Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan
Isu pilih kasih atau favoritisme guru di lingkungan sekolah seringkali menjadi duri dalam daging bagi pendidikan ideal. Ketika seorang guru secara kasat mata atau terselubung menunjukkan preferensi terhadap murid tertentu, hal ini tidak hanya melukai perasaan murid yang dikesampingkan, tetapi juga merusak fondasi kesetaraan peluang dalam dunia akademik.
Menghadapi fenomena ini, sekolah dan terutama orang tua memegang kunci penting dalam memastikan setiap anak, terlepas dari latar belakang atau kedekatan dengan guru, mendapatkan pendampingan dan motivasi yang objektif.
Untuk memahami mengapa pilih kasih ini begitu merusak, kita dapat merujuk pada pemikiran filsuf sosiologi ternama, Pierre Bourdieu. Bourdieu memperkenalkan konsep “habitus” dan “modal kultural”.
Modal kultural mencakup pengetahuan, keterampilan, dan disposisi yang secara sosial diwariskan atau diperoleh. Dalam konteks sekolah, anak-anak dari latar belakang sosial-ekonomi tertentu seringkali sudah memiliki modal kultural yang selaras dengan ekspektasi sistem pendidikan (misalnya, cara berbicara yang dianggap “pintar” atau kebiasaan belajar yang terstruktur). Guru, bahkan tanpa sadar, mungkin cenderung memfavoritkan murid yang habitus dan modal kulturalnya paling mirip dengan habitus yang diidealkan oleh institusi.
Pilih kasih, dalam kerangka Bourdieu, menjadi manifestasi dari reproduksi sosial. Guru cenderung memberikan perhatian, pujian, dan kesempatan lebih besar kepada mereka yang sudah “diuntungkan” oleh sistem, sehingga semakin memperlebar jurang dengan siswa yang “modal”nya berbeda.
Akan tetapi pilih kasih tidak selalu bersifat sosiologis semata (karena habitus). Dalam banyak kasus, praktik pilih kasih dapat berakar pada dimensi etis yang lebih serius: gratifikasi.
Gratifikasi dalam konteks pendidikan dapat didefinisikan sebagai pemberian dalam bentuk apapun (uang, barang, atau fasilitas) yang diterima oleh guru dan berpotensi memengaruhi objektivitas profesionalnya. Ketika orang tua memberikan hadiah atau insentif berlebihan kepada guru dengan harapan anaknya akan diperlakukan lebih baik atau mendapat nilai lebih tinggi, hal ini menciptakan lingkungan yang sangat beracun.
Murid yang orang tuanya mampu dan mau memberikan ‘hadiah’ akan mendapat akses ke keistimewaan (nilai, kesempatan, perhatian) yang tidak terjangkau oleh murid dari keluarga yang kurang mampu. Prinsip kesetaraan peluang hancur total oleh kekuatan finansial.
Gratifikasi merusak integritas guru. Objektivitas penilaian, yang seharusnya didasarkan pada kompetensi dan usaha siswa, menjadi bias oleh kepentingan pribadi. Guru tersebut gagal menjadi penilai yang adil dan bertindak sebagai agen reproduksi ketidakadilan ekonomi.
Menghadapi reproduksi sosial yang tidak adil dan ancaman gratifikasi, peran orang tua menjadi krusial dan tak tergantikan. Orang tua harus menjadi benteng emosional dan pendamping objektif bagi anak-anak mereka.
Orang tua perlu mendampingi anak dengan penilaian yang realistis namun empatik. Jika anak mengeluh tentang pilih kasih, orang tua perlu mendengarkan tanpa menghakimi, tetapi juga membantu anak menganalisis (bukan menyalahkan) area mana yang perlu ditingkatkan, terlepas dari perlakuan guru.
Pada saat yang sama, motivasi harus terus disuntikkan. Anak ditanamkan keyakinan bahwa potensi mereka tidak ditentukan oleh penilaian subjektif satu guru, tetapi oleh kerja keras dan kemauan belajar mereka sendiri. Orang tua harus menjadi sumber validasi non-akademik, menekankan nilai moral, karakter, dan keterampilan hidup.
Orang tua harus secara sadar menolak praktik pemberian gratifikasi kepada guru yang berpotensi memengaruhi penilaian. Jika ada desakan untuk memberi, hal itu harus dilakukan melalui mekanisme yang transparan dan kolektif yang diatur oleh komite sekolah, bukan secara personal.
Prinsip bahwa setiap murid mempunyai peluang yang sama harus menjadi landasan filosofis di sekolah. Di sinilah gagasan filsuf Jacques Rancière mengenai “kesetaraan” menjadi relevan.
Rancière, terutama dalam karyanya The Ignorant Schoolmaster, berpendapat bahwa kesetaraan bukanlah tujuan yang harus dicapai, melainkan titik awal yang harus diasumsikan.
Guru harus beranjak dari premis bahwa semua murid pada dasarnya setara dalam kecerdasan dan kemampuan belajar—terlepas dari manifestasi yang terlihat. “Kesetaraan bukanlah apa yang harus dicapai, tetapi apa yang harus diyakini sebagai premis.”
Bagi Rancière, Guru ideal adalah pendidik yang menyadari kerapuhan atau ketidaktahuannya sendiri (dalam artian tidak mengklaim superioritas intelektual atas murid) dan menggunakannya untuk membebaskan kecerdasan murid. Jika diasumsikan bahwa semua murid setara, maka tidak ada alasan rasional bagi seorang guru untuk memprioritaskan atau merendahkan satu siswa di atas yang lain. Tindakan pilih kasih, baik didorong oleh habitus atau gratifikasi, adalah pengkhianatan terhadap prinsip kesetaraan fundamental ini.
Sekolah, dengan dukungan aktif orang tua, perlu menargetkan tiga hal. Pertama, sekolah memiliki mekanisme umpan balik yang aman dan rahasia bagi siswa dan orang tua untuk melaporkan pilih kasih, serta sanksi yang jelas bagi perilaku guru yang tidak etis. Kedua, sekolah memperkuat Kode Etik Guru, secara eksplisit melarang penerimaan gratifikasi yang bersifat pribadi dan memengaruhi penilaian. Ketiga pentingnya pelatihan berbasis kesadaran akan unconscious bias (bias bawah sadar) yang dipengaruhi oleh modal kultural siswa (Bourdieu) harus diutamakan.
Pilih kasih dan potensi gratifikasi adalah penghalang serius bagi terciptanya masyarakat yang adil. Dengan memegang teguh keyakinan pada kesetaraan peluang (Rancière) dan secara sadar melawan reproduksi ketidakadilan sosial dan ekonomi, orang tua dan sekolah dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar objektif dan memotivasi, di mana setiap murid merasa dihargai, dilihat, dan diberikan kesempatan yang sama untuk bersinar.
————————







