci sekaligus dibela mati-matian?” Semoga ini menjadi jalan pembuka menuju gerbang-gerbang jurusan dan sekolah filsafat di Indonesia. Kita memang hanya punya dua kampus PTN yang jelas-jelas memiliki jurusan Filsafat yaitu UGM dan UI.
Fenomena ini lebih dari sekadar kontroversi sesaat. Ia adalah sebuah studi kasus sempurna tentang bagaimana kebencian yang direkayasa dapat bertransformasi menjadi simpati, bagaimana penolakan dapat memicu ketertarikan, dan yang terpenting, bagaimana pemikiran yang paling abstrak sekalipun dapat diindustrialisasi dalam pusaran kapitalisme konten. Ini adalah kisah tentang strategi playing victim yang brilian, yang alih-alih membunuh sang “ibu ilmu pengetahuan”, justru membuatnya kembali relevan, seksi, dan diminati. Para filsuf dan peminatnya, sadar atau tidak, harus berterima kasih kepada para provokator ini. Mereka telah berhasil membumikan filsafat dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh kurikulum universitas paling progresif sekalipun.
Anatomi Paradoks: Psikologi di Balik Seruan Kematian
Untuk memahami mengapa serangan terhadap filsafat justru menjadi bumerang positif, kita perlu membedah anatomi psikologis dari kegaduhan itu sendiri. Reaksi publik tidak berjalan secara linier; ia bergerak dalam sebuah dialektika yang menarik. Tesis yang dilontarkan (“Filsafat tidak relevan dan harus dibubarkan”) segera disambut oleh antitesis yang emosional dari komunitas filsafat (“Filsafat adalah dasar dari segala ilmu dan harus dipertahankan”). Namun, sintesis yang lahir bukanlah perdebatan elitis di antara dua kubu, melainkan rasa penasaran dari audiens yang lebih besar. Maka jangan terlalu diambil hati kalau adagium primum vivere deinde philosphare bakal memperkuat antipati kepada filsafat.
Mekanisme ini dikenal sebagai Efek Streisand. Dinamai dari insiden ketika aktris Barbra Streisand mencoba menekan peredaran foto rumahnya, yang justru membuat foto tersebut menjadi viral. Semakin keras upaya untuk menyensor, menekan, atau mendiskreditkan sesuatu, semakin besar pula perhatian yang didapatkannya. Dalam kasus ini, “pembubaran jurusan filsafat” adalah upaya sensor simbolis terhadap sebuah disiplin ilmu. Hasilnya bisa ditebak: publik yang tadinya tidak peduli, kini berbondong-bondong mencari tahu apa gerangan “rahasia” yang ingin disembunyikan atau dimusnahkan itu.
Filsafat, pada hakikatnya, adalah sebuah disiplin yang anti-rapuh (antifragile). Ia tidak melemah saat diserang; sebaliknya, ia menjadi lebih kuat. Sejak zaman Socrates yang dihukum minum racun karena dianggap merusak pemuda Athena dengan pertanyaan-pertanyaannya, hingga Nietzsche yang mendeklarasikan “Tuhan telah mati,” filsafat selalu hidup dari provokasi dan pertanyaan radikal. Serangan Ferry Irwandi dan Dea Anugrah, dalam skala yang lebih modern dan terkomodifikasi, sejatinya hanyalah pengulangan dari sebuah tradisi panjang: mempertanyakan nilai dari berpikir itu sendiri.
Dengan memposisikan filsafat sebagai “korban” dari pragmatisme zaman, para provokator ini secara tak langsung memberinya aura romantis. Filsafat menjadi sang underdog, pemikir terpinggirkan yang menyimpan kearifan tersembunyi. Citra ini jauh lebih menarik bagi generasi muda daripada citra filsafat sebagai mata kuliah wajib yang membosankan. Tiba-tiba, membaca Plato atau Camus bukan lagi aktivitas kutu buku, melainkan sebuah tindakan perlawanan kecil terhadap mediokritas. Kegaduhan ini berhasil mengubah persepsi: dari “beban akademis” menjadi “lencana kehormatan intelektual.”
Industrialisasi Pemikiran: Filsafat sebagai Komoditas Konten
Jika kita berhenti pada analisis psikologi publik, kita akan kehilangan gambaran yang lebih besar. Di balik layar perdebatan ideologis ini, sebuah mesin raksasa berputar dengan senyap: mesin industrialisasi konten. Di era ekonomi perhatian (attention economy), gagasan dan pemikiran bukanlah lagi entitas yang suci, melainkan bahan mentah (raw material) yang siap diolah menjadi produk digital yang dapat dimonetisasi.
Mari kita lihat buktinya. Sebelum kontroversi ini meledak, kanal YouTube Ferry Irwandi memiliki pengikut di angka ratusan ribu. Setelahnya, angka itu melejit hingga menembus jutaan. Ini bukan kebetulan; ini adalah desain. Dalam paradigma kapitalisme digital, algoritma adalah panglima tertinggi. Dan sang panglima menyukai satu hal di atas segalanya: engagement. Komentar, share, like, dan dislike adalah bahan bakar yang membuat konten tetap menyala di puncak visibilitas.
Apa cara tercepat untuk memanen engagement? Bukan dengan menyajikan kebenaran yang subtil dan berimbang. Cara tercepat adalah dengan menyulut api, dengan menciptakan polarisasi. Provokasi adalah strategi bisnis. Dengan melontarkan pernyataan “bubarkan jurusan filsafat,” Ferry Irwandi tidak sedang terlibat dalam diskursus akademis; ia sedang melakukan investasi konten. Ia menanam modal berupa pernyataan kontroversial untuk menuai keuntungan berupa jutaan klik, atensi, dan pertumbuhan pengikut.
Proses “Industrialisasi Filsafat” ini bekerja melalui beberapa tahapan Pertama, provokasi sebagai katalisator. Memilih target yang memiliki komunitas loyal namun dianggap “aneh” oleh publik awam (dalam hal ini, filsafat). Serangan ini memicu reaksi emosional yang masif, baik dari pembela maupun pencela, yang secara otomatis menjadi promotor gratis bagi konten tersebut. Kedua, simplifikasi sebagai kemasan, karena filsafat yang rumit, penuh nuansa, dan sering kali ambigu, direduksi menjadi slogan yang mudah dicerna: “praktis vs. tidak praktis,” “berguna vs. tidak berguna.” Pertanyaan eksistensial yang kompleks disederhanakan menjadi biner yang mudah diperdebatkan oleh siapa saja, tanpa perlu latar belakang pengetahuan yang mendalam. Ini adalah demokratisasi sekaligus pendangkalan. Ketiga, personifikasi sebagai merek. Kontroversi ini tidak lagi tentang ide, tetapi tentang persona. Ini adalah pertarungan antara “Ferry Irwandi sang Pragmatis” melawan “Kaum Filsuf sang Menara Gading.” Audiens diajak untuk memihak pada salah satu merek persona, bukan pada argument, dan terakhir, komunitas sebagai asset. Kita perhatikan, hasil akhir dari industrialisasi ini bukanlah pencerahan massal, melainkan pembentukan komunitas digital yang loyal di sekitar sang kreator konten. Pengikut yang jutaan itu adalah aset paling berharga dalam ekonomi digital, yang nantinya dapat dikonversi menjadi keuntungan finansial melalui iklan, sponsorship, merchandise, atau bahkan—dan di sinilah ironi puncaknya—membuka lembaga pendidikan filsafat itu sendiri.
Maka, kita menyaksikan sebuah transformasi besar: filsafat tidak lagi dinilai dari kedalaman argumennya, tetapi dari metrik performanya. Views, likes, dan subscriber growth menjadi tolok ukur baru bagi relevansi sebuah pemikiran. Filsafat telah berhasil dikemas, dipasarkan, dan dijual kembali kepada audiens yang sama yang tadinya diajak untuk membencinya. Benci telah menjadi modal untuk memancing cinta, atau setidaknya, rasa penasaran yang bisa dimonetisasi.
Ironi Sang Provokator: Socrates Modern dengan Lentera Digital
Pada titik ini kita harus memberikan penghargaan, betapapun masam rasanya, kepada para provokator ini. Niat mereka mungkin sinis dan berorientasi bisnis, tetapi dampaknya terhadap ekosistem intelektual sungguh tak ternilai. Mereka secara tidak sengaja menjadi humas terbaik yang pernah dimiliki filsafat. Mereka berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh ratusan seminar akademis: membawa filsafat keluar dari ruang-ruang tertutup dan melemparkannya ke tengah pasar ide yang riuh.
Ada sebuah ironi yang indah di sini. Seperti yang diungkapkan sang Youtuber sendiri, niat akhirnya adalah ingin membuka kampus dengan jurusan filsafat. Jika ini benar, maka seluruh drama “pembubaran filsafat” ini dapat dibaca sebagai sebuah kampanye pra-peluncuran paling jenius dan liar dalam sejarah pendidikan. Ia tidak menjual brosur; ia menjual sebuah narasi, sebuah perdebatan nasional. Ia tidak memulai dengan membangun gedung, tetapi dengan membangun kesadaran—betapapun aneh dan bengis caranya.
Tindakannya mengingatkan kita pada figur paling ikonik dalam sejarah filsafat: Socrates. Socrates berjalan di tengah pasar Athena pada siang hari bolong sambil membawa lentera yang menyala. Ketika orang-orang bertanya apa yang ia lakukan, ia menjawab, “Aku sedang mencari manusia yang jujur.” Tentu saja itu adalah tindakan yang aneh, liar, dan provokatif. Tujuannya bukan untuk benar-benar menemukan orang jujur dengan lentera, tetapi untuk mengguncang kesadaran warga Athena dari tidur dogmatis mereka. Socrates adalah seorang gadfly, lalat pengganggu yang terus-menerus menyengat kuda besar (negara Athena) agar tidak malas dan tetap waspada.
Ferry Irwandi, dalam alegori modern ini, adalah Socrates digital. Ia membawa “lentera” provokasi ke “kuburan” asumsi publik bahwa filsafat telah mati dan tidak relevan. Ia berjalan di tengah keramaian pasar digital, bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memaksa semua orang bertanya: “Di manakah letak kebenaran tentang nilai sebuah pemikiran?” Metodenya mungkin jauh dari etika Socratic, karena ia dimotivasi oleh algoritma dan kapital. Namun, efeknya serupa: ia memaksa kita untuk berpikir. Ia memaksa para filsuf untuk turun gunung dan menjelaskan mengapa eksistensi mereka penting. Ia memaksa publik untuk mempertimbangkan kembali apa arti “kegunaan” dalam hidup.
Para filsuf tidak perlu marah. Sebaliknya, mereka bisa tersenyum simpul. Musuh terbesar filsafat bukanlah serangan frontal, melainkan ketidakpedulian. Dan ketidakpedulian itulah yang baru saja dihancurkan. Para provokator ini telah melakukan pekerjaan kotor, mengaduk-aduk lumpur agar teratai kebijaksanaan dapat kembali terlihat oleh semua orang.
Penutup: Selamat Datang di Era Filsafat Industrial
Fenomena “benci menjadi suka” yang kita saksikan ini menandai sebuah babak baru. Filsafat telah secara definitif memasuki era industrialisasinya. Ia tidak akan pernah lagi bisa kembali menjadi entitas murni yang terisolasi di biara-biara akademis. Kini ia adalah produk konten, komoditas budaya, sekaligus, secara paradoksal, alat pembebasan pikiran yang lebih mudah diakses dari sebelumnya.
Tantangannya kini bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “Apakah filsafat masih relevan?”, tetapi “Bagaimana kita menjaga kedalaman dan integritas filsafat di tengah arus pendangkalan industri konten?” Bagaimana kita memastikan bahwa gerbang keingintahuan yang telah dibuka oleh para provokator ini tidak hanya berujung pada “filosofi-pop” yang dangkal, tetapi menjadi titik awal bagi perjalanan intelektual yang lebih otentik?
Masa depan filsafat akan menjadi hibrida. Akan ada ruang sunyi perpustakaan dan ruang riuh rendah kolom komentar YouTube. Akan ada disertasi doktoral yang tebal dan utas Twitter yang viral. Keduanya kini saling membutuhkan. Tanpa provokasi industrial, filsafat berisiko menjadi fosil. Tanpa kedalaman akademis, filsafat berisiko menjadi slogan kosong.
Mungkin, jika Socrates hidup hari ini, ia tidak akan dihukum minum racun. Ia mungkin akan diberi tawaran sponsorship dari produk kopi, kanal podcastnya akan memiliki jutaan pengikut, dan ia akan disebut sebagai “Bapak Stoikisme Modern,” meskipun ia bukan seorang Stoik. Ia mungkin akan membencinya. Atau mungkin, dengan ironi khasnya, ia akan memanfaatkannya untuk terus mengganggu kita semua. Dan bukankah itu, pada akhirnya, adalah tugas sejati seorang filsuf?






