• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Perempuan, Tubuh, dan Kekuasaan dalam ”Ronggeng Dukuh Paruk”

by Redaksi
April 16, 2026
in UMUM
0
Perempuan, Tubuh, dan Kekuasaan dalam ”Ronggeng Dukuh Paruk”
0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

 Oleh Euis Putri Noviyani, Mahasiswi Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

Sejarah kerap ditulis oleh mereka yang berkuasa, sementara suara-suara kecil di pinggiran hanya tersisa sebagai bisikan yang nyaris hilang. Dalam pusaran peristiwa besar, masyarakat desa, perempuan, dan kelompok marginal sering kali tidak memiliki ruang untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri. Novel Ronggeng Dukuh Paruk hadir sebagai upaya untuk mengisi kekosongan tersebut menghadirkan kembali suara yang lama dibungkam. Melalui kisah Srintil, pembaca tidak hanya disuguhi cerita tentang seorang ronggeng, tetapi juga diajak melihat bagaimana tubuh perempuan dan kehidupan masyarakat kecil menjadi bagian dari sejarah yang penuh luka.

Karya Ahmad Tohari ini membawa kita ke Dukuh Paruk, sebuah desa kecil yang terisolasi, miskin, dan hidup dalam bayang-bayang tradisi. Ronggeng bukan sekadar penari, ia adalah simbol kehormatan, kebanggaan, sekaligus identitas kolektif masyarakat.

Namun di balik simbol itu, terdapat realitas yang tidak sederhana. Tubuh perempuan dalam masyarakat Dukuh Paruk bukan sepenuhnya milik individu, melainkan milik bersama. Srintil sebagai ronggeng harus menjalani peran yang telah ditentukan oleh tradisi, tanpa ruang yang cukup untuk menolak.

“Srintil bukan lagi milik dirinya sendiri. Ia telah menjadi milik Dukuh Paruk.”

Kutipan ini memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan dilepaskan dari kepemilikan pribadi dan dilekatkan pada kepentingan sosial. Ia dihormati, tetapi pada saat yang sama juga dikendalikan.

“Ronggeng adalah kebanggaan Dukuh Paruk. Tanpanya, desa itu seakan kehilangan jiwanya.”

Dalam posisi ini, Srintil tidak hanya menjadi individu, tetapi simbol. Dan ketika seseorang telah menjadi simbol, maka kebebasannya sering kali hilang.

Yang menarik, kekuasaan dalam novel ini tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan terbuka. Ia bekerja secara halus melalui adat, kepercayaan, dan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Srintil tidak dipaksa dengan kekerasan, tetapi dibentuk oleh lingkungan yang membuatnya menerima keadaan sebagai sesuatu yang “wajar”.

“Ia menjalani semuanya tanpa benar-benar mengerti mengapa hidupnya harus seperti itu.”

Di sinilah kekuasaan bekerja secara paling efektif ketika individu tidak lagi merasa sedang ditekan, tetapi justru menerima tekanan itu sebagai bagian dari hidupnya.

Tubuh perempuan, dalam hal ini, menjadi ruang di mana kekuasaan beroperasi secara diam-diam. Ia diatur, dimaknai, dan bahkan “dipertukarkan” dalam sistem sosial tanpa disadari sepenuhnya oleh yang menjalaninya.

Tragedi dalam kehidupan Dukuh Paruk mencapai puncaknya ketika desa ini terseret dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan tiba-tiba harus menghadapi stigma, kekerasan, dan ketakutan yang datang dari luar.

Tanpa pemahaman yang cukup, mereka menjadi korban dari situasi politik yang jauh melampaui kehidupan mereka.

“Mereka tidak tahu apa-apa, tetapi mereka harus menanggung semuanya.”

Kutipan ini menggambarkan ketidakberdayaan masyarakat kecil di hadapan sejarah besar. Mereka tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah peristiwa, tetapi harus menerima seluruh konsekuensinya.

“Ketakutan datang tanpa wajah, tetapi nyata dirasakan oleh semua orang.”

Di titik ini, sejarah tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak. Ia hadir dalam bentuk nyata: rasa takut, kehilangan, dan kehancuran kehidupan sosial.

Srintil menjadi gambaran paling jelas tentang bagaimana perempuan berada di tengah pusaran tradisi dan kekuasaan. Ia tidak hanya menghadapi tekanan dari budaya, tetapi juga dari situasi politik yang tidak pernah berpihak padanya.

“Ia hanya ingin hidup seperti perempuan lain, tetapi dunia tidak memberinya pilihan itu.”

Kutipan ini menunjukkan sisi kemanusiaan Srintil bahwa di balik statusnya sebagai ronggeng, ia tetap seorang manusia yang memiliki keinginan sederhana: hidup bebas dan menentukan nasibnya sendiri.

Namun kenyataannya, tubuh perempuan sering kali menjadi medan pertempuran berbagai kepentingan. Ia berada di antara tuntutan budaya, tekanan sosial, dan kekuasaan politik yang saling berkelindan.

Yang membuat Ronggeng Dukuh Paruk begitu kuat adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman manusia secara utuh. Pembaca tidak hanya membaca cerita, tetapi juga merasakan denyut kehidupan masyarakat yang penuh keterbatasan.

Novel ini menghidupkan kembali suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Ia memberi ruang bagi mereka yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah, tetapi justru menjadi korban dari sejarah itu sendiri.

Pada akhirnya, kisah Dukuh Paruk mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu tentang tokoh besar atau peristiwa monumental. Sejarah juga hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kecil dalam tubuh perempuan, dalam tradisi, dan dalam ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Novel ini mengajak kita untuk melihat kembali masa lalu dengan cara yang berbeda: bukan dari atas, tetapi dari pinggiran. Dari mereka yang selama ini tidak diberi ruang untuk berbicara.

Dan mungkin, melalui cerita seperti ini, kita mulai menyadari bahwa suara yang pernah dibungkam tidak pernah benar-benar hilang ia hanya menunggu untuk didengar kembali.

ShareTweetSend
Next Post
Dari Pengasingan ke Ingatan: Jejak Luka Sejarah dalam Novel “Pulang” Karya Leila S. Chudori

Dari Pengasingan ke Ingatan: Jejak Luka Sejarah dalam Novel “Pulang” Karya Leila S. Chudori

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Produk Ekowisata Akan Sangat Diminati Pascapandemi

Produk Ekowisata Akan Sangat Diminati Pascapandemi

6 tahun ago

“Hyacinth” – “Pada Sebuah Musim di Bulan April” – “Muak” – “Kanvas Sang Pelukis” – “Envious”, Puisi-puisi Theresia Paskah

4 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In