• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Suara dari yang Terpinggirkan : Kisah Perlawanan dalam “Nyai Dasima”

by Redaksi
April 16, 2026
in UMUM
0
Suara dari yang Terpinggirkan : Kisah Perlawanan dalam “Nyai Dasima”
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Awang Budiman, Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

Sejarah kolonial tidak hanya mencatat relasi kekuasaan antara penjajah dan yang dijajah, tetapi juga menyimpan kisah-kisah sunyi tentang mereka yang berada di antara keduanya terutama perempuan pribumi yang hidup dalam bayang-bayang dominasi. Mereka hadir, tetapi sering kali tidak benar-benar diakui; hidup, tetapi tidak sepenuhnya memiliki ruang untuk menentukan dirinya sendiri. Dalam ruang yang penuh ketimpangan itulah sastra mengambil peran penting: bukan sekadar merekam, tetapi juga menghidupkan kembali pengalaman yang terpinggirkan. Novel Nyai Dasima karya S.M. Ardan menjadi salah satu representasi kuat dari upaya tersebut, menghadirkan sosok perempuan pribumi yang berada dalam struktur kolonial yang menindas, sekaligus berusaha merebut kembali jati dirinya.

Dalam realitas sosial kolonial, posisi “nyai” merupakan konstruksi yang sarat ketimpangan. Ia adalah perempuan pribumi yang dijadikan pasangan tidak resmi oleh laki-laki Eropa sebuah relasi yang tidak diakui secara hukum, tetapi dilegitimasi secara sosial dalam praktik kolonial. Relasi ini tidak dilandasi oleh kesetaraan, melainkan oleh kebutuhan domestik dan biologis semata. Akibatnya, nyai kerap dipandang rendah oleh masyarakat: dianggap menyimpang dari norma, berorientasi material, bahkan direduksi hanya sebagai objek pemuas hasrat. Pandangan ini mencerminkan kuatnya stigma sosial yang membentuk posisi nyai sebagai “yang lain” tidak sepenuhnya diterima, baik dalam dunia kolonial maupun dalam masyarakat pribumi.

Namun, S.M. Ardan justru menghadirkan Nyai Dasima sebagai antitesis dari konstruksi tersebut. Ia tidak digambarkan sebagai sosok pasif yang menerima nasib, melainkan sebagai individu yang memiliki kesadaran diri dan keinginan untuk keluar dari kungkungan. Hal ini tampak dalam ungkapannya: “Saya lebih suka tinggal di kampung, di antara bangsa sendiri.” Pernyataan ini bukan sekadar kerinduan, tetapi juga bentuk resistensi terhadap sistem yang memisahkannya dari akar sosial dan identitasnya. Dalam pengalaman Dasima, kemewahan material tidak mampu menggantikan kehilangan akan kebersamaan, bahasa, dan pengakuan sebagai manusia yang utuh.

Untuk memahami dinamika tersebut, teori energi sosial yang dikemukakan oleh Stephen Greenblatt memberikan kerangka analisis yang relevan. Energi sosial, merupakan kekuatan kolektif masyarakat berupa hasrat, ketakutan, kepercayaan, dan ketegangan yang terus bergerak dan saling berinteraksi . Karya sastra dalam hal ini berfungsi sebagai “resonator” yang menangkap energi tersebut, mengolahnya dalam bentuk estetik, dan mengembalikannya kepada masyarakat dalam bentuk kesadaran baru.

Dalam Nyai Dasima, energi sosial tampak dalam bentuk ketegangan antara kekuasaan kolonial dan keinginan individu untuk merdeka. Posisi Dasima sebagai “bini piara” mencerminkan bagaimana tubuh perempuan menjadi bagian dari mekanisme kekuasaan. Ia ditempatkan di rumah gedung, diberi kemewahan, tetapi diisolasi dari lingkungan sosialnya, bahkan dibiarkan dalam keterasingan budaya dan intelektual. Situasi ini menunjukkan adanya energi sosial berupa dominasi, kontrol, dan dehumanisasi yang dilegitimasi oleh sistem kolonial.

Namun, energi sosial tidak hanya bergerak dalam bentuk penindasan. Dalam diri Dasima, muncul energi lain berupa kesadaran, kegelisahan, dan keinginan untuk kembali kepada jati diri. Keputusannya untuk meninggalkan kehidupan bersama tuan kolonial dan mendekati kembali lingkungan pribumi menunjukkan adanya bentuk resistensi terhadap struktur yang mengekangnya. Di sinilah karya sastra tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga memperlihatkan kemungkinan perlawanan.

Dalam kerangka teori energi sosial, proses ini dapat dipahami melalui konsep mimesis, negosiasi, dan pertukaran. Pertama, melalui mimesis, novel ini tidak sekadar meniru realitas kolonial, tetapi menangkap intensitas pengalaman perempuan pribumi yang hidup dalam sistem tersebut. Kedua, melalui negosiasi, penulis mengolah realitas sosial menjadi narasi yang dapat diterima oleh pembaca, tanpa kehilangan kritik terhadap kekuasaan. Ketiga, melalui pertukaran, energi sosial yang terkandung dalam pengalaman Dasima diubah menjadi pengalaman estetik yang dapat dirasakan oleh pembaca, sehingga menciptakan pemahaman baru tentang sejarah.

Lebih jauh, Nyai Dasima juga memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi ruang untuk membongkar konstruksi sosial yang tidak adil. Dengan menghadirkan tokoh Dasima sebagai sosok yang memiliki kesadaran dan keberanian untuk menentukan pilihan, novel ini menantang stereotip tentang perempuan nyai yang selama ini dipandang negatif. Sastra, dalam hal ini, tidak hanya menjadi cermin masyarakat, tetapi juga agen yang mampu menggeser cara pandang dan membangun kesadaran kritis.

Pada akhirnya, Nyai Dasima bukan sekadar kisah tentang seorang perempuan dalam sistem kolonial, melainkan tentang pergulatan manusia dalam mempertahankan martabatnya di tengah tekanan kekuasaan. Melalui perspektif energi sosial, novel ini menunjukkan bahwa di balik setiap struktur yang menindas, selalu ada energi yang bergerak energi untuk bertahan, untuk melawan, dan untuk kembali menemukan diri. Seperti suara yang lama terpendam, kisah Dasima tidak pernah benar-benar hilang. Ia terus hidup, mengalir dari masa lalu ke masa kini, mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang siapa yang berani untuk kembali bersuara.

 

ShareTweetSend
Next Post
Negosiasi Martabat Bangsa: Membaca Konferensi Asia-Afrika 1955 Melalui Lensa Energi Sosial Stephen Greenblatt

Negosiasi Martabat Bangsa: Membaca Konferensi Asia-Afrika 1955 Melalui Lensa Energi Sosial Stephen Greenblatt

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Sekelumit Pemikiran tentang Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Negara Maju dan Kondisi Konkrit di Indonesia Masa Kini

Sekelumit Pemikiran tentang Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Negara Maju dan Kondisi Konkrit di Indonesia Masa Kini

2 tahun ago

Bukti Kasih “Satu Hati untuk NTT”

5 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In