• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Minggu, Mei 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Teratai di Kubangan Mimpi

by Redaksi
Oktober 24, 2025
in SASTRA
36
Teratai di Kubangan Mimpi
0
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

 

 

Desau angin pagi seringkali membawa serta aroma tak sedap yang menyengat dari gundukan sampah besar di sudut pekarangan, sekitar dua km dari sekolah. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang keras dan penuh keterbatasan itu, hiduplah seorang gadis bernama Dyah Pertiwi Sukma.

Ia ibarat perumpamaan klasik bunga teratai. Walau akarnya terbenam jauh di dalam lumpur keruh, lumpur kehidupan yang seolah tak memilih-milih tempatnya tumbuh, Dyah memiliki tekad membaja untuk menghasilkan kelopak yang paling indah, bersih, dan bermanfaat. Lingkungan yang keras tak sedikitpun melunturkan mimpinya yang tinggi.

Setiap pagi, jauh sebelum sinar matahari benar-benar naik dan menghangatkan bumi, Dyah sudah harus terseok-seok berjalan kaki dari lorong sempit tempat tinggalnya menuju sekolah yang amat sederhana. Jalanan yang ia lalui seringkali berlumpur dan becek, membuat rok seragamnya yang sudah memudar warnanya itu seringkali ternoda sisa tanah atau percikan lumpur.

Ayahnya adalah seorang pemulung, seorang pahlawan sunyi yang setiap hari harus berjuang keras di antara tumpukan sampah untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi dan memastikan Dyah bisa bersekolah.

“Dyah, jangan pernah merasa minder atau malu dengan keadaan kita. Kita memang hidup dari lumpur yang kotor, tapi ingatlah selalu pada belut,” ujar Bapak suatu malam, sambil membersihkan tangannya yang kasar dari  debu dan kotoran hari itu. Bapak selalu mencoba menanamkan filosofi kehidupan yang mendalam pada Dyah melalui hal-hal sederhana di sekitar mereka.

Bapak melanjutkan perkataannya, “Belut memang hidup di lumpur, di tempat yang dianggap kotor dan menjijikkan oleh banyak orang. Tetapi, lihatlah hasilnya. Belut menghasilkan daging yang berisi, yang sangat bergizi, bahkan orang-orang di kota besar menyebutnya memiliki kandungan protein tinggi. Belut itu justru lebih berharga dan dicari daripada sebagian ikan-ikan yang berenang bebas di air yang jernih sekalipun.”

Kata-kata bijak dari Bapak itu, yang selalu diulang-ulang, seolah menjadi mantra yang tertanam kuat di benak dan jiwa Dyah. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai belut itu. Ia mungkin tumbuh dan besar di lingkungan yang keras, kotor, dan penuh tantangan, tetapi di dalam dirinya, Dyah Pertiwi Sukma memendam ‘protein tinggi’ berupa cita-cita, semangat yang tak pernah padam, dan kecerdasan yang tak ternilai harganya.

Di sekolah, Dyah bukanlah seorang primadona yang dikelilingi banyak teman populer. Ia seringkali harus menjadi sasaran bisikan pelan, bahkan kadang-kadang berupa ejekan halus dari beberapa temannya yang kurang peka. Namun, Dyah memilih untuk tidak pernah menyambutnya dengan kemarahan atau kesedihan yang berlarut-larut. Ia mengalihkan seluruh energi dan fokusnya ke buku-buku tebal yang berbau apak dan lembaran-lembaran tugas.

Setiap aksara yang ia baca, setiap rumus matematika yang berhasil dipecahkan, terasa seperti air jernih yang membasuh lumpur dan debu yang menempel di kaki dan jiwanya.

Jauh di dalam hatinya, cita-cita Dyah Pertiwi Sukma terpatri setinggi langit, bukan sekadar impian biasa. Ia bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur pertanian yang ahli, yang memiliki kemampuan untuk mengubah tanah-tanah gersang dan lahan-lahan yang penuh polusi menjadi kebun-kebun yang subur dan hijau. Sebuah cita-cita besar yang terasa nyaris mustahil untuk dicapai oleh seorang anak perempuan dari keluarga pemulung.

Jalan hidup Dyah penuh dengan liku dan perjuangan yang berat. Kadang, ia harus mengorbankan waktu bermain atau belajarnya untuk ikut membantu Bapak mencari barang rongsokan sepulang sekolah. Seringkali tugas sekolahnya terpaksa dikerjakan di malam hari, di bawah penerangan lampu rembulan atau lampu minyak yang redup, ditemani oleh bau menyengat yang keluar dari gerobak ayahnya.

Bahkan pernah, seragamnya robek lebar karena tersangkut paku berkarat saat ia membantu Bapak. Namun, setiap kesusahan yang datang, ia anggap sebagai pupuk yang justru menguatkan akar dan tekadnya.

Waktu terus berjalan tanpa terasa. Dengan kegigihan dan ketekunan yang luar biasa, Dyah Pertiwi Sukma selalu berhasil menjadi siswa terbaik di sekolahnya, mengungguli teman-temannya yang memiliki fasilitas lebih baik. Ia dengan tegas menolak untuk menyerah pada takdir yang seolah ingin menenggelamkannya dalam kesulitan.

Prestasinya membuka jalan, ia berhasil mendapatkan beasiswa demi beasiswa, yang mengantarkannya ke jenjang pendidikan tinggi.

Tiba saatnya Dyah berdiri tegak di podium kelulusan universitas. Ia mengenakan toga berwarna hitam yang terasa sedikit kebesaran di tubuhnya. Matanya nanar mencari sosok Bapak di antara kerumunan.

Bapaknya berdiri di sudut ruangan, mengenakan kemeja lusuh terbaiknya. Pipi Bapak yang keras dan penuh kerutan kini dibasahi oleh air mata kebanggaan yang tulus, menyaksikan putrinya telah mencapai puncak mimpi pertamanya.

Bertahun-tahun kemudian, Dyah Pertiwi Sukma, yang kini telah resmi bergelar insinyur dengan reputasi baik, memutuskan untuk kembali ke desanya. Ia tidak sedikit pun melupakan lumpur dan kubangan yang telah membesarkannya. Ia membawa kembali ilmu dan pengalamannya untuk tanah kelahirannya.

Dyah segera memulai proyek besarnya. Dengan segala ilmu yang ia miliki, ia mengolah lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dulunya kumuh.

Ia mengubah hamparan tanah tak bernilai itu menjadi kebun percobaan yang hijau, subur, dan modern, menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Lebih dari itu, ia mempekerjakan warga sekitar, termasuk komunitas para pemulung, memberikan mereka kehidupan yang lebih layak.

Dyah, sang teratai, telah mekar sempurna, memberikan manfaat besar. Ia adalah Dyah Pertiwi Sukma, bukti bahwa tempat asal tak pernah menentukan tempat tujuan, sebuah janji bahwa walau hidup berawal dari lumpur, hasilnya bisa menjadi penopang kehidupan yang tinggi dan mulia.

***********************

 

 

ShareTweetSend
Next Post
Soeharto Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional: Fondasi Pembangunan Bangsa Ini Masih Bisa Kita Nikmati

Soeharto Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional: Fondasi Pembangunan Bangsa Ini Masih Bisa Kita Nikmati

Comments 36

  1. Nico says:
    7 bulan ago

    Tulisan yg indah

    Balas
  2. Lionel says:
    6 bulan ago

    Bagus

    Balas
  3. LeticiaEvelyn says:
    6 bulan ago

    wih bagus

    Balas
  4. Stivent hasugian says:
    6 bulan ago

    > Asal yang sederhana dan lingkungan yang keras tidak menentukan masa depan seseorang — tekad, kerja keras, dan keyakinan diri mampu mengubah “lumpur kehidupan” menjadi tempat tumbuhnya keindahan dan

    Balas
  5. Stivent hasugian says:
    6 bulan ago

    > Asal yang sederhana dan lingkungan yang keras tidak menentukan masa depan seseorang — tekad, kerja keras, dan keyakinan diri mampu mengubah “lumpur kehidupan” menjadi tempat tumbuhnya keindahan dan

    Balas
  6. Jonathan Vincent says:
    6 bulan ago

    cerita yang sangat bagus

    Balas
  7. Goklas Sihombing says:
    6 bulan ago

    Cerita Nya bagus Sangat mudah dimengerti dan berisi banyak sekali makna

    Balas
  8. Angelina Rosario Yulia Pratiwi says:
    6 bulan ago

    Cerita yang sangat keren dan luar biasa! Cerpen ini sangat menginspirasi.

    Balas
  9. Felicia Davine says:
    6 bulan ago

    dari cerita ini bahwa kita bisa belajar dari dyah karena dia selalu bersyukur dalam situasinya dan selalu belajar untuk menempuh pendidikan tinggi dan bisa membanggakan orang tuanya dengan proyek buatannya

    Balas
  10. Alevi Latisya says:
    6 bulan ago

    ttp bersyukur dan jangan pantang menyerah walaupun kekurangan ekonomi, walau hidup berawal dari lumpur, hasilnya bisa menjadi penopang kehidupan yng tinggi dan mulia

    Balas
  11. Titus Pasaribu says:
    6 bulan ago

    Mantappp,kerenn

    Balas
  12. Lady Kirana Agnesya says:
    6 bulan ago

    kita harus tetap bersyukur apa yang kita punya…ya mantap

    Balas
  13. Titus Pasaribu says:
    6 bulan ago

    Mantappp kerenn

    Balas
  14. Noel Jeremi says:
    6 bulan ago

    Bahwa kita memiliki mimpi dan apa yg diimpikan harus dicapai dengan semangat

    Balas
  15. Chritian R.Natanael simanjuntak says:
    6 bulan ago

    Mantap pak bagus ceritanya 👍

    Balas
  16. Vanessa says:
    6 bulan ago

    luar biasa..!

    Balas
  17. octavianus jose says:
    6 bulan ago

    cerita yang inspiratif tentang kekuatan tekad dan semangat untuk mencapai mimpi

    Balas
  18. Clara Marsyla Paulina Alo says:
    6 bulan ago

    Keren banget ceritanya, aku jadi lebih bersemangat dalam menjalani hari-hari yang terasa berat, terima kasih

    Balas
  19. Samuel says:
    6 bulan ago

    Keren

    Balas
  20. Gregorius Kerubim Eframbudi says:
    6 bulan ago

    Kisah Dyah Pertiwi Sukma adalah sebuah narasi yang sangat inspiratif dan menyentuh hati

    Balas
  21. guido says:
    6 bulan ago

    semangatt jangan pantang menyerah

    Balas
  22. ONNA HANA MITHA says:
    6 bulan ago

    bagus sekali, dan menginspirasi

    Balas
  23. bella says:
    6 bulan ago

    WIW, SANGAT MENGINSPIRASI BGTTT CERITANYAAA, OMG

    Balas
  24. Cheryl darlene says:
    6 bulan ago

    Wow, keren sekali ceritanya dan menarik untuk dibaca

    Balas
  25. bella says:
    6 bulan ago

    Wowww, kerennn bgttt ceritanyaa, sangat menginspirasi. Semangattt trus bapak🙏🏻

    Balas
  26. princess* says:
    6 bulan ago

    cerita ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah penghalang, melainkan pijakan untuk tumbuh. dengan tekad, kerja keras, dan hati yang tulus, seseorang bisa mengubah penderitaan menjadi kekuatan dan membawa cahaya bagi sekelilingnya *

    Balas
  27. bella says:
    6 bulan ago

    wowww, cerita yg sangatt inspiratif

    Balas
  28. Anthony Davin says:
    6 bulan ago

    cerita ini sangat menginspirasi dan menyentuh hati

    Balas
  29. Hosea says:
    6 bulan ago

    saya sudah membacanya, ini sangat menginspirasi says until terus maju

    Balas
  30. Rotama Sinurat says:
    6 bulan ago

    Wow bagus ceritanya, ini menunjukkan bahwa kita yang menghasilkan masa depan kita bukan dari tempat kita lahir dan tumbuh, hanya karena hidup susah bukan berarti masa depannya murung, mantap 🫡🫡

    Balas
  31. Dave.C says:
    6 bulan ago

    Ceritanya sangat menginspirasi

    Balas
  32. Dave.C says:
    6 bulan ago

    Ceritanya sangat menginspirasi saya!

    Balas
  33. Bian says:
    6 bulan ago

    Cerita ini sangat memotivasi saya untuk tidak pernah merasa kurang percaya diri👍

    Balas
  34. Ignasius Situngkir says:
    6 bulan ago

    Cerita Sangat berpengaruh bagi saya

    Balas
  35. Christoper Gavin says:
    6 bulan ago

    Ceritanya sangat menyentuh dan memberi semangat untuk tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan

    Balas
  36. Vinsensius says:
    6 bulan ago

    Terus berkembang,jangan dengar kata negatif dari orang lain

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Anthony Davin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Bupati Dogiyai Luncurkan Portal Berita odiyaiwuu.com

5 tahun ago
Tentang  Hati

Tentang Hati

4 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In