Oleh A Moerbianto, Pegiat Aksi-Berpikir pada Komunitas Filsafat Oemah Djiwa
Beberapa waktu lalu, Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah II Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung, melakukan kegiatan rutin perayaan Ekaristi untuk Kaum Muda. Dari foto yang dibagikan di Grup WhatsApp Lingkungan Kristoforus, yang penulis peroleh dari Ketua Wilayah II – ada yang menarik dan menggelitik bagi penulis. Perayaan Ekaristi OMK yang memang diagendakan secara rutin ini hanya dihadiri oleh empat orang muda Katolik.
Ingatan penulis mundur ke sekitar tahun 1987-1995, saat masih aktif sebagai anggota dan Ketua Muda-mudi Katolik (Mudika) di Lingkungan St. Heronimus Emilianus di paroki yang sama. Setiap kegiatan Mudika yang diadakan pada masa itu, selalu diikuti oleh rekan-rekan Mudika yang hadir dengan penuh antusias. Zaman itu, dalam setiap kegiatan di tingkat wilayah, puluhan Mudika hadir dan aktif dalam kegiatan. Sedangkan dalam kegiatan di tingkat paroki, ratusan Mudika hadir dan terlibat aktif.
Setelah melihat foto yang dibagikan di Grup WhatsApp, yang menampakkan empat orang muda Katolik yang ikut dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda tersebut, muncul pertanyaan di dalam benak penulis: ke mana OMK yang lain?
Dalam era teknologi digital dewasa ini, kegiatan on site bagi kaum muda seperti OMK, mungkin tidak menarik. Kaum muda kini lebih tertarik dengan kegiatan “berselancar” di dunia maya melalui aneka platform digital. Pada masa-masa sebelum booming teknologi digital, banyak kegiatan kaum muda Katolik yang sangat menarik dan orang-orang muda Katolik hadir dan terlibat secara aktif. Pada masa-masa yang lampau itu, kaum muda Katolik yang hadir, tidak saja kerena alasan terlibat aktif dalam kegiatan, melainkan dimotivasi juga oleh kebutuhan bersosialisasi secara fisik. Kebutuhan ini merupakan bagian dari bentuk eksistensi diri orang muda Katolik sebagai pribadi konkret. Orang Muda Katolik eksis secara fisik pada momen kegiatan on site. Cara bereksistensi semacam ini menegaskan kodrat manusia sebagai pribadi konkret: raga-jiwa.
Zaman ini, kegiatan-kegiatan orang muda Katolik termediasi oleh teknologi digital. Pertanyaan mendalam lebih lanjut adalah apakah teknologi – terutama teknologi digital – mampu memediasi orang muda Katolik untuk eksist sebagai pribadi konkret dalam kegiatan-kegiatan Gereja Katolik yang dirancang khusus untuk OMK? Pertanyaan ini menuntun kita, khususnya orang muda Katolik untuk melacak kodrat teknologi dan kemampuannya memediasi pribadi-pribadi orang Muda Katolik untuk masuk dalam keterlibatan yang membebaskan melalui kegiatan-kegiatan Gereja Katolik bagi OMK. Pelacakan kodrat teknologi membantu orang muda Katolik untuk kritis terhadap modus “berselancar” di dunia maya yang dapat meng “alienasi” kaum muda dari diri sendiri sebagai pribadi konkret dan dari dunia kegiatan-kegiatan Gereja Katolik pada momen on site.
Kodrat Teknologi: “Agama” Baru yang Totaliter?
Filosof dan sosiolog berkebangsaan Perancis, Jacques Ellul (1912-1994 ) berpandangan bahwa teknologi bukan sekedar sebagai alat fisik (mesin) melainkan sebuah sistem holistik. Ia menyebut sistem itu dengan istilah “teknik” (technique). Dalam karyanya The Technological Society (1954), Ellul mengatakan bahwa teknologi adalah kumpulan metode yang dirancang secara rasional untuk mencapai efisiensi maksimum dalam setiap bidang aktivitas manusia. Ini berarti teknologi bukan sekedar mesin tetapi sebagai metode yang rasional, efisien, dan terukur dalam segala aspek kehidupan. Tujuan utama teknologi sebagai metode adalah mencari satu cara terbaik untuk mencapai hasil tertinggi dengan usaha terendah.
Dari sinilah muncul kritik tajam dari Jacques Ellul terhadap peran teknologi dalam kehidupan manusia. Teknologi telah menjadi lingkungan baru yang mengendalikan manusia dan bukan manusia yang mengendalikan teknologi. Dalam konteks ini, technique memaksa manusia untuk menyesuaikan diri dengan mesin dan bukan sebaliknya. Manusia menjadi “birokrat”dalam sistem. Agar tetap relevan, manusia dikondisikan sedemikian rupa agar mengharuskan diri beradaptasi dengan pola dan semangat dasar kerja dalam lingkungan teknis yaitu kecepatan dan efisiensi. Pada akhirnya, teknologi berkembang dengan kecepatan sendiri, terlepas dari nilai moral atau kendali etis oleh manusia.
Kodrat teknologi tersebut mengarahkan manusia dan masyarakat berfokus secara intens terhadap teknologi. Fokus ini perlahan dan pasti membentuk pola perilaku manusia dan masyarakat yang sangat terkait erat dengan perkembangan teknologi. Dengan demikian, perkembangan dan kemajuan teknologi tidak hanya memenuhi tuntutan manusia dan melampaui perkiraan kebutuhan masa depan, tetapi juga menciptakan imajinasi dan kesadaran baru dalam diri manusia. Pada titik ini, teknologi dalam kodratnya merupakan “agama” baru yang berwatak totaliter, yang mampu menggiring manusia dan masyarakat masuk dalam modus operandi dan tergantung atau percaya secara penuh pada cara kerja teknologi.
Pandangan Ellul tentang watak totaliter teknologi tersebut, menjadi interupsi etis bagi orang muda Katolik yang berada dalam era teknologi yang mengedepankan efisiensi lebih penting daripada membangun relasi dengan perjumpaan secara fisik yang lebih humanis pada momen on site. Interupsi etis Ellul mengingatkan orang muda Katolik akan memudar atau menghilangnya intimitas relasi pada momen-momen on site. Intimitas yang hilang segera berujung pada defisit sikap empati terhadap sesama. Empati yang tidak berakar pada pengalaman perjumpaan wajah pada momen-momen on site, akan bermuara pada keterlibatan dan keberpihakkan yang termediasi oleh teknologi, yang pada akhirnya merupakan keterlibatan dan keberpihakan semu atau sebatas jargon.
Perjumpaan On Site: Keterlibatan yang Membebaskan
Gereja Katolik, terutama orang muda Katolik, hidup dalam semangat zaman technique, terutama pada era digital saat ini dan ke depan. Semangat zaman ini ditandai dengan penggunaan teknologi digital secara massif. Hampir bisa dipastikan bahwa orang muda Katolik zaman ini sekurang-kurangnya menggunakan satu aplikasi media sosial digital untuk kegiatan-kegiatannya di ruang maya/virtual. Baik untuk kegiatan dalam hidup menggereja maupun dalam bidang-bidang lainnya yang tidak berhubungan dengan profil diri sebagai orang beriman Katolik.
Dalam hidup menggereja, tak bisa disangkal bahwa teknologi – terutama teknologi digital – telah memberikan banyak kemudahan bagi Gereja Katolik, terutama orang muda Katolik. Akan tetapi ada dampak yang timbul dari penggunaan teknologi digital, yakni memudarnya perjumpaan sebagai pribadi konkrit. Pudarnya perjumpaan konkrit ini bermuara pada pudarnya makna keterlibatan dan relasi langsung antarumat beriman Katolik.
Bagaimana pun juga, orang-orang Katolik, terutama orang muda Katolik adalah pribadi konkret konkrit dan empirik (dialami secara langsung dengan raga). Gereja Katolik belum bergeser dari gambaran mengenai manusia yang demikian. Persoalan orang muda Katolik hari ini adalah gambaran mengenai manusia tersebut dan perjumpaan empirik dalam hidup menggereja, digantikan atau dimediasi oleh perkakas-perkakas teknologi digital. Tantangan ini berujung pada sikap tak lagi membutuhkan kedekatan relasi empirik dan interaksi langsung dalam perjumpaan on site sebagai kebutuhan untuk bertumbuh dan kembang.
Pertanyaan-pertanyaan reflektif selajutnya: Apakah kegiatan seperti Misa OMK sudah tak lagi menarik bagi orang muda Katholik? Apakah ini menandakan iman pada Allah dalam Ekaristi dalam diri orang muda Katolik mengalami kegoyakan? Apakah platform-platform media sosial telah menjadi “agama” baru yang dimani oleh orang muda Katolik, sehingga tak lagi tertarik pada momen-momen on site untuk merayakan Misa, terutama yang khusus diselenggarakan untuk OMK?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis menawarkan dua pikiran kecil. Tawaran ini untuk menggerakkan perjumpaan on site sebagai keterlibatan yang membebaskan. Argumen dasar dari Adalah bahwa Gereja Katolik adalah komunitas pribadi-pribadi konkrit dan perjumpaan on site merupakan modus operandi Gereja Katolik menumbuh-kembangkan pengalaman batin sebagai individu dengan relasi interaksi aktif.
Pertama, keterlibatan penuh dan konkret sebagai individu. Keterlibatan dengan kedalaman proses yang berkelanjutan untuk kepentingan diri sebagai manusia yang utuh. Bukan sekedar mencari keuntungan material. Lebih dari itu, keterlibatan ini juga sebagai keterlibatan dalam proses berpikir kritis dan reflektif sebagai manusia. Keterlibatan penuh dan konkrit berarti menyatu dengan kedalaman dan berproses sepenuhnya. Keterlibatan yang utuh dan penuh ini harus menjadi latihan rutin, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup.
Kedua keterlibatan sebagai makhluk sosial. Kita terlibat dengan apa yang kita bisa lakukan dalam kehidupan bermasyarakat dengan sikap kita sebagai manusia yang berkesadaran. Bagi Aristoteles, keterlibatan adalah kunci untuk mencapai hidup yang utuh dan bahagia, yakni hidup yang sempurna. Keterlibatan penuh dan konkrit akan membawa kita pada beberapa hal positif yaitu tentang bagaimana berpikir kritis reflektif, tidak mudah takluk pada sikap-sikap hegemonik dan dominatif, dan berkeberanian untuk bersikap adil terhadap sesama secara konsisten.
Dalam keterlibatan secara penuh dan konkrit, kita akan berproses menjadi manusia yang berkehendak bebas dan berpikir sehingga kita menjadi sungguh-sungguh manusia. Hal ini merupakan hakikat dari diri yang mengalami pencerahan: tidak over-thinking, mengalami kedamaian batin, dan raga yang bugar. Setiap individu dalam keterlibatan ini sesungguhnya menjalani relasi yang sehat dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan lingkungan alam, dan dengan Allah. Relasi ini berlangsung dalam kegiatan sehari-hari sehingga segala kegiatan merupakan jalan pembebasan. Seluruh dinamika dan proses hidup pun menjadi jalan spiritual. Di jalan ini, tidak ada lagi perbedaan antara hidup spiritual dan kegiatan sehari-hari yang terkesan remeh temeh.
Dengan jalan spiritual ini, kita bisa terlibat di tingkat yang lebih luas. Di manapun kita berada, kita bisa menyumbangkan kemampuan kita untuk kebaikan bersama, seperti misalnya mengajak gereja untuk merefleksikan atau me”radikal”kan panggilan keterlibatan bagi orang muda Katolik dengan kegiatan-kegiatan yang mampu membuka kemampuan bertindak bukan hanya semata berbasis ajaran Kristus tetapi juga menggerakkan orang muda Katolik untuk mampu berpikir kritis-reflektif di hadapan semangat zaman yang baru – semangat zaman technique – dengan semua konsekuensi logis dan empiriknya, yang dihadapi oleh Gereja Katolik.
*******************



