
Oleh Odemus Bei Witono
Di tengah kepungan dinding yang kian menghimpit, sebuah kamar di sudut kampung kumuh menjadi saksi bisu atas kelahiran sebuah kosmos. Ruang itu pengap, bukan hanya karena sirkulasi udara yang tersendat oleh onggokan barang-barang tak teratur, melainkan karena beban gagasan yang tumpah ruah di dalamnya. Buku-buku yang menguning, tumpukan kertas, dan benda-benda kenangan berserakan, menciptakan labirin fisik yang nyaris mustahil untuk ditata kembali. Namun, di dalam kekacauan itu, sang penulis justru menemukan keteraturan yang transenden.
Dunia di luar sana mungkin telah memudar. Kawan-kawan menjauh, entah karena jemu atau karena tak lagi mampu mengikuti frekuensi pemikiran sang penulis yang kian tajam. Kesunyian pun menjadi rekan setia. Dalam kesendirian yang absolut, ia tetap menulis. Baginya, setiap goresan tinta adalah katarsis yang tak pernah berhenti—sebuah pembersihan jiwa dari sisa-sisa kegelisahan eksistensial yang belum sempat terucap.
Waktu adalah musuh yang nyata sekaligus guru yang bijak. Bayang-bayang angka 70 tahun menghantui sebagai ambang batas fisik. Jika pun usia itu tercapai, ia menyadari betapa singkatnya rentang waktu tersebut dibandingkan dengan keabadian gagasan. Namun, keterbatasan inilah yang memacu adrenalin intelektualnya. Kata-kata tidak lagi sekadar disusun; mereka terurtasi, mengalir seperti arus deras yang mencari celah di antara bebatuan.
Dalam esai-esainya, ia mempertemukan aksioma—kebenaran yang tak terbantahkan—dengan aneka postulata. Pertemuan ini tidak terjadi dalam garis lurus yang membosankan, melainkan dalam rangkaian spiral. Pemikirannya bergerak melingkar, namun setiap putaran membawa maknanya masuk lebih dalam ke palung jiwa dan mendaki lebih tinggi ke puncak kebijaksanaan. Semakin sempit ruang fisiknya, semakin luas ruang metafisik yang ia ciptakan.
Ia kini menyerupai seorang pelukis tanpa nama. Seseorang yang bekerja di balik bayang-bayang, tidak mencari tepuk tangan, namun meninggalkan goresan di atas kanvas kehidupan yang tak ternilai harganya. Di ruang yang pengap itu, ia tidak sedang menunggu ajal; ia sedang mengabadikan diri dalam kata-kata yang, suatu saat nanti, akan meledakkan dinding-dinding kumuh tersebut dan terbang menuju keabadian.



