Oleh Gratia Wing Artha, Pengajar Muda Prodi Sosiologi FISIP Universitas Nasional, Jakarta
Pada tanggal, 8 Januari 2026 kami tiga orang pembelajar dari kelas proletar, yaitu Herdi Sahrasad, Joko Arizal dan Gratia Wing Artha berdiskusi di kampus FISIP UI yang banyak melahirkan para aktivis dan tokoh nasional. Dalam diskusi tersebut kami bertukar pikiran dengan dua Profesor Ilmu Sosial ternama yang mempunyai semangat dan gagasan besar tentang humanisme dan intelektualisme sebagai pilar perguruan tinggi di Indonesia untuk melangkah maju. Kedua profesor progresif tersebut ialah Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto M.Si Guru Besar Anrtopologi UI dan mantan Dekan FISIP UI dan Prof. Dr, Adlin Sila Ph.D Ahli Anntropologi dan Sosiologi. Dari Prof. Semiarto Aji Purwanto dan Prof. Adlin Sila, kami memahami bahwa perguruan tinggi di Indonesia telah kehilangan semangat intelektualitas dan kemanusiaan, ditambah lagi dengan perguruan tinggi di Indonesia sudah menjadi “Pabrik Gelar” yang mencetak banyak kelompok terdidik, tetapi kurang dapat berperan aktif secara sosial di masyarakat.
Kegelisahan yang sama diungkapkan oleh Herdi Sahrasad yang sebelumnya merupakan seorang jurnalis dan pegiat LSM yang beralih menjadi akademisi di Universitas Paramadina Jakarta. Sebagai seorang akademisi cum aktivis Herdi melihat dunia perguruan tinggi bukan lagi menjadi arena intelektualisme tumbuh dan berkembang. Generasi mahasiswa sekarang menjadi terisolasi dari peran-peran sosial yang dahulu menjadi mandat bagi para mahasiswa. Selain itu, Herdi memandang bahwa perguruan tinggi di Indonesia menjadi sangat birokratis dan bertransformasi menjadi semacam “perusahaan”. Dalam pengamatan Herdi perguruan tinggi semakin kehilangan peran sosial sebagai intitusi yang mendorong transformasi sosial di masyarakat.
Pemikiran Herdi dikuatkan dengan pengalaman Joko Arizal dan Gratia Wing Artha, yang sebagai akademisi muda memandang bahwa peguruan tinggi di Indonesia menjadi arena kontestasi ekonomi dan politik. Sehingga perguruan tinggi hanya mencetak pekerja yang kompetitif, tetapi kurang memiliki kepekaan sosial akan kondisi sosial di masyarakat. Padahal tujuan perguruan tinggi didirikan bukan hanya mencetak generasi yang progresif secara intelektualitas dan punya semangat berkompetisi. Tujuan utama dari didirikannya perguruan tinggi ialah untuk membangun peradaban manusia dan menjadikan tidak kehilangan “naluri kemanusiaannya”.
Dari pertemuan ini, kami memperoleh kesimpulan bahwa diperlukan upaya untuk mengembalikan marwah perguruan tinggi di Indonesia sebagai intitusi yang terikat dengan masyarakat. Tanpa adanya keterikatan fungsi dan peran sosial dalam masyarakat perguruan tinggi hanya akan menjadi “ Menara Gading”. Sepatutnya perguruan tinggi di Indonesia harus bertransformasi menjadi “Menara Api” yang membersamai masyarakat membangun peradaban yang lebih baik berasaskan intelektualisme dan kemanusiaan yang adil-beradab.
——————–




