• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

PSSI Orde Baru dalam Cengkeraman Soeharto

by Redaksi
April 16, 2026
in OPINI
0
Menyuarakan yang Dibungkam: Telaah Sejarah dalam novel “Laut Bercerita”
0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Yohanes Maria Prayoga Pangestu, Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; Sejarawan Mentah

 

Sepak bola bukan sekadar pertandingan olahraga sebelas lawan sebelas di atas lapangan hijau. Ia adalah panggung teater yang melibatkan dua aktor kunci, politik dan estetika olahraga saling bertatap muka.

Seperti kata Gus Dur, sepak bola bukan hanya membicarakan skor akhir pertandingan. Tidak berakhir dalam dua babak ditambah perpanjangan waktu. Melainkan cara pandang dunia (World View) untuk memahami kompleksitasnya isu kemanusiaan dan struktur kekuasaan.

Gus Dur jatuh cinta pada sepak bola sedari kecil. Ia membedah satu per satu elemen sepak bola dengan begitu presisi. Fair Play dianalogikan hidup bernegara, politik adalah tentang kapan harus melakukan counter-attack, dan intelektualitas sebagaimana peran Video Assistance Referee (VAR) menjaga moralitas dalam pertandingan.

Sepak bola sebagai jendela memahami seluk beluk politik. Maka dengan menilik perkembangan sepak bola Indonesia era Orde Baru adalah melihat salah satu cara Soeharto mengokohkan kekuasaannya. Konsolidasi militer kekhasan Soeharto menempati berbagai sendi dalam kehidupan bernegara. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang sejak Orde Lama berelasi dengan militer tak luput dari bidikan.

 

Berawal Pergerakan Hingga Maklumat Istana

Para Founding Fathers PSSI mulanya berlatar belakang sosok sipil. Abdul Hamid, Daslam Hadiwasito, hingga Ir. Soeratin Sosrosoegondo meniti karirnya sebagai tokoh pergerakan. Wakil ketua umum PSSI pertama, Daslam Hadiwasito adalah seorang sipil yang aktif di djokjasche padvinders (organisasi kepramukaan) dan klub sepak bola PSIM Yogyakarta.

Ketua umum pertama PSSI Soeratin Sosrosoegondo, awalnya insinyur yang bekerja di perusahaan konstruksi bangunan milik orang Belanda, Sitzen en Lousada. Semasa hidupnya ia tak luput dari kewajiban militer. Ketika terjadi peristiwa revolusi fisik, Soeratin bergabung di divisi dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat letnan kolonel.

Sepeninggal Soeratin, dua ketum PSSI berikutnya aktif berkecimpung dalam ranah militer. Maladi (1950-1959), mantan kiper klub Persis Solo yang bergabung dalam TKR divisi X Solo. Penerusnya, Maulwi Saelan (1964-1967) adalah wakil komandan Tjakrabirawa berpangkat kolonel CPM & pengawal presiden terakhir Soekarno.

Transisi kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru makin memperkuat relasi antara militer dengan PSSI. Sejak tahun 1975, PSSI yang mulanya dipimpin oleh sosok sipil digeser oleh figur militer. Sipil terakhir menjabat ketum di era Orde Baru adalah Kokasih Poerwanegara (1967-1974).

 

Figur Militer ORBA di Kursi Panas PSSI

Timnas Indonesia bersama Presiden Soeharto sebelum melawan kesebelasan Hungaria pada tahun 1969. (Sumber: Arsip pribadi Indra Efendi Rangkuti, dari grup Facebook “Zona Memori Sepak Bola Klasik Indonesia”.)

 

Dalam kurun 23 tahun, PSSI dipimpin oleh ketua umum yang berlatar belakang militer. Dimulai Brigadir Jenderal Bardosono (1975-1977), periode kepemimpinannya dinamakan Periode Pembangunan dan Pembinaan dengan berlandaskan Gerakan Besar Haluan Sepak Bola. Guna menyebarluaskan informasi seputar timnas, Bardosono menerbitkan majalah PSSI yang memiliki surat ijin cetak oleh Perc. Offset PT. ‘Ripres Utama’ Jakarta.

Bardosono digantikan oleh Letnan Jenderal Ali Sadikin (1977-1981), yang sebelumnya selama tiga periode menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Peran Ali Sadikin dalam PSSI adalah meresmikan Galatama sebagai kompetisi professional sepak bola putra Indonesia. Ali Sadikin juga yang menghadirkan kompetisi sepak bola putri Galanita.

Ali Sadikin mengundurkan diri sebagai ketum PSSI pada bulan Oktober 1980 imbas kritiknya terhadap pemerintahan Orde Baru, Meskipun kepengurusannya baru berakhir pada tahun depan. Kepemimpinannya diteruskan oleh Brigadir Jenderal Sjarnoebi Said (1982-1983). Berbeda dengan pendahulunya, Sjanoerbi hanya memimpin PSSI setahun karena isu suap pada pelaksanaan Galatama dan ketidakpuasan Soeharto terhadap kinerjanya.

Sjanoerbi digantikan oleh Marsekal Madya Kardono (1983-1991), bapak perwira tinggi angkatan laut ini tergolong ketum PSSI sukses dengan gelimang prestasi diraih timnas Indonesia. Kardono berhasil menyusut tuntas praktek suap Galatama & membentuk proyek PSSI garuda untuk membina pemain-pemain muda. Hal ini terus terang dikatakan Kardono sejalan dengan visi Soeharto dalam ‘membangun manusia Indonesia yang utuh’, sebagai berikut kutipannya:

“Bapak presiden mengatakan bahwa prestasi olahraga kita tak akan tercapai apabila kita tidak berhasil mengadakan pembibitan. Ini kunci kalau olahraga kita ingin maju.” (Anwar, 2021: 75)

Kepemimpinan Kardono diganti oleh Letnan Jenderal Anwar Anaz (1991-1998). Ketum terakhir PSSI di Orde Baru ini tak kalah menterengnya. Ia menghantarkan timnas Indonesia mencapai rangking tertinggi resmi FIFA di posisi ke-76. Prestasi Anwar lainnya untuk pertama kali Indonesia melaju ke putaran final Piala Asia edisi 1996. Dalam sidang paripurna PSSI pada Oktober 1998, Anwar Anaz diberhentikan dan posisinya digantikan Agum Gumelaar.

———————–

 

Referensi

Anwar, Syahrul. 2021. Militer, PSSI, dan Sepak Bola Indonesia 1975-2003. Surabaya: Pustaka Indis.

 

ShareTweetSend
Next Post
Perempuan, Tubuh, dan Kekuasaan dalam ”Ronggeng Dukuh Paruk”

Perempuan, Tubuh, dan Kekuasaan dalam ”Ronggeng Dukuh Paruk”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Isyarat Politik dalam Puisi

Isyarat Politik dalam Puisi

2 tahun ago

Diaspora Indonesia di Hongkong dan Macao Galang Dana Bantu Korban Bencana NTT

5 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In