• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Negosiasi Martabat Bangsa: Membaca Konferensi Asia-Afrika 1955 Melalui Lensa Energi Sosial Stephen Greenblatt

by Redaksi
April 16, 2026
in OPINI
0
Negosiasi Martabat Bangsa: Membaca Konferensi Asia-Afrika 1955 Melalui Lensa Energi Sosial Stephen Greenblatt
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Natanael Parulian Gultom, Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada 18 24 April 1955 bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa antarbangsa. Peristiwa ini adalah momen bersejarah yang luar biasa sebuah titik di mana puluhan bangsa yang pernah dijajah, direndahkan, dan diabaikan oleh dunia, akhirnya berdiri bersama. Untuk memahami betapa dahsyatnya peristiwa ini, kita bisa menggunakan sebuah konsep yang disebut energi sosial dari Stephen Greenblatt. Greenblatt menjelaskan bahwa di dalam masyarakat selalu ada kekuatan kolektif yang mengalir berupa hasrat, ketakutan, kepercayaan, kemarahan, dan harapan.

Energi ini tidak diam di tempat, tetapi bergerak, berpindah, berubah bentuk, dan kembali lagi ke masyarakat. Selama ratusan tahun, bangsa-bangsa Asia dan Afrika menyimpan energi yang luar biasa besar berupa kemarahan terhadap penjajahan, kerinduan akan kebebasan, rasa sakit akibat diskriminasi rasial, dan semangat nasionalisme. Konferensi Bandung menjadi wadah itu, sebagaimana direkam dalam film dokumenter The Bandung Conference: A Post-Imperial Test of Afro-Asian Solidarity and How it Pioneered the Non-Aligned Movement. Sebanyak 29 negara Asia dan Afrika yang mewakili lebih dari separuh penduduk dunia saat itu berkumpul di Gedung Merdeka, Bandung, membawa serta seluruh beban sejarah, luka kolonial, dan harapan masa depan mereka.

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, dunia tidak serta-merta menjadi damai. Justru sebaliknya dunia terbelah menjadi dua kubu besar yang saling berhadapan yakni Amerika Serikat dengan blok Barat-nya, dan Uni Soviet dengan blok Timur-nya. Perang Dingin dimulai, dan negara-negara kecil di Asia dan Afrika seolah hanya menjadi bidak catur dalam permainan dua kekuatan raksasa itu. Di saat yang sama, gelombang dekolonisasi sedang berlangsung satu per satu negara Asia dan Afrika merebut kemerdekaan mereka.

Indonesia merdeka pada 1945, India pada 1947, dan banyak lagi yang sedang berjuang. Namun kemerdekaan formal saja tidak cukup, mereka menghadapi tantangan yang sangat berat berupa kondisi ekonomi yang hancur akibat kolonialisme, rakyat yang miskin dan tidak terdidik, serta tekanan dari kekuatan-kekuatan besar untuk memilih salah satu blok (Barat atau Timur). Inilah konteks di mana Konferensi Bandung lahir dimana Indonesia tidak harus memilih antara Washington dan Moskow. Kita bisa memiliki jalan ketiga dan bersatu atas dasar pengalaman bersama sebagai bangsa yang pernah dijajah, dan dari sana, kita membangun tatanan dunia yang lebih adil. Dalam bahasa teori energi sosial, ini adalah momen negosiasi  para pemimpin Asia-Afrika sedang menegosiasikan ulang posisi mereka di hadapan dunia, menolak untuk sekadar menjadi penonton sejarah, dan menuntut hak untuk menjadi pembuatnya.

Saat Konferensi Bandung dibuka pada 18 April 1955, dunia menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para peserta konferensi adalah tokoh-tokoh besar, mereka semua membawa energi yang berbeda-beda, namun di Bandung, energi itu bertemu, bertabrakan, dan akhirnya melebur menjadi satu arus yang sama. Mereka tidak hanya bertukar pandangan politik, tetapi juga saling memperkuat identitas dan martabat satu sama lain. Hasilnya adalah Dasasila Bandung yang berisi sepuluh prinsip yang mengatur hubungan antarnegara berdasarkan saling menghormati, tidak campur tangan, dan penyelesaian sengketa secara damai.

Bagi Indonesia sendiri, dampak Konferensi Asia-Afrika sangat mendalam dan berlapis. Pada 1955, menjadi tuan rumah konferensi ini memberikan Indonesia sebuah hadiah yang tidak ternilai harganya berupa legitimasi dan pengakuan internasional. Lebih jauh dari itu, Konferensi Bandung juga melahirkan doktrin politik luar negeri “bebas aktif” yang menjadi pegangan Indonesia hingga hari ini.

Pada masa kini, dunia kembali menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda dengan masa itu. Persaingan sengit antara Amerika Serikat dan Tiongkok, perang di Ukraina, kebangkitan blok-blok baru seperti BRICS, dan semakin lebarnya jurang antara negara kaya dan negara miskin. Seperti kata Greenblatt, seni dan sejarah bukan sekadar cermin pasif yang memantulkan masa lalu. Ia adalah aktor yang hidup, yang terus memperkuat dan mengalihkan energi sosial dari satu zaman ke zaman berikutnya. Konferensi Asia-Afrika 1955 adalah bukti paling nyata dari prinsip itu. Sebuah peristiwa yang, tujuh dekade kemudian, masih berdenyut, masih berbicara, dan masih menginspirasi.

 

ShareTweetSend
Next Post
Menyuarakan yang Dibungkam: Telaah Sejarah dalam novel “Laut Bercerita”

PSSI Orde Baru dalam Cengkeraman Soeharto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Uang sebagai Gaya Hidup dan Sistem Ekonomi Kerakyatan

Uang sebagai Gaya Hidup dan Sistem Ekonomi Kerakyatan

6 bulan ago
Romantisme  Kertas

Romantisme Kertas

3 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In